Xu Ming adalah pemuda biasa dari Bumi yang sangat menggemari novel dan komik kultivasi. Suatu hari, keinginannya untuk menjadi tokoh utama benar-benar terkabul. Ia tiba-tiba terbangun di Dunia Tianxuan dan memperoleh Sistem Pembimbing Kultivasi. Namun, alih-alih menjalani petualangan besar, ia justru dipaksa berlatih pedang, berkebun, memasak, melukis, memainkan qin, menulis kaligrafi, hingga melakukan berbagai pekerjaan sederhana selama sepuluh tahun.
Saat Xu Ming mengira perjalanan sebagai seorang kultivator baru akan dimulai, sistem justru menghilang setelah menyatakan bahwa tutorial telah selesai.
Menganggap dirinya masih seorang mortal yang lemah, Xu Ming memilih tinggal di Desa Qinghe dan menjalani hidup tenang. Tanpa ia sadari, seluruh latihan itu telah membuatnya melampaui semua tingkatan kultivasi. Sementara Xu Ming terus meragukan kekuatannya, seluruh dunia justru memanggilnya Senior, menganggapnya sebagai pertapa agung yang menyembunyikan identitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Sepuluh Tahun yang Berlalu
Musim semi berganti menjadi musim panas.
Musim panas berganti menjadi musim gugur.
Daun-daun yang menguning kembali tumbuh hijau.
Tahun demi tahun berlalu tanpa terasa.
Desa Qinghe tetap tenang seperti biasanya.
Penduduk desa hidup sederhana, bercocok tanam, berburu, dan saling membantu.
Di mata mereka, Xu Ming hanyalah pemuda rajin yang tinggal sendirian di ujung desa.
Tidak ada yang tahu...
Setiap hari selama sepuluh tahun terakhir, Xu Ming menjalani latihan yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh para kultivator terkuat sekalipun.
"Pukul lagi."
Suara sistem terdengar datar.
Xu Ming menghela napas.
"Sudah lima ribu kali."
Target hari ini: Sepuluh ribu ayunan pedang.
Xu Ming memandang pedang kayu di tangannya.
Pedang itu sudah beberapa kali diganti selama bertahun-tahun.
Bukan karena rusak.
Melainkan karena sistem selalu berkata,
"Pedang hanyalah alat. Yang terpenting adalah orang yang memegangnya."
Xu Ming tidak begitu mengerti.
Namun ia tetap menurut.
"Wus!"
Satu ayunan.
"Wus!"
Dua ayunan.
"Wus!"
Tiga ayunan.
Gerakannya tampak sederhana.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada aura yang menggetarkan langit.
Namun jauh di atas langit Desa Qinghe...
Awan-awan perlahan terbelah mengikuti lintasan pedang Xu Ming.
Seekor burung roh yang kebetulan melintas langsung berbalik arah dengan ketakutan.
Sementara Xu Ming sama sekali tidak menyadarinya.
Hari berikutnya.
Misi Harian.
Mainkan qin selama enam jam.
Xu Ming memijat dahinya.
"Aku sudah hafal semua lagu."
Mainkan kembali.
"Baiklah."
Ia duduk di bawah pohon tua.
Jarinya mulai memetik senar qin.
Alunan musik yang lembut mengalir mengikuti angin.
Daun-daun berguguran perlahan.
Bunga-bunga bermekaran di luar musim.
Bahkan hewan-hewan liar yang berada di hutan sekitar tanpa sadar mendekat dan duduk diam mendengarkan.
Seekor kelinci berbaring di samping kaki Xu Ming.
Burung-burung hinggap di ranting pohon.
Ular yang terkenal ganas hanya melingkar tenang di balik batu.
Xu Ming tersenyum tipis.
"Musik memang bisa menenangkan hati."
Ia sama sekali tidak tahu bahwa alunan qin-nya telah menyatu dengan Dao Musik.
Beberapa hari kemudian.
Misi Harian.
Lukis pemandangan matahari terbit.
Xu Ming mengambil kuas.
"Semoga kali ini lebih bagus."
Selama beberapa jam ia melukis dengan serius.
Setelah selesai, ia mengangguk puas.
"Lumayan."
"Tidak sebagus pelukis profesional di Bumi."
Ia menggantung lukisan itu di dalam rumah.
Begitu selesai...
Udara spiritual di sekitar rumah berubah jauh lebih pekat.
Namun Xu Ming hanya mengira sinar matahari pagi memang terasa lebih hangat.
Malam harinya.
Misi Harian.
Masak sup ayam.
Xu Ming langsung tertawa.
"Untung bukan menebang sepuluh ribu pohon."
Memasak sudah menjadi rutinitasnya.
Awalnya hasil masakannya biasa saja.
Kini...
Bahkan dirinya sendiri merasa rasanya semakin enak.
"Mungkin karena sering latihan."
Ia tidak pernah berpikir lebih jauh.
Hari-hari seperti itu terus berulang.
Kadang sistem menyuruhnya menempa besi.
Kadang memahat patung.
Kadang membuat meja.
Kadang menanam bunga.
Kadang membaca kitab kuno sampai semalaman.
Xu Ming pernah mengeluh.
"Sistem."
Ya.
"Kenapa aku belajar banyak sekali?"
Untuk menjadi kultivator yang sempurna.
Xu Ming mengangguk.
"Masuk akal."
Kalau ingin menjadi tokoh utama...
Memang harus serba bisa.
Suatu sore.
Xu Ming duduk di depan rumah sambil menghitung dengan jari.
"Sudah sepuluh tahun..."
Ia tersenyum lebar.
"Kalau mengikuti alur novel..."
"Hari ini seharusnya aku mendapatkan teknik kultivasi tingkat dewa."
"Atau membuka alam rahasia."
"Atau bertemu guru misterius."
Semakin dipikirkan, ia semakin bersemangat.
"Mungkin sistem sengaja melatih dasar selama ini."
"Setelah itu..."
"Barulah petualangan dimulai!"
Tiba-tiba.
Suara sistem kembali terdengar.
Seluruh misi tutorial telah selesai.
Xu Ming langsung berdiri.
"Akhirnya!"
Ia mengepalkan tangan.
"Ayo!"
"Apa hadiah akhirnya?"
Suara sistem tetap terdengar tenang.
Selamat.
Selama sepuluh tahun terakhir, Tuan Rumah telah menyelesaikan seluruh program pembinaan.
Xu Ming mengangguk berkali-kali.
"Iya, iya."
"Lalu?"
Seluruh hadiah telah diberikan.
Xu Ming terdiam.
"...Sudah?"
Ya.
"Tapi..."
"Teknik kultivasiku?"
Telah diberikan.
"Hah?"
"Pedang surgawi?"
Telah diberikan.
"Artefak dewa?"
Telah diberikan.
Xu Ming mulai panik.
"Tunggu!"
"Aku tidak pernah menerima semua itu!"
Namun sistem tidak menjawab pertanyaannya.
Sebaliknya, suara mekanis itu mengucapkan kalimat terakhir.
Sistem Pembimbing Kultivasi telah menyelesaikan tugasnya.
Sistem akan dihentikan dalam...
3...
Xu Ming membelalakkan mata.
"Hei!"
"Tunggu dulu!"
"Aku masih banyak pertanyaan!"
2...
"Jangan pergi!"
"Aku bahkan belum bertemu sekte!"
"Belum ikut turnamen!"
"Belum jadi abadi!"
1...
Xu Ming berlari keluar rumah seolah sistem berada di hadapannya.
"Hei! Kembalilah!"
Namun...
Selamat tinggal, Tuan Rumah.
Semoga perjalanan Anda menyenangkan.
Suara itu menghilang.
Benar-benar menghilang.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun...
Tidak ada lagi suara sistem di dalam kepalanya.
Suasana menjadi sunyi.
Xu Ming berdiri terpaku cukup lama.
Lalu terduduk lemas di halaman rumah.
"...Pergi?"
"Benar-benar pergi?"
Ia menatap langit dengan ekspresi kosong.
Setelah beberapa saat...
Ia menghela napas panjang.
"Baiklah..."
"Mungkin sekarang aku harus hidup sendiri."
Xu Ming mengepalkan tangannya.
"Tenang."
"Setidaknya tubuhku lebih sehat daripada dulu."
"Ilmu pedangku lumayan."
"Masakanku juga lumayan."
"Kaligrafiku lumayan."
"Selebihnya..."
"Aku masih seorang mortal."
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa, tepat setelah sistem menghilang, seluruh batas yang selama ini menyembunyikan auranya ikut lenyap.
Di tempat yang sangat jauh...
Beberapa eksistensi kuno yang telah tertidur selama puluhan ribu tahun perlahan membuka mata mereka secara bersamaan.
"...Aura ini..."
Bersambung...