"Menikahlah denganku, aku akan memberikanmu uang untuk balas dendam. Habiskan semua uang, bahkan semua uang yang ada di rumahku..." Kalimat yang diucapkan oleh seorang pemuda rupawan, dengan tubuh sempurna, mengecup bibirku. Harum parfumnya yang maskulin telah menyatu dengan tubuhku.
Semalam kami memang melakukannya, benar-benar melakukannya. Pria yang paling sempurna di kantor tempatku bekerja, tampan, pintar, karier cemerlang. Apa yang kurang darinya? Kenapa dia mau-maunya tidur dengan si cupu muka jerawatan sepertiku.
Keberuntungan yang gila-gilaan!
*
Namaku Valentino, manager pemasaran. Tidak memiliki ambisi maupun cinta. Tapi ketika gadis berkacamata ini berani menentang dan menamparku di hadapan umum, saat itulah aku sadar. Aku membutuhkan gadis ini, predator yang akan aku bawa ke dalam rumah untuk melawan ayah dan ibu angkatku.
Memberinya cinta, dia akan menjadi kesatria. Sedangkan aku akan memeluknya dari belakang. Itulah aku, yang ingin bersembunyi di bawah rok istriku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin
...Jika ditanya kenapa aku menyukaimu? Bagaikan tetesan air hujan, tidak ada alasan baginya untuk merindukan bumi....
...Menjadi awan yang indah, namun tetap merindukan. Ingin memeluk dan menyatu dengan bumi yang kotor....
...Tidak ada alasan bagiku. Hanya merindukanmu, itulah alasanku mencintaimu. Bagaikan tetesan air hujan yang merindukan bumi....
Valentino.
Pemuda yang tidak pernah jatuh cinta. Tidak tahu cara mendekati wanita. Itulah dirinya, karena itu kala Yudistira memberinya saran, Valentino menelan saran tersebut mentah-mentah.
Mengatur strategi menjerat lawan adalah keahliannya. Matanya mengamati, sang mangsa tengah berteduh di post ronda. Seekor pinguin kecil tidak berdaya, setelah ini akan mengetahui bagaimana seekor lumba-lumba membantainya tanpa ampun.
Semua informasi sudah di dapatkannya. Mengetahui Zizy sudah beberapa hari di kampung ini. Termasuk, rencana Jaya tetangga sebelah yang akan kembali melamarnya besok.
Bagaimana cara picik memisahkan pasangan bahagia? Tentu saja mengambil tubuh calon pengantin wanita agar mengandung anaknya.
Valentino menjambak rambutnya sendiri, kenapa dirinya bisa senekat ini? Tentu saja terbiasa dengan kehadiran Zizy yang selalu bekerja lembur di kantor yang sudah bagaikan rumah bagi Valentino.
Wanita yang tidak pernah merayunya. Tetap bekerja walaupun kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Dan yang paling penting sifatnya, benar-benar sesuai kriteria.
Sejatinya ada yang aneh. Secara logika bisa saja Valentino sedikit bersabar untuk mencapai wanita cantik dari kalangan menengah ke atas. Tapi kenapa wanita ini?
Rasa tidak terima ada dalam dirinya kala mengetahui Zizy sudah memiliki kekasih. Bahkan memberikan bonus kerja lemburnya pada kekasihnya? Begitu menyayangi kekasihnya hingga tidak terima jika ada orang merendahkannya. Dirinya mengawasi pegawai yang tidak pindah divisi selama 7 tahun itu diam-diam.
Tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Hingga malam itu menyadari. Jika ada wanita ini di rumahnya akan terasa lebih menyenangkan. Malam dimana Zizy, menginap di kantor.
Tidak ada yang terjadi, tapi perasaan aneh terus menghantui Valentino. Mencari sosok wanita di diskotik maupun restauran ternama, tidak dapat menghapus bayangan wanita murahan itu.
Sudah pasti! Dari tingkahnya Zizy sudah pernah melakukan dengan mantan kekasihnya. Tapi dengan bodohnya Valentino ada disini. Ingin memilih wanita bekas tukang ojek online. Benar-benar memijit pelipisnya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Dirinya tidak akan membiarkan Zizy bahagia dengan petani cabai.
Satu kesimpulan yang diambil oleh Valentino."Aku menyukainya..." Perasaan suka karena terbiasa. Ada juga perasaan nyaman dan berdebar kala berada dalam satu ruangan dengan wanita itu. Ingin menyentuh tangannya tapi sulit.
Kali ini tidak boleh gagal! Karena ini adalah kesempatan terakhirnya. Pemuda yang turun di depan warung, membiarkan pakaiannya basah.
Matanya menelisik, seorang anak juga berteduh di tempat itu. Botol minuman di raihnya, membayar pada penjaga warung. Dirinya tidak memiliki apapun di sakunya selain obat tidur. Mengingat insomnia yang sering dialaminya, akibat ketakutan akan ancaman pembunuhan.
Benar saja satu butir obat tidur dimasukkan olehnya."Nak, mau uang jajan?" pertanyaan dari Valentino memberikan tiga lembar uang berwarna merah tersebut. Benar-benar perangkap yang sempurna bukan?
"Berikan minuman ini pada wanita di sana ya?" pinta Valentino. Mata sang anak berbinar, berlari dengan cepat menembus hujan dari warung hingga post ronda. Dan benar saja, setelah anak itu pergi, Zizy meminumnya. Kini hanya tinggal menunggu.
Rencana picik, sebuah jeratan yang dibuat olehnya.
Mobil mulai mendekati post ronda. Wajah Valentino mengamati baik-baik sosok wanita yang tengah tertidur. Sekilas memang tidak cantik, namun bentuk hidung, bibir bahkan setiap lekuk alisnya sempurna.
Wajah pemuda itu tersenyum, mengangkat tubuh santapannya di tengah hujan deras yang mengguyur. Villa adalah tujuannya. Sebuah villa yang cukup besar memang disewakan melalui salah satu aplikasi.
Hanya dengan mengirim uang dan tekan enter. Tidak akan ada masalah dengan lokasi eksekusi. Villa yang cukup besar, berjarak beberapa ratus meter dari rumah warga. Teriak pun tidak akan ada gunanya.
*
Hujan di luar sana masih turun. Pemuda itu masih mempertimbangkan segalanya. Menunggu Zizy sadar, tidak ingin melakukannya dengan wanita yang tertidur. Bagaimana pun ini pengalaman pertama seorang Valentino bukan?
Tapi bagaimana jika Zizy melawan? Pemuda yang menghela napas kasar. Hanya bermodalkan nekat, teringat tentang informasi yang didapatkannya. Seseorang bernama Jaya besok akan melamar Zizy.
Suara petir menyambar, mungkin membuat tidur wanita ini terusik. Perlahan mulai membuka matanya, menatap ke arah Valentino dengan heran.
"Pak Valentino?" Ucapnya terlihat sedikit linglung.
Bibirnya kelu untuk berucap manis. Jakunnya naik turun menelan ludah. Ragu untuk mengatakannya. Tapi kalimat ini harus tetap terucap, untuk membuat rumahnya kembali seperti semula. Dengan kehadiran wanita ini.
"Aku mencintaimu, mau menikah denganku?" Satu kata-kata manis yang membuatnya malu sendiri. Ingin muntah rasanya.
Tapi di luar dugaan mata gadis ini mengerjap."A...aku pasti bermimpi," gumamnya.
"Jika kamu merasa ini adalah mimpi. Nikmati saja." Kalimat yang keluar dari mulut Valentino.
Bibir Zizy dibungkamnya, rasa berdebar aneh yang semakin menjalar di tubuh pemuda itu. Semakin dinikmatinya maka, aliran darahnya semakin berdesir hebat.
Wanita yang melenguh di bawahnya. Apa dia menganggap ini memimpi yang indah? Sayangnya ini bukan mimpi. Helai demi helai pakaian Zizy berhasil ditanggalkannya. Begitu juga dengan pakaiannya yang basah. Dua orang yang berpelukan tanpa penghalang sedikit pun.
Benar-benar serakah akan kehangatan. Menghilangkan suhu dingin. Mata yang sama-sama terpejam, seakan menikmati setiap detik yang indah ini.
Tempat tidur berantakan, tangan Zizy hanya dapat memegang sprei sembari meracau. Rasa aneh ada dalam diri wanita itu. Tidak peduli ini mimpi, untuk pertama kalinya merasakan sensasi aneh. Mengapa Valentino harus ada dalam mimpi terliar nya?
Dirinya tidak mengerti, namun sosok rupawan yang bagaikan juga dirindukannya. Merindukan omelannya dan menatapnya dari jauh.Tapi pria ini mengatakan akan menikah dengannya? Ini hanya mimpi, itulah yang ada dalam benak Zizy membiarkan Valentino bergerak semaunya. Bahkan dirinya hanya dapat menonggakkan kepalanya kala Valentino menikmati bagian demi bagian tubuhnya. Memberikan berkas kemerahan.
Sensasi yang semakin menjadi-jadi kala ada sesuatu yang menerobos masuk. Ini tidak benar! Jika mimpi tidak akan terasa sakit bukan?
"Sa...sakit!" pekiknya. Tapi bibir Valentino lebih dulu membungkamnya. Pemuda itu sedikit tersenyum mungkin sudah menyadari segalanya. Melawan pun terlambat untuk Zizy.
"Sudah terlanjur, mimpimu menjadi nyata. Jadi nikmati saja..." bisiknya di telinga Zizy, semakin mengantarkan rasa sakit yang menjalar.
Kenapa bisa seperti ini? Mungkin hanya hal itu yang ada dalam benaknya saat ini. Tapi hanya sesaat, kala rasa sakit itu perlahan memudar, dua jemari tangan saling membelit. Bibir lembut yang menikmati sensasi kala kedua lidah mereka bertemu.
"Valen..." Racau Zizy, tidak mengerti dengan pemuda ini sama sekali. Hal yang tidak masuk dalam logikanya. Tapi logikanya kali ini pun telah patah, tidak dapat bergerak sama sekali. Berusaha melawan? Tapi jantung mereka seakan saling bersautan. Desiran darah yang mengalir dengan cepat, ke segala penjuru organ.
Tidak ada kata yang terucap hanya sunyi kala hujan menghapus semua suara racauan. Melakukan segala hal agar wanita ini tetap bersamanya. Termasuk merusaknya sebelum pernikahan. Tidak kotor, wanita ini belum tersentuh pria lain. Valentino menyadarinya, semakin menyukainya.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sukses ya kak💪