Dijodohkan dari sebelum lahir, dan bertemu tunangan ketika masih di bangku SMA. Aishwa Ulfiana putri, harus menikah dengan Halim Arya Pratama yang memiliki usia 10tahun lebih tua darinya.
Ais seorang gadis yang bersifat urakan, sering bertengkar dan bahkan begitu senang ikut tawuran bersama para lelaki sahabatnya.
Sedangkan Halim sendiri, seorang pria dingin yang selalu berpembawaan tenang. Ia mau tak mau menuruti permintaan Sang Papi.
Bagaimana jika mereka bersatu? Akankah kehangatan Ais dapat mencairkan sang pria salju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lim akan berusaha merubahnya
"Ais, bangun. Ini udah malam." bujuk seorang padanya.
Ais membuka mata, lalu menggeliat kan tubuhnya. Samar-samar, Ia menatap sang sahabat ada didepan matanya.
" Nisa..." peluknya seketika.
"Loe kenapa bisa kesini?" tanya nya dengan penuh suka cita.
"Mama minta gue dateng. Mama juga yang jemput ke rumah dan mina izin Ibu buat nginep disini." jawab Nisa, yang lalu melepaskan pelukan Ais darinya,.
"Serius, Loe nginep?"
"Iya, Mama suruh. Kamu butuh pendamping buat akad besok. Setidaknya, kamu merasa punya temen,." sambung sang Mama.
"Kan, emang temen Ais cuma Nisa, Ma." ucapnya.
Ais kemudian meraih handuk, lalu pergi ke kamar mandi utuk membersihkan diri.
Sang Mama memintanya keramas, bila perlu melakukan lulur malam ini. Sayangnya Ais tak pernah melakukannya, hingga tak tahu bagaimana caranya. Ia bahkan salah mengambil shampoo yang harus nya untuk sabun kewanitaan.
"Ais keramas? Kok baunya aneh?" tanya sang Mama yang yang menyisir rambutnya.
"Ais pakai Shampo yang ada dikamar mandi loh, Ma itu mama yang beliin kan?" tanya Ais dengan lugunya.
"Bentar deh, kok kayak kenal sama bau ini?" sambung Nisa, yang mengendus rambut Ais dengan seksama.
Nisa yang merasa tak asing demgan bau itu, lalu berlari kekamar mandi dan mengambil barang yang di sangka shampo oleh Ais, lalu memberikannya pada mama Linda.
" Ini, yang Loe kira shampoo?" tanya Nisa.
" Lah, emang itu apaan?" tanya Ais, polos.
" Astaga, Ais... Ini itu sabun kewanitaan. Bisa-bisa nya Loe kira ini shampoo."
"Ya, gimana? Gue ngga tahu."
Mama Linda hanya menggelengkan kepalanya. Antara lucu, dan merasa bersalah karena tak mengajarkan itu pada putri semata Wayang nya itu, wajar saja, karena Ia seorang single parent yang melakukan apapun sendiri, dan bahkan nyaris tak sempat memberi pendidikan itu pada anaknya.
"Aku yang ngga pernah menyangka, kalau Ais akan menikah secepat ini." sesalnya.
"Terus, gimana? Baunya aneh." tanya Nisa.
Ais hanya mendengkuskan nafasnya kasar. Mau tak mau, Ia harus mandi lagi. Apalagi, sang Mama pun membujuknya, karena akan membuat semua berantakan esok hari.
Malam ini, malam dimana tangan Ais akan dipakaikan Inai. Untung Ia tidur cukup lama, sehingga rasa kantuknya dapat di tahan.
Sembari berinai, Nisa menyuapi Ais untuk makan malamnya. Sedangkan Mama Linda, berada di bawah untuk mengurus yang lainnya. Begitu sibuk, hingga tampak begitu menguras tenaga dan fikiran.
"Lim, kamu di dalam?" panggil Mama Linda, pada calon menantunya itu.
"Masuk, Ma." ucapnya.
Mama Linda pun masuk perlahan, lalu duduk di sofa yang tesedia disana. Lim menghampiri dan mulai mengajaknya bicara.
"Ada apa, Ma?"
"Lim, boleh Mama minta sesuatu?"
"Ya, silahkan."
"Mama tahu, kamu belum mencintai Ais. Tapi, Mama mohon sayangi dia. Dia hanya gadis yang kurang perhatian, dan hanya melakukan semuanya secara spontan. Berkelahi, bolos sekolah, dan... Banyak sekali kenakalan yang dia lakukan."
"Ya, Lim tahu. Lantas, apa yang harus Lim lakukan?"
"Rubah dia, Lim. Meski Mama tak tahu, bagaimana kalian nantinya. Tapi Mama, ingin setidaknya Ais berubah." pinta Mama Linda padanya.
Lim seketika diam, Ia memikirkan apa yang diminta mertuanya itu.
"Lim tak tahu, harus mulai dari mana. Tapi, Lim akan berusaha melakukan apa yang Mama minta." ucap Lim.
Mama Linda tersenyum. Ia meletakkan harapan yang begitu tinggi pada Lim. Hanya ingin, agar Ais menjadi wanita dengan keprinadian yang baik. Dan dapat mengontrol apa yang harus dan tak boleh Ia lakukan.
biar je...