Nina, ia gadis muda berusia 19 tahun. Dalam usianya yang masih muda, gadis berparas cantik itu harus memikirkan nasib keluarganya yang terombang-ambing di tengah kesulitan ekonomi.
Nina, ia terpaksa harus pergi ke negara tetangga untuk menjadi asisten rumah tangga. Siapa sangka, kalau anak majikannya itu menaruh hati dan melamar Nina.
Dengan segala kebaikan dan kelembutan dari pria itu, sudah sepantasnya Nina menyimpan perasaan padanya, Nina yang memiliki perasaan sama itu menerima lamaran tersebut dan pernikahan pun terjadi.
Perjalanan rumah tangga Nina tidaklah muda, sampai ketika, Nina harus pergi dari hidup suaminya, membawa benih yang tanpa suaminya ketahui.
Apa yang membuat Nina pergi dari hidup pria yang sangat ia cintai?
Terus simak kisah Nina yang akan melahirkan 'Bintang Dari Surga'.
Jangan lupa like dan komen ya, all.
Dukung dengan gift/votenya, terima kasih 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon It's Me MalMal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Jahat!
Nina yang semula berdiri itu mulai melangkah, Nina mendekat ke arah Sean berdiri.
Setelah itu, Nina menampar Sean dengan begitu kencangnya dan Sean yang merasakan perih itu juga merasa kecewa saat Nina tidak bertanya lebih dulu.
Sean pergi tanpa permisi, ia pergi meninggalkan Bintang yang menangis. Bintang takut Dadynya tidak akan menemuinya lagi setelah mendapatkan tamparan dari Nina.
"Dady!" teriak Bintang seraya menatap mobil Sean yang sudah melaju.
Setelah itu, Nina yang masih marah segera menjewer telinga Bintang, setelah itu Nina menghubungi Nirin, mengatakan kalau Luna ada di rumahnya.
Setelah itu, Nina membawa Bintang dan Nina yang masih jengkel itu memukul bokong Bintang.
Nina memukul Bintang dua kali dan ini adalah kali pertamanya bagi Nina untuk memukul Bintang.
"Sudah Ibu katakan, Ibu tidak suka dengan orang itu, kenapa kamu tidak mendengarkan Ibu!" teriak Nina dan Eny yang melihat itu merasa tidak tega.
"Nak, jangan seperti itu, kalau kamu marah dengan Sean jangan lampiaskan dengan anakmu," lirih Eny yang berdiri di belakang Nina.
"Ibu juga, Ibu tidak tau bagaimana perasaan Nina, Bu. Nina sakit setiap melihat dia, Bu. Nina sudah berusaha payah melupakan Evan dan setelah itu, dia datang, mengaku sebagai Dadynya. Salah Nina sakit, Bu?" tanya Nina dengan sesenggukan. Setelah itu, Nina masuk ke kamarnya, ia mengunci dan segera berbaring di ranjangnya.
Eny yang ikut bersedih itu mengusap dadanya, ia pun segera membawa Bintang untuk mandi.
"Bintang, sudah, jangan menangis lagi. Sekarang, Bintang mandi, yuk. Nenek mandikan," ajak Eny seraya mengusap rambut Bintang yang terkuncir dua.
Bintang yang masih menangis itu mengangguk dan setelah mandi, Bintang mengetuk pintu kamar Nina, mengajaknya untuk makan malam.
Endru yang baru saja pulang dari kuliah itu bertanya, "Bintang, kamu lagi ngapain? Memangnya Ibu ada di rumah?"
"Ada, Ibu sedang sedih, Paman," jawab Bintang seraya menatap Endru yang berdiri di depannya.
"Sedih? Pasti ini karena Bintang yang tidak mendengarkan Ibu," kata Endru dan Bintang yang merasa tidak bersalah itu menggeleng.
"Bintang hanya mau Dady, Bintang mau Dady seperti Luna punya papah, seperti Mawar yang punya Abi," jawab Bintang yang kemudian berlari ke kamar.
Endru menjadi merasa bersalah karena dirinya sangat sibuk sehingga berkurang perhatiannya untuk Bintang.
Endru yang akan ke kamar Bintang itu ditahan oleh Eny. "Mereka sedang sangat sensitif, mungkin mereka membutuhkan waktu."
Mendengar itu, Endru pun mengangguk lalu pergi ke meja makan.
Hanya ada ada Endru dan Eny malam ini.
Setelah itu, Eny berniat membujuk Nina untuk makan malam.
Eny yang akan mengetuk pintu kamar itu mengurungkan karena pintu itu terbuka dari dalam.
Nina yang sembab itu meminta maaf pada Eny.
"Nina minta maaf, Bu. Tidak seharusnya Nina marah pada semua orang," kata Nina seraya mengambil tangan Eny, lalu, Nina mencium punggung tangan Eny.
"Tidak apa, Ibu juga minta maaf, Ibu tidak memahami perasaanmu," kata Eny seraya mengusap rambut Nina.
Setelah itu, Nina pergi ke kamar Bintang, Nina merasa sedih saat mendengar apa yang Bintang inginkan, tetapi, Nina tetap belum memaafkan Sean.
Karena bagi Nina, Sean adalah penyebab perpisahannya dengan Evan, walau Nina tau kalau itu adalah jebakan, seharusnya, Sean menolak, begitulah pikir Nina.
Nina meminta maaf pada Bintang dan Bintang yang sedang menangis itu memunggungi Nina.
"Bintang, Ibu minta maaf, Nak. Kalau Bintang ingin Ayah, Ibu akan menikah lagi, tapi, Ibu butuh waktu, Nak." Ya, Nina membutuhkan waktu untuk jatuh cinta lagi setelah merasakan patah hati untuk yang pertamanya dulu, Nina masih takut untuk membuka hatinya.
"Kalau begitu, Bintang mau Dady Sean," kata Bintang yang masih menangis dan Nina yang tak mampu menjawab itu mengajak Bintang untuk makan malam.
Bintang yang keras kepala itu menolak Nina sebelum Nina mengiyakan. Sayangnya, Nina yang memang keras kepala itu justru memilih untuk keluar dari kamar.
"Bu, tolong ajak Bintang untuk makan, Nina takut Bintang sakit kalau tidak makan," kata Nina pada Eny yang berdiri di pintu.
Eny pun mengiyakan.
Setelah itu, Eny mencoba mencoba membujuk Bintang.
"Bintang, kalau Bintang sakit, nanti Bintang tidak dapat bertemu Dady lagi, mau?"
Bintang yang tak menjawab itu bangun dari berbaringnya, Bintang memeluk Eny seraya menangis.
Setelah itu, Eny menenangkan Bintang.
****
Di apartemen, Sean yang sedang duduk di sofa kamarnya itu menenggak minumannya, ia merasa sedikit kesal pada Nina yang tak mau bertanya apalagi mendengarkan.
"Sial, kenapa aku harus kesal, jangan bilang aku punya hati untuk wanita menyebalkan itu," kata Sean seraya mengambil sebatang rokoknya yang tergeletak di meja, pria tinggi yang tengah bertelanjang dada itu menyulut rokok yang diapitnya.
****
Keesokannya, Bintang yang masih merajuk itu masih diam, gadis kecil berbadan gembul itu mengharapkan kehadiran Sean, tetapi, Sean tidak menemuinya hari ini.
Sementara itu, di sekolah TK Bintang, ia sedang membanggakan Sean dan Luna menjadi saksinya.
Sementara itu, Mawar yang juga teman Bintang itu tidak mempercayai ucapan Bintang, lalu, Bintang mengajak Luna untuk membeli jajan di depan sekolah dan kali ini, Eny menunggu sampai selesai.
Eny yang sedang duduk bersama ibu-ibu lainnya itu tersenyum seraya melambaikan tangan pada Bintang yang juga melambaikan tangan.
Lalu, Eny pun menoleh ke kirinya saat salah satu ibu yang juga sedang menunggu anaknya.
"Bu, Ayah Bintang tidak pernah kelihatan, ya," katanya dan Eny menjawab dengan senyum.
Baginya, pertanyaan seperti itu sudah biasa ia dengar dan Nirin yang kebetulan juga di sana itu menanyakan Sean.
"Bu, kemarin, kata Luna ada Dady Bintang, benarkah itu?"
Mendengar itu, Eny bingung harus menjawab apa.
Dan untuk sementara waktu, Sean tidak mendekati Bintang karena merasa sebal dengan Nina.
Tak terasa, satu minggu berlalu.
Sean yang baru saja kembali dari belanja itu berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah, tak sengaja melihat Nina yang juga ada di jalan. Nina sedang membonceng Bintang dan Sean yang ingin menyapa Bintang itu membuka kaca mobilnya.
Sean pun memanggilnya, "Bintang."
Bintang yang sedang membonceng itu menoleh, lalu, Bintang memanggil Sean.
"Dady!" seru Bintang seraya tangannya melambai dan Sean pun bertanya, "Dari mana?"
"Ikut Ibu belanja," jawab Bintang yang terus tersenyum pada Sean dan karena panggilan Dady itu membuat orang mengira kalau Nina adalah mantan istri Sean dan merasa tak tega saat mengetahui ayah yang naik mobil sedangkan anak dan istrinya itu naik motor.
Nina sama sekali tak mau melihat ke arah Sean, Nina juga meminta Bintang untuk tetap memeluknya.
"Jangan lepaskan pegangannya, Nak!" perintah Nina dan Bintang pun kembali memeluknya, tetapi, pandangan matanya itu tetap pada Sean.
Bersambung..
benci tapi nafsu juga kamu zack😏😏😏😏😏
lagian mengambil keputusan di saat terburu buru itu ga baik akhirnya kamu merasakan akibatnya kasian ntar Dante mendapatkan jandanya🙄🙄🙄