Ara sekertaris malang itu harus terjebak dalam sebuah masalah karena sebuah kesalah fahaman denga keluarga bosnya, Agra adalah bos di tempat Ara bekerja,
Ara baru memakan separoh dari makanannya, tapi tiba-tiba rasa mual menjalar di perutnya, rasanya ingin segera memuntahkan isi perutnya, karena tak tahan lagi Ara pun segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya
Hoek hoek hoek
Agra pun mengikuti Ara ke kamar mandi, ia menepuk pelan punggung Ara
“kamu nggak pa pa?”
“saya lemas pak”
“sabar ya ..., maafkan saya , ini salah saya”
“iya ini gara-gara bapak, karena bapak yang maksa saya, saya jadi mualkan” kembali lagi Ara memegang perut dan memuntahkan isi perutnya hingga tinggal keluar cairan putih
Hoek hoek hoek
“maaf ya ...”
“pokoknya bapak harus tanggung jawab” Ara pun sampai mengeluarkan air mata
“iya aku pasti tanggung jawab” Agra masih tetap menepuk punggung Ara
Hemmmm
Tiba-tiba sebuah deheman menghentikan aktifitas mereka, ternyata tak jauh dari tempatnya
Secuel di lanjut di sini ya :
Mempunyai saudara kembar bisa menjadi sebuah keberuntungan tersendiri bagi seseorang, tapi kadang kembar tak selamanya mulus, bagiamana kisah Sagara dan Sanaya ini.
Duo kembar yang memiliki sifat yang berbeda, Sagara dengan gaya cool nya dan Sanaya dengan segala manjanya.
Kisah ini akan di mulai dari kisah remaja mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Seperti yang di rencanakan, Hari ini Ara dan Agra melakukan kunjungan lokasi ke tempat yang
akan di lakukan pembangunan ruko.
Ke sebuah lahan kosong di pinggiran kota yang cukup luas dengan wilayah yang berdampingan dengan jalan raya.
“Di sini tempatnya sangat strategis, pak. Karena dekat dengan gedung
sekolah dan rumah sakit. Jadi sudah bisa di pastikan jika pembangunan ruko ini
berhasil, maka akan sangat menguntungkan.
Apalagi jika di bagian belakan ruko akan di buka sebuah kafe oleh perusahaan xx” Ara berusaha menjelaskan lokasi kepada
bosnya. Dan agra yang mendengarkan dengan seksama sambil berjalan menyusuri lokasi.
“Ok ..., aku mau ..., kamu suruh Rendi yang handle langsung
pengerjaannya. Kamu segera hubungi Rendi dan berikan data-data terbaru dari lokasi ini” Perintah Agra. sambil mengenakan kembali kaca mata hitamnya untuk mengurangi cahaya matahari yang sangat terik siang ini.
“baik pak ...” ara pun segera menghubungi Rendi dan mengirimkan beberapa data melalui smartphonenya.
“setelah ini kita makan siang, aku lapar ..., carikan tempat makan terdekat di sekitar sini” perintah Agra sambil pandangannya tak beralih dari layar ponselnya.
“baik pak ...” ara pun akhirnya mencara lokasi makan terdekat dari tempat itu dengan bantuan mbah gugel.
"bapak mau yang sederhana apa yang mewah ...?" tanya Ara lagi setelah melihat beberapa rekomendasi tempat makan di sekitar tempat itu.
"terserah kamu ..., cepetan...., di sini panas sekali ..., ayo kita kembali ke mobil" Agra pun mangsung melangkah menuju mobil, sedang Ara berusaha mengejar langkah panjang bosnya dengan sedikit berlari karena langkahnya tak selebar langkah bosnya.
Setelah sampai di tempat mobilnya terparkir, seorang sopir langsung membukakan pintu untuk Agra di kursi penumpang bagian belakang, sedang Ara yang berlari, segera membuka pintu depan di samping sopir.
"jalan pak, kita ke sini ..." Ara menunjukkan layar ponselnya kepada pak sopir yang di balas dengan anggukan yang menandakan jika pak sopir tahu tempat yang di tunjukkan oleh Ara.
Setelah berjalan 10 menit. Mobil pun berhenti tepat di depan sebuah restaurant yang terlihat begitu mewah, dengan tatanan lampu yang begitu indah, walaupun siang hari , lampu belum menyala, tak mengurangi keindahannya. Pasti kalau malam hari akan terlihat begitu indah.
“Waaaah....., tempatnya bagus ya, pak ...” Ara pu membetulkan kaca matanya
sambil terus mengedarkan pandangannya ke segala arah mengagumi tata letak hiasan di depan restaurant.
“Jangan norak ah ...” Agra menarik tangan Ara supaya berjalan lebih
cepat karena tak mau jadi pusat perhatian orang di sekitarnya.
“Aku sudah lapar, jangan lama-lama jalannya ...” agra terus menggandeng tangan Ara hingga masuk kedalam restaurant, mereka berasa berada di negeri 1001 malam.
Restaurant dengan menu timur tengah, selain menawarkan suasana yang unik, restaurant itu juga menyajikan masakan khas timur tengah, nuansa Arabia juga begitu kental terasa. Selain itu, juga nuansa elit di tengah perkotaan , panorama yang megah dan atmosfer yang menyenangkan pada siang hari.
Ara memilih restaurant ini karena ia tahu jika Agra begitu menyukai menu-menu masakan timur tengah. Walaupun Ara tak begitu suka, tapi tak apalah, Ara bisa memakan berbagai jenis makanan. Itung-itung cuba hal baru.
“iya pak”
Setelah menemukan tempat duduk yang tepat untuk , Agra pun segera
memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan.
"saya memesan falaya, fantaus salad, shanklish dan shish tawouk chicken" agra sambil melihat buku menu.
"bapak memesan semuanya ...?" tanya Ara heran dengan pesanan bosnya yang terbilang sangat banyak.
"Iya..., kan ..., kamu makannya banyak. Jadi bersiaplah untuk menghabiskannya" jawaban Agra di balas dengan tatapan sebal oleh Ara.
"kenapa dia selalu saja meledekku setiap kali ada kesempatan. menyebalkan...." Batin Ara.
Tidak butuh waktu lama , semua pesanan pun datang, dan benar seperti yang Agra katakan, Ara lah yang melahap sebagian besar makanan tanpa tersisa.
"Sebenarnya sudah tidak makan berapa hari sih?, segitu rakusnya ...." gerutu Agra melihat cara makan Ara yang seperti kerasukan.
"Ternyata ini semua enak pak ..." ucap Ara tanpa rasa bersalah.
"Dasar tukang makan ..., kemana semua makanan itu? Kenapa badanmu masih saja kurus seperti itu? Padahal makannya banyak ..." Ara pun hanya cengar-cengir mendengar umpatan bosnya.
Setelah menghabiskan semua makan, Ara pun merasa kepenuhan dengan perutnya karena makan yang tak terkontrol. hingga mengejaknya untuk segera ke toilet.
“pak saya ke toilet dulu ya ...”
"Pantas saja nggak gemuk, habis makan langsung di buang ..." Ara tak perduli dengan ledekan bosnya. Ia hanya cengar-cengir.
Ara pun kembali berdiri sambil
menaruh tas dan ponselnya di atas meja.
“jangan lama-lama, kalau lama aku tinggal ...”
“iya pak....., jahat banget” Ara pun berlalu meninggalkan mejanya setengah berlari.
****
“Lama sekali dia ke toiletnya” gerutu Agra. Karena sudah menunggu selama 15 menit tapi Ara tak juga kembali.
Agra menunggu sambil beberapa kali mengedarkan pandangannya. Tapi tiba-tiba matanya
terfokus pada seseorang yang sepertinya ia sangat kenal.
“menjijikkan sekali dia” Agra benar-benar tak menyangka dengan apa
yang ia lihat di depannya.
Ia melihat Dio, pacar Ara sedang bermesrahan dengan seorang wanita
yang usianya jauh di atasnya, seumuran dengan mamanya.
Agra pun berjalan mendekati tempat Dio dengan kedua tangan yang di
sakukan ke dalam saku celana sehingga tampak cool membuat para perempuan yang
melihatnya akan terkesima dengan ketampanannya.
Prok prok prok
Agra menepuk nepuk tangannya dengan senyum yang seolah mengejek.
“Wah wah wah ...., luar biasa” Agra pun menatap Dio dengan tatapan
merendahkan.
“Jadi begini ya kelakuan kamu di belakang Ara, rendahan sekali ,
kencan dengan tante-tante” tatapan agra beralin pada wanita di samping Dio.
“Sedang apa kau di sini? Ini bukan urusan kamu” Dio pun tak mau
kalah, kini tatapan mata Dio lebih menyeramkan dan wanita itu hanya menatap
bingung.
“Ini ada apa? Siapa kamu?” wanita itu pun akhirnya angkat bicara, ia merasa tidak kenal dengan pria yang menghampirinya kenapa bisa menghampiri mereka
“Maaf tante, tante bisa pergi dulu nggak, nanti biar aku jelasin”
Dio pun memohon pada wanita itu untuk meninggalkan mereka berdua.
“baiklah ..., jangan lupa hubungi aku ya saya ...” wanita itu pun
pergi meninggalkan mereka berdua dengan penuh rasa penasaran, tapi sebelum meninggalkan Dio tante tante itu mengecup bibir Dio dan melambaikan tangan.
"ihhh ...., menjijikkan ..." lagi-lagi agra berguman dengan tatapan mencemooh
Setelah wanita itu pergi kedua pria itu kembali beradu pandang
dengan tatapan yang saling membunuh
“jangan menemui Ara lagi” agra langsung berbicara lantang pada dio
“apa hak anda hingga berani melarang-larang saya, anda Cuma atasan Ara
tidak lebih” dio berusaha mengingatkan posisi agra
“tapi aku berhak atas kebahagiaan kariawanku, jadi sekali lagi aku
peringatkan jangan lagi menemui Ara” agra menautkan kedua alisnya, dan kedua tangannya sudah mengepal sempurna, urat-uratnya sudah keluar saling menonjol di lehernya dengan tatapan yang begitu membunuh, rahangnya mengeras bibirnya yang terkatup
“saya lebih berhak atas Ara, karena dia calon istriku” Dio
menekankan pada kata-kata istri supaya pria di depannya lebih tahu diri
“kau itu sungguh tak bisa di ajak bicara baik-baik ya” kini
kemarahan Agra sudah sangat memuncak
Bluk bluk
Beberapa tonjokan berhasil mendrat di tubuh Dio, tapi Dio juga tak
mau kalah ia membalas balik hantaman kepada Agra
baku hantam antara kedua pria dewasa itu menarik perhatian pengunjung lain, begitu juga dengan ara
Ara setelah kembali dari toilet begitu terkejut melihat ada
keributan, dan lebih terkejut lagi saat melihat siapa yang sedang berantem
Ara pun segera berlari menghampiri mereka
“berhentiiiiiii” Akhirnya perkelahian itu terhenti setelah mendengar teriakan dari
Ara
“bapak ini apa-apaan sih ...” air mata ara terurai tak terbendung lagi, ara menarik tangan agra dan menghempaskannya, Ara menghampiri Dio yang sudah
tersungkur di lantai, dan berusaha membantunya bangun
“apa yang bapak kaluin?” Ara tak mampu menahan air matanya , ia menatap agra tajam
“berhenti membelanya Ara ..., dia bukan laki-laki baik buat kamu”
Agra begitu terluka melihat Ara lebih membela Dio, mereka sama sama terluka tapi tangan ara lebih terulur pada dio yang jelas-jelas menghianatinya
“aduuhhh ....” Dio pun segera mengaduh untuk mendapat simpati Ara, ada beberapa luka di wajahnya, sudut bibir dan hidungnya lebam dan mengeluarkan darah segar, agra pun juga tak lebih baik dari dio keadaan mereka sama-sama kacau, tapi dio lebih pintar mencari simpati ara
“mana yang sakit?” ara memegangi wajah dio yang terluka, tak memperdulikan keadaan agra sama sekali
“seluruh tubuhku sakit, bantu aku berdiri, kita pergi dari sini”
Dio pun berusaha menjauhkan Ara dari bosnya
Ara pun memapah Dio meninggalkan Agra seorang diri, tak lupa iya
mengambil tas dan ponselnya, Agra masih tak bergeming di tempatnya saat melihat
Ara menghilang dari pandangannya, tangannya kembali mengepal
“aghhhh ...” Agra melayangkan kepalannya ke udara
“Ara ..., mudah sekali kau di bohongi sama cowok sebrengsek dia”
makasih ya kawan sudah baca ...., aku jadi ikut gregetan nih sama ara ..., pengen nyubit biar sadar ...., jauh lebih baik dimana-mananya agra kali ra ......
pasti kalian jadi ikut sebal ..., ayo donk kawan ..., bantu aku nentuin alurnya ......