"Mentari, istri bocah ku......aku sangat mencintaimu. Taukah kau seberapa besar cinta ku pada mu?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Memangnya seberapa besar pacar ku ini mencinta aku?" (Mentari)
"Tidak besar, kecil sekali!" (Arka Anggara Wijaya)
"Ngapain nanyak kalau gitu!" (Mentari)
"Mentari?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Em!" (Mentari)
"Cinta ku pada tak seluas samudera dan tidak sedalam lautan biru, tapi aku lebih mencintai mu dari pada diri ku sendiri, dan aku cemburu walau yang memandang mu seorang wanita. Aku ingin mengurung mu dalam sangkar cintaku. Agar tidak ada yang dapat menyentuh mu, kau Mentari ku dan hanya boleh menyinari ku saja. Biarlah aku menjadi budak cinta mu," (Arkana Anggara Wijaya)
"Pacar ish.....Tari gemuszzzz, oppa sarangheo," (Mentari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Mentari kini sudah memakai seragam sekolahnya, ia terlihat begitu rapi dengan rambut yang di kuncir. Tidak lupa tas ransel yang ia pakai semakin mempercantik penampilannya, berulangkali ia bercermin hingga ia rasa semua sudah pas dan ia berbalik tanpa sengaja malah membentur Arka.
"Ish......Om apasih," Mentari menjauh dan merapikan baju yang seakan kusuk karena kejadian barusan.
Arka tidak berbicara sama sekali, ia sudah selesai dengan pakaian kerjanya. Jas hitam yang ia gunakan sungguh membuatnya semakin menawan dan siapa pun bisa saja jatuh hati pada dirinya. Arka berbalik tanpa berniat berbicara sepatah kata pun.
"Yeee....bukannya minta maaf....." Mentari menepuk udara seakan ia menepuk nyamuk, padahal itu adalah pukulan untuk Arka.
Arka menuruni anak tangga begitu juga dengan Mentari yang setengah berlari.
"Mami......" Mentari langsung berlari dan seolah melompat mendekati Linda yang tengah menuangkan minuman pada gelas.
"Aduh anak Mami......"Linda meletakan teko di tangannya dan menatap Mentari, "Kamu mau bikin jantung Mami copot!" Linda mengelus dadanya, namun ia tidak marah malainkan ia merasa senang dengan Mentari yang selalu ceria.
"Hehe....." Mentari terkekeh dengan kedua tangannya memegang tali tasnya, "Maaf Mi."
"Ayo duduk.......ini Mami buatkan nasi goreng buat kamu dan kamu harus cobain," Linda menarik kursi meja makan, kemudian ia menyajikan makanan untuk Mentari, "Makan yang banyak ya," Linda tersenyum sambil mengusap pundak Mentari.
"Makasih Mami...." Mentari mulai menyuapi nasi pada mulutnya, ia di perlakukan Linda dengan sangat baik. Bahkan Mentari seperti di anggap anak sendiri di keluarga Wijaya.
"Iya sayang."
Linda juga ikut duduk di samping Anggara, tidak lupa Arka juga memulai sarapannya dalam diam.
"Mi Tari berangkatnya," Mentari bangun dari duduknya, dan mencium punggung tangan Linda kemudian Arya sang Papi mertuanya.
"Kamu pergi naik apa?" tanya Linda.
"Sama ojek aja Mi," kata Mentari, "Tari udah telat banget Mi....karena bangun kesiangan," jelas Mentari lagi.
"Kamu berangkat sama Arka saja," kata Linda yang merasa kasihan pada Mentari.
"Nggak usah Mi," Mentari cepat-cepat menolak sebab ia takut satu sekolah tahu jika ia sudah menikah.
"Loh kenapa?" Linda menatap bingung.
"Nggak papa, Tari berangkat ya Mi....." Mentari langsung berlari menuju pintu utama, tanpa mendengar Linda yang terus memanggil namanya, kemudian ia mengelus dada setelah ia rasa selamat untuk pagi ini, "Apa kata dunia kalau satu sekolah tahu gw dah kawin," Mentari berbicara tidak jelas sambil keluar dari gerbang rumah, ia memeriksa saku nya dan melihat uang recehan miliknya yang tidak seberapa, "Uang segini mana cukup naik taxi, kalau naik ojek juga gw nggak akan bisa jajan entar di sekolah," Mentari menggaruk kepala karena tidak memiliki uang untuk jajan, ia ingin menyebrang jalanan untuk menemui Ranti dan meminta uang jajan namun tiba-tiba ada sebuah motor yang berhenti di hadapannya, Mentari sangat mengenal siapa orang tersebut.
"Lu udah telat Genk," kata Dino, yang perlahan membuka helmnya.
"Lu ngatain gw telat, kayak lu kagak!" celetuk Mentari sambil terkekeh, jangan tanyakan berapa teman dekat Mentari sudah pasti dua perempuan dan sisanya laki-laki. Jadi ia lebih memiliki banyak teman laki-laki dari pada perempuan.
"Bareng yuk?!" tawar Dino sambil memberikan sebuah helm pada Mentari.
"Wokeh....." Mentari langsung duduk di belakang Dino, "Berangkat bos," Menari menepuk pundaknya ia duduk dengan gaya laki-laki tanpa menyadari Arka yang melihatnya dari teras rumah, hingga Mentari menghilang dari pandangannya.
Sampai di sekolah Mentari langsung menaiki pagar bersama dengan Dino, tidak ada yang melihat mereka kecuali Arka yang berhenti di sebrang jalanan dan melihat apa yang di lakukan istrinya. Setelah ia rasa Mentari berhasil masuk Arka kembali mengemudikan mobilnya menuju perusahaan.
Mentari mengendap-endap hingga sampai di depan kelasnya, saat guru tengah menulis di papan tulis ia masuk dengan meletakan jari telunjuknya di bibir. Semua siswa sudah tahu tidak ada yang boleh bersuara dan dalam sekejap ia berhasil duduk di kursinya.
"Kok telat Genk?" tanya Lala.
"Alah pakek nanyak lagi lu, semacam lu kayak ngerti aja. Sejak kapan dia datang tepat waktu, yang harusnya lu tanyakan itu kalau ini anak cepat datang ke sekolah itu baru lu wajib tanya....." celetuk Dino.
"Alah macam lu kagak bos!" kata Mentari sambil terkekeh.
"Gw mah ngikut aje asal ama lu....ke penghulu juga gw oke...." seloroh Dino sambil tertawa kecil.
"Okelah besok kita ke penghulu ya," lanjut Mentari sambil tersenyum.
"Sipp," Dino mengacumkan jempolnya.
Jam pelajaran selesai dan waktu istirahat sudah tiba, semua murid berkumpul di lapangan basket dengan bahagia.
"Ada acara apaan ya?" Mentari yang sedari tadi di tinggal sendiri oleh teman-temannya merasa sedikit kesal, hingga ia berjalan menuju lapangan basket dan ingin tahu apa yang terjadi di sana. Hingga semua mata tertuju padanya dan Dino datang membawakan kue tart coklat kesukaan Mentari.
"Happy birthday Mentari, tetaplah bersinar secerah mentari yang terus bersinar tanpa mengenal kata lelah atau pun bosan," Dino mendekatkan kue dengan lilin di atasnya pada Mentari.
Mentari seketika melongo ia baru ingat, hari ini adalah hari ulang tahunya. Genap sudah usianya tujuh belas tahun.
"Happy birthday sayang aku...." Lala langsung memeluk Mentari dengan begitu erat.
"Selamat menua bebeb aku...." Rika juga iku memeluk Mentari, hingga ketiganya saling berpelukan.
"Makasih Genk. Gw terharu biru.....emmm....." Mentari menitihkan air mata nya karena ia memang benar-benar terharu, ia saja lupa akan hari spesial nya ini namun tidak di sangka sahabatnya bisa ingat.
"Jangan nangis dong, tiup lilin dulu...." Dino mendekatkan kue nya, "Jangan lupa baca doa."
Mentari mengangguk, ia menutup mata setelah itu ia langsung meniup lilin hingga semua lilin itu mati.
"Yeee......" semua murid bersorak dengan gembira, mereka semua seakan terhanyut dalam kebahagian sederhana itu.
"Potong kuenya dong..." Lala tersenyum dan mencolek kue tart nya hingga meninggalkan bekas tangannya.
"Dasar rakus!" kata Dino.
"Ahahahhaha," yang lainnya ikut tertawa melihat wajah Lala yang malah cengengesan.
Brakk.....
Dalam sekejap kue tart coklat nya melayang pada waja Mentari dan itu ulah Dino, "Semoga panjang umur bebeb aku....." seloroh Dino.
"Sialan lu," Mentari mengambil sisa-sisa kue yang mengenai wajahnya, dan melepar kembali pada Dino, "Ahahahhaha....." Mentari tertawa saat melihat wajah Dino yang ikut terkena kue.
"Ahahahhaha....." Lala dan Rika juga ikut tertawa.
"Waktunya Genk..." Robi melemparkan satu butir telur utuh mengenai kepala Mentari, "Selamat hari menetas Genk....semoga kita cepat kawin....." teriak Robi.
Mentari mencium telur dengan gau amis pada tubuhnya, hingga tidak lama kemudian yang lainnya juga ikut meleparnya dengan telur bahkan ada yang melempar tepung juga. Hingga bukan Mentari saja yang akhirnya mandi tepung dan telur tapi semua ikut terkena juga. Mereka semua tertawa dengan riangnya seolah semua memang begitu indah, dan di masa abu-abu adalah masa yang sangat sulit untuk di lupakan.
Paling tidak sekarang suami yg kayak es beku sdh mencair.
Tadinya cerita awal dimulai dari Arka dan Rembulan lalu masuklah sosok Mentari, dikupas Thor tentang mereka.