Dijodohkan dengan seorang laki laki dari usia bayi tanpa diketahui, yang ternyata laki laki itu adalah musuh bebuyutannya di sekolah. Namun perjodohan sudah tidak bisa lagi untuk dihindari.
Bagaimana kisah kehidupan Arin dan Rafa selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Mata terus melirik ke arah lapangan, dimana istrinya masih berlari berkeliling. Melihat Arin membungkukkan tubuh terlihat begitu lelah, membuat Rafa tak tega dan meminta ijin ke belakang pada guru pengajar.
"Maaf Pak, Saya ijin ke toilet sebentar" pinta Rafa mengacungkan tangan, dan di setujui oleh guru.
Langkah kaki Ia percepat untuk bisa menghampiri istrinyam Sebotol air minum sudah Ia pegang hendak di berikan pada Arin. Namun setibanya di bawah, ekspresi cemasnya seketika beribah jengkel melihat Niko memberikan lebih dulu air pada Arin.
Yang lebih membuatnya kesal adalah istrinya yang malah mau saja di betikan minum dari tangan Niko tanpa protes. Padahal baru beberapa wakti lalu, Arin mengatakan jika akan segera memutuskan Niko. Memberi sedikit harapan pada cowok yang kini menggenggam kuat botol air mineral di tangannya.
"Dasar brengsek!" geram Rafa melempar botol berisi air begitu keras ke lantai, hingga Arin dan Niko juga Reta langsung menoleh ke arah ujung anak tangga.
"Lah, kenapa tuh si cupu?" heran Reta meluhat Rafa berjalan kembali menaiki anak tangga.
Rasa bersalah jelas terukir pada wajah Arin, melihat kilas suaminya pergi dengan wajah kesal. Ia tak menyadari jika Rafa sudah mengamati dirinya, dan mungkin memang sengaja membawakan air untuknya.
Raut wajah kesal, mengiringi langkah Rafa masuk ke kelas membuat ngeri semua teman kelasnya. Tubuh Ia hempaskan kuat sembari tangan mengepal, mengingat pemandangan menyebalkan yang baru saja Ia lihat.
Menyadari sahabatnya begitu kesal, Adi dan Alex mulai berbisik saling bertanya akan apa yang sudah terjafi padanya. Keduanya semakin merasa heran dengan Rafa. Bagaimana tidak, pagi tadi Ia tampak tak bersemangat, lalu ceria, dan kini berubah lagi kesal.
Selama pelajaran, tak sedikitpun Rafa bisa fokus karena pikirannya tetap melayang pada Arin dan Niko. Perasaan bahagia yang hinggap sebentar, kini sudah berubah lagi menjadi sebuah perasaan pasrah kembali. Ia tak yakin akan pernikahannya sendiri, yang mungkin takkan berjalan sesuai dengan apa yang Ia harapkan.
Bahkan hingga saat ini. Ia tak pernag tahu bagaimana perasaan Arin padanya. Yang diketahuinya hanya Arin masih terlihat begitu nyaman dengan perasaan cintanya pada Niko.
***
Jam istirahat sudah tiba, namun Rafa tak ingin beranjak sedikitpun dari bangkunya. Walau Adi dan Alex sudah memaksa terap saja Rafa tak ingin pergi dan memilih untuk membaca ulang mata pelajaran.
"Lo berdua pergi aja, Gue engga lapar" santai Rafa tetap menujukan pandangan pada buku paket yang Ia pegang.
"Ya kalau Lo engga makan, Kita juga engga makan Fa" sahut Adi duduk di samping sahabatnya.
"Iya, Kita disini aja sama Lo" tambah Alex menarik bangku dan duduk bersama Adi dan Rafa.
Melihat kedua sahabatnya duduk, Rafa menjadi tak tega. Karena Ia tahu jika kedua sahabatnya jarang makan sarapan dan memilih makan sewaktu istirahat.
"Ya udah ayo" seru Rafa berdiri di sambut senyuman dua sahabatnya.
Saling merangkulkan tangan, dimana Rafa berada di tengah mereka berjalan beritingan turun untuk menikmati makan di kantin. Keakraban ketiganya memang selalu menjadi tontonam menarik setiap hari. Walaupun kadang mereka menganggap jika lebih baik Rafa tidak ada dengan wajah cupunya, yang menghalangi ketampanan Adi dan Alex.
Begitu sampai kantin, langkahnya ragu untuk melangkah. Karena seperti biasa Arin sudah duduk bersama Niko yang menyangga dagu dengn tangan, mengamati Arin menikmati makanan.
Sengaja Ia lewat dan menyenggol kasar tubuh Niko, dan membuat cowok hampir terjatuh itu tak terima.
"Buta Lo?!" maki Niko berdiri menantap ke arah Rafa.
Hanya tatapan dingin penuh amarah ditujukan Rafa ke arah Niko bergantian pada Arin.
"Kacamata Lo kurang tebal, makanya mata Lo engga bisa lihat jelas!" jengkel Niko menghina, membuat Adi dan Alex tak terima.
"Rese banget tuh mulut Lo! Gue cabai rasa Lo!" tegas Alex melotot menarik kerah seragam Niko kasar.
"Udah!" bentak Rafa dan berlalu pergi.
"Gue peringatin Lo! ini sekolah bukan tempat pacaran! pergi jauh jauh Lo sama cewek Lo kalau mau pacaran!" tegas Rafa seraya menyindir Arin.
Tak terima akan ucapan cowok yang sudah berlalu pergi itu, Arin pun beranjak dari duduj dan berteriak.
"Lo iri kan? engga ada cewek yang mau sama orang jahat kaya Lo!" teriak Arin menghentikan langkah Rafa seketika.
Terasa sakit hingga menyayat apa yang telah terlontar dari mulut istrinya. Seorang gadis yang sudah mulai Ia cintai, bahkan sudah sah menjadi istrinya malah ikut memaki demi membela pacarnya.
"Bodoh, kenapa Gue ngomong gitu. Itu suami Gue sekarang, maafin Gue Fa" batin Arin menyesala melihat tatapan Rafa yang tertuju padanya.
Tersirat sebuah kekecewaan dan rasa sakit dari sorot mata Rafa yang mampu di tangkap oleh Arin. Tapi Dia juga terluka ketika Rafa menyebut dirinya cewek Niko, hingga harus tega melontarkan kata kata begitu kasar.
Soal’y wktu bru rilis saya ikutin smpe selesai
Eh pas pngen baca lgi ko di potong gini cerita’y
Jdi aneh deh
nganter ditimpuk ma rafa hahah