Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.
Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!
"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.
Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.
Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!
Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Hening kembali merayap, merajai setiap sudut ruang kerja privat bernuansa kayu mahoni gelap itu. Di atas meja, sebuah map cokelat tua yang tebal dan tersegel rapat bergeming di bawah pendaran lampu meja yang temaram.
Map itu tampak biasa, namun atmosfer di sekitarnya terasa begitu menekan, seolah menyimpan bom waktu yang siap meledakkan seluruh kewarasan siapa pun yang berani membukanya.
Liam Oliver berdiri mematung. Tatapan matanya yang setajam elang terpaku pada permukaan kertas map tersebut.
Keangkuhan dan aura dingin khas yang biasanya melekat erat pada dirinya perlahan mengendur, digantikan oleh debaran jantung yang kian berpacu liar. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Liam merasa takut pada sebuah tumpukan kertas.
"Buka, Liam," suara Papa Bramantyo memecah keheningan, terdengar begitu serak dan sarat akan keletihan yang mendalam.
Pria paruh baya itu terduduk di kursi kebesarannya, menyandarkan kepala sembari memejamkan mata, seolah tidak sanggup lagi menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Liam menarik napas dalam-dalam melalui hidung, mencoba menstabilkan gemuruh di dadanya. Ia melangkah maju. Sepatu kulitnya mengetuk lantai dengan bunyi yang berat.
Dengan gerakan perlahan, jemari kekarnya yang kokoh bergerak meraih ujung map cokelat tua itu. Entah mengapa, telapak tangannya mendadak terasa sedingin es dan mulai bergetar samar.
Sreeek...
Liam merobek segel merah yang mengunci map tersebut. Dengan satu tarikan napas, ia membuka lembaran pertama.
Matanya langsung disambut oleh sebuah kop surat resmi dari sebuah lembaga investigasi independen internasional yang biasa disewa secara rahasia oleh keluarga Oliver untuk urusan spionase bisnis.
Di bawahnya, sebuah judul besar tercetak dengan tinta hitam tebal - LAPORAN KRONOLOGI TRAGEDI 14 OKTOBER - OPERASI PENYELAMATAN DEVON OLIVER.
Dahi Liam berkerut dalam. '14 Oktober? Itu adalah malam di mana Kak Devon hampir kehilangan nyawanya dalam insiden penyanderaan oleh kartel bisnis saingan di perbatasan,' batin Liam mengingat-ingat.
Ia membalik halaman berikutnya, dan detik itu juga, dunianya seolah berhenti berputar.
Sebuah foto lampiran berukuran besar terpampang di sana. Itu adalah foto medis dari seorang wanita yang terbaring lemah di ruang isolasi rumah sakit dengan selang oksigen dan berbagai alat pendeteksi jantung yang menempel di tubuhnya.
Wajah wanita di foto itu sangat pucat, dipenuhi memar kebiruan, dan sudut bibirnya pecah. Namun, Liam langsung mengenali sepasang mata bulat yang terpejam rapat di foto itu.
Itu adalah Mira Hazelya. Wanita yang beberapa menit lalu ia maki habis-habisan di kamar pengantin.
Tangan Liam bergetar semakin hebat hingga lembaran kertas di genggamannya berbunyi gemerisik. Ia mulai membaca baris demi baris laporan investigasi tersebut dengan tatapan mata yang kian menggelap.
Setiap kata yang tertulis di sana terasa seperti bilah belati yang menghujam langsung ke ulu hatinya, mencabik-cabik ego pribadinya tanpa ampun.
"...Berdasarkan hasil investigasi forensik dan rekaman intelijen, target utama penculikan malam itu sebenarnya adalah Devon Oliver bin Bramantyo Oliver selaku CEO pelaksana Oliver Group. Pihak musuh telah menyiapkan rencana pembunuhan berencana yang dikemas sebagai kecelakaan."
"Namun, rencana tersebut bocor. Mira Hazelya, yang saat itu secara tidak sengaja berada di lokasi pertemuan bisnis sebagai perwakilan relasi, menyadari pergerakan mencurigakan tersebut. Demi mencegah Devon melangkah masuk ke dalam jebakan maut, Mira Hazelya dengan sengaja memancing perhatian para pelaku. Ia mengorbankan dirinya dengan membiarkan mobilnya dihadang dan diculik oleh kelompok bersenjata tersebut, memberikan waktu bagi tim pengawal Devon untuk mengevakuasi putra sulung keluarga Oliver ke tempat aman..."
Napas Liam mendadak tertahan di tenggorokan. Jantungnya terasa seperti dihantam palu godam. 'Mira... memancing mereka? Dia diculik karena menyelamatkan Kak Devon ?'
Liam membalik halaman berikutnya dengan gerakan panik, melompati beberapa baris kronologi teknis hingga matanya tertuju pada lembar laporan medis psikologis dan fisik pasca-kejadian. Di sana, tertulis fakta yang jauh lebih mengerikan dan biadab.
"...Korban, Mira Hazelya, disekap selama tiga hari di sebuah gudang terbengkalai sebelum tim elite Oliver Group berhasil menemukannya. Selama masa penyekapan, pihak musuh yang frustrasi karena gagal menangkap Devon Oliver, melampiaskan kemarahan mereka kepada korban. Korban mengalami penyiksaan fisik secara beruntun, termasuk tindakan kekerasan seksual paksa yang merenggut kehormatan dan kesuciannya..."
'Catatan Medis - Ditemukan bekas luka trauma jeratan di pergelangan tangan, memar hantaman benda tumpul di area dada, serta robekan fisik yang masif pasca-trauma tindakan pemaksaan...'
DEG.
Lembaran kertas di tangan Liam terlepas, meluncur jatuh berserakan di atas lantai marmer. Tubuh tegapnya mendadak lemas, kehilangan seluruh kekuatannya. Ia melangkah mundur dua langkah hingga punggung kokohnya menabrak lemari buku kayu di belakangnya.
Wajah Liam yang semula dingin kini berubah menjadi pucat pasi. Sepasang matanya membelalak menatap kosong ke arah lembaran kertas yang berserakan di lantai.
Bayangan Mira yang meringkuk ketakutan di sudut ranjang, jeritan histerisnya saat ia mencoba menyentuhnya, bekas luka samar di lehernya, dan air mata yang membasahi seprai... semuanya kini berputar di kepala Liam bagai kaset rusak.
Semua teka-teki itu terjawab dengan cara yang paling kejam.
Mira Hazelya bukan wanita bebas yang licik. Dia bukan penipu yang mengincar harta keluarga Oliver.
Noda dan cacat yang ia lihat malam ini bukan karena Mira wanita murahan, melainkan karena wanita itu telah melewati neraka dunia demi menyelamatkan nyawa kakak laki-lakinya, Devon Oliver. Kehormatan Mira direnggut paksa sebagai harga yang harus dibayar agar keluarga Oliver tidak runtuh dalam duka.
"Sekarang kau paham, Liam?" suara Papa Bramantyo terdengar begitu lirih, memecah kesunyian yang mencekik. Pria paruh baya itu menatap putranya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Dia mengorbankan masa depannya, kesuciannya, dan seluruh harga dirinya demi anak sulung Papa. Demi kakakmu! Dan demi melindungi nama baiknya serta mencegah musuh tahu bahwa keluarga kita berutang nyawa padanya, Mira bersumpah untuk menutup rapat mulutnya. Dia berjanji kepada Papa untuk membawa rahasia kelam ini sampai mati."
Papa Bramantyo berdiri, melangkah mendekati Liam yang masih terpaku dalam syok yang luar biasa. "Pernikahan kontrak satu semester ini... ini adalah cara Papa untuk memberikan perlindungan mutlak kepadanya di bawah nama besar Oliver, sekaligus menjauhkannya dari kejaran musuh yang masih mengincarnya. Tapi apa yang kau lakukan malam ini, Liam? Kau justru membangkitkan traumanya. Kau menghancurkan sisa-sisa jiwanya yang sudah hancur!"
Setiap kata dari Papanya terasa seperti tamparan kenyataan yang mendarat telak di wajah tampan Liam. Rasa bersalah yang teramat besar dan pekat seketika merayap naik dari dadanya, mencekik lehernya hingga ia merasa kesulitan untuk sekadar bernapas.
Ego pria yang beberapa menit lalu ia agungkan kini hancur lebur, runtuh tak bersisa, berganti menjadi rasa sesal yang teramat dalam dan menyakitkan. Liam Oliver, sang pengantin yang angkuh, baru saja menyadari bahwa dirinya adalah monster yang sesungguhnya di dalam kamar pengantin itu.
...----------------...
To Be Continue ....
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼♀️😅
padahal bagus Liam
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
emangnya seperti apa?