Bagi keluarga Vardha, Arumi selalu bisa dikorbankan demi Aurelia, kakak angkatnya yang manipulatif. Puncaknya, cinta tiga tahun Arumi, Adrian, direbut Aurelia dengan restu orang tuanya sendiri. Arumi mengalah dan mengikhlaskan mereka.
Namun, mereka tak tahu siapa Arumi sebenarnya.
Saat mengenakan cadarnya di luar rumah, Arumi bertransformasi menjadi maestro biola kelas dunia, peretas jenius, sekaligus CEO rahasia dari imperium bisnis yang ia bangun sendiri.
Dunia Arumi berguncang saat Raja Zean Rothschild—penguasa dunia no 1, pemegang saham mayoritas global, dan pemilik aliansi militer tertinggi—hadir di hidupnya. Sang Raja yang dingin dan tak tersentuh mendadak bertekuk lutut, terobsesi, dan mengejarnya secara posesif setelah menemukan rahasia di balik cadarnya.
Situasi kian memanas saat Kazan, anak mafia psikopat berdarah dingin, juga mengklaim Arumi sebagai miliknya.
Adrian terbakar cemburu, Aurelia gila obsesi ingin merebut Sang Raja. Mampukah Sang Raja melindungi Arumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IKHLAS YANG TERBUAT DARI ES
Derum halus mesin sepeda motor membelah keheningan malam di kawasan perumahan elit tersebut. Arumi memarkirkan motor matik hitamnya di dalam garasi samping kediaman keluarga Vardha. Setelah mematikan mesin, ia melepas helm penuhnya, lalu merapikan posisi hijab dan kacamata berbingkai tipis yang melingkar di wajahnya. Niat hati Arumi ingin langsung melangkah masuk ke dalam kamar lewat pintu belakang. Jam dinding di tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan tubuhnya sudah teramat lelah setelah seharian mengurus urusan bisnis rahasianya di luar.
Namun, saat kakinya melangkah melewati selasar menuju ruang tamu utama, langkah Arumi mendadak terhenti. Udara malam yang semula dingin mendadak terasa mencekat dan sarat akan ketegangan.
Lampu-lampu gantung kristal yang megah di ruang tamu utama menyala terang benderang. Di sana, di atas sofa-sofa mewah berlapis kain bludru, seluruh anggota keluarganya sudah berkumpul. Suasana hening yang membakar menyelimuti ruangan itu, seolah-olah mereka memang sengaja bertahan membuang waktu hanya untuk menunggunya pulang.
Abi—Kyai Vardha, sosok pria paruh baya yang paling dihormati dan dipandang sebagai pengusaha terkaya nomor dua di kota ini—berdiri kaku di dekat meja kayu ukir. Wibawanya yang biasa mengayomi kini tertutup oleh riak penyesalan yang mendalam, namun bercampur dengan ketegaskan yang tak tergoyahkan.
Di sebelah kanan, Umi duduk merapat di sofa sambil merangkul erat bahu Aurelia yang sedang terisak-isak pelan. Aurelia menyembunyikan wajahnya di balik pundak Umi, menangis sesenggukan bagaikan putri tercantik yang sedang terluka. Dan tak jauh dari sana, di sudut sofa lainnya, duduk seorang pria muda berjas rapi yang sangat Arumi kenali—Adrian. Pria yang telah menyertai perjalanan hidup Arumi selama tiga tahun terakhir itu kini menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap karpet tanpa berani mengarahkan pandangannya pada Arumi.
Arumi berdiri kaku di ambang pintu masuk ruang tamu. Jemari tangannya yang terbalut sarung tangan tipis mengepal pelan di sisi tubuhnya. Dari gestur tubuh, posisi duduk, dan raut wajah mereka yang begitu canggung, Arumi tidak perlu menjadi seorang peretas jenius untuk tahu apa yang sedang terjadi. Intuisi kewanitaannya sudah membaca arah dari semua sandiwara malam ini.
"Arumi... akhirnya kamu pulang juga, Nak. Duduklah sebentar, ada hal yang sangat penting yang harus Abi bicarakan padamu," ujar Kyai Vardha. Suaranya terdengar berat, dipenuhi beban moril yang teramat sangat.
Arumi tidak melangkah menuju sofa. Ia memilih tetap berdiri tegap, mempertahankan jarak beberapa meter dari mereka semua. Pandangan matanya yang terlapis kacamata menatap lurus ke arah sang ayah dengan tatapan yang sangat dingin dan datar.
"Ada apa, Abi? Kenapa semua orang berkumpul di jam seperti ini?" tanya Arumi. Suaranya halus, teratur, tanpa sedikit pun nada panik atau getaran emosi.
Kyai Vardha menghela napas panjang. Pria tua itu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening sebelum menatap putri bungsunya kembali.
"Arumi... Abi tahu ini akan terasa sangat berat untukmu," lanjut Kyai Vardha dengan nada bicara penuh kehati-hatian. "Tetapi Abi berharap kamu bisa berpikiran dewasa dan mengerti keadaan kakakmu. Aurelia... dia adalah putri sulung di rumah ini. Abi dan Umi selalu berusaha adil, tapi ada janji dan tanggung jawab besar yang harus Abi penuhi untuk kebahagiaan Aurelia."
Di mata dunia dan publik, Aurelia adalah anak kandung pertama keluarga Vardha—kakak kandung Arumi sendiri. Orang tua mereka menyimpan rapat-rapat rahasia bahwa Aurelia sebenarnya adalah anak angkat. Namun, Arumi bukanlah gadis biasa. Lewat keahlian peretasnya yang tanpa cela, Arumi sudah lama menemukan dokumen rahasia dan fakta kelam di balik identitas Aurelia—bahwa keluarga mereka sebenarnya berhutang nyawa pada almarhum orang tua kandung Aurelia yang tewas dalam insiden kecelakaan tragis saat menyelamatkan Abi dan Umi.
Bagi Abi dan Umi, memberikan segalanya untuk Aurelia adalah bentuk penebusan dosa dan rasa bersalah. Namun bagi Arumi, janji itu telah membutakan mata kedua orang tuanya hingga tega menumbalkan dirinya.
"Lalu, apa hubungannya tanggung jawab Abi pada Kak Aurelia dengan keadaan malam ini?" tanya Arumi dingin.
Mendengar pertanyaan itu, Aurelia perlahan mendongakkan kepalanya. Wajahnya tampak sembab oleh air mata, seolah ia adalah korban paling malang di dunia ini. Namun di mata Arumi, tangisan itu tak lebih dari sebuah kepura-puraan yang sudah terlatih dengan sangat rapi.
"Arumi... maafkan aku," bisik Aurelia dengan suara serak yang bergetar dibuat-buat. "Aku... aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku lagi. Adrian sudah memilihku, Arumi. Kami saling mencintai... Aku sangat mencintai Adrian dan membutuhkan kehadirannya. Tolong... tolong relakan Adrian untukku, Arumi..."
Saat Aurelia mengucapkan kalimat itu, Adrian perlahan menurunkan kedua tangannya dari wajah. Pria itu mengalihkan pandangannya, menatap Arumi sebentar dengan sekilas raut rasa bersalah yang menggebu. Namun, bukannya merasa malu, Adrian justru dengan sengaja menjangkau jemari Aurelia, lalu menggenggam erat tangan kakak Arumi itu tepat di depan mata Arumi sendiri!
Sebuah pernyataan tanpa kata yang jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pisau.
"Seperti yang kamu lihat sendiri, Arumi," tegas Kyai Vardha, memperkuat ikatan yang baru saja ditunjukkan oleh Adrian dan Aurelia. "Adrian telah memilih Aurelia. Abi dan Umi ingin melihat kakakmu bahagia dan memiliki masa depan yang terjamin bersama pria yang dicintainya."
Umi yang sejak tadi diam ikut menganggukkan kepalanya pelan. Wanita itu menatap Arumi dengan pandangan meminta pengertian, seolah menganggap pengorbanan Arumi adalah hal yang memang sudah sewajarnya.
"Ikhlas ya, Nak," bujuk Umi dengan nada lembut yang membius. "Aurelia adalah kakakmu sendiri. Kamu anak yang kuat, Arumi. Kamu pintar, berbakti, dan berpendidikan. Umi yakin suatu hari nanti kamu pasti bisa mendapatkan pria lain yang jauh lebih baik."
Dihancurkan dan dikhianati oleh orang asing di luar sana adalah hal yang biasa. Namun, dihancurkan, dikorbankan, dan ditumbalkan oleh keluarga sendiri demi memanjakan anak angkat yang bahkan tak mereka sadari identitas aslinya adalah jenis luka yang menyayat hingga meremukkan tulang rawan.
Tiga tahun masa mudanya. Tiga tahun komitmen dan kesetiaannya menemani Adrian dari bawah, mendadak dikandaskan begitu saja hanya dalam hitungan detik—hanya demi menyenangkan hati Aurelia.
Tuk.
Setitik air mata yang hangat dan bening menetes melewati pipi Arumi, jatuh tersembunyi di balik bingkai kacamatanya. Namun, Arumi tidak mengamuk. Ia tidak menjerit, tidak melempar barang, ataupun memaki-maki seperti wanita yang sedang histeris. Sebagai seorang putri Kyai yang terdidik dengan tatakrama tinggi, Arumi mengusap air mata tunggal itu dengan gerakan yang sangat lembut dan anggun.
Ia memejamkan matanya sejenak. Di dalam kegelapan sapuan kelopak matanya, Arumi membiarkan seluruh rasa sakit, kehancuran, dan rasa kecewa itu meleleh sepenuhnya—lalu memadat kembali, membeku menjadi sebuah benteng es yang begitu kokoh, tinggi, dan tak akan pernah bisa ditembus lagi oleh siapa pun.
Ketika Arumi membuka matanya kembali, kejernihan manik matanya telah berubah total. Tidak ada lagi kehangatan. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang mutlak.
"Baiklah," jawab Arumi. Suaranya terdengar sangat tenang, santun, dan begitu stabil hingga membuat ruangan itu mendadak hening. "Jika memang ini adalah keputusan yang Abi dan Umi anggap paling benar... aku ikhlas."
Adrian tertegun di tempatnya. Genggaman tangannya pada jemari Aurelia mendadak melonggar. Pria itu menatap Arumi dengan raut tidak percaya. "Arumi... kamu... kamu tidak marah padaku? Kamu tidak membenciku?"
Arumi memutar pandangannya, menatap lurus pada Adrian dengan tatapan datar yang begitu hampa, seolah Adrian hanyalah tumpukan debu di sudut ruangan.
"Untuk apa saya marah, Mas Adrian?" balas Arumi dengan nada tanpa beban sedikit pun. "Jika hatimu memang sedari awal mudah bergoyang dan akhirnya memilih Kak Aurelia, tidak ada alasan sedikit pun bagiku untuk menahanmu. Hubungan yang dipaksakan tidak akan pernah membawa kebaikan. Semoga kalian berdua bahagia dengan pilihan kalian."
Aurelia, Umi, dan Kyai Vardha dibuat terpana oleh reaksi Arumi. Mereka semua membayangkan Arumi akan menangis meraung-raung, memohon agar Adrian tidak meninggalkannya, atau setidaknya marah besar atas ketidakadilan ini. Namun, Arumi justru membalas pengkhianatan keji itu dengan sebuah keanggunan dan martabat tinggi yang tak tersentuh.
"Terima kasih, Arumi. Terima kasih banyak, Nak..." puji Kyai Vardha dengan perasaan lega yang mengalir di dadanya. "Kamu memang anak yang sangat berbakti dan berbudi pekerti luhur."
"Jika sudah tidak ada hal lain yang perlu dibicarakan, saya permisi ke kamar dulu, Abi, Umi," ujar Arumi sambil menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat yang sopan.
Tanpa menunggu balasan dari mereka semua, Arumi berbalik. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu menapak tegap, berjalan dengan keanggunan mutlak menuju lantai dua rumah tersebut.
Klek.
Di dalam kamar pribadinya yang luas dan terkunci rapat dari dalam, Arumi melangkah menuju meja kerjanya. Suasana kamar yang hening menyambutnya. Ia melepas kacamata tipisnya, membiarkan rambut bahagianya tergerai bebas saat ia menyalakan komputer berlayar ganda terenkripsi miliknya.
Sebuah senyuman tipis—dingin namun penuh dengan kebebasan—terulas di bibirnya. Mereka di bawah sana berpikir telah berhasil meremukkan hatinya dan menghancurkan masa depannya. Padahal kenyataannya, malam ini Arumi baru saja terbebas dari sosok pria tak berguna dan tidak setia seperti Adrian.
Bip!
Tiba-tiba, sebuah sinyal peringatan berbunyi dari sistem keamanan rahasianya. Sebuah pesan terenkripsi masuk melintasi firewall tingkat tinggi miliknya, dikirim dari sebuah nomor jaringan rahasia berinisial [Z.R]:
[Z.R]: “Wajah cantikmu di balik cadar tadi malam masih membayangiku, Arumi. Mulai besok, aku sendiri yang akan mendatangimu.”
Mata Arumi membelalak menatap layar monitornya. Jantungnya berdegup kencang secara mendadak. Pria asing berinisial [Z.R] ini... tidak hanya sanggup membobol sistem pertahanan siber rahasianya, tapi juga mengetahui nama aslinya!
Arumi baru saja melepaskan masa lalunya dengan ketenangan es yang dingin, tanpa menyadari bahwa sesosok penguasa paling berbahaya dan paling berkuasa di dunia kini sedang melangkah mendekatinya—siap untuk mengklaim dirinya secara mutlak.
kaburrrr...takut ad gempa lokal...
bikin pinisirin /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/