⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!
UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB
Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.
Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?
Yuk pantauin terus ceritanya! 😉
-----
Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UKS
Teettt...
Bel sekolah berbunyi dengan nyaringnya. Ternyata sudah jam istirahat ya? Senyum cerah terpampang di wajahku.
Aku bangkit dari dudukku dan keluar dari kelas dengan perasaan yang menggebu-gebu. Aku sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Rendi dan memberikan gelang ini padanya.
"Lo bisa cepet dikit ga sih?" Omelku pada Tania yang sudah tertinggal jauh di belakangku.
"Hosh hosh.. gue capek! Bentar pliss!" Balas Tania.
Aku mengerutkan keningku sembari menyilangkan kedua tanganku. Tania terlihat tengah membungkuk dengan kedua telapak tangan yang bertumpu pada kedua lututnya. Nafasnya terdengar cepat dan tak beraturan.
"Oke gua gapapa, ayo lanjut!" Ucap Tania Setelah beberapa detik.
Tania memaksa kakinya untuk melangkah. Aku jadi merasa tidak tega padanya. Berbeda denganku, aku tidak merasa lelah. Mungkin aku tidak merasa lelah karena perasaanku yang menggebu-gebu.
Sebenarnya jarak antara ketiga gedung utama tidak terlalu jauh. Tapi sepertinya Tania jadi kelelahan karena harus menyamakan ritme kakinya dengan kakiku yang melangkah dengan cepat.
Aku merasa takjub sesaat diriku sampai di depan pintu masuk gedung utama 3. Sebelumnya aku juga berpikir kalau gedung ini akan sangat besar. Karena dari kejauhan pun terlihat seperti itu. Tapi aku tak menyangka akan sebesar ini.
Sejak tadi kedua mataku hanya sibuk memperhatikan setiap kelas yang ada untuk mencari ruang kelas Rendi. Ruangan kelas di gedung ini ada banyak sekali. Belum lagi termasuk dengan lantai yang bertingkat-tingkat. Sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan gedung ruangan kelas 1.
"Kak Sera!"
Aku berteriak memanggil kak Sera yang terlihat ingin masuk ke dalam sebuah kelas. Sepertinya itu ruangan kelas kak Sera. Dan jika itu kelasnya kak Sera, sudah pasti Rendi juga berada di sana. Karena kak Sera dan Rendi berada di kelas yang sama.
Awalnya kak Sera kebingungan mencari asal suaraku. Tapi setelah menemukanku, kak Sera tersenyum lalu menghampiriku.
"Silvi kamu ngapain disini?" Tanya Kak Sera padaku.
"Lagi.. nyari Rendi.."
Aku tertunduk malu. Ku alihkan pandanganku dengan sengaja ke arah lain agar tidak menatap mata kak Sera.
"Hmm.. Nemuin pacarnya ya? Ciee.. Tadi kulihat sih dia ada di UKS." Ujar Kak Sera.
Aku terbelalak kaget. UKS? Kenapa Rendi berada di sana? Apa dia terluka? Aku gelisah. Aku jadi merasa khawatir karena kak Sera berkata Rendi berada di UKS.
"Kamu nyariin dia kan? Kalau kamu belok kanan dari sini, UKS ada disana." Jelas Kak Sera.
"Makasih ya kak, ayo Tan! Kesana!"
Setelah berterima kasih pada Kak Sera, aku langsung menarik tangan Tania dan langsung pergi ke arah yang Kak Sera tunjuk. Setelah belok kanan, aku bisa langsung melihat ruangan dengan papan bertuliskan UKS di atasnya.
Setelah sampai disana, aku tidak berani untuk langsung masuk. Aku ragu-ragu untuk mengetuk pintu dan itu membuat Tania merasa kesal.
"Kenapa ga jadi-jadi sih? Sini biar gue aja!" Ucap Tania.
Tok Tok
Krieett..
"Ayo buruan masuk! Ngapain diem disitu?!"
Tania membuka pintu UKS itu. Aku gugup. Aku juga tidak tau kenapa aku bersikap seperti ini.
Saat aku melihat ke dalam, aku bisa melihat Rendi yang sedang duduk di atas ranjang tempat tidur UKS. Merasa ada seseorang yang datang, Rendi menoleh ke arah pintu. Matanya terbelalak sesaat melihat diriku. Sepertinya dia tidak menyangka aku akan ada di sini.
"Silvi, kamu ngapain disini?" Tanya Rendi padaku.
"Rendi.."
Aku berjalan masuk, sementara Tania menunggu di luar. Tanpa adanya permintaan dariku, Tania langsung saja menutup pintu UKS untuk menjaga privasi kami seakan dirinya tau.
Aku datang menghampiri Rendi hingga berdiri tepat di hadapannya. Wajah Rendi yang terlihat kebingungan itu terlihat lucu bagiku. Aku berusaha mengatur ekspresiku agar tidak tertawa melihatnya.
"Kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Rendi sembari menggenggam tangan kananku.
"Aku kesini mau ketemu kamu, aku ada sesuatu buat kamu." Kataku.
"Hm? Apa itu?" Tanya Rendi.
Aku langsung merogoh saku bajuku lalu mengeluarkan dua buah gelang sederhana dari sana.
"Aku tadi ada kelas keterampilan, aku buat gelang ini untuk kamu. Lihat deh! Aku buat couple lho." Seruku sambil menyodorkan gelang itu di hadapan Rendi dengan senyuman penuh harapan.
"Ini serius buat aku Sil?"
Mata Rendi terlihat melebar. Dia seakan tidak percaya. Aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya itu. Melihat responnya yang terharu karena diriku, aku jadi semakin menyukainya.
Padahal aku hanya membuatkannya gelang, tapi Rendi terlihat sangat bahagia akan hal itu. Sangat berbeda dengan banyak laki-laki yang pernah ingin melakukan perjodohan denganku.
"Oh iya Ren, kenapa kamu ada di UKS?" Tanyaku.
"Cuma mau ngobatin lukaku." Jawab Rendi.
Karena ucapan Rendi, aku baru tersadar bahwa ada sebuah luka pada siku Rendi. Meski lukanya tidak terlalu besar, tapi aku merasa khawatir.
"Kamu ini.. kenapa bisa luka begini?" Tanyaku.
"Gapapa, aku tadi cuma jatuh haha." Katanya sambil tertawa kecil.
Huft! Aku kesal! Bagaimana bisa dia tertawa seolah-olah ini adalah masalah kecil. Padahal aku sangat mengkhawatirkan dirinya saat ini.
"Hah.. lain kali kamu hati-hati!" Omelku.
"Iya.." Rendi tersenyum.
Teett..
Terdengar suara bel yang berbunyi dari arah luar. Aku sudah tau kalau itu pertanda jam istirahat kali ini telah selesai. Dan sudah waktunya bagiku untuk kembali ke kelas.
"Oh itu.. kayanya aku udah harus balik deh." Ucapku ragu-ragu sembari melirik ke arah Rendi.
"Kamu udah mau balik?" Tanya Rendi. Dari Tatapannya, ia seakan tidak rela membiarkanku pergi.
"Iya, maaf Ren! Aku pergi dulu ya!"
Aku langsung melangkahkan kakiku dengan cepat ke arah pintu keluar. Namun suatu hal yang tak kusangka-sangka terjadi. Lenganku serasa ditarik dari belakang. Karena itu aku langsung menghentikan langkahku lalu menoleh ke arah belakangku.
GREP
Belum sempat aku menoleh ke belakang sepenuhnya, Rendi langsung saja memelukku dengan erat. BOOM! Seperti ledakan bom, jantungku serasa tersentak. Perasaanku jadi kacau tak karuan karena dirinya yang mendadak seperti ini.
"R..Rendi! Kamu ngapain ih?" Aku berusaha melepaskan pelukannya dariku.
"Sebentar aja." Ucap Rendi.
Bagaikan sihir, Perkataan Rendi sanggup membuat tubuhku berhenti untuk memberontak. Rendi tetap saja memelukku dengan erat, sementara aku hanya bisa mematung karena tak kuasa menahan malu.
Kira-kira hingga 2 menit, Rendi baru mau melepaskan pelukannya dariku.
"Udah ya Ren, aku balik ke kelas dul..!"
Cup
Mataku terbelalak kaget. Tanpa aba-aba, Rendi tiba-tiba menciumku begitu saja. Dan entah kenapa aku tidak bisa menolak ciumannya yang begitu manis.
Kubalas ciumannya itu hingga tanpa kusadari tanganku naik merangkul lehernya. Merasa mendapatkan persetujuan dariku, Rendi lalu memagut bibirku.
Aku merasa takjub karena dia terasa handal dalam hal ini, namun di sisi lain aku juga merasa aneh kenapa Rendi sangat pandai berciuman seperti ini.
Hingga cukup lama, akhirnya Rendi menghentikan ciumannya. Aku langsung menutup mataku dengan kedua telapak tanganku. Aku tidak kuasa menatap wajah Rendi karena merasa malu. Sudah pasti saat ini wajahku memerah.
*****
*POV Tania
"Hah.."
Aku Tania. Seseorang yang biasa-biasa saja. Tidak! Mungkin terlalu biasa-biasa saja. Hari ini aku dipaksa pergi menemani seseorang yang tergila-gila dengan pacarnya.
Dan kini, aku harus berdiri lebih dari 20 menit lamanya di tempat ini. Bukan apa-apa, aku sih tidak masalah jika harus menunggu lebih dari 2 jam sekalipun.
Hanya saja.. sejak tadi kakak-kakak kelas yang ada di sini terus memperhatikanku ketika mereka lewat di depanku. Aku kan jadi merasa tidak nyaman.
"Hm? Siapa itu?"
Perhatianku tiba-tiba teralihkan pada salah satu kakak kelas yang melontarkan tatapan sinis padaku. Sebenarnya dia kenapa? Rasanya aku tak pernah mencari masalah dengannya deh.
Dasar aneh! Kalau bukan karena aku yang sedang berada di tempat berisikan banyak para senior sekolah ini, aku pasti sudah menghajar wajahmu itu sejak tadi.
"Eh? Kalau dilihat-lihat lagi.. dia kan cewek tadi."
Aku ingat dia! Tidak mungkin aku melupakan orang yang bibirnya semerah itu. Dia kan murid kelas 3 yang sebentar lagi akan lulus. Bagaimana bisa dia memakai gincu seterang itu?
"Sint#ng!"
Ku kerutkan dahiku. Hanya karena aku membiarkannya, perempuan itu malah semakin berulah rupanya. Dia barusan menyeringai padaku bukan? Memangnya aku ini buta sehingga tak bisa melihatnya?
"Dia ngatain gue ya? Memang b#ngs#t nih cewek!"
Aku melototinya tiada henti sebelum perempuan itu mengalihkan perhatiannya lebih dulu dariku. Meski dia adalah kakak kelas, dan lebih tua dariku, aku tidak akan mau menghormatinya jika dia tidak mau menghargai diriku.
Aku terus menatap matanya dengan tajam tanpa beralih sedikitpun. Ku lihat perempuan itu semakin lama jadi semakin risih karena ku hingga akhirnya dia memilih pergi dari sini.
Huh! Memangnya dia pikir aku ini siapa? Hanya karena tatapan sinis seperti itu, apa dia pikir aku akan takut padanya? Ck tidak mungkin!
BRAK
"Tania yuk cabut! Ga ada waktu buat ngejelasin!"
Silvi yang sejak tadi berada di dalam tiba-tiba keluar dengan tiba-tiba. Dia langsung menarik tanganku setelah menutup pintu UKS dengan cukup keras.
"Eh! Eh Lo kenapa?" Tanyaku.
"Buruan aja! Ntar aku jelasin!" Jawabnya.
Aku bertanya-tanya dalam pikiranku. Apa sesuatu telah terjadi di dalam sana? Kenapa Silvi tiba-tiba seperti ini?
Hah sudahlah tak usah dipikirkan! Sekarang waktu sudah lewat dari 10 menit sejak bel berbunyi. Jika kami berdua tak berjalan cepat, kami bisa terlambat masuk kelas.
.
.
.
JANGAN LUPA BERIKAN LIKE & KOMENNYA YA~
VOTE JUGA BOLEH KOK HEHE 😁
DENGAN DUKUNGAN DARI KALIAN THOR JADI SEMANGAT NGELANJUTIN CERITANYA 😊😊
DAN TERIMA KASIH PADA PARA READERS YANG SUDAH MAU MEMBACA "AHAP" SAMPAI SEJAUH INI.