NovelToon NovelToon
Budakku Canduku

Budakku Canduku

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Contest / Nikahkontrak / Nikah Kontrak / CEO / Pembantu / Konflik etika / Tamat
Popularitas:20.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: oniya

Warning: Kisah sedih.

"Tuan, saya mohon pinjamkan saya uang sebesar 500 juta. saya berjanji akan melakukan apapun yang tuan inginkan," mohon Lona pada atasannya.

"Benarkah, kau akan melakukan apapun yang aku inginkan?" tanya tuan Devan dengan tatapan nakalnya.

"Ia tuan saya berjanji," jawab Lona memantapkan hatinya untuk yakin.

"Bagaimana kalau aku memintamu menjadi BUDAKKU," ujar tuan Devan tersenyum sinis.

Mendengar kata itu, Lona menaikkan pandangnya, menatap tuan Devan dengan mata berkaca-kaca.

"Sa-saya......,

Selama menjadi Budak tuan Devan, Lona terus tersiksa. Dituduh melakukan segala hal yang tidak ia lakukan.

Hingga akhirnya, kesucian Lona direnggut oleh tuan Devan. Apakah Lona akan pergi! atau akan terus bertahan! Demi rasa cintanya kepada tuan Devan, juga pengorbanannya demi keluarga yang dicintainya.

Mau tau kelanjutannya, Buruan ikuti kisahnya💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oniya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 02

🔥🔥🔥

"Bagaimana, kalau aku menginginkanmu untuk menjadi BUDAKKU." Ucap tuan Devan, dengan senyuman liciknya.

Mendengar kalimat itu, Aku menaikkan pandanganku, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Sa-saya...." Aku ingin berkata, tapi suaraku tak tembus. Seakan tertelan bersamaan dengan salivaku. Mataku sudah berkaca-kaca, ketika aku mengedipkan mataku. Setetes buliran bening jatuh kelantai ruangan itu. Aku menangis. Aku merasai pipiku yang terkena tetesan air mataku. Nyatakah ini? Apakah aku benar-benar menangis? Kenapa air mataku lolos saat mendengar kalimat pria tampan dihadapnku ini? Pikirku.

Dadaku terasa sesak, udara seakan menghilang dari ruangan itu. Aku menangis saat ini, aku sudah bisa menangis lagi. Aku ingin melegakan semua beban dihidupku dengan manangis. Aku sudah bisa menangis saat ini, aku bahagia sekaligus sedih.

Aku sedih atas syarat yang diberikan oleh bosku ini. Aku mengira akan dijadikan simpanan atau istri kontraknya seperti cerita di novel yang sering kubaca. Tapi ternyata, derajatku sangatlah rendah. Aku hanya ditawarkan untuk menjadi budak saja. Sebegitu hinanya kah aku.

"Aku hanya akan memberikanmu uang, jika kamu mau menjadi Budakku," ucapnya lagi, memutar singasananya. Dia membelakangiku, mungkin saja dia tak tega melihat air mataku.

"Saya siap, tuan. Saya siap untuk menjadi Budak tuan," jawabku yakin. Ya! Inilah keputusanku, tidak apa menjadi Budak. Bukankah aku hanya akan menjadi pembantu, ya! Pasti seperti itu bukan? Aku hanya akan disuruh ini, disuruh itu. Bukankah, itu lebih baik daripada aku dan adik-adikku dijual. Memantapkan tekadku aku yakin pilihanku ini tidaklah salah.

Aku harap, setelah melunasi hutang pada renternir. Ayah dan Ibuku akan berubah. Semoga saja keduanya akan menyayangi aku dan juga kedua adikku.

Tuan Devan memutar kembali kursinya, ia memajukan tubuhnya. Guna menatapku lebih jelas. Setelah itu, dia tersenyum menakutkan menatapku.

Lalu, dia menekan telpon canggih di mejanya.

"Aron, kemarilah," titahnya pada sekretaris Aron lewat telpon itu, mungkin saat ini sekretaris Aron sedang berada di ruangannya, yang berada disamping ruangan tuan Devan sendiri.

Tak lama, masuklah sekreataris Aron. Dan langsung membungkukkan tubuhnya pada tuannya, yang kini betah duduk disingasananya dengan segala kearoganannya.

"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanya sekretaris Aron saat menaikkan kembali tubuhnya.

"Berikan gadis ini uang tunai sebesar 500 juta," titah tuan Devan.

Sebuah senyuman yang samar, muncul dibibirku yang kini bergetar. Kala mendengar bahwa aku akan mendapatkan uang yang diinginkan oleh kedua orangtuaku

"Baik, tuan." Jawab sekretaris Aron, keluar dari ruangan tuannya. Guna mengambil uang tunai senilai 500 juta.

Tak lama, sekretaris Aron kembali dengan sebuah tas berbentuk mini disalah satu tanganya.

" Berikan uang itu pada Nona ini," ujarnya lagi pada sekretaris Aron.

Sekretaris Aron mengulurkan cover itu padaku. Aku menyambutnya dengan bergetar, sebanyak apa uang senilai 500 juta.

"Silahkan dicek, Nona," ucap sekretaris Aron padaku. Tanpa ragu aku membuka tas mini itu, bola mataku seolah copot dari tempatnya. Ketika aku melihat betapa banyaknya kertas berwarna merah di dalam tas mini itu. Aku sampai tersedak salivaku melihat kertas berharga itu.

"Aron, kau pastikan perempuan ini tidak kabur. Dan pastikan juga dia untuk datang kehotelku besok.

"Uhuk....." Aku terbatuk mendengarnya, Hotel! Kenapa pria ini tinggal dihotel, apa pria kaya raya ini tidak punya Villa atau Mansion yang besar seperti dinovel-novel yang kubaca. Mendengar bahwa akan tinggal dihotel bersamanya, entah kenapa aku merasa bahwa aku adalah wanita murah*n. Ah sudahlah! Tidak apa -apa, hanya akan tinggal dihotel bersama bosku. Dan aku hanya akan menjadi pembantu disana. Kenapa pula aku harus takut. Aku pasti bisa melewati seberat apapun ujian yang datang padaku. Aku yakin aku bisa, ini belum apa-apa menurutku.

Aku yakin, tuhan sudah menyiapkan yang terbaik untukku. Kalaupun tuhan memberikan aku ujian yang lebih berat lagi dati ini, maka aku, akan selalu siap.

🔥🔥🔥

Memeluk erat, aku membawa tas mini itu hingga sampai dirumah. Sudah hampir larut malam aku baru mengnjakkan kakiku dilorong sempit menuju rumahku, yang berada dilingkungan yang begitu kumuh. Mereka menyebutnya lorong Tong Sampah, karena memang rumah kami berada dipinggir tempat pambuangan sampah.

"Nah! Itu anak saya sudah datang. Lona cepat kesini," panggil ayahku saat melihatku pulang. Rupanya sudah ada beberapa renternir dengan wajah menyeramkan juga tubuh yang kekar. Tak lupa baju-baju mereka yang serba hitam.

Aku sedikit menambah kecepatan laju langkah kakiku. Sambil tetap memeluk tas miniku yang berisi kertas berharga berwarna merah.

"Lona, kamu bawa uangnya kan?" tanya Ayah padaku ketika aku sampai disampingnya.

" ini, Ayah, uangnya." ujarku sambil mengulurkan tas mini tadi pada Ayahku.

Ayah segera membuka mini itu, lalu tersenyum puas menatapku.

"Ini uangnya, pak. Sekarang sudah lunas, dan saya tidak punya hutang lagi pada bapak-bapak semua," jelas ayahku pada renternir itu.

Renternir itu, langsung menerima tas kecil berbentuk segi empat tadi. Sekarang giliran renternir itu tersenyum puas menatap Ayahku. Lalu, mereka segera pergi meninggalkan rumah kumuh, kami. Tanpa satu kalimat pun.

"Masuk, masakkan Ayah makannan," titah Ayahku. Aku pun segera menuju dapur. Masih ada beras dan juga telur, aku segera membuatkan nasih goreng dengan telur ceplok.

Kedua adik kembarku sudah menunggu dimeja makan. Mungkin karena kelaparan mereka pun segera mengambil nasi goreng, lalu melahapnya dengan cepat. Mereka benar-benar kelaparan, wajar saja kelaparan! Karena untuk makan siang mereka, aku hanya meninggalkan dua potong roti. Ibu dan Ayahku benar-benar tidak peduli pada adik kembarku.

Meninggalkan adikku yang tengah lahap makan. Aku membawa seporsi nasi goreng lengkap dengan telur ceplok utuh, membawanya ke pada Ayahku yang kini duduk santai dikursi depan rumah.

"Ini, Yah. Makan malam, Ayah." Ucapku mengulurkan nasi goreng tadi.

"Nasi goreng lagi, telur ceplok lagi. Makan saja sendiri. Dasar anak tidak berguna, pembawa sial," Bentak Ayah, lalu

"Plaaaaak......." Satu tamparan mendarat di pipi kiriku, tubuhku terhuyung kebelakang, tapi aku masih bisa menahannya agar tak terjungkir kebelakang. Akibat tamparan Ayah meningalkan warna kemerahan di pipiku. Darah segar pun mengalir dari sudut bibirku. Nasi goreng yang kubawakan untuk Ayah berhamburan dilantai tanah rumahku.

Melihat nasi goreng dan telur ceplok itu, aku menangis. Aku sudah bisa menangis sekarang, ternyata menangis sangtlah melegakan.

Melihat telur ceplok masih bersih, aku segera mengambilnya. Setidaknya aku bisa makan malam ini, tidak hanya makan roti lagi, tapi makan dengan telur ceplok. Aku segera membawanya kedalam rumah, aku kaget kerena dibalik pintu ada dua adik kembarku yang ternyata mengintipku saat dimarahi ayah. Kalika menyeka darah disudut bibirku, dan Kalina menempelkan plaster disana. Aku tersenyum menatap kedua adikku. Kemudian, aku segera memeluk erat keduanya.

🍂🍂🍂

Jangan lupa like, komen, hadiah, dan vote🙏💗

Maafkan typonya🙏

Selamat membaca dan semoga suka💗

lope readers😘😘😘

🔥🍂

1
gerakan tambahan🤸🍋🌶️🥒🥕
emang jantung ayahnya masih sehat ? tdk termakan umur dansemabtamgan mengonsumsi makanan,obat atau minuman gitu?
gerakan tambahan🤸🍋🌶️🥒🥕
jangan katakan itu cinta, jika itu cinta maka dia akan berlaku seperti dia juga merasa kesakitan sejak awal tapi tdk... melainkan itu karena fakta yang diterimanya. kalau dia salah sasaran alas dendam,.makanya dia bersikap seolah dia sakit melihat Lona seperti itu 😏😌
gerakan tambahan🤸🍋🌶️🥒🥕
trus sebutan apa yg pantas untukmu yang bercinta dengan pacarnya tapi bercinta juga dengan lona😏
Ina Rose
Kalo didunia nyata apa ada orang yg sudah disiksa, dihina dll trus mau sama orang yg telah melakukannya.
Ina Rose
Ya author ya blang klo cerita ini mmng dibuat sad tp endingnya bahagia tp yah jng segitu sedihnya dan Lona jg segitu naifnya.
Ina Rose
Bacanya agak ngeri yah sb byak menderitanya c Lona.
💛💙💜🖤🤍
ayah kndung ilona
Bahari Sandra Puspita
karya yg keren kak.. gaya penulisan juga semakin bagus..
congratss🎉🎊🎉🎊

cuss lanjut novel berikutnya..

sehat2 terus kak..
tetap semangat untuk berkarya.. 😘🥰😍🤩
Eva Nietha✌🏻
🤣😂🤣
Eva Nietha✌🏻
Ada apalagi nih baru mo heppy
Eva Nietha✌🏻
Keren
Eva Nietha✌🏻
Waduh
Eva Nietha✌🏻
Suer thor gemes
Eva Nietha✌🏻
Greget tp seru keren thor
Eva Nietha✌🏻
Wow sana sini jahat
Eva Nietha✌🏻
Jreengggg jreeeeng
Eva Nietha✌🏻
Menderita banget
Eva Nietha✌🏻
Sedih
Dyah Oktina
ada kejadian apa ya thor kok momynya devan juga tobat?
Dyah Oktina
sehat terus ya thor... Aamiin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!