Dee menjadi ibu pengganti untuk seorang konglomerat tampan bernama Kane yang memiliki penyakit mysophobia. Berbagai masalah timbul yang mengharuskan Dee dengan berat hati harus menyerahkan anaknya pada pria kaya itu.
Hingga pada akhirnya Dee bertemu kembali dengan Kane di saat dia sudah menentukan pilihan hatinya, Rizky. Kekasih hatinya
Haruskah Dee kembali menuai luka dengan tetap kembali bersama Kane atau merajut pernikahan yang indah bersama Rizky?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Hutabarat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11 Kau bayar aku jika begitu
Kane yang berdiri di belakang Dee mendengarkan percakapan Dee dan Rizky. Meskipun pernikahan Kane dengan Dee hanya seperti permainan, tapi tetap saja laki-laki itu merasa tidak nyaman mendengarnya. Terlebih—Dee seperti sangat bahagia saat mengobrol dengan orang di seberang telepon itu. Bahkan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Dee sangat lembut sehingga membuat Kane sangat tidak nyaman.
Semakin mendengar percakapan Rizky dan Dee, semakin panas pula hati Kane. Dia tidak tahu mengapa, tapi tangannya sudah mengepal kuat dan memperlihatkan urat-urat dari ototnya. Alhasil, kesabaran Kane sirna dan dia pun langsung merebut handphone Dee, lalu mematikan panggilan itu.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Dee yang terkejut dengan tindakan Kane.
“Kembalikan handphone-ku,” pintanya.
Akan tetapi terasa percuma saja karena Kane menggenggam erat handphone itu. Dee yang melihat raut wajah datar Kane, serta ekspresi dingin, ditambah tatapan tajam itu seketika terdiam.
Kane bertanya, “Siapa yang dihubungimu?” Suaranya sangat datar tapi justru membuat Dee takut.
“Siapa Rizky?” tanya Kane lagi.
“Dia pacarku. Orang yang aku cintai.” Jawaban Dee benar-benar memancing emosi Kane.
“Kau, apa tidak sadar posisimu saat ini?” Kane menanyainya penuh penekanan.
Sementara, Dee hanya terdiam dan menatap mata Kane yang penuh amarah. Dia memang sudah lancang sekali karena berani mengatakan hubungannya dengan Rizky di depan suaminya sendiri.
Rasa bersalah pun memenuhi hati Honey Dee saat ini. Meskipun pernikahan mereka hanyalah pernikahan kontrak, tapi tidak sepantasnya dia menyakiti Kane seperti itu.
“Kau itu milikku. Aku tidak suka berbagi. Paham?” ucapnya lagi.
“Aku milikmu, ya?” tanya Dee. Entah mengapa dia tidak bisa diam saat Kane menekannya, “aku bukan barang. Dan posisi? Posisi apa maksud kamu?” lanjutnya.
“Posisi kamu adalah istriku!” jawab Kane, tegas.
“Istri? Kita tidak memiliki status yang pasti. Hubungan kita tidak begitu spesial, bahkan—aku rasa kita memang tidak memiliki hubungan. Aku hanya wanita yang akan melahirkan anakmu. Tidak lebih dari itu.” Dee berkata lantang.
Kane sungguh tidak menyangka jika perempuan di depannya itu bisa berkata demikian. Kane kira, Dee adalah perempuan penurut yang mau mendengarkan apapun keinginannya. Namun, dia salah.
“Jadi, aku berhak mencintai siapapun,” imbuh Dee diiringi senyuman miring.
Mendengar itu, Kane semakin panas dan mendadak tertawa sinis. Jika saja perempuan di didepannya sedang tidak mengandung, sudah pasti Kane ingin menghabisinya.
Sementara itu, Liliana datang karena mendengar keributan antara mereka berdua. “Apa yang terjadi?” tanyanya penuh rasa curiga.
“Tidak apa.” Kane menjawab singkat.
“Tidak mungkin tidak ada apa-apa. Aku mendengar kalian ribut tadi,” ujarnya.
“Aku bilang tidak ada apa-apa!” bentak Kane.
“Pulanglah.” Dia yang sedang bad mood menyuruh Liliana pergi.
Namun, Liliana menggeleng kecil, “Aku masih ingin disini,” ucap perempuan itu.
“Aku bilang, pulang sekarang!” bentak Kane sambil membuang napas kasar.
Dee hanya terdiam melihat amarah laki-laki itu memuncak. Semua karenanya. Namun, bukankah Dee benar? Pernikahan itu hanyalah pernikahan kontrak yang tidak berpengaruh untuk kehidupan pribadi masing-masing.
Kane masih terbawa emosi dan menatapnya tajam hingga Liliana ketakutan, lalu menyetujui permintaannya. “Aku akan kembali besok.”
Kane enggan menjawab, membiarkan Liliana pergi dengan kekecewaan dan rasa kesal. Kini hanya tinggal dirinya dan Honey Dee di sana. Kane menatap tajam Dee dan menarik paksa dia, membawa perempuan itu pergi ke kamarnya. Dee menolak dengan menarik tangannya sekuat mungkin.
“Lepasin. Sakit.” Dee meringis saat pergelangan tangannya dicengkeram kuat oleh Kane.
“Ikut.” Tatapan Kane sungguh mengerikan.
“Tidak!” tolak Dee.
“Kau menolakku lagi?” Kane bertanya.
“Kalau iiya, kenapa?” tanya Dee menantangnya.
“Kau benar-benar __”
Kane semakin emosi atas penolakan istrinya itu. Tanpa berbasa-basi lagi, dia langsung menggendong Dee meskipun terus memberontak.
Sesampainya di kamar, Kane langsung mengunci pintunya. Kemudian melempar tubuh Dee ke atas kasur dan belum sempat Dee beranjak, Kane sudah mendorongnya kembali hingga berbaring di kasur.
Sejenak, mereka berdua bergeming dan saling tatap. Dee sebenarnya takut dengan posisinya saat ini. Berpikir negatif tentang kemungkinan besar yang akan Kane lakukan padanya.
“Apa maumu, hah?” tanya Dee masih menantang.
Sementara, Kane menatapnya tajam. Masih tidak percaya jika istrinya itu ternyata sangat berani. Dee juga lumayan kuat karena terus memberontak meskipun sudah berada di bawah Kane yang kekar.
Kane sungguh menekan kedua tangan Dee sehingga perempuan itu kesulitan untuk bangun. “Wanita sepertimu berbicara tentang cinta? Jangan lupa kalau kamu yang menjual dirimu sendiri dan membuka selangkanganmu dengan sukarela,” kata Kane diiringi seulas senyum yang begitu merendahkan Honey Dee.
“Cinta? Betapa murahnya cintamu karena dengan mudahnya aku beli. Lalu, kamu bilang kita tidak ada status atau hubungan apapun? Baiklah, aku perjelas kalau begitu apa posisimu sekarang.” Dia kembali berkata.
“Lepasin,” ucap Dee.
“Tidak ada maaf untuk wanita tidak tahu diri sepertimu," sahut Kane.
Kane dengan paksa meniduri Dee. Dee yang dipaksa menangis tanpa menikmati permainan itu sedikitpun. Setelah selesai, Kane pun menatap Dee yang terbaring di bawahnya terisak dan lelah. Entah mengapa hatinya merasa tersayat. Dia juga tidak mengerti apa yang telah diperbuatnya. Ingin minta maaf tapi mengingat kembali perkataan Dee dan panggilan manisnya untuk lelaki lain membuat hati Kane membeku kembali. Kane pun beranjak dari kasur dan mengambil perjanjian yang telah mereka tanda tangani sebelumnya dan melemparnya ke atas kasur di samping Dee yang terbaring.
Dee membuka matanya yang berat dan menatap dokumen itu sebelum melihat ke arah Kane dengan penuh tanya. Kane pun mengingatkannya, “Jangan lupa perjanjian yang telah kamu tanda tangani sendiri. Begitu dirimu hamil, maka kamu adalah milikku. Camkan itu," ucap Kane sebelum meninggalkannya.
Kemudian, dirinya berbalik untuk ke kamar mandi tapi tiba-tiba Dee berseru, “Bayar aku!”
Kane membeku mengira dirinya salah dengar lalu berbalik dan bertanya, “Apa?” tanyanya sedikit kebingungan.
Dee terduduk dan mengangkat kertas perjanjian itu. Dengan mata yang penuh benci dan hati terbakar dendam, dia pun berkata, “Hubungan ini yang kamu inginkan, kan? Kalau begitu bayar aku, tidak hanya setelah melahirkan tapi setiap dirimu menyentuhku.” Dee sungguh berani mengatakannya.
Kemudian, dia tersenyum sinis menatap wajah datar Kane. Cukup satu kalimat itu dan hubungan mereka pun langsung menjadi jelas. Seorang boss dan client nya. Membeli dan menjual layaknya sebuah bisnis. Saat itu juga, tertarik garis lurus di antara mereka.
Kane merasakan sesuatu di hatinya retak. Kecewa? Entah. Dirinya pun tak merasa telah berekspektasi, jadi dari mana rasa kecewa itu datang?
Patah hati? Cinta saja tidak. Mereka hanya orang lain yang bertemu dan terikat janji.
Oleh karena itu, dirinya hanya bisa mengangguk setuju.
klw perlu kmu kbur sja dari rmh neraka itu....