NovelToon NovelToon
MARRIED TO STRANGER

MARRIED TO STRANGER

Status: tamat
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Pernikahan Kilat / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Sensen_se.

Frisha Natalia, kabur dari rumah ketika dipaksa menikah dengan pria beristri, sebagai penebus hutang ayahnya. Di jalan, Frisha mengalami kecelakaan hingga mengakibatkan gadis itu lumpuh.

Clyton Xavier Sebastian, pria yang tidak sengaja menabraknya, bersedia bertanggung jawab memberi kompensasi dan menjamin pengobatannya.

Akan tetapi, Frisha menolak. Dia menuntut tanggung jawab dalam bentuk lain, yakni menikahinya.

Apakah Xavier, seorang CEO perusahaan besar, mau menerima pernikahan dengan wanita asing begitu saja? Ikuti kisahnya yuk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11. PENYELIDIKAN

Tania terdiam sejenak sembari mengatur napasnya. Khansa membantu merebahkan kembali tubuh gadis itu. “Pelan-pelan, sambil rebahan enggak apa-apa. Ceritakan apa yang kamu tahu,” ucap Khansa dengan lembut.

“Tuan muda selalu mengabaikan nona. Bahkan, selalu ketus dalam berbicara. Padahal, nona sangat baik dan pengertian. Meskipun mereka tidur di tempat terpisah, nona selalu membuatkan kopi untuk tuan, meminta saya mengantarkannya. Setiap di meja makan nona juga yang menyiapkan sendiri untuk tuan muda,” papar Tania menyeka lelehan air matanya, mengingat kehadiran Frisha tak pernah dianggap.

Mata Khansa menyalang merah, kedua tangannya terkepal dengan kuat. Tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Frisha kala itu. Akan tetapi, Khansa berusaha menahan amarahnya. Menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.

“Tetapi nona selalu mengatakan, ‘Aku enggak apa-apa.’ Padahal saya tahu pasti dalam lubuk hati nona terluka. Nona tidak pernah menunjukkan kesedihannya. Terakhir tadi pagi sewaktu meminta tolong pada tuan, ditolak mentah-mentah. Saya melihat, Tuan hanya menyerahkan sebuah kartu lalu pergi begitu saja. Sampai akhirnya ....”

Tania tidak bisa melanjutkan ceritanya. Tangisnya kembali pecah karena tidak bisa menjaga nona-nya dengan baik.

“Sudah, jangan diteruskan. Sekarang istirahatlah, Tania. Semoga Frisha segera ditemukan. Ini bukan salahmu," gumam Khansa menahan amarahnya.

\=\=\=\=000\=\=\=\=

Kali ini Xavier meminta asistennya untuk menyetir. Ia duduk di belakang karena sibuk melacak mobil yang disebutkan oleh Tania.

“Tuan, kita ke mana?” tanya Yogi, sang asisten.

“Lokasi tadi!” sahut Xavier tanpa menoleh.

“Baik!”

Mobil melesat dengan kecepatan yang cukup tinggi. Xavier melakukan penyelidikan bersama tim-nya yang stanby di perusahaan. Ia yang memimpin jalannya pencarian itu.

“Segera lacak rumah pemiliknya. Juga keberadaan mobilnya saat ini!” titah Xavier dengan alat yang terhubung dengan para anak buahnya.

“Baik, Tuan!” sahut mereka serempak.

Di belakangnya, juga masih ada beberapa mobil yang mengawalnya kembali ke lokasi penculikan itu.

Kecelakaan yang menimpa Joni pun sudah diproses. Sopir sudah ditemukan dan telah menjalani sidang. Semua pengakuannya, meringankan hukuman yang dijatuhkan untuknya.

Pengacara yang diminta Xavier menangani kasus tersebut menyebutkan, bahwa sopir itu dibayar oleh seseorang. Kemudian diberikan sebuah mobil baru, karena mobilnya harus dilenyapkan ke jurang untuk menghilangkan jejak.

“Siapa yang menyuruhnya?” tanya Xavier dengan geraman tertahan.

“Sesuai dugaan Anda. Kami sudah menyelidiki sumber dana yang digunakan untuk membeli mobil tersebut. Dari perusahaan Gaharu, dengan nama pemilik Morgan Gaharu, Tuan,” lapor pengacara tersebut yang tersambung melalui telepon.

Xavier terdiam sejenak, napas yang berat berembus dari mulutnya. “Hmm. Terima kasih!” Setelah berucap seperti itu, ia segera menutup sambungan teleponnya.

“Morgan Gaharu!” gumam pria itu pelan. Kilasan memori ungkapan Frisha mengganggunya lagi. “Aaarrgggh!” pekiknya menendang kursi di depannya hingga membuat Yogi terperanjat.

Xavier kesal pada dirinya sendiri. Ia akui kali ini lalai dan mengabaikan petunjuk dari Frisha. Semua kejadian ini menghapus keraguan pada istrinya.

Ketika mobil berhenti, ia segera meminta bawahannya yang ahli daktiloskopi untuk mengidentifikasi sidik jari yang menempel pada pintu mobil. Xavier berkacak pinggang dengan dada berkecamuk. Ia merasa tak sabar ingin segera melihat hasilnya.

“Yogi, minta sebagian datangi perusahaan Morgan. Cari tahu tempat-tempat yang sekiranya dikunjungi tua bangka itu! Jika tidak bisa menemukan informasi dengan cara baik-baik, paksa dengan cara apa pun sampai ketemu!” tegas pria itu dengan wajah memerah.

“Baik, Tuan!” sahut Yogi segera mundur dan menjalankan perintah sang boss.

Tak berapa lama, ponselnya berdering. Nama sang ayah terpampang di layar benda pipih itu. Xavier menelan salivanya gugup. Kemudian mengangkatnya.

“Bagaimana?” tanya Leon di ujung telepon ketika sudah menjauh dari istrinya. Ia takut Khansa tidak bisa mengendalikan emosi ketika mendengar suara Xavier.

“Dad, sepertinya orang yang sama dengan otak pembunuhan berencana ayah Frisha, Morgan Gaharu,” ujar Xavier.

“Kau sudah mendapatkan buktinya?” tanya Leon memastikan.

“Untuk kecelakaan itu, sopir sudah mengakuinya. Dan pengacara sudah mengantongi bukti.”

“Lalu untuk penculikan?” tanya Leon lagi.

“Belum. Tapi Xavier yakin orang yang sama. Karena sebelumnya Frisha pernah mengatakan, bahwa dia dipaksa menikah dengan Morgan sebagai penebus hutang,” jelas Xavier tidak ada yang ditutupi.

“Kalau sudah tahu kronologinya, kenapa kamu biarkan Frisha keluar sendirian?” bentak pria paruh baya itu menggema di toilet rumah sakit.

“Maaf, Dad! Xavier kira itu hanya akal-akalan Frisha,” sesal pria itu dengan suara melemah.

“Astaga, Xavier! Istrimu dalam bahaya. Percepat pencarian!” tegas Leon geram dengan putranya itu. Mau marah pun percuma. Yang ada hanya akan memperlambat proses pencarian.

“Iya, Dad!”

Percakapan berakhir. Xavier tak tinggal diam. Ia terus menghubungi anak buahnya untuk memantau perkembangannya. Pria itu mengumpat, mengeluarkan kemarahannya ketika kinerja mereka melambat.

\=\=\=\=000\=\=\=\=

Di sebuah pulau terpencil ....

Frisha mengerjapkan mata setelah obat tidur yang masuk ke tubuhnya sudah tidak bekerja. Gadis itu mengedarkan pandangan, ia berada di sebuah kamar asing yang tidak terlalu besar.

“Tania!” gumam Frisha ketika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.

Ia beranjak duduk, sedikit ketakutan. Apalagi suara-suara kicauan burung dan hewan-hewan lainnya kini mulai menyelusup indera pendengarannya.

“Aku di mana?” tanya Frisha menyibak rambut panjangnya ke belakang. Detak jantungnya mulai menggema dalam rongga dadanya. Mencengkeram selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.

Tak berapa lama, pintu kamarnya terbuka. Muncul orang yang sangat ia benci dan hindari. Pria paruh baya yang kini tersenyum smirk ketika menatapnya.

“Morgan,” gumam Frisha semakin ketakutan.

“Oh, Sayang. Kau sudah bangun ternyata. Ini aku bawakan makanan untukmu. Kamu pasti lapar ‘kan?” ucap Morgan mendekati Frisha kemudian meletakkan sebuah nampan berisi makanan di atas nakas.

Frisha menatap dengan waspada, deru napasnya semakin cepat. Bahkan kini keringat dingin mulai bermunculan di wajah cantiknya.

“Di mana ini?” tanya Frisha.

“Hahaha! Tenang saja, Cantik. Tidak akan ada orang yang bisa menemukan kita. Selamanya, kita akan hidup bahagia di sini, tanpa ada satu pun yang bisa mengganggu kita!” Tawa memekik dari pria itu. Merasa puas karena sudah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.

Morgan membungkukkan tubuhnya, wajahnya sangat dekat dengan Frisha membuat gadis itu merasa jijik. Ia semakin merapatkan tubuh pada sandaran ranjang. Memalingkan muka dan semakin menjauh dari wajah Morgan.

“Tenang saja, hari ini beristirahatlah setelah kita menempuh perjalanan panjang. Tetapi besok ....” Morgan mengusap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu kasar. Tatapan mesumnya memindai tubuh Frisha. “Ah, kelamaan. Sepertinya aku akan memberikan kenikmatan padamu malam ini!” sambung Morgan mengusap kepala Frisha.

Gadis itu memejamkan matanya kuat-kuat. Sekujur tubuhnya menegang. Kini wajahnya mendongak karena rambutnya dijambak oleh Morgan. Debaran jantungnya sudah seperti berlari marathon.

“Dan kamu, tidak akan bisa lari lagi dariku. Haha!” pekik lelaki itu lagi kemudian memberikan sebuah tamparan di pipi Frisha.

Kebas, perih mulai menjalar dari pipinya. Frisha menangis tanpa suara. Rambut panjangnya yang tergerai kini menutupi seluruh wajahnya yang menoleh ke samping, enggan menoleh lagi pada Morgan.

 

Bersambung~

 

 

 

1
Merda
maaf thor sy nek dgn kalimat melenggang...
Merda
Entah dr mn muncul lg tokoh2 baru, suka2 kaullah thor...
Merda
Ya mbok jgn ada kata melenggang thor, klo pun ada, penempatannya di saat bgm dan sedang apa..
con; ketika panik, terburu2, kan gak mungkin memakai kata melenggang.
Melenggang itu lbh ke arah berjalan santai...
Merda
Koq berjalan melenggang sih thor..
sdh terburu2 mosok pakai kata melenggang..
Zain malik
baca udah yang ke berapa y lupa,,, apalagi ada papa macan uuuuuh so hot daddy banget
Zain malik: semangat berkarya ka sensen
total 2 replies
Su pendi
sangat bagus
Ellia Mardiana
frisha g terapi ya?
Bastian Sipahutar
keren
Milah Milah
Hooh manut, sakarepmu wae Thor🤭🤭
Milah Milah
Zico apa Rico ya?
Khairul Azam
aku sudah baca novelnya khansa dan lion, bagus ceritanya
merti rusdi
udah bener brarti baca novel ini. aktor korea yang paling aku tahu ya doi 😂
Nur Khikmah
ayah laknat😠
Mariati Jawani
Luar biasa
Mei Prw
luar biasa
@ni
mantap karyamu Thor❤️❤️❤️❤️❤️
Yunerty Blessa
Makasih banyak kak thor buat karya indah nya
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘
Yunerty Blessa: Sama kasih kak thor,sukses selalu 😘
total 2 replies
Yunerty Blessa
cie dapat ciuman dari Frisha 🤭
Yunerty Blessa
meluapkan kekesalan Xavier melalui tiket sehingga menjadi bola kecil 🤣
Yunerty Blessa
sabar, seperti nya Xavier dan Frisha stok banyak sabun mandi buat pelepasan Xavier 🤭🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!