Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rumah yang berubah 2
Setelah membereskan meja makan, Haseena membawa piring-piring kotor ke dapur.
"Bah, piringnya biar Haseena aja."
"Iya."
Rayyan menjawab singkat.
Tidak seperti biasanya.
Hari itu ia tidak ikut berdiri di samping wastafel membantu membilas piring.
Haseena sempat melirik sekilas.
Rayyan hanya duduk di kursi ruang tengah sambil memijat tengkuknya perlahan.
Namun Haseena memilih tidak bertanya.
Mungkin...
Abah hanya sedikit lelah.
---
Tak lama kemudian Haseena selesai mandi.
Ia mengenakan baju berwarna krem dengan hijab senada. Penampilannya sederhana, tetapi wajahnya tetap terlihat cerah.
Saat hendak mengambil tas, langkahnya terhenti.
Rumah terasa begitu sunyi.
Biasanya...
Jam seperti ini Rayyan sudah bersiap berangkat ke sawah.
Suara mesin motor tuanya hampir selalu terdengar setiap siang.
Namun hari ini...
Tidak ada suara apa pun.
"Abah?"
Haseena berjalan menuju kamar.
Pintu kamar terbuka sedikit.
Rayyan masih duduk di atas sajadah.
Tasbih kayu berada di genggamannya.
Tatapannya kosong mengarah ke jendela.
"Bah..."
Rayyan menoleh perlahan.
"Oh..."
"Udah siap berangkat?"
Haseena mengangguk.
"Iya."
"Tapi..."
"Abah kok belum ke sawah?"
Pertanyaan itu membuat Rayyan terdiam cukup lama.
Tangannya mengusap lututnya pelan.
Lalu ia tersenyum tipis.
Senyum yang terasa begitu berat.
"Maafin Abah ya."
Haseena mengernyit.
"Maaf kenapa?"
"Kayaknya..."
Rayyan menarik napas panjang.
"Abah udah nggak sanggup lagi."
Kalimat itu terdengar lirih.
Namun berhasil membuat dada Haseena sesak.
"Ke sawah sekarang rasanya jauh."
"Lutut Abah sering sakit."
"Kalau nengok ke atas aja leher udah pegal."
"Kadang..."
"Jalan sedikit aja napas Abah udah ngos-ngosan."
Haseena hanya berdiri mematung.
Ia baru menyadari...
Beberapa bulan terakhir memang langkah ayahnya mulai melambat.
Rambut yang dulu hanya dipenuhi sedikit uban...
Kini hampir seluruhnya memutih.
Punggung yang dulu tegap...
Perlahan mulai membungkuk.
Tanpa terasa...
Waktu benar-benar sedang mengambil sosok paling kuat dalam hidupnya.
"Bah..."
Suara Haseena mulai bergetar.
"Mulai hari ini..."
"Jangan ke sawah lagi."
Rayyan tersenyum kecil.
"Lah terus sawahnya gimana?"
"Kan masih ada yang harus diurus."
"Nanti kita cari orang buat ngelolanya."
"Haseena yang bayar."
Rayyan langsung menggeleng.
"Nggak usah."
"Haseena capek kerja."
"Hasil live kamu simpan aja."
"Haseena tersenyum tipis.
"Kalau uang itu bisa bikin Abah istirahat..."
"Berarti itu bukan pengeluaran."
"Itu rezeki."
Rayyan menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya...
Ia merasa benar-benar menjadi beban.
Perasaan yang selama ini paling ia hindari.
Seumur hidupnya...
Rayyan terbiasa memberi.
Kini...
Ia harus belajar menerima.
Dan ternyata...
Menerima jauh lebih sulit daripada bekerja.
Haseena berjongkok di depan ayahnya.
Perlahan ia menggenggam kedua tangan Rayyan.
Tangan yang dulu begitu kuat menggenggam cangkul.
Kini mulai dipenuhi kerutan.
"Bah..."
"Abah tahu nggak?"
"Apa?"
"Dari dulu Haseena selalu pengen Abah lebih banyak di rumah."
Rayyan tersenyum heran.
"Kenapa?"
"Soalnya..."
"Haseena pengen lebih lama sama Abah."
Kalimat sederhana itu membuat mata Rayyan mulai berkaca-kaca.
Ia mengusap kepala putrinya pelan.
"Kalau begitu..."
"Mulai hari ini..."
"Abah nurut sama dokter kecilnya."
Haseena tertawa kecil di sela air mata.
"Nah gitu dong."
"Tapi satu syarat."
"Apa?"
"Abah nggak boleh bilang kalau Abah udah nggak berguna lagi."
Wajah Rayyan berubah sendu.
"Haseena nggak akan pernah bisa gantiin Abah."
"Mau Haseena kerja sebesar apa pun..."
"Abah tetap kepala keluarga."
"Dan tetap pahlawan Haseena."
Rayyan tidak menjawab.
Ia hanya mengangguk pelan.
Di luar rumah...
Angin berembus pelan melewati halaman.
Cangkul yang biasanya dibawa Rayyan ke sawah masih bersandar di dekat pintu.
Hari itu...
Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun...
Cangkul itu tidak ikut berangkat.
Seolah ikut mengerti...
Bahwa pemiliknya akhirnya memilih beristirahat.