Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa yang Terpendam
Pagi itu langit cerah , setelah selesai membantu ibunya , ia memutuskan berkunjung kerumah Rani sahabatnya, Devi tiba di depan rumah Rani. Ia berdiri sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
“Assalamualaikum …”
Tak berselang lama, pintu terbuka dari dalam. Namun yang muncul bukan Rani, melainkan Bang Doni, kakak laki-laki Rani.
“Waalaikumsalam,” jawab Bang Doni dengan suara yang tenang.
Deg … deg … deg …
Jantung Devi seakan baru saja selesai maraton. Ia menunduk sebentar, berpura-pura merapikan ujung baju, padahal yang sebenarnya terjadi adalah panik berat di dalam dadanya. Maklum, ia sudah lama menyukai Bang Doni. Namun, Devi pantang sekali untuk mengungkapkan rasa sukanya lebih dulu. Prinsipnya sederhana: perempuan tidak boleh menembak duluan. Mungkin prinsip itu terasa kuno bagi gadis-gadis zaman sekarang, tetapi bagi Devi, itulah caranya menjaga harga diri. Ia hanya bisa memandang, mengagumi, dan menyimpan rasa itu dalam diam.
Di mata Devi, Bang Doni adalah sosok yang sempurna. Wajahnya tampan, meski tampan itu relatif, tetapi bagi Devi, tampan sekali. Senyumnya manis, bahkan gula pun bisa lewat karena kalah manis. Ia termasuk pemuda yang saleh, cocok dijadikan imam di masa depan. Pekerja keras, tidak pernah malu melakukan pekerjaan apa pun asalkan halal. Sama seperti ayah Devi yang selalu menekankan pentingnya pekerjaan yang halal. Bang Doni tidak pernah neko-neko. Pokoknya, ia adalah idola Devi. Devi sangat ingin menjadi makmumnya suatu hari nanti. Sayangnya, hingga kini Bang Doni belum pernah menunjukkan ketertarikan apa pun kepadanya. Nasib … cinta bertepuk sebelah tangan.
“Eh, Devi. Ayo masuk,” sapa Bang Doni sambil tersenyum kecil.
Devi merasa wajahnya sedikit panas. “Eh, Bang Doni … Rani ada, Bang?”
“Ada, ada. Ayo masuk. Dia ada di halaman belakang, mungkin lagi bersih-bersih. Langsung saja kamu ke belakang,” jawab Bang Doni sambil menyingkir sedikit, memberi jalan.
Devi mengangguk pelan, lalu melangkah masuk. Rumah Rani sudah ditembok keliling, sehingga halaman belakang terasa lebih tertutup dan nyaman. Begitu tiba di belakang, Devi melihat Rani dan ibunya sedang membersihkan sisa-sisa rumput serta merapikan tanaman.
“Assalamualaikum, Bude,” sapa Devi sambil mendekati ibu Rani. Ia menyalami dan mencium tangan Bude dengan hormat. Sejak kecil, Devi memang diajari untuk selalu menghormati orang yang lebih tua.
“Eh, ada Nak Devi. Sini, sini,” ujar Bude sambil mengajak Devi duduk di balai bambu di bawah pohon mangga yang rindang.
“Maaf, Bude. Devi mengganggu ya?” tanya Devi, merasa sedikit tidak enak karena mengganggu aktivitas mereka.
“Ah, tidak. Ini sudah selesai. Tinggal duduk-duduk saja. Mau ngapain lagi? Semua sudah beres,” jawab Bude sambil tersenyum ramah.
Tak lama, Rani datang mendekat dengan wajah sedikit berkeringat. “Hai, Dev! Tumben kamu mau main ke sini. Biasanya aku yang selalu nyamperin kamu ke rumah.”
Devi tersenyum. “Hehehe … Aku sudah beresin rumah. Mumpung sekolah libur.”
Mereka duduk berdampingan di balai bambu. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dan daun mangga. Di depan mereka, barisan sayuran tumbuh subur: kangkung, cabe, dan beberapa tanaman lain yang ditanam Bude.
“Oh ya, Ran … Rencanamu setelah lulus nanti mau ke mana?” tanya Devi.
Rani menghela napas panjang. “Ah, tidak tahu, Dev. Aku juga bingung mau ngapain. Pengin lanjut kuliah, tapi tahu sendiri keadaan keluargaku. Mungkin aku mau kerja saja supaya bisa membantu ibuku.” Ia menatap lurus ke depan, memandang tanaman sayuran yang bergoyang pelan. “Kasihan Bang Doni yang selama ini jadi tulang punggung keluarga.”
Devi tahu betul cerita itu. Rani adalah anak yatim. Ayahnya meninggal dunia ketika Rani masih duduk di bangku SD karena sakit. Sejak saat itu, Rani hanya tinggal bersama ibunya dan Bang Doni. Saat ayah mereka meninggal, Bang Doni baru kelas satu SMP. Ia terpaksa bekerja sambil sekolah. Di hari-hari libur, ia sering ikut nguli atau menjadi buruh di ladang. Beban itu sudah dipikulnya bertahun-tahun tanpa banyak mengeluh.
“Kalau kamu, rencananya mau ke mana setelah kita lulus, Dev ?” tanya Rani balik.
Devi menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan. “Sebenarnya aku juga pengin lanjut kuliah, Ran. Tapi sama saja … kedua orang tuaku tidak sanggup membiayai kuliahku.” Ia menunduk sebentar. “Mungkin aku juga mau cari kerja. Dengan bekerja, aku bisa menabung dan mengumpulkan uang untuk kuliah nanti.”
Mereka terdiam sejenak. Hanya suara daun mangga yang bergesekan dan kicauan burung di kejauhan yang mengisi keheningan.
“Oh ya, Ran … Tadi ayah sempat bilang padaku. Katanya pabrik yang ada di desa sebelah lagi buka lowongan di bagian produksi,” ujar Devi memecah keheningan.
Rani langsung menoleh. “Yang benar, Dev? Ayahmu dengar dari siapa?”
“Katanya dari teman kerja ayah.”
“Wah, kebetulan sekali! Gimana kalau kita mendaftar di sana? Siapa tahu kita bisa diterima. Lumayan, kita tidak perlu jauh-jauh mencari tempat kerja. Syukur-syukur bisa satu divisi,” kata Rani dengan semangat yang tiba-tiba muncul.
Devi tersenyum lega. “Itulah sebabnya aku ke sini menemuimu. Aku ingin mengajak kamu untuk mendaftar di pabrik itu. Kita bisa sama-sama mengurus berkas pendaftaran, lalu langsung mendaftar ke sana.”
“Boleh, Yun. Kita mendaftar sendiri atau bagaimana?” tanya Rani.
“Enggak lah. Kita ditemani kakakku, Kak Raka,” jawab Devi.
“Memang kakakmu tidak kerja?”
“Tadi Kak Raka bilang mau izin bosnya dulu kalau mau mengantar kita melamar pekerjaan di pabrik itu.”
“Oh … bolehlah kalau begitu.”
Rani lalu mengerutkan kening. “Oh ya … Ngomong-ngomong, kita kan belum punya ijazah. Ijazah kita saja belum keluar?”
Devi terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. “Oh iya … Aku baru ngeh, hehehe.”
Rani menatapnya sambil tersenyum dan menggelengkan kepala. “Coba besok kamu tanya ayahmu. Kira-kira kalau tidak pakai ijazah dulu, bisa tidak ya?”
“Iya. Besok aku tanya sama ayah. Kalau memang bisa tanpa ijazah, kita langsung mengurus berkas-berkas pendaftaran,” kata Devi.
“Oke. Siap. Besok kamu kabari ya.”
Devi mengangguk. Lalu ia menatap Rani dengan mata menyipit, pura-pura mencium bau. “Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu gih! Kita keluar jalan-jalan. Bau asem tahu, hehehe!” ujarnya sambil mendorong bahu Rani pelan.
“Sialan kamu! Tahu kayak gini kan aku mandi dulu dari tadi!” Rani bersungut-sungut, lalu masuk ke rumah menuju kamar mandi.
Devi tertawa terbahak-bahak. “Ran! Jangan tersinggung, cuma bercanda! Walaupun kamu tidak mandi dua hari, kamu tetap wangi kok, ha-ha-ha!”
Dari dalam rumah terdengar teriakan Rani. “Sialan kamu! Bercandamu tidak lucu!”
Devi semakin tertawa. Bude yang duduk tidak jauh dari situ ikut tersenyum sambil menggelengkan kepala, melihat kekonyolan kedua gadis itu.
Sambil menunggu Rani mandi, Devi mendekati Bude yang sedang menanam bibit di kebun kecil belakang rumah.
“Lagi mau nanam apa, Bude?” tanya Devi.
“Oh, ini, Nak Devi . Ibu lagi mau nanam bibit terong. Lumayanlah bisa untuk sayuran tiap harinya.”
“Ini bibit terong apa, Bude? Terong biru atau terong hijau?”
“Oh, ini ada dua macam. Ada yang biru, ada yang hijau,” jawab Bude sambil menunjukkan dua jenis bibit yang berbeda.
Devi menunjuk ke arah bibit lain. “Kalau yang ini bibit apa, Bude?”
“Oh, itu bibit kecipir. Lumayan untuk sayuran sehari-hari. Rani paling suka yang ini,” jelas Bude.
“Oh, gitu ya, Bude.”
Mereka terus berbincang. Bude menceritakan cara merawat terong supaya buahnya lebat, bagaimana mengatasi hama dengan cara alami, dan betapa pentingnya menanam sendiri agar tidak selalu membeli di pasar. Devi mendengarkan dengan saksama, sesekali bertanya, sesekali membantu memegang ember berisi tanah. Suasana terasa damai. Di kejauhan, terdengar suara Bang Doni yang sedang memperbaiki sesuatu di depan rumah, mungkin membenahi pagar atau membersihkan motor.
Devi sesekali melirik ke arah situ, lalu segera menunduk lagi, takut ketahuan. Dalam hati ia bergumam, ("Semoga suatu hari nanti … aku bisa lebih dekat dengannya. Bukan hanya sebagai adik sahabatnya, melainkan sebagai seseorang yang istimewa.")
Namun untuk saat ini, ia memilih menyimpan rasa itu rapat-rapat. Yang penting sekarang adalah langkah kecil menuju masa depan: mendaftar kerja bersama Rani, menabung, dan suatu hari nanti, mungkin, mewujudkan cita-cita kuliah yang selama ini tertunda.
Rani akhirnya keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah dan wajah segar. “Udah! Ayo keluar,” katanya.
Devi berdiri, mengelap tangan yang kotor karena tanah, lalu tersenyum pada Bude. “Bude, kami pamit dulu ya.”
“Iya, hati-hati. Jangan pulang terlalu sore,” pesan Bude.
Devi dan Rani lalu meninggalkan halaman belakang, siap menyusuri jalan desa sambil membicarakan rencana-rencana kecil mereka. Di balik tawa dan candaan, ada harapan yang mulai tumbuh, harapan untuk berdiri di kaki sendiri, meski langkahnya masih terasa goyah.
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja