Asisten Duda CEO Tajir Melintir
Grizella Madeline Dealova, seorang anak magang yang ambisius dan berani, tidak pernah menyangka akan terlibat dengan Galaxy Adelion Wesley, CEO kaya raya yang dingin dan terluka karena pengkhianatan masa lalu.
Pertemuan mereka dipenuhi pertengkaran, tetapi perlahan rasa benci berubah menjadi ketertarikan. Saat Galaxy memintanya menjadi asisten pribadi dan tinggal bersamanya, keduanya mulai menghadapi perasaan yang tidak bisa mereka hindari.
Namun, ketika cinta mulai tumbuh, mantan istri Galaxy kembali membawa rahasia lama yang mengancam hubungan mereka.
Akankah Grizella menjadi alasan Galaxy kembali percaya pada cinta, atau justru menjadi luka baru dalam hidup sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulau penuh rahasia
Angin laut bertiup kencang ketika kapal cepat milik keluarga Wesley membelah ombak menuju Pulau Black Haven.
Pulau itu tampak tenang dari kejauhan.
Hamparan pasir putih, tebing-tebing tinggi, dan deretan vila mewah membuatnya terlihat seperti tempat liburan eksklusif.
Namun semua orang di kapal mengetahui kenyataan yang berbeda.
Di balik keindahan itu tersembunyi markas The Black Crown.
Galaxy berdiri di haluan kapal dengan tatapan tajam mengarah ke pulau.
Di sampingnya, Grizella memegang erat liontin peninggalan Elena Hart.
Entah mengapa, semakin dekat ke pulau itu, liontin tersebut terasa semakin hangat.
Adrian berjalan menghampiri mereka.
"Ada sesuatu yang harus kalian ketahui sebelum kita mendarat."
Galaxy menoleh.
"Apa?"
Adrian menunjuk peta pulau.
"Black Haven dibagi menjadi tiga zona."
"Zona pertama adalah pelabuhan dan area pengawasan."
"Zona kedua adalah vila dan pusat operasi."
"Sedangkan zona ketiga..."
Adrian berhenti sejenak.
Galaxy menatapnya.
"Lanjutkan."
"Zona ketiga adalah bunker bawah tanah."
"Tempat para pemimpin The Black Crown mengadakan pertemuan."
Alexander menghela napas.
"Kalau Elena benar-benar masih hidup..."
"Dia kemungkinan ditahan di sana."
Aaron memeriksa perlengkapan komunikasi.
"Semua alat sudah aktif."
"Begitu kita masuk, sinyal mungkin akan hilang."
Galaxy mengangguk.
"Kalau kita terpisah..."
"Prioritas pertama adalah keselamatan Grizella."
Grizella langsung memprotes.
"Kenapa selalu saya?"
Galaxy menatapnya dengan tenang.
"Karena mereka mengincarmu."
"Dan karena aku tidak ingin kehilanganmu."
Grizella terdiam.
Ucapan itu membuat pipinya memerah.
Aaron dan Alexander saling berpandangan sambil tersenyum tipis.
Hubungan keduanya semakin jelas, meski belum pernah diucapkan secara langsung.
Tak lama kemudian, kapal merapat di sebuah dermaga kecil yang tampak kosong.
Anehnya...
Tidak ada penjaga.
Tidak ada kamera yang terlihat.
Pulau itu terlalu sepi.
"Ini jebakan."
gumam Galaxy.
Adrian mengangguk.
"Selena sengaja membiarkan kita masuk."
Mereka berjalan perlahan menuju jalan setapak yang mengarah ke bagian tengah pulau.
Di kanan dan kiri hanya terdengar suara ombak dan desir angin.
Namun suasana sunyi itu justru terasa mengancam.
Beberapa menit kemudian...
Mereka tiba di sebuah taman luas dengan air mancur marmer di tengahnya.
Di depan taman berdiri sebuah bangunan megah bergaya klasik.
Pintunya terbuka.
Seolah memang menunggu kedatangan mereka.
Di dalam aula utama, seorang wanita berpakaian hitam berdiri dengan tenang.
Selena Ashcroft.
Ia tersenyum tipis saat melihat Galaxy dan rombongannya.
"Selamat datang di Black Haven."
Galaxy melangkah maju.
"Kami datang."
"Sekarang tepati janjimu."
"Di mana Elena Hart?"
Selena tidak langsung menjawab.
Ia justru memandang Grizella dengan penuh perhatian.
"Kau benar-benar sangat mirip ibumu."
Grizella mengepalkan tangannya.
"Saya tidak datang untuk berbasa-basi."
"Saya ingin bertemu ibu saya."
Selena mengangguk pelan.
"Tentu."
"Tapi sebelum itu..."
"Kalian harus membuktikan bahwa kalian pantas mengetahui kebenaran."
Ia bertepuk tangan sekali.
Tep!
Lantai aula tiba-tiba bergetar.
Di belakang Galaxy, pintu besi raksasa menutup dengan keras.
Brak!
Jalan keluar terkunci.
Di saat yang sama, tiga lorong berbeda terbuka di hadapan mereka.
Selena tersenyum.
"Hanya satu lorong yang akan membawa kalian kepada Elena."
"Dua lorong lainnya..."
"...akan membawa kalian menuju kehancuran."
Galaxy menatap ketiga lorong itu dengan serius.
Ia sadar...
Permainan paling berbahaya baru saja dimulai.
Suara pintu besi yang menutup masih bergema di aula utama Black Haven.
Tiga lorong terbentang di hadapan mereka.
Lorong kiri diterangi cahaya putih redup.
Lorong tengah tampak gelap tanpa ujung.
Sementara lorong kanan dihiasi lampu-lampu kecil berwarna keemasan.
Selena Ashcroft berdiri dengan tenang.
"Waktu kalian hanya tiga puluh menit."
"Kalau terlambat..."
"Kalian tidak akan pernah bertemu Elena."
Galaxy memperhatikan setiap lorong.
Tidak ada petunjuk.
Tidak ada tanda.
Semuanya tampak sengaja dibuat membingungkan.
Adrian melangkah maju.
"Dulu tempat ini tidak seperti ini."
Selena tersenyum.
"Tentu saja."
"Aku mengubahnya setelah kau mengkhianati organisasi."
Adrian mengepalkan tangannya, tetapi memilih tetap diam.
Grizella mengeluarkan liontin peninggalan Elena.
Tanpa diduga, batu kecil di tengah liontin memancarkan cahaya samar.
Semua orang terkejut.
Alexander menatap liontin itu.
"Elena pernah mengatakan bahwa benda itu bukan sekadar perhiasan."
Galaxy memperhatikan arah cahaya liontin.
Cahayanya mengarah perlahan ke lorong sebelah kanan.
"Apa ini sebuah petunjuk?"
tanya Aaron.
Adrian mengangguk pelan.
"Bisa jadi."
"Elena menyukai teka-teki."
Galaxy memandang Grizella.
"Kau percaya pada liontin itu?"
Grizella menarik napas panjang.
"Saya tidak tahu."
"Tapi ini satu-satunya petunjuk yang kita punya."
Galaxy mengambil keputusan.
"Kita ke lorong kanan."
Selena hanya tersenyum, tanpa menunjukkan reaksi apa pun.
Senyumnya justru membuat Galaxy semakin waspada.
Mereka memasuki lorong kanan dengan langkah hati-hati.
Dinding lorong dipenuhi lukisan-lukisan tua.
Sebagian besar menggambarkan keluarga Wesley.
Namun ada satu lukisan yang membuat Galaxy berhenti.
Lukisan itu memperlihatkan seorang pria muda berdiri berdampingan dengan Elena Hart.
Di belakang mereka terdapat lambang Wesley dan The Black Crown.
Galaxy mengernyit.
"Siapa pria ini?"
Alexander mendekat.
Wajahnya langsung pucat.
"Itu..."
"Itu kakakku."
Semua orang menoleh.
"Kakak?"
Alexander mengangguk.
"Namanya Victor Wesley."
"Dia dinyatakan meninggal lebih dari tiga puluh tahun yang lalu."
Adrian menatap lukisan itu.
"Tidak."
"Victor tidak pernah meninggal."
"Dia menghilang."
Grizella memandang lukisan itu dengan saksama.
Di sudut bingkai terdapat ukiran kecil berbentuk mahkota.
Saat tanpa sengaja menyentuhnya...
Klik...
Seluruh dinding bergeser.
Sebuah ruangan rahasia terbuka.
Di dalamnya terdapat meja besar yang dipenuhi dokumen, foto-foto lama, dan sebuah peta dunia.
Di tengah ruangan berdiri sebuah monitor yang tiba-tiba menyala sendiri.
Wajah Selena muncul di layar.
"Selamat."
"Kalian memilih lorong yang benar."
"Tapi perjalanan belum selesai."
Layar kemudian berubah menampilkan rekaman kamera pengawas.
Terlihat seorang wanita duduk di dalam ruangan berkaca.
Wajahnya pucat, tetapi masih jelas dikenali.
"Itu..."
Air mata Grizella langsung mengalir.
"Ibu..."
Elena Hart masih hidup.
Namun sebelum siapa pun sempat berbicara...
Monitor tiba-tiba dipenuhi gangguan.
Gambar Elena menghilang.
Digantikan wajah Leonard Wesley.
Ia tersenyum tipis.
"Galaxy."
"Kalau ingin menyelamatkan Elena..."
"Kau harus memilih."
"Selamatkan ibunya Grizella..."
"Atau selamatkan perusahaanmu yang saat ini sedang diambil alih."
Galaxy membeku.
Ponselnya berdering.
Aaron segera mengangkatnya.
Wajahnya langsung berubah.
"Tuan..."
"Kantor pusat Wesley Corporation sedang diserang secara hukum dan finansial."
"Seluruh rekening perusahaan dibekukan."
Galaxy mengepalkan tangannya.
Leonard telah memaksanya memilih.
Keluarga...
atau kerajaan bisnis yang dibangun keluarganya selama puluhan tahun.
Keheningan menyelimuti ruangan rahasia.
Tatapan semua orang tertuju kepada Galaxy.
Pilihan yang diberikan Leonard bukan sekadar sulit.
Itu adalah jebakan.
Jika Galaxy kembali ke New York untuk menyelamatkan Wesley Corporation, kesempatan menemukan Elena bisa hilang selamanya.
Namun jika ia tetap berada di Black Haven, perusahaan yang dibangun keluarganya selama puluhan tahun mungkin akan jatuh ke tangan musuh.
Ponsel Galaxy kembali berdering.
Kali ini dari Dewan Direksi Wesley Corporation.
Galaxy mengangkat panggilan itu.
Suara panik terdengar dari seberang.
"Tuan CEO!"
"Saham perusahaan anjlok!"
"Beberapa investor besar menarik seluruh modal mereka."
"Kami membutuhkan keputusan Anda sekarang!"
Galaxy memejamkan mata sejenak.
Kemudian menjawab dengan suara tenang.
"Laksanakan Protokol Phoenix."
Seluruh direksi terdiam.
"Itu berarti..."
"Ya."
"Bekukan seluruh transaksi internal."
"Tutup akses seluruh server utama."
"Dan jangan tanda tangani apa pun sampai aku kembali."
"Baik, Tuan."
Panggilan berakhir.
Aaron menatap Galaxy dengan kagum.
"Protokol Phoenix..."
"Itu sistem darurat yang hanya diketahui CEO."
Galaxy mengangguk.
"Itu akan memberi kita sedikit waktu."
Grizella menggenggam lengan Galaxy.
"Galaxy..."
"Kalau perlu, kita kembali saja."
"Saya tidak ingin Anda kehilangan perusahaan karena saya."
Galaxy menoleh.
Tatapannya lembut.
"Grizella."
"Aku pernah kehilangan kepercayaan pada seseorang."
"Aku pernah kehilangan keluargaku."
"Aku tidak akan kehilangan orang yang kucintai lagi."
Kalimat itu membuat Grizella membeku.
Itulah pertama kalinya Galaxy mengungkapkan isi hatinya secara terang-terangan.
Pipi Grizella memerah.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
"Apa..."
"Yang Anda katakan barusan..."
Galaxy tersenyum tipis.
"Nanti setelah semua ini selesai..."
"Aku akan mengatakannya lagi."
Adrian memperhatikan mereka dengan mata berkaca-kaca.
Elena benar.
Galaxy adalah orang yang akan menjaga putrinya.
Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat.
Tiba-tiba seluruh ruangan berguncang.
Brummm!
Lampu-lampu berkedip.
Dinding batu perlahan bergeser.
Sebuah lorong baru terbuka.
Dari dalam lorong terdengar suara lemah.
"...Grizella..."
Grizella langsung membeku.
"Itu..."
"Itu suara Ibu!"
Tanpa berpikir panjang, ia berlari menuju lorong.
"Grizella, tunggu!"
teriak Galaxy.
Namun Grizella sudah lebih dulu masuk.
Lorong itu berakhir di sebuah ruangan berkaca.
Di balik kaca antipeluru, seorang wanita berambut panjang duduk dengan tubuh lemah.
Wajahnya pucat.
Namun senyumnya tetap hangat.
"Grizella..."
Air mata Grizella mengalir deras.
"Ibu..."
Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca.
Elena melakukan hal yang sama dari sisi lain.
Meski terpisah oleh kaca tebal, keduanya saling memandang dengan penuh kerinduan.
"Akhirnya..."
"Ibu bisa melihatmu lagi."
Galaxy dan yang lain tiba beberapa detik kemudian.
Namun sebelum mereka sempat mencari cara membuka ruangan itu...
Selena muncul di balkon atas.
Bertepuk tangan perlahan.
"Indah sekali."
"Pertemuan ibu dan anak."
Grizella menatapnya dengan marah.
"Buka pintunya!"
Selena menggeleng.
"Tidak semudah itu."
Ia menekan sebuah tombol kecil.
Sirene darurat langsung berbunyi di seluruh pulau.
Wiuu... Wiuu...
"Dalam lima menit..."
"Seluruh kompleks ini akan terkunci."
"Dan hanya satu orang yang bisa keluar bersama Elena."
Galaxy langsung menatap Selena.
"Apa maksudmu?"
Selena tersenyum dingin.
"Pilih."
"Elena..."
"Atau Grizella."
Ruangan mendadak sunyi.
Galaxy mengepalkan kedua tangannya.
Baginya...
Itu bukan pilihan.
Karena ia bertekad membawa keduanya pulang dengan selamat.
Namun di balik kaca, Elena perlahan menggeleng.
Seolah memberi isyarat agar Galaxy tidak memilih dirinya.