NovelToon NovelToon
Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."

***

"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."

Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.

***

"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Scrapbook

Beberapa hari berlalu.

Sudah hampir satu minggu Andara dan Azlan bergantian memantau taman, pasar, hingga sekitar stasiun.

Namun, tidak ada satu pun kejadian mencurigakan. Anak laki-laki penjual tisu itu masih berjualan seperti biasa.

Tidak ada mobil gelap. Tidak ada orang asing yang menghampirinya. Tidak ada laporan anak hilang baru.

Sore itu, Andara dan Azlan kembali duduk di bangku taman yang mulai mereka hafal letaknya.

Azlan mengembuskan napas panjang. "Yuk, Dar. Kita pulang aja."

Andara masih memandangi jalanan di depannya. "Hm?"

"Hasilnya sama aja, nggak ada apa-apa. Mungkin emang kita yang salah menduga."

Andara langsung menggeleng. "Nggak, Azlan. Gue yakin banget."

"Tapi buktinya anak itu masih ada." Azlan menunjuk ke arah bocah penjual tisu yang sedang melayani pembeli.

"Seminggu kita mantau. Kalau memang dia targetnya harusnya udah ada pergerakan."

Andara terdiam beberapa detik. Tatapannya terus mengikuti bocah itu.

Lalu ia bergumam pelan. "...Apa kita salah target?"

Azlan menoleh. "Maksud lo?"

"Bisa aja bukan anak itu yang mereka incar. Mungkin ada anak lain. Dan kita nggak tau."

Azlan mengusap wajahnya kasar. "Dara, please. Polisi aja belum dapat petunjuk baru. Kita juga nggak mungkin ngawasin semua anak jalanan."

Andara akhirnya mengembuskan napas pelan. "Iya juga..."

Ia berdiri dari bangku taman. "Yaudah. Ayo kita pulang."

Azlan justru menatapnya curiga. "Tumben. Lo langsung ngiyain."

Andara mengangkat sebelah alis. "Kenapa? Gue nurut salah?"

"Bukan." Azlan menyipitkan mata. "Gue kenal lo. Kalau biasanya lo pasti bakal ngotot. Nah ini malah langsung mau pulang."

Andara mendengus pelan. "Ck. Lo tuh bawel, ya. Gue nekat salah. Gue nurut juga dikomentarin."

Azlan terkekeh kecil. "Soalnya gue hafal sifat lo. Lagian... Jangan sampai nanti lo diem-diem nyari informasi lagi."

Andara memutar bola matanya malas. "Berisik. Mending pulang."

Azlan menggeleng sambil tersenyum tipis. Dalam hati ia tetap belum tenang.

Ia tau, Andara memang sudah mengajak pulang. Tetapi itu bukan berarti gadis keras kepala itu benar-benar menyerah.

Justru saat Andara terlihat terlalu mudah mengalah biasanya ia sudah menyimpan rencana lain di kepalanya.

***

"Tuan, mereka sepertinya sudah menyerah." Max menutup tablet yang sejak tadi berisi laporan pemantauan.

"Dua mahasiswa itu hari ini tidak terlihat lagi di sekitar taman maupun stasiun."

Tristan yang sedang menikmati secangkir kopi hanya mengangguk pelan. "Bagus. Kalau begitu rencana kita berhasil."

Max kembali bertanya, "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Tuan?"

Tristan menatap ke luar jendela. "Belum. Biarkan dulu kita tetap diam. Jangan ada satu pun pergerakan. Semakin lama kita menghilang, semakin mereka yakin kalau dugaan mereka salah. Setelah semuanya lengah baru kita mulai lagi."

"Baik, Tuan." Max mencatat instruksi itu.

Beberapa detik kemudian, ia kembali membuka map berwarna hitam di tangannya.

"Ngomong-ngomong, Tuan. Hasil penyelidikan tentang keluarga Malik sudah selesai."

Tristan langsung menoleh. "Bagaimana hasilnya?"

Max membuka salah satu lembar laporan. "Dari informasi yang kami kumpulkan, bertahun-tahun lalu, Tuan Willy pernah membantu sahabatnya. Sahabatnya bernama Dewa."

"Apa yang mereka lakukan?"

"Mereka menculik ibu dari gadis itu."

Tatapan Tristan berubah tajam. "Menculik? Untuk apa?"

Max menarik napas pelan sebelum menjawab. "Menurut data yang kami dapat, Dewa menyukai dan terobsesi kepada ibu Andara. Ia ingin memiliki perempuan itu. Namun perempuan tersebut menolak. Ketika ayah Andara berusaha menyelamatkannya, Dewa justru menusuknya."

Raut wajah Tristan semakin serius. "Lalu?"

"Dewa bersama salah satu rekannya tidak sempat melarikan diri. Mereka berhasil ditangkap aparat. Dan akhirnya dijatuhi hukuman penjara."

Tristan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Lalu Daddy?"

Max menggeleng pelan. "Itulah yang masih menjadi tanda tanya. Di tengah kekacauan saat penangkapan, Tuan Willy berhasil kabur. Hingga hari ini tidak ada catatan resmi yang menjelaskan bagaimana beliau bisa keluar dari Indonesia. Kami juga belum menemukan siapa yang membantu beliau melarikan diri ke luar negeri."

Ruangan kembali hening. Tristan menatap kosong ke arah map di tangannya. Begitu banyak bagian dari masa lalu ayahnya yang ternyata tidak pernah ia ketahui.

Akhirnya ia menutup map itu perlahan.

"Baiklah. Nanti akan saya tanyakan langsung kepada Daddy."

Max mengangguk hormat. "Baik, Tuan. Kalau memang beliau bersedia menceritakannya mungkin kita akan mengetahui siapa sebenarnya keluarga Malik di masa lalu."

Tristan tidak menjawab. Tatapannya kembali jatuh pada foto Andara yang masih berada di atas meja.

Kini ia sadar, hubungan antara keluarganya dan keluarga Malik ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar dendam lama.

***

Andara mungkin gagal mencari tahu lebih jauh. Namun menyerah?

Itu bukan sifatnya.

Kata menyerah tidak ada dalam kamusnya. Bahkan cinta yang sudah ditolak berulang kali, ia masih sanggup bertahan. Apalagi ini?

Justru semakin tidak ada petunjuk, semakin ia yakin ada sesuatu yang sedang disembunyikan. Seharian ini pikirannya terus bekerja.

"Apa mungkin mereka sudah tau kalau ada yang sedang mencari mereka?"

Kalau memang begitu berarti mereka sengaja menghentikan semua aktivitasnya. Kalau benar demikian, maka ia tidak boleh terus terang lagi.

Ia harus bermain lebih rapi. Lebih sabar. Dan lebih cerdas.

Andara masih tenggelam dalam lamunannya di balkon kamar ketika sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya.

"Andara?"

"Ya Allah, Bunda!" Andara refleks menoleh sambil memegang dadanya. "Bunda ngagetin Dara aja."

Aira terkekeh pelan. "Lho, Bunda udah masuk dari tadi. Kamu aja yang melamun sampai nggak sadar."

Aira kemudian berdiri di samping putrinya. "Ada yang lagi dipikirin?"

Andara langsung menggeleng. "Eh... enggak ada, Bun."

"Beneran?"

"Iya, Bunda sayang."

Aira menatap wajah putrinya beberapa saat. "Kirain lagi mikirin mau kasih hadiah apa buat kakak kamu."

Andara mengernyit. "Kak Kafa?"

"Iya." Aira mengangguk sambil tersenyum.

Andara langsung membelalakkan mata. "Astaghfirullah..."

Hampir saja ia menepuk dahinya sendiri. Karena terlalu fokus memikirkan kasus penculikan itu... ia sampai lupa.

Dua hari lagi Kafa berulang tahun. Tanggal yang selama ini tidak pernah luput dari ingatannya. Bahkan sejak kecil.

Dan tahun ini, ia justru hampir melupakannya.

Aira tersenyum melihat ekspresi putrinya. "Nah, kan. Kelihatan lupa."

Andara hanya nyengir malu. "Hehe Iya, Bun aku beneran lupa."

"Biasanya..." Aira melanjutkan sambil duduk di kursi balkon. "...kamu selalu kasih hadiah yang nggak pernah kepikiran sama orang lain. Tahun ini mau bikin apa lagi?"

Andara berpikir beberapa detik. "Hehe... Belum kepikiran."

Aira mengangkat sebelah alis. "Tumben."

"Hm... Mungkin karena lagi banyak tugas."

Aira mengangguk pelan. "Yaudah, nggak apa-apa. Lagian Kafa juga nggak pernah minta hadiah."

"Tapi..." Aira tertawa kecil. "Azra pasti penasaran. Soalnya tiap tahun hadiah dari kamu selalu aneh-aneh."

"Bukan aneh, Bun." Andara langsung membela diri. "Itu namanya kreatif."

Aira tertawa makin lebar. "Iya iya, kreatif."

Andara ikut tersenyum. Di dalam kepalanya mulai muncul sebuah ide.

"Scrapbook..."

Berisi foto-foto mereka sejak kecil. Tiket-tiket tempat yang pernah mereka datangi bersama.

Ucapan-ucapan sederhana. Dan surat yang ia tulis sendiri.

Mungkin... tahun ini ia tidak akan memberikan sesuatu yang mahal. Tapi sesuatu yang bisa dikenang.

"Gampang kok, Bun. Kali ini sederhana aja."

Aira mengangguk. "Yaudah. Bunda ke bawah dulu. Bunda cuma mau manggil kamu buat makan malam."

"Iya, Bun. Nanti Dara nyusul."

Aira mengusap lembut kepala putrinya sebelum keluar dari kamar.

Begitu pintu kembali tertutup, senyum di wajah Andara perlahan memudar. Tatapannya kembali mengarah ke langit malam.

"Kak... Aku hampir lupa ulang tahun kamu. Padahal biasanya aku yang paling semangat."

Ia mengembuskan napas pelan. "Lagi-lagi gara-gara kasus itu."

***

Setelah makan malam, Andara langsung masuk ke kamarnya. Ia mengeluarkan sebuah buku sketsa berukuran A4 dari dalam laci meja belajarnya.

Di sampingnya sudah berserakan gunting, lem, kertas bermotif, pita kecil, spidol warna, serta sebuah kotak berisi foto-foto lama yang selama ini ia simpan.

Andara tersenyum kecil. "Tahun ini sederhana aja."

Ia membuka halaman pertama. Dengan tulisan tangan yang rapi, perlahan ia menuliskan judul besar di bagian tengah.

Happy Birthday, My Future Husband.

Begitu selesai, Andara memandangi tulisan itu beberapa detik.

Senyumnya semakin lebar. "Semoga... tahun depan berubah jadi... Happy Birthday, My Hubby."

Ia terkekeh pelan sendiri. "Doa dulu, siapa tau Allah kabulkan."

Satu per satu foto mulai ia pilih. Ada foto saat Kafa menggendongnya ketika masih balita. Foto ketika mereka sama-sama mengenakan pakaian Lebaran.

Foto saat Kafa mengajarinya naik sepeda. Foto keluarga. Foto ketika Kafa wisuda. Hingga beberapa foto candid yang diam-diam pernah ia ambil.

Andara mulai menggunting pinggiran foto-foto itu agar terlihat lebih estetik. Lalu menempelkannya dengan hati-hati di setiap halaman.

Di sela-sela foto, ia menambahkan bunga kering, potongan kertas bermotif, dan coretan kecil yang membuat scrapbook itu terasa hidup.

Sesekali ia tersenyum sendiri saat mengingat momen di balik setiap foto. Pada salah satu halaman yang paling ia sukai, Andara menuliskan sebuah kalimat dengan tinta cokelat.

"Matamu, betapa kejamnya keindahan itu. Jenis keindahan yang membuat musim gugur pun iri. Mengingatkanku pada daun-daun keemasan yang tertiup angin, pada buku-buku lama dan cerita yang ingin dituturkan. Kulihat api yang tak pernah padam di dalamnya. Dan setiap kali kau menatapku, aku selalu yakin... aku akan jatuh cinta lagi, dan lagi."

Andara memandangi tulisan itu cukup lama. Lalu ia tersenyum kecil sambil menggeleng.

"Ah... Lebay banget sih aku."

Meski begitu, ia tidak menghapusnya. Baginya, kalimat itu adalah hal paling jujur yang pernah ia tulis.

Malam semakin larut. Jam dinding perlahan menunjukkan pukul sebelas tepat.

Andara akhirnya meletakkan lem yang sedari tadi berada di tangannya. "Huft... Selesai juga."

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya menatap scrapbook yang kini telah penuh dengan kenangan, doa, dan perasaan yang ia simpan selama bertahun-tahun.

Tak ada hadiah mahal. Tak ada barang mewah. Hanya kumpulan kenangan yang ia rangkai dengan penuh cinta.

Andara mengusap pelan sampul scrapbook itu. "Selamat ulang tahun lebih dulu ya, Kak. Semoga Allah selalu menjaga kakak. Semoga semua impian kakak tercapai. Dan..."

Ia tersenyum malu. "...semoga salah satu impian aku juga ikut dikabulkan."

Ia menutup scrapbook itu perlahan, lalu menyimpannya di dalam kotak kado berwarna hitam yang telah ia siapkan.

Sebelum mematikan lampu kamar, Andara melirik sekali lagi hadiah itu.

"Semoga... kali ini kakak benar-benar membacanya sampai halaman terakhir."

Malam semakin larut. Jam digital di nakas kamar Kafa menunjukkan pukul 00.17. Namun, matanya sama sekali belum bisa terpejam.

Ia sudah beberapa kali mematikan lampu. Lalu menyalakannya lagi. Merebahkan tubuh. Kemudian kembali bangun. Akhirnya ia memilih duduk di tepi ranjang sambil menatap ponsel di tangannya.

Tanpa sadar, ia membuka ruang obrolannya dengan Andara.

Chat terakhir masih berasal darinya.

Kafa: Maaf.

Setelah itu... tidak ada lagi percakapan panjang seperti biasanya. Biasanya setiap pagi Andara akan mengirim pesan.

"Selamat pagi, my future husband."

Atau mengirim foto makanan. Mengirim meme receh. Mengganggunya tanpa alasan.

Sekarang... semuanya terasa jauh lebih sepi.

Kafa mengembuskan napas pelan. Pikirannya kembali pada beberapa hari terakhir.

Andara selalu bersama Azlan. Pergi berdua. Pulang berdua. Sering menghilang tanpa memberi tau dirinya.

"Apa mereka... sedang dekat?" batinnya.

Namun ia segera menggeleng. "Nggak mungkin."

Andara bukan tipe perempuan yang mau berpacaran..Ia mengenal gadis itu sejak kecil.

Andara selalu berkata, "Kalau aku suka sama seseorang ya pasti itu Kakak orangnya. Aku nunggu dilamar, mana boleh pacaran sama Abi."

Lagi pula... Andara terlalu menjaga dirinya. Mustahil ia menjalin hubungan seperti itu.

Namun ada satu hal yang membuat Kafa semakin gelisah.

Ia tau. Tatapan Azlan kepada Andara. Tatapan itu bukan tatapan seorang sahabat. Melainkan tatapan seorang laki-laki... yang diam-diam menyimpan rasa.

Setiap Azlan melihat Andara tersenyum sorot matanya ikut berubah. Saat Andara menangis, Azlan adalah orang yang mengejarnya dan menghiburnya.

Dan saat Andara dalam bahaya, Azlan selalu berdiri di sampingnya.

Sebagai laki-laki, Kafa mengerti arti tatapan itu. Ia meremas pelan ponselnya.

"Kalau Azlan benar-benar menyatakan perasaannya. Apa Andara akan menerimanya?"

Pertanyaan itu tiba-tiba membuat dadanya terasa sesak.

Aneh. Padahal... bukankah selama ini ia selalu berharap Andara berhenti mengejarnya?

Berharap gadis itu menemukan laki-laki lain. Berharap Andara melupakan perasaannya. Bukankah itu yang terbaik?

Lalu... kenapa sekarang justru terasa seperti ada sesuatu yang hilang?

Kafa menyandarkan kepalanya ke dinding. Matanya menatap langit-langit kamar.

"Apa benar... cegil itu sudah berhenti mengejar aku?"

Ia teringat beberapa hari lalu. Ucapan Andara yang masih terdengar jelas di telinganya.

"Emang aku siapa? Bukan siapa-siapa kakak, kan?"

Kafa menutup kedua matanya. Entah mengapa, kalimat itu kembali menusuk dadanya. Ia baru menyadari.

Beberapa hari terakhir bukan hanya Andara yang berubah..Dirinya juga..Ia mulai mencari keberadaan gadis itu. Mulai penasaran sedang apa. Mulai kesal ketika Andara tidak membalas pesannya. Mulai merasa tenang jika melihat Andara tertawa.

Dan mulai... tidak suka melihat gadis itu terlalu dekat dengan laki-laki lain.

Kafa membuka matanya perlahan. Lalu bergumam lirih di dalam kamar yang sunyi.

"Kenapa... jadi begini?"

Tak ada seorang pun yang menjawab. Hanya keheningan malam yang menemani kegelisahannya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menganggap Andara hanya sebagai adik... Kafa mulai mempertanyakan perasaannya sendiri. Dan itu justru lebih menakutkan daripada penolakan yang selama ini selalu ia berikan kepada Andara.

1
Aidil Kenzie Zie
padahal Giska takut Kafa yg akan berulah e e e ternyata bapaknya yang nyari 3B 🤭🤭🤭
Syti Sarah
kok Willy jdi sprti itu ya .anak2 yg gak brdosa yg. mnjdi kroban nya
syora: ulh yg gmna nih takutnya udh yg dibuat over dosis,bikin kita trauma 🤭🤭🤭🤭
total 4 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh kasian nasib keluarga yang anaknya diculik
cutegirl
sok deh bapak bapak
Syti Sarah
mungkin ini lh nanti pnyebab Giska sama Kafa gak jdi mnikh kli ya.org tua Giska trllu mrndahkn org lain yg di anggap nya tidak setara dgn nya .jngan trllu mrndahkn org lain nnti akan nyesel sndiri pak
Syti Sarah: kata aku dong Thor 🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Syti Sarah
yg kuat ya dar 🥺
Aidil Kenzie Zie
kamu masih berharap Dara ngejar???😡😡 sakit kamu Kaf🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
mulai deh Tristan bikin ulah


mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
cutegirl
bagus dar lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kayaknya sekarang giliran kafa yang mendekati
Syti Sarah
Bru Mrsa khilngan kn kamu kaf ,itu lh juga yg dara rasakan
Ayudya
mampir kak
cutegirl
up lgi dong ka😋
Syti Sarah
ciiie,ada yg lgi cmburu tuh 🤭🤭

selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang cemburu gantian
Anak manis
ikut sedih🥲
Shabrina Darsih
jd ukut sedih
Syti Sarah
ikhlasin aja dar,Toh nanti ujung2 nya Kafa sndiri yg mngjar kamu.biar dia MRSA apa yg kamu rasain dar.mncintai seseorang tpi tak bisa untuk menggapai nya
Aidil Kenzie Zie
nggak usah dipedulikan lagi Dar cuex bebek aja🤣🤣🤣
Syti Sarah
ya udh dar,lupain aja .kamu juga hrus bhgia dara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!