Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Stasiun Kuantum Omega-9 dan Turbulensi Pertama di Jalur Pelarian
BZZZZZZT... WHIIIIIR!
Sinyal alarm darurat mendadak menyala merah dari balik panel kontrol dinding kabin besi kapal The Iron-Drifter. Lambung kapal rongsokan yang tersusun dari pelat baja tua tersebut bergetar hebat di luar batas kewajaran. Lambung kapal dihantam guncangan badai luar angkasa yang sangat dahsyat. Layar navigasi menampilkan sebuah tanda peringatan bahaya berwarna ungu pekat yang terus berkedip, menandakan bahwa jalur pelayaran di sekitar Sektor Epsilon sedang terganggu oleh badai partikel hitam yang luar biasa liar.
Kapal dagang kelas rendah yang membawa tubuh kurus Ryuken dan Sayuri itu terpaksa melakukan pendaratan darurat di luar rute penerbangan mereka. Kapal mendarat di pelataran dermaga Stasiun Kuantum Omega-9, sebuah pos transit perdagangan luar angkasa yang terapung sunyi di antara sabuk asteroid mati perbatasan Kuadran Utara dan Timur. Tempat ini berdiri bebas di luar hukum wilayah kerajaan mana pun, sebuah daerah kelam yang dikuasai penuh oleh sindikat bajak laut antariksa dan para pelarian bersenjata yang haus akan barang jarahan.
Aroma oli mesin dan uap belerang mendidih langsung merangsek masuk menusuk hidung begitu pintu besi kabin penumpang terbuka secara otomatis. Sayuri melangkah keluar dengan tubuh anggunnya yang bergetar kaku menahan hawa dingin yang sangat ekstrem di stasiun kotor tersebut. Gaun sutra putih mewahnya yang dipenuhi noda cipratan darah kering suaminya tampak sangat kontras di tengah hamparan pemandangan besi-besi tua stasiun yang dipenuhi karat dan ceceran minyak mesin yang membusuk.
Sepasang mata biru jernihnya menatap ngeri ke arah kerumunan makhluk asing, penjahat antariksa, dan ksatria baju besi buangan yang sedang berkumpul di sepanjang koridor pasar gelap stasiun. Seluruh dinding kesombongan dan gengsi kasta Kuil Tinggi yang ia rawat sejak kecil kini terasa hancur lebur dihantam rasa takut yang luar biasa menyiksa batin. Di tempat kotor yang menolak belas kasihan aturan adat ini, statusnya sebagai putri bangsawan agung tidak lagi berguna untuk menakuti keserakahan orang-orang di luar angkasa.
Ryuken berjalan tepat dua langkah di sebelah kanan Sayuri, menyeret sepasang kakinya yang linu murni mengandalkan kekuatan otot tubuhnya yang tegap menahan tekanan gravitasi stasiun. Baju hitam miliknya yang compang-camping bergerak lambat mengikuti irama denyut jantungnya yang aneh sejak lahir. Tangan kanannya yang kasar penuh kapalan tetap memegang erat sarung kayu katana tua berkaratnya yang terikat bisu di pinggang kiri. Sepasang mata hitam legam miliknya menatap lurus ke depan dengan ketenangan yang sangat dingin.
"Tataplah dua tikus pelarian klan Shinto yang baru saja mendarat dari langit Akuma itu, Saudara-saudara!" sebaris teriakan suara berat yang terdengar aneh memotong keheningan koridor pasar gelap, memicu ketegangan baru yang sangat mencekam.
Melangkah keluar dari balik bayangan tumpukan rongsokan tangki besar, sekelompok bajak laut siber bersenjata senapan cahaya merah dan belati energi langsung mengepung rapat jalur jalan Ryuken dan Sayuri. Pemimpin penjahat tersebut bertubuh raksasa setinggi dua setengah meter, dengan seluruh baju besi pelindung lengannya memancarkan lampu indikator yang berkilat penuh kesombongan yang kejam. Sepasang mata merahnya menatap tajam ke arah Sayuri dengan senyum licik yang menusuk hati, secara terbuka menunjukkan niatnya untuk menangkap sang putri bangsawan.
"Informasi rahasia dari Tetua Kaelen Sektor Delapan telah membayar jutaan keping emas murni hanya untuk membeli kepala busukmu, Ryuken!" raung pemimpin bajak laut sambil mengacungkan moncong senapan cahayanya tepat satu jari di depan hidung Ryuken yang pucat. "Dan putri di sampingmu itu akan kami seret masuk ke dalam kapal budak untuk dijual ke Kuadran Timur malam ini juga! Mampuslah kalian berdua bersama pernikahan palsu klan kalian!"
Sayuri tersentak kaku di posisinya menahan rasa terkejut, ngeri, dan frustrasi mendalam yang meremukkan seluruh akal sehatnya. Air mata ketakutan kian deras membasahi pipinya yang putih bersih, melihat rencana jahat Kaelen ternyata telah merayap naik menembus batas atmosfer planet asal mereka hingga ke luar angkasa. Ia mencengkeram erat belati perak kecil untuk upacara dengan jemari yang mendadak dingin kaku, menyadari sepenuhnya bahwa kekuatan sihir tingkat rendah miliknya tidak akan pernah sanggup menahan hantaman senjata penghancur milik para penjahat tersebut.
Namun, Ryuken tidak mengubah posisi berdirinya satu milimeter pun di hadapan ancaman pembantaian para penjahat Stasiun Omega-9. Di bawah pengaruh detak jantungnya yang mendadak kembali berhenti berdetak total selama beberapa saat di tengah kepungan moncong senjata musuh tersebut, pandangan mata batin Ryuken mampu memperlambat pergerakan jari pemimpin bajak laut yang bersiap menekan pelatuk senjata. Gerakan musuh berubah menjadi gerakan lambat yang mati di dalam kepalanya. Sifat keteguhan yang mutlak memancar kuat dari dalam batinnya, bersiap meluncurkan ayunan tebasan cepat menggunakan katana tua berkarat miliknya demi menghancurkan seluruh keangkuhan para penjahat tersebut.