NovelToon NovelToon
Istri Figuran Sang Pewaris

Istri Figuran Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Figuran / Tamat
Popularitas:23.6k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.

Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.

Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.

Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.

Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?

JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA

FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Runtuh Begitu Saja

Laju mobil sedan hitam itu melintasi jalanan ibu kota dengan kecepatan di atas rata-rata. Di dalam kabin belakang yang hangat oleh pendingin udara yang telah disesuaikan suaranya, suasana begitu hening.

Alina masih meringkuk dalam balutan selimut tebal dan jas basah milik Leon. Kepala gadis itu terkulai lemas di dada bidang Leon, napasnya terdengar memburu dan tidak teratur. Setiap kali hawa dingin kembali merayapi sarafnya, tubuhnya refleks bergetar kecil.

Leon tidak melepaskan dekapannya. Tangan kanannya menopang punggung Alina, sementara tangan kirinya yang panjang dan hangat mengusap perlahan helai demi helai rambut hitam Alina yang masih basah. Matanya yang tajam menatap lurus ke luar jendela, namun pikiran pria itu berkecamuk hebat.

Ada rasa marah yang belum tuntas, amarah pada Clarissa, pada sutradara yang tidak kompeten, namun yang paling besar adalah amarah pada dirinya sendiri.

Kenapa dia membiarkan Alina pergi sendiri? Kenapa dia harus berpura-pura tidak peduli pada gadis ini hanya demi sebuah formalitas kontrak rahasia?

"Pak Joko, langsung menuju Rumah Sakit Internasional Alexander. Panggil dokter spesialis untuk menunggu di lobi VIP." perintah Leon singkat kepada sopir di depan, suaranya terdengar sangat menekan.

"Baik, Tuan Leon." jawab Pak Joko cekatan.

Mendengar kata 'rumah sakit', Alina yang berada dalam kondisi setengah sadar perlahan menggerakkan kepalanya. Jemari tangannya yang pucat dan gemetar mencengkeram kemeja basah Leon.

"Jangan... jangan ke rumah sakit, Leon..." suara Alina terdengar sangat parau, hampir seperti bisikan yang tenggelam.

Leon menunduk, menatap wajah pucat di dadanya. "Kamu hampir hipotermia dan tenggelam, Alina. Kamu butuh penanganan medis sekarang."

"Tidak... nanti... nanti Agra lihat..." Alina menyandarkan keningnya yang panas ke leher Leon, mencoba meraup sisa-sisa kesadarannya.

"Agra ada di rumah sakit itu. Kalau dia lihat aku dipapah masuk... dia bakal panik. Kondisinya baru stabil. Tolong... pulang ke apartemen saja..." serunya lagi.

Leon menegang. Bahkan dalam kondisi tubuh yang sudah berada di ambang batas ketahanan fisik, hal pertama yang dipikirkan gadis ini tetaplah adiknya.

Rasa penyesalan makin dalam menggerogoti dada Leon. Betapa tidak berdayanya gadis ini selama ini, menanggung beban sendirian tanpa ada tempat bersandar.

Leon diam selama beberapa detik sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang.

"Pak Joko, batal ke rumah sakit. Pulang ke penthouse. Telepon dokter pribadi keluarga untuk datang ke apartemen sekarang juga." perintahnya.

"Siap, Tuan."

Dua puluh menit kemudian, pintu ganda Kamar Utama penthouse terbuka. Leon melangkah masuk dengan napas sedikit terengah, masih menggendong Alina yang kini tubuhnya makin meninggi suhunya. Leon meletakkan Alina dengan sangat perlahan di atas kasur super king size tempat mereka tidur semalam.

Dokter wanita paruh baya dr. Siska, dokter keluarga Alexander yang sudah tiba lima menit lebih awal dengan instruksi darurat Jefri, segera mendekati ranjang dengan tas medisnya.

"Tuan Leon, mohon tinggalkan ruangan sebentar agar saya bisa mengganti pakaian Nona dan memeriksanya." ucap dr. Siska profesional.

Leon berdiri di tepi ranjang, menatap Alina yang matanya kembali terpejam rapat. Ada keengganan yang nyata pada raut wajahnya untuk meninggalkan ruangan itu, namun dia akhirnya mengangguk.

"Tolong pastikan dia mendapatkan perawatan terbaik, Dokter. Tangan kirinya juga mengalami luka bakar yang terkena air kolam." ucapnya dengan begitu serius.

"Baik, Tuan. Saya paham."

Leon melangkah keluar kamar, membiarkan dr. Siska dan seorang perawat wanita menjalankan tugas mereka.

Di luar kamar, Leon menyandarkan punggungnya pada dinding marmer yang dingin. Dia memejamkan mata, membiarkan air kolam yang menetes dari pakaiannya membasahi lantai.

Pikirannya melayang pada kejadian di tepi kolam renang tadi yaitu saat dia melihat Alina tenggelam tanpa ada satu pun orang yang menolongnya dengan cepat.

'Jika aku terlambat satu menit saja...' pikir Leon, kepalan tangannya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.

Rasa takut kehilangan yang belum pernah dia rasakan sejak kematian orang tuanya mendadak menyergap tangkai hatinya. Dan itu menakutkan bagi seorang Leon Alexander.

Setengah jam kemudian, pintu kamar terbuka. dr. Siska keluar sembari merapikan stetoskopnya.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Leon cepat.

"Nona Alina mengalami demam tinggi akibat kelelahan ekstrem dan penurunan suhu tubuh yang drastis. Beruntung paru-parunya tidak terisi banyak air." jelas dr. Siska dengan raut wajah lega.

"Saya sudah memasangkan infus nutrisi dan penurun panas, serta membersihkan ulang luka bakar di tangan kirinya. Lukanya sedikit terinfeksi karena air kolam, tapi sudah saya beri salep antibiotik khusus. Dia butuh istirahat total selama beberapa hari ke depan, Tuan." terus dr. Siska.

"Apakah dia perlu dirawat inap?" tanya Leon dengan begitu serius.

"Untuk saat ini tidak perlu, asal penanganan di rumah dilakukan dengan benar. Jaga suhu tubuhnya tetap hangat dan pastikan cairan infusnya berjalan lancar. Saya akan kembali besok pagi untuk memeriksa perkembangannya."

"Terima kasih, Dokter."

Setelah mengantar dokter ke depan bersama Jefri, Leon kembali melangkah masuk ke Kamar Utama. Ruangan itu kini bernuansa lebih hangat. Lampu utama diredupkan, menyisakan pendar lampu tidur berwarna keemasan.

Alina terbaring di tengah kasur luas itu. Pakaian wet-suit dan seragam pelayannya telah berganti menjadi piyama bahan katun longgar berwarna merah muda lembut.

Tangan kirinya terbalut perban baru yang lebih rapi, sementara tangan kanannya terpasang selang infus yang menetes pelan. Selimut tebal membungkus tubuhnya hingga sebatas dada.

Leon berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang di samping Alina. Dia mengulurkan tangannya, menyentuh kening Alina dengan punggung jemarinya. Panasnya masih terasa, namun tidak sejelas saat di mobil tadi.

Alina bergerak sedikit dalam tidurnya, mendesis pelan seolah merasa terganggu oleh hawa dingin yang masih tersisa di dalam mimpinya. Muka cantiknya berkerut, dan bibirnya yang pucat bergumam tanpa arah.

"Ibu... dingin... Agra..." bisik Alina parau dalam igauannya.

Mendengar bisikan itu, dada Leon terasa seperti dihantam sesuatu yang tumpul. Rasa keangkuhan dan benteng pertahanan dingin yang selama ini dia bangun tinggi-tinggi seolah runtuh begitu saja dalam satu malam.

Pria yang biasanya dipuja oleh jutaan penggemar dan ditakuti oleh lawan bisnisnya ini, kini hanya merasa seperti seorang pria biasa yang ingin melindungi wanitanya.

Leon melepas sepatu dan jam tangannya. Dia merayap naik ke atas ranjang, memposisikan tubuhnya berbaring di samping Alina di sisi kanan kasur.

Dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh kehati-hatian agar tidak menyenggol selang infus, Leon menarik tubuh ramping Alina ke dalam pelukannya.

Dia menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut tebal yang sama, mendekap Alina erat-erat di dada bidangnya, menyalurkan kehangatan tubuhnya secara langsung kepada gadis yang sedang bertarung dengan rasa sakit itu.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
Mira Hastati
bagus
Rarik Srihastuty
walaupun dipaksa tamat, setidaknya ada akhir yg bahagia. digantung sedikit 🤭
Rarik Srihastuty: padahal bagus lho ceritanya 🥲
total 1 replies
Manis
kenapa d paksa tamat sih😭
Lala_Syalala: maaf ya kak karena ending yang kurang pas, ini karena ada beberapa hal yang membuat aku harus cut cerita sampai di sini, semoga bisa buat tema cerita seperti ini dengan lebih baik lagi ya kakk,,, mohon selalu support author yaaa🙏🙏
total 1 replies
Akhmad Soimun
aku boleh kan kecewa?
Lala_Syalala: boleh kak,,, author juga sebenernya kecewa karena harus menamatkan cerita ini, tapi jujur ada beberapa hal yang buat aku harus menyelesaikannya kak🙏🙏😔😔
total 1 replies
Akhmad Soimun
akhir yg aneh
Rarik Srihastuty
lanjut
Silvia
lanjut💪💪
partini
good story
Akhmad Soimun
gantian kamu yg sakit ,Leon😁
Asni Mariati
romantis nyee😍😍😍
Mamah'e Andhika Rizky
💝💝💝💝💝💝
Rarik Srihastuty
tembok tinggi yang dibangun Leon pelan2 telah roboh
Mamah'e Andhika Rizky
👍👍👍👍lanjut thor.....
Rarik Srihastuty
gimana Clarissa enak kan ditendang dari pemeran utama dan sekaligus ditendang dari dunia hiburan 😂😂😂
DiTA
keren Leon...jangan lama lama up nya Thor
Silvia
lanjut💪💪
Mamah'e Andhika Rizky
seru bgt ....lanjut kk 💝💝💝💝
Rarik Srihastuty
saatnya Clarissa dapat balasan yng setimpal, ayo lanjut thor
Euis Amalia
datang saat yg tepat... bikin baper aja nihhh🤣👍🙏
Kalila Betung
dikit kali Thor kurang....!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!