Seorang gadis penulis muda bernama Nabila Adidaya Ningrum yang mengalami gangguan di setiap menulisnya. Untuk mengatasi masalah tersebut ia pergi mencari tempat sepi nan hening yang tak lain adalah kuburan di belakang rumahnya.
Sementara di satu sisi seseorang laki-laki bernama Demian Putra Wijaya harus mengalami nasib buruk karena meninggal di usia mudanya. Demian sendiri sebelumnya adalah seorang penulis jenius yang cukup terkenal di masa mudanya. Setelah meninggal ia merasa kesepian karena keluarganya tak pernah mengunjunginya. Ia juga tak begitu akrab dengan penghuni yang lainnya dan sebab itu mereka menganggapnya sebagai arwah yang sombong. Darah Nabila mendadak menetes ke nisan milik Demian dan menyebabkan arwahnya bisa terlihat. Mulai dari situlah Demian ingin membantu Nabila dan mencari tahu penyebab dirinya meninggal. Akankah ada kisah cinta timbul diantara mereka? Ikuti kisah mereka selengkapnya disini👇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 "Semakin Ingin Membantunya"
Perpustakaan Kota Purwogading.
Seseorang pria muda seumuran dengan Demian tengah mengembalikan buku yang di pinjamnya kepada sang petugas sana. Pria tersebut meminta pada sang petugas untuk tidak meminjam buku itu kepada siapapun karena dirinya masih akan mengambilnya lagi. Sang petugas manggut-manggut mengerti. Pria dengan rambut sedikit panjang itu, lalu pergi setelah menyelesaikan urusannya.
Petugas perempuan penjaga perpustakaan pun dibuat dilema karenanya. Di sisi lain, ada Nabila yang memintanya untuk memberitahu jika bukunya sudah kembali. Sedangkan satunya lagi memintanya untuk tidak meminjamkan buku itu ke siapapun. Petugas perpustakaan berpikir sejenak, ia akhirnya menemukan solusi. Yakni menyuruh Nabila untuk datang saja dan ia akan memberitahunya nanti soal buku itu.
Nabila sendiri yang baru saja mendapat telepon dari perpustakaan kota, langsung mengakhiri kegiatan lari paginya dan segera menuju ke sana. Demian yang melihat Nabila pergi, memutuskan untuk mengikutinya.
Gadis dengan memakai celana jeans dan kaos lengan panjang itu mulai menghentikan bus. Nabila masuk dan diikuti oleh Demian dibelakangnya. Belum juga arwah ini masuk, pintu sudah di tutup dan membuat dirinya hampir terbentur. Ia tak sadar jika dirinya itu adalah arwah yang bisa menembus bahkan menghilang sekalipun. Demian seakan jadi lupa tentang siapa dirinya sekarang karena terlalu fokus pada Nabila.
"Kenapa aku harus bingung, aku kan arwah tinggal menghilang saja kan bisa?" pikirnya yang merasa bodoh.
Demian langsung menghilang dan sudah duduk di sebelah Nabila. Seorang bapak-bapak yang baru saja naik, berjalan ke kursi Nabila hendak duduk disana. Bapak-bapak tersebut tersenyum ke Nabila dan dibalas balik olehnya. Nabila mengerti maksud si bapak yang ingin duduk disebelahnya karena tak ada tempat kosong lagi disana. Demian yang masih duduk disana berniat menghilang untuk berpindah. Tapi terlambat karena bapak-bapak yang sedikit gempal itu sudah mendudukinya saat ini.
"Aww! Nih orang makan apa sih berat banget?" Rintih si arwah tampan yang mendadak bisa merasakan berat seseorang.
"Ini juga, mau kemana sih sebenernya? Masih lama kah, bisa pegel nanti." Demian beralih menatap gadis di sampingnya, ia merasa kesal karena harus menahannya dengan waktu yang lama.
...ΩΩΩΩΩΩΩ👻❤️👻ΩΩΩΩΩΩΩ...
Sekitar setengah jam, akhirnya Nabila tiba di halte bus dekat perpustakaan. Ia beranjak dari duduknya bersiap untuk turun. Tak lupa ia mengucap kata permisi pada sang bapak yang duduk di sebelahnya. Akhirnya bapak-bapak tersebut berdiri untuk mempersilahkan Nabila keluar dari duduknya. Demian sangat lega sekali dan langsung ikut mengejar Nabila.
Nabila mulai berjalan menuju perpustakaan kota, sementara Demian masih berdiri dengan berkacak pinggang sambil meluruskan otot-ototnya. Ia merasa sangat lega bisa bebas dari pangkuan bapak-bapak bertubuh gempal tadi.
"Kemana gadis itu?" Demian menengok ke kanan dan ke kiri mencari gadis kejarannya. Ia pun melihat perawakan Nabila dari belakang dan kembali mengejarnya.
"Permisi," ucap Nabila sopan setelah masuk ke dalam perpustakaan dan bertemu petugas.
"Mba Nabila?" Petugas itu memastikan namanya agar tak salah.
Nabila mengangguk sopan. "Apa bukunya benar-benar sudah kembali?" tanyanya.
"Sudah Mba, ini bukunya. Seorang baru saja mengembalikannya tapi mba gak boleh pinjam buku ini," jawab petugas menjelaskan sambil memberikan buku yang dimintanya.
"Kenapa?" Nabila bertanya.
"Aku tak tahu Mba, pria tadi menyuruhku untuk tidak memperbolehkan siapapun meminjamnya," jawabnya.
"Hah itu kan bukuku, jadi... gadis ini benar-benar sedang mencari bukuku," kaget Demian yang sudah sampai dibelakang Nabila.
"Hem baiklah, aku akan membacanya saja disini, itu tak masalah kan?" Nabila mengambil buku itu dari sang petugas dan memberikan sebuah usulan.
"Kalau itu.... boleh Mba, silahkan," jawab petugas perpustakaan dengan mengangguk.
Nabila ikut mengangguk tersenyum kepada petugas wanita yang terlihat lebih muda darinya. Dengan membawa sebuah buku ditangannya, Nabila mencari tempat duduk yang terlihat strategis dah nyaman.
Gadis manis itu, memilih tempat yang sering di duduki nya saat bersekolah. Nabila sudah sedari dulu menyukai buku dan perpustakaan. Hampir setiap pulang sekolah, ia pergi untuk membaca terlebih dahulu sebelum dirinya pulang.
Nabila duduk dan memulai membuka buku tersebut. Cover buku yang berwarna biru dengan penuh bintang itu bertuliskan judul bukunya, "A Writer's Dream".
"Sudah lama rasanya aku tak membaca buku ini kembali, terlihat masih sama seperti dulu ternyata," ucapnya sambil mengelus buku tersebut dan tak lama ia mulai membukanya.
Demian yang penasaran, duduk disampingnya untuk ikut membaca.
"Mimpi yang besar pasti dimulai dari yang kecil dulu." Salah satu kata mutiara tersirat didalam buku itu dan Nabila kembali mengembangkan senyum di pipinya.
"Kata-kata motivasi yang bagus, berkat buku ini aku bisa jadi seorang penulis sekarang," ucapnya bersyukur.
Seperti Nabila yang selalu mendapatkan nilai terbaik dalam pelajaran bahasa Indonesia karena hasil karangannya yang sempurna. Ia mulai mengembangkan bakatnya setelah membaca kalimat-kalimat motivasi yang ditulis dalam buku tersebut. Begitu juga dengan Demian yang sudah hobi membaca sedari kecil dan berkeinginan menjadi seorang penulis terkenal. Tapi tak disangka nasib tak baik menghampirinya, Demian yang sudah terkenal malah justru harus meninggal.
"Aku harap aku bisa seperti dia dan jika ada kesempatan aku ingin bertemu dengannya. Huh sangat disayangkan, penulis buku ini telah tiada," monolognya disela-sela bacaannya.
"Tapi jangan khawatir, walau dirimu tak ada tapi karyamu masih banyak yang menyukainya," ucap gadis itu kembali tersenyum.
Mendengar kata itu, membuat Demian sedikit terharu. Air matanya tiba-tiba menetes ditepi matanya. Ia tak ingin menyerah dan saat melihat Nabila yang fokus membaca karyanya. Ia jadi semakin yakin untuk membantunya mencapai impiannya.
"Kamu tenang saja aku akan membantumu, asal kamu tahu penulis dari buku itu ada di sampingmu sekarang. Kalau penulis yang kamu sebut itu muncul dihadapan mu kira-kira apa yang kamu lakukan?" Demian sedikit berpikir disana dan Nabila tak sengaja menanggapinya.
"Dan seandainya jika itu beneran terjadi mungkin aku akan minta tanda tangannya, atau mungkin meminta untuk mengajariku?" sambung Nabila sambil memikirkannya.
Di sisi lain, seorang pria mendatangi Redbook Company untuk menemui salah satu CEO di sana yakni Bu Cindy. Semua karyawan langsung berdiri seketika ketika mendapati pria tersebut berjalan sambil celingukan disana. Pria yang sama dengan yang di perpustakaan itu, terlihat kebingungan karena ini baru pertama kalinya berkunjung. Para karyawan hanya terpanah melihat ketampanan dari pria tersebut. Sella yang melihat pria tersebut tengah kesusahan pun menggeleng kearah rekan-rekannya yang hanya memandanginya saja tanpa berniat membantunya. Gadis berambut pendek itu, akhirnya menghampiri sang pria.
"Permisi, mas cari siapa ya? Sepertinya mas baru berkunjung," tebak Sella yang bertanya sopan.
"Ah iya Mba, ini memang pertama kalinya aku kesini. Jika boleh bertanya apa disini ada yang namanya Bu Cindy, kalau tak salah dia... CEO di sini?" jawab si pemuda bertanya balik. Ia sedikit menggaruk tepi kepalanya menandakan jika dirinya memang sedang kebingungan.
"Oh Bos Cindy maksudnya?" tanya Sella menebaknya.
Pria tersebut mengangguk.
Sella yang mengerti menawarkan bantuan padanya, "Mari saya antarkan ke ruangannya!" ajaknya ke pria muda dan tinggi di depannya.
Pria itu tersenyum padanya dan mulai mengikuti dirinya. Mereka berdua telah sampai di depan ruangan yang dicarinya.
Sella mengetuk pintu dan membuka perlahan pintu kaca tersebut.
"Tok tok tok, permisi!"
"Masuk!" Perintah Bu Cindy padanya.
"Ayo Mas!" Pria tersebut mengangguk. Bu Cindy menghentikan pekerjaannya dan mendongak untuk melihat tamunya.
"Rangga...! Keponakan Tante yang ganteng." Sontak Bu Cindy langsung beranjak dan memeluk si pria tadi dengan girang.
"Keponakan?" Sella yang masih berdiri di sana merasa bingung dengan situasi yang terjadi.
"Oh iya kenalkan, ini keponakan saya, Rangga namanya." Bu Cindy melepaskan pelukan rindunya dan mulai memperkenalkan keponakannya.
"Dia Sella salah satu karyawan Tante," ucap Bu Cindy memperkenalkan karyawannya pada sang ponakan. Rangga mengangguk-angguk mengerti.
"Ah jadi gadis baik ini namanya Sella, terima kasih ya," ucap Rangga sambil tersenyum mengangguk pada gadis cantik yang telah membantunya.
"I-iya sama-sama, kalau begitu saya pamit kembali Bu. Silahkan kalian mengobrol." Sella sedikit jadi sedikit malu di sana. Karena tak mau menggangu, gadis imut ini memilih meninggalkan ruangan.
Di dalam ruangan, Bu Cindy menuangkan secangkir teh padanya. Mereka berdua sekarang sudah duduk dan mengobrol. Pria tadi adalah Rangga Antariksa, keponakan Cindy yang baru saja datang dari Singapura. Ia datang ke kantor untuk menemui tantenya dan sekalian ingin meminta sesuatu darinya.
"Kapan kamu pulang Ngga? tanya tantenya pada ponakan satu-satunya itu.
"Kemarin malam Tan, tapi maaf baru berkunjung. Kemarin Rangga sibuk pindahan dan berencana untuk bekerja di sini," jawabnya sedikit merasa bersalah.
"Kamu ingin bekerja di kota ini? Dimana kamu ingin bekerja?" Cindy sedikit terkejut mengetahui ponakannya akan bekerja di kotanya. Ia sedikit penasaran dimana tempat kerja yang cocok untuknya.
"Di kantor Tante," jawabnya singkat setelah menyeruput tehnya.
Seketika Cindy langsung tersedak dan terkejut. Kedua matanya menatap serius ke arah keponakannya. Rangga adalah salah seorang penulis yang terkenal juga tapi tak begitu terkenal di Kota Purwo Gading ini karena karyanya tak pernah ia publikasikan ke Indonesia. Mendapati kesempatan pulang, ia pun berniat untuk mengembangkan karirnya di kota tersebut.
Bersambung....👻❤️👻
Pasti sakit lahh wong berdarahh...
ternyata demian gak mau bergaul bukan karena sombong ya, tapi dia sedih karena keluarga nya gak ada yang mau peduli lagi sama dia yang udah meninggal
tapi ko jadi penasaran mati nya itu damian karna apa ya🤔🤔🤔