Apakah waktu adalah dapat mengubah semuanya? Termasuk setiap kehidupan. Mungkin iya. Dan itulah yang dirasakan oleh gadis biasa yang terlempar ke dunia lain, dalam seketika dia mengubah semuanya dengan kedua tangannya sendiri.
Sebuah Negara yang amat besar harus terpecah belah menjadi dua sehingga memiliki latarbelakang yang sangat buruk.
Kehadiran gadis itu mungkin bukan main-main. Sehingga siapa saja dapat mengira bahwa gadis itu adalah 'Sebuah Ancaman'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permohonan
Hiragi terbangun dari tidurnya. Entah kenapa saat ini kepalanya begitu berat. Dan tangan kirinya keram.
Dia mendapati Harui yang tertidur di sampingnya, mungkin pria itu menunggunya. Tapi teringat dengan perkataannya. Hiragi perlahan-lahan meninggalkan Harui tanpa suara sedikit pun.
Dua minggu lagi adalah acara latih tanding. Saat ini Hiragi harus mencari seseorang yang bisa mengajarinya latihan. Dia berusaha mencari Erthan namun orang itu tidak ada di kamarnya.
《Di sisi lain.》
Harui membuka mata beratnya,dan menyadari bahwa Hiragi hilang dari ranjangnya. Harui bergegas berlari untuk mencari Hiragi, saat menoleh ke arah jendela besar dari lantai tiga, Harui melihat gadis itu bersama Erthan di halaman belakang tepat di gedung. Entah apa yang mereka bicarakan namun saat ini adalah kesempatan untuknya meminta maaf pada Hiragi.
...☄☄☄☄...
"Tidak tidak tidak." Ucap Erthan dengan wajah yang menyebalkan. Jika bukan Paman dari Harui mungkin Hiragi akan menghajar Paman barunya itu.
"Ayolah Paman, siapa lagi yang bisa melatihku selain dirimu!" Hiragi mencoba untuk merayu Erthan. Dan jujur saja Erthan senang dengan segala. pujian itu, tapi dia tetap menolaknya dengan alasan khusus.
"Kumo-"
"Aku yang akan melatihmu!"
Hiragi terkejut dengan suara yang ada di belakangnya, dia pun memutuskan untuk menoleh. Dan sekali lagi dia melihat pria itu tanpa pakaian di atasnya, dan melihat simbol sihir itu lagi.
Harui mendekat tapi Hiragi menjauh. Harui pun tidak tau kenapa dia mundur, perihal masalah besar itu Hiragi telah melupakannya, karena Hiragi bukan tipe orang mengingat hal. yang tidak penting, tapi walaupun memang Hiragi masih terus membayangkannya.
"Hi-ragi." Panggilnya lirih.
"Huft... Sudahlah aku tidak marah, ada apa?" Ucapnya dengan sedikit menutupi kebohongan di hatinya.
Walaupun Harui tahu bahwa Hiragi masih marah, dia akan tetap berusaha meminta maaf.
"Maaf."
"Hah? Sudahlah aku tidak memikirkan hal yang berlalu."
"Aku akan melatihmu, sebagai tanda minta maaf." Ucap Harui yang berhasil membuat Hiragi sedikit bersemangat.
"Benarkah?!"
Hiragi begitu kegirangan mendengar perkataan Harui. Begitupun dengan Harui, dia tak menyangka bahwa gadis itu masih bisa tersenyum setelah kejadian itu.
...☄☄☄☄...
Harui dan Hiragi menelusuri pertengahan Kota untuk menuju tempat pelatihan yang diarahkan Harui. Harui tidak memperbolehkan Hiragi untuk berlatih di gedung belakang, itu hanya digunakan untuk melatih sihir bukan fisik. Walaupun sama saja, namun Harui tetap keras kepala. Lagipula dia juga mengatakan bahwa tempat yang ingin mereka tuju sekarang adalah tempat latihan Harui.
"Harui~ kapan aku mempelajari sihir perut itu?" Tanya Hiragi untuk memecahkan keheningan.
"Itu bukan sihir perut bodoh!"
Hiragi tertampar oleh perkataan sadis Harui, walaupun memang bukan itu sebutan sesungguhnya.
Sesampainya di tempat pelatihan itu Hiragi terpukau melihat keindahan tempat itu. Itu seperti rerumputan yang luas dan berdiri satu pohon besar di sana, sungguh tempat menakjubkan!
Harui menggunakan sihir di area sekeliling mereka. Hiragi tak berhenti bertanya setiap Harui mengeluarkan sihirnya. Itu adalah sihir pelindung, untuk melindungi mereka berdua dalam proses latihan.
Harui mengangkat ke atas bajunya dan menghadapkan telapak tangannya ke arah simbol sihir itu. Dan keluarlah pedang besar khas Blue Dark milik Hiragi.
"WoOOOA!" Teriaknya. "Simbol itu memakan pedangku lalu memuntahkannya." Ucap Hiragi sembarangan.
Harui menghela nafas atas perkataan gadis itu. Harui menyerahkan pedangnya pada Hiragi.
BRUK!
"I-Ini pedang atau dirimu?!"
Ucap Hiragi dengan suara berat karena pedang itu.
Harui sempat bingung, kenapa gadis ini menyamakan berat badannya dengan sebuah pedang.
"Saat ini aku akan melatihmu untuk mengangkat pedangmu."
"Hah? Hanya itu? Aku ingin cepat melayangkan pedang ini tepat di wajah Krista itu!" Ucapnya dengan kasar membuat sekilas senyuman tipis Harui terukir di sela-sela pipinya.
Harui menjelaskan secara detail dengan apa yang harus dilakukan gadis itu. Harui telah membuat garis batas awal berhadapan dengan garis akhir, begitu lumayan panjang.
Hiragi harus mengangkat pedangnya menggunakan kedua tangan yang terjulur kedepan dan menahan keseimbangan serta kekuatan kedua tangannya saat menggunakan pedangnya sendiri.
...☄☄☄☄...
"Pedang ini berat sekali Ya Tuhan~!" Keluh Hiragi.
"Kau harus membiasakannya agar tubuhmu bisa mengetahui berat pedangmu, kau tidak akan bisa menebas apapun jika pedang sendiri kau tak bisa menggunakannya." Jelas Harui yang sengaja menyindir Hiragi.
Hal itu sengaja Harui lakukan agar termotivasi untuk menyemangati Hiragi dalam berlatih. Hiragi menatap tajam pria itu. Dan lekas berdiri menyeret pedangnya ke garis awal.
Menurut pelatihan Harui. Hiragi mampu dengan cepat mengangkat pedanya, biasanya diperlukan tiga atau dua hari untuk membuatnya kuat mengangkat pedang sendiri.
Empat jam berlalu selama Harui melatih Hiragi.
"Kemari!"
Harui memanggil Hiragi, dengan cepat gadis itu berlari menuju Harui. Pria itu menjelaskan beberapa hal yang harus diperhatikan saat memegang pedang, dan apa saja kegunaan dari pedang itu.
Karena Harui telah mengetes pedang itu, jadi
saat ini pedang itu seratus persen berhasil dibuat.
"Saat ini kau lumayan bagus dalam mengangkat pedangmu sendiri."
Hiragi tentu saja senang saat dipuji.
"Di kehidupanku yang sebelumnya, Ibuku pernah menyuruhku untuk membantunya mengangkat benda-benda yang berat, jadi sampai sekarang aku mulai terbiasa, yah walau pedang ini lima kali lipat lebih berat." Penjelasan Hiragi membuat Harui meneguk air liurnya sendiri.
Saat ini telah waktunya pulang, dari
pemandangan belakang pohon itu tergambar bebas warna langit yang jingga cerah. Hiragi saat ini mungkin mulai bisa menerima dirinya untuk berada di tempat ini.
Tempat yang terasa asing bagimu mungkin akan menjadi hal yang menarik disuatu hari nanti, yang perlu kau lakukan hanya menjalaninya saja sesuai dengan alirannya.
...☄☄☄☄...
Hiragi tampak kehilangan nyawanya saat ini. Yuri dan pelayan lain pun datang dari dapur membawakan makanan yang banyak. Hiragi seperti binatang buas saat ini.
"Hi-Hiragi makanlah perlahan, tidak akan ada yang mengambil makananmu." Ucap Erthan yang melihat Hiragi memakan makanan itu dengan liar.
Harui pun ikut mengkritik dengan pedas alhasil membuat gadis itu naik darah dan membuat kedua insan itu beradu mulut.
Erthan bingung seperti inikah jika merawat
dua anak yang berbeda pendapat.
"Aku tidak menikah pun sudah merasakan memiliki dua anak." Batinnya.
Harui pun pergi keluar setelah makan, dan tersisa hanya dua orang
"Paman, simbol sihir yang ada di badan itu apa?" Tanya Hiragi yang masih menyumpal cemilan di mulutnya.
Erthan berpikir sejenak.
"Oh, maksudmu ini?"
Erthan menunjukkan simbol sihir yang ada di tubuhnya tepat di atas lengan kanan. Hiragi juga terkejut karena bukan hanya Harui yang memilikinya.
"Ini adalah Force Meginal, sihir alami dari tubuh yang dapat mengeluarkan apapun yang tersimpan di dalamnya, itu tergantung dengan apa yang kita simpan," Jelas Erthan. Namun pikiran Hiragi telah melayang kemana-mana. "Dan kau harus tahu, Force Meginal milikku dan milik Harui itu sangat berbeda." Tambanya.
"Kupikir organ-organ juga ikut keluar, uwek!" Batinnya.
Hiragi menceritakan proses yang terjadi saat latihan, dan menceritakan simbol sihir yang disebut Force Meginal yang ada di perut Harui.
Moga komen ma like nya tersampaikan okey, yaa walau cuma 'Abc' ma 'Xyz'😆😆
Knp sad ending????