Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LANGKAH AWAL DI ANTARA EMPAT RANAH
BAB 5: LANGKAH AWAL DI ANTARA EMPAT RANAH
Setelah penjelasan panjang mengenai sejarah kelam yang melahirkan miliaran Beast di luar dinding, Grand Master Alden akhirnya bangkit dari kursi kayunya.
Ia menepuk pundak Kael pelan, menyalurkan sedikit kehangatan spiritual yang menenangkan.
"Pikirkan itu nanti, Anak Muda. Untuk sekarang, tugas utamamu adalah memulihkan wadah jiwamu yang retak," ucap Grand Master Alden.
"Istirahatlah sehari lagi, dan pastikan kau menghabiskan eliksir yang dibawa Elena."
Kael mengangguk pelan, membiarkan tubuhnya kembali tenggelam di balik selimut hangat kabin batu kuno saat sang Master dan yang lainnya melangkah keluar.
Keesokan paginya, matahari fajar baru saja mengintip dari balik kabut tebal Lapisan Kedua ketika pintu kamar Kael diketuk pelan.
Sosok tambun Hugo muncul dari balik pintu, membawa aroma roti gandum yang baru dipanggang.
Cengiran polosnya merekah begitu melihat Kael sudah duduk di tepi ranjang dengan kondisi yang jauh lebih bugar.
Warna kulitnya tidak lagi sepucat mayat, dan garis-garis hitam di pembuluh darah tangannya telah lenyap.
"Wah, Kael! Kau sudah bisa duduk!" seru Hugo bersemangat sambil meletakkan nampan sarapan di atas meja.
"Bagaimana perasaanmu? Jika tubuhmu sudah tidak kaku, maukah kau kuajak berkeliling melihat markas Guild Scar Horizon?"
Hugo menambahkan, "Diam di kamar terus bisa membuat otakmu berkarat!"
Kael tersenyum tipis, menerima tawaran itu dengan anggukan. Berada di lingkungan baru yang asing membuatnya harus segera memetakan situasi.
Setelah menghabiskan sarapan singkatnya, Kael melangkah keluar bersama Hugo.
Mereka menyusuri koridor-koridor batu luas yang langsung terhubung dengan sebuah lapangan terbuka di bagian tengah markas guild.
Begitu mereka tiba di tepi lapangan, suara dentingan logam yang memekakkan telinga bergaung keras, diiringi gelombang kejut udara yang menerbangkan debu-debu di sekitar kaki mereka.
"Hyaaa! Rasakan ini, Senior!"
Di tengah lapangan, Ren si rambut merah sedang bergerak lincah.
Aura spiritual kebiruan menyelimuti tubuhnya, memanifestasikan tentakel-tentakel ilusi dari Animanya—sesosok Kraken Rin yang bergerak konstan mencoba mengunci pergerakan lawannya.
Namun, lawan bertarung Ren bukanlah sembarang orang.
Di hadapannya, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh kekar berzirah berat yang tampak bergeming.
Di belakang punggung pria paruh baya itu, memanifestasikan sesosok Anima Kelas Tinggi berwujud Banteng Tanduk Baja yang sangat masif.
Setiap kali tentakel ilusi Ren mencoba memukul, pria itu hanya mengayunkan lengan zirahnya yang dilapisi aura keemasan tebal, menghancurkan serangan Ren menjadi serpihan energi dalam sekali sentak.
"Sialan! Kuat sekali!" gerutu Ren.
Ia melompat mundur dengan napas terengah-engah saat separuh energinya terkuras habis.
Kael memperhatikan pertarungan itu tanpa berkedip.
"Tekanan energinya luar biasa jauh berbeda," gumam Kael terkesima.
"Makhluk banteng itu bahkan bukan kelas Mitologi seperti milikmu, Hugo, tapi kenapa Ren sama sekali tidak bisa menyentuhnya?"
Hugo terkekeh, lalu bersedekap sambil memandangi arena pertarungan dengan tatapan kagum.
"Jangan melihat jenis Animanya, Kael. Senior itu namanya Kapten Gareth," terang Hugo.
"Anima-nya memang hanya Kelas Tinggi biasa, bukan Anomali seperti kita. Tapi dia adalah petarung yang sangat berpengalaman."
Hugo melanjutkan, "Ranah jiwanya sudah mencapai tingkatan Emas, sementara Ren baru berada di tingkat awal Perunggu. Skala kekuatan mereka sudah seperti kurcaci melawan raksasa."
"Hmph, kau selalu saja melebih-lebihkan sesuatu, Gendut."
Sebuah suara ketus yang sangat familiar terdengar dari arah belakang mereka.
Langkah kaki yang anggun namun membawa hawa hangat membuat Kael dan Hugo menoleh serentak.
Elena berjalan mendekat dengan jubah abu-abunya yang berkibar tertiup angin lapangan.
Sepasang mata merah menyala miliknya sempat melirik ke arah arena latihan sebelum akhirnya terkunci tepat pada manik mata Kael.
"Kau sudah bangun rupanya," ucap Elena datar.
Kael membalas tatapan itu dengan ketenangan yang sama.
"Ya. Sekarang aku merasa jauh lebih baik. Energi di dalam Ranah Jiwaku juga sudah kembali mengalir dengan normal."
Elena langsung membuang muka, mendengus pelan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hmph, aku tidak menanyakan kondisi Ranah Jiwamu," cetus Elena dingin.
"Aku hanya memastikan obat dari kakek tidak terbuang sia-sia pada orang yang salah."
Melihat respons super judes dari gadis api itu, Hugo mendadak mendekatkan wajahnya ke telinga Kael.
Dengan volume suara berbisik, pemuda gemuk itu menyenggol lengan Kael dengan sikunya.
"Hei, Kael... jangan dimasukkan ke dalam hati," bisik Hugo pelan.
"Ucapannya memang setajam silet, tapi itu tandanya dia sebenarnya peduli padamu. Jarang-jarang Elena mau menghampiri anak baru secara sukarela seperti ini, biasanya dia—"
WUSSS!
"Aaaakh! Panas! Panas! Ampun, Elena!"
Belum sempat Hugo menyelesaikan bisikannya, secercah api merah meletup dari ujung jari Elena, langsung membakar bagian belakang baju jubah Hugo.
Asap hitam mengepul dan rasa panas yang menyengat membuat pemuda tambun itu menjerit heboh.
Tanpa berpikir panjang, Hugo berbalik arah dan berlari kencang.
BYURRR!
Hugo menjatuhkan dirinya secara dramatis ke dalam kolam air besar di tepi lapangan latihan.
Kael menggelengkan kepala melihat nasib malang temannya, sementara Elena hanya mendengus puas, memadamkan sisa api di jarinya tanpa penyesalan.
Kini, hanya tersisa Kael dan Elena yang berdiri di tepi lapangan, menyaksikan sayup-sayup Hugo yang berusaha merangkak bangkit dari dalam kolam dengan tubuh basah kuyup.
Elena mengalihkan pandangannya kembali ke arah arena, memperhatikan Ren yang kini terkapar kelelahan setelah dihantam mundur oleh Kapten Gareth.
Sikap judesnya perlahan melunak, berganti dengan ekspresi serius yang dingin saat ia mulai angkat bicara.
"Karena kau sudah bisa berjalan, ada baiknya kau paham di mana posisimu sekarang, Kael," ujar Elena, nadanya mengalir alami namun penuh penekanan.
"Di benua ini, kekuatan manusia terbagi menjadi empat Ranah Jiwa yang mutlak: Perunggu, Perak, Emas, dan yang tertinggi adalah Berlian."
Kael menyimak dengan saksama.
"Empat Ranah... dan apa yang membedakan tingkatan di dalamnya?" tanya Kael.
"Setiap Ranah memiliki dua tingkatan internal, yaitu Tingkat Awal dan Tingkat Puncak," jawab Elena, matanya berkilat saat ia menunjuk ke arah Kapten Gareth.
"Perbedaan di antara setiap Ranah itu bagai langit dan bumi. Jika kita bicara tentang skala pertarungan tanpa melibatkan Anima, seorang petarung di Ranah Perak Puncak bisa dengan mudah menghabisi ten orang di Ranah Perunggu hanya dengan kekuatan fisik murni mereka."
"Jadi, Ranah Jiwa adalah fondasi wadahnya, sedangkan Anima adalah senjata di dalamnya?" tanya Kael, menyimpulkan secara logis.
Elena melirik Kael sekilas, tampak sedikit terkesan dengan kecepatan tangkap remaja di sampingnya.
"Tepat. Wadah jiwa yang kuat menentukan seberapa besar energi yang bisa kau tampung," jelas Elena.
"Namun, jenis dan kelas Anima yang kau miliki juga menentukan hasil akhir. Seperti yang kakek katakan kemarin di kamar, Anima terbagi menjadi beberapa tingkatan: Tingkat Rendah, Tingkat Tinggi seperti milik Kapten Gareth tadi, dan yang berada di kasta puncak teratas adalah Tingkat Anomali."
Di kejauhan, terdengar suara kepakan air pelan saat Hugo akhirnya berhasil menarik tubuh tambunnya keluar dari kolam, duduk di tepi beton sambil memeras jubahnya yang basah dengan wajah merana.
Elena mengabaikan pemandangan konyol itu dan melanjutkan penjelasannya.
"Dan seperti yang sudah kau ketahui dari sejarah yang terhapus itu, Tingkat Anomali sendiri terbagi lagi menjadi dua kutub," sambung Elena.
"Kelas Mitologi yang menguasai elemen alam murni seperti Phoenix milikku atau Mammoth milik si Gendut itu, dan Kelas Misterius... yang memanifestasikan konsep abstrak atau senjata konseptual kuno."
Elena menghentikan langkahnya, berbalik penuh menghadap Kael hingga helai rambut merahnya bergoyang halus.
"Kau memiliki Morthas, Sang Penuai Nyawa di dalam dirimu. Tapi dengan Ranah Jiwamu yang saat ini masih berada di tingkat Perunggu Awal..." Elena menatap lurus mata Kael.
"Kau tak ubahnya seperti bayi yang dipaksa memegang pedang raksasa pemotong gunung. Satu ayunan yang salah, dan jiwamu sendirilah yang akan terkoyak habis sebelum musuhmu mati."
Kael mengepalkan jemarinya, merasakan getaran energi spiritual yang samar di dalam dadanya.
Kata-kata Elena terasa dingin dan menusuk, namun Kael tahu itu adalah kebenaran mutlak yang harus ia hadapi jika ingin bertahan hidup di luar dinding peradaban