NovelToon NovelToon
Cinta Tak Butuh Tes IQ

Cinta Tak Butuh Tes IQ

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Murid Genius / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guru Privat Paling Galak Sedunia

Meja belajar di ruang tengah penuh.

Buku matematika terbuka pensil berserakan, kertas penuh coretan tak jelas.

Dan di tengah semua itu, Aira duduk tegak dengan wajah polos.

Damar duduk di sampingnya, mengamati Aira dengan seksama.

“Ini,” kata Damar tajam sambil menunjuk buku, “rumus dasar.”

Aira menatap halaman itu lama, lama sekali.

“…Yang mana?” tanyanya ragu.

Damar berkedip. “Apa maksudmu yang mana?”

“Yang mana rumusnya,” jawab Aira jujur.

Hening.

Damar menegakkan badan perlahan.

“Kamu kelas dua SMA.”

“Iya.”

“Ini materi SD.”

“Iya…”

“Dan kamu ... ”

Damar menarik napas keras. “...tidak tahu?”

Aira menggeleng pelan. “Sedikit… lupa.”

Damar tertawa pendek kering. “Lupa?”

Ia meraih pensil dan menulis besar-besar di kertas

2 + 3 \= ?

“Berapa?” tanyanya dingin.

Aira menggigit bibir. “Lima…?”

Damar mengangguk cepat.

“Bagus, belum idiot ”

Lalu ia menulis lagi.

x + 5 \= 9

“Nah. Ini?” Aira menatap soal itu seperti menatap teka-teki kuno.

“X itu…”

Damar mengangkat wajah.

“Huruf?”

Damar membeku. “…Apa?”

“X,” ulang Aira polos. “Huruf kan?”

Damar mengacak rambutnya dengan kasar.

“Itu variabel!”

“Oh.”

"Variabel apa?”

“Hah,?!”

Damar mulai mengacak acak rambutnya lagi.

“Kamu tahu ini pelajaran apa?”

“Matematika…”

“Bukan,” potong Damar.

“Ini penyiksaan.”

Aira menunduk.

“Maaf…”

“Jangan minta maaf!” bentak Damar.

“Jawab!”

Damar menunjuk soal itu lagi.

“Kalau x + 5 \= 9, x berapa?!”

Aira menutup mata sebentar, lalu membuka lagi.

“Tiga…?”

“SALAH!”

Aira tersentak.

“Empat!” bentak Damar.

“EMPAT! Itu bisa dihitung pakai jari!”

Damar mengacak rambutnya lagi napasnya berat.

“Kenapa… ada manusia sebodoh ini di planet ini?!”

Aira terdiam,tangannya mengepal di pangkuan.

“Aku nggak bodoh,” katanya pelan.

Damar menahan nafasnya sebentar.

“Trus Apa IQ mendekati gorila?”

“Kalau kamu teriak, aku makin nggak ngerti.”

Damar menatapnya tajam.

“Kamu sadar posisimu, rengking 100 dari 100 murid,” Kata Damar dingin.

“Aku buang waktu berharga buat ngajarin hal paling dasar.”

“Aku juga buang harga diri,” balas Aira lirih. “Duduk di sini, denger kamu marah marah”

"Harga diri? rengking ke 100,"

Hening jatuh berat,

Jam dinding berdetak pelan, Damar memalingkan wajah.

“Mamah bakal jual PS4-ku,” gumamnya Damar kesal.

Aira hampir tertawa tapi menahannya.

“Kalau mau berhenti,” kata Damar pelan, “aku nggak maksa.” Damar menoleh ke arah Aira.

“Tidak,” kata Aira cepat.

“Kalau aku berhenti, aku kalah.”

Aira menegakan punggungnya, perhatiannya tertuju kepada Damar.

“Kita ulang dari awal,” kata Damar kaku.

“Dan kali ini, harus fokus.”

Aira mengangguk cepat.

“Iya.”

Damar menunjuk buku.

“Anggap x itu… angka yang hilang.”

“Oh,” kata Aira. “Kenapa nggak bilang dari tadi?”

Damar menutup mata.

“Sabar,”

Damar membuka mata lagi.

“Itu logika sederhana,”

Aira mengangkat bahu kecil.

Damar terdiam sesaat.

Lalu mendesah kasar.

“Baik,” katanya. “Kita ulang.”

“x + 7 \= 12.”

Aira menatap soal itu.

Damar menghela napas panjang.

“Oke,” katanya pelan. “X itu angka yang hilang.”

“Lima.”

Hening.

Damar tidak bereaksi, Aira menoleh ragu.

“Salah ya?”

Damar menatap kecatatan Aira.

x + 7 \= 12

x \= 5

Ia berkedip.

Sekali.

Dua kali.

“…Ulangi,” katanya pelan.

“Lima,” ulang Aira, lebih yakin.

Damar mengangguk perlahan.

Damar mengambil pensil, menulis hasilnya lagi.

x \= 5

Ia berhenti.

Menatap lama, Aira menggigit bibir.

“Kalau salah, bilang aja,”

“Tidak."

“Benar,” kata Damar akhirnya.

Benar, satu kata itu membuat dada Aira hangat.

“Serius?” tanyanya kecil.

Damar menoleh ke arahnya.

“Kamu… benar.”

Aira tersenyum lebar.

Damar bergeser sedikit, menatap Aira seolah melihat spesies langka.

“Kamu paham?”

Aira mengangguk cepat.

“Sedikit.”

“Sedikit?”

Damar tertawa pendek. Kali ini bukan sinis.

“Ini… soal pertama yang kamu jawab benar tanpa ditebak, Aira tertawa kecil.

“Berarti aku nggak bodoh?”

Damar terdiam,lalu mengalihkan pandangan, nafasnya terdengar berat.

“…Mungkin,” katanya kaku.

Aira menatapnya, matanya berbinar.

“Kalau gitu, aku mau coba lagi.”

Damar mengernyit.

“Masih mau belajar?”

“Iya.”

Ia menunjuk soal berikutnya, Damar menatap buku itu, lalu Aira. “Baik,” katanya semangat.

Dan untuk pertama kalinya sejak les itu dimulai, Damar berpikir satu hal yang membuatnya benar-benar syok,

Dia bisa sabar menghadapi Aira.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!