NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”

• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.

• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.

• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.

• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.

• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 — Makan Malam Penuh Dusta

Malam itu, Villa Vieri tampak lebih megah daripada biasanya.

Lampu kristal menerangi aula utama, sementara puluhan lilin menghiasi meja makan panjang yang dipenuhi hidangan Italia. Para pelayan bergerak dengan tenang, menuangkan anggur ke dalam gelas kristal dan menyajikan makanan terbaik yang disiapkan koki pribadi keluarga Vieri.

Namun, Bianca Elena Laurent tahu bahwa kemewahan itu hanyalah tirai yang menutupi sesuatu yang jauh lebih gelap.

Malam ini, keluarga Vieri akan berkumpul untuk makan malam.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Dante, Bianca akan duduk di meja yang sama dengan orang-orang yang mungkin mengetahui rahasia terbesar dalam hidupnya.

Termasuk Luciano Vieri.

Adik tiri Dante itu dikenal tampan, cerdas, dan memiliki senyum ramah yang membuat orang mudah memercayainya. Namun, menurut bisikan para pelayan, Luciano adalah pria yang tidak pernah melupakan penghinaan dan tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.

Bianca sedang merapikan anting-antingnya ketika Dante memasuki kamar.

Pria itu mengenakan setelan hitam dengan kemeja putih dan dasi gelap. Rambutnya tersisir rapi, sementara jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya.

Tatapannya berhenti pada Bianca.

Untuk sesaat, ia tidak mengatakan apa-apa.

Gaun panjang berwarna merah marun yang dikenakan Bianca membingkai tubuhnya dengan anggun. Rambut hitamnya disanggul sederhana, menyisakan beberapa helai yang jatuh di sisi wajah. Ia tampak elegan, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia tidak berniat menjadi boneka di tengah permainan keluarga Vieri.

“Kau terlihat cantik,” ujar Dante akhirnya.

Bianca menatapnya melalui cermin.

“Apakah itu pujian atau bagian dari strategi agar aku bersikap manis malam ini?”

“Bisakah keduanya benar?”

“Tidak jika kau berharap aku berhenti bertanya.”

Dante mendekat, lalu membetulkan letak kalung di leher Bianca. Ujung jarinya menyentuh kulitnya sekilas.

Bianca menahan napas.

“Kau harus berhati-hati malam ini,” bisik Dante.

“Karena Luciano?”

“Karena semua orang di meja itu.”

Bianca berbalik menghadapnya.

“Termasuk dirimu?”

Dante terdiam sesaat.

“Terutama aku.”

Sebelum Bianca sempat bertanya lebih jauh, Dante mengulurkan lengannya.

“Ayo. Jangan biarkan mereka menunggu.”

Bianca menerima uluran tangan itu, meskipun pikirannya dipenuhi kecurigaan.

Ruang makan dipenuhi percakapan ketika mereka tiba.

Luciano duduk di sebelah kanan kursi utama, mengenakan setelan abu-abu dengan saputangan putih di saku jasnya. Senyum ramah menghiasi wajahnya saat melihat Dante dan Bianca memasuki ruangan.

“Ah, akhirnya pasangan pengantin kita datang juga.”

Tatapannya berpindah kepada Bianca.

“Signora Vieri. Senang akhirnya bisa menyambutmu secara resmi.”

Bianca menjabat tangannya.

“Semoga sambutannya tulus.”

Luciano tertawa kecil.

“Kau memiliki selera humor yang bagus. Sekarang aku mengerti mengapa kakakku memilihmu.”

Dante menarik kursi untuk Bianca.

“Jaga ucapanmu, Luciano.”

“Tenanglah, Kakak. Aku hanya memuji istrimu.”

Luciano mengangkat gelasnya sebelum menambahkan, “Lagi pula, tidak setiap hari keluarga kita mendapatkan anggota baru dari keluarga Laurent.”

Ada penekanan aneh pada nama itu.

Bianca duduk tanpa menunjukkan reaksi, tetapi ia menyadari Dante menegang di sampingnya.

Makan malam dimulai dengan percakapan tentang bisnis, pengiriman barang, dan hubungan keluarga dengan beberapa tokoh berpengaruh di Roma. Bianca memperhatikan bagaimana setiap orang berbicara dengan hati-hati, seolah satu kalimat yang salah dapat memicu perang.

Kemudian Luciano meletakkan garpunya.

“Bianca, boleh aku bertanya sesuatu?”

“Tentu.”

“Apa yang membuatmu menerima lamaran Dante begitu cepat?”

Pertanyaan itu membuat beberapa orang menghentikan percakapan.

Bianca menyesap air sebelum menjawab.

“Karena setiap orang memiliki alasan untuk membuat keputusan.”

“Jawaban yang diplomatis.” Luciano tersenyum. “Tetapi aku penasaran, apakah kau menikahi kakakku karena cinta atau karena keluarga Laurent sedang mengalami kesulitan keuangan?”

Bianca meletakkan gelasnya dengan tenang.

“Kalau kau ingin membicarakan keuangan keluargaku, Luciano, sebaiknya kau membawa laporan yang lengkap. Aku tidak suka membahas angka berdasarkan gosip.”

Senyum Luciano menipis.

Dante menatap Bianca dengan ekspresi yang sulit dibaca, tetapi ada kilatan kepuasan di matanya.

“Menarik,” ujar Luciano. “Kau memang bukan perempuan biasa.”

“Aku tidak pernah mengaku sebagai perempuan biasa.”

Tawa kecil terdengar dari salah satu ujung meja.

Luciano ikut tertawa, tetapi matanya tetap dingin.

“Semoga kau tetap berani berbicara seperti itu setelah mengetahui seluruh rahasia keluarga suamimu.”

Bianca merasakan tangan Dante bergerak di bawah meja, menyentuh jemarinya.

Bukan untuk menahannya.

Melainkan memperingatkannya agar berhati-hati.

Hidangan utama baru saja disajikan ketika Isabella Moretti memasuki ruang makan.

Gaun hitamnya berkilauan lembut di bawah lampu kristal. Rambut cokelatnya ditata elegan, dan senyum tipis menghiasi bibirnya saat ia menyapa para tamu.

“Maaf aku terlambat.”

Luciano berdiri menyambutnya.

“Tidak masalah. Kita baru saja membicarakan keluarga.”

Isabella menoleh kepada Dante, kemudian kepada Bianca.

“Selamat malam, Dante.”

“Isabella.”

Sapaan mereka terdengar singkat, tetapi Bianca menangkap sesuatu di antara keduanya. Ada sejarah yang belum selesai, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan menyebut Isabella sebagai perempuan dari masa lalu Dante.

Isabella duduk di seberang Bianca.

“Aku belum sempat mengucapkan selamat atas pernikahan kalian,” katanya. “Kalian terlihat serasi.”

“Terima kasih,” jawab Bianca.

“Meski, terus terang, aku tidak pernah membayangkan Dante akan menikah secara diam-diam.”

Bianca menoleh kepada suaminya.

Dante tidak menunjukkan reaksi.

“Banyak hal berubah,” katanya dingin.

Isabella tersenyum tipis.

“Benar. Terutama ketika seseorang berusaha mengubur masa lalu.”

Suasana meja makan berubah.

Luciano tampak menikmati ketegangan itu. Ia memutar gelas anggurnya perlahan sebelum berkata, “Mungkin Bianca akan tertarik mengetahui bahwa Isabella mengenal Dante jauh sebelum pernikahan ini.”

“Aku sudah mendengar tentang masa lalu mereka,” jawab Bianca.

Isabella memiringkan kepala.

“Benarkah? Apakah Dante juga menceritakan alasan hubungan kami berakhir?”

Dante meletakkan pisaunya.

“Cukup, Isabella.”

Namun, perempuan itu tidak mengalihkan pandangan dari Bianca.

“Aku hanya ingin memastikan kau memahami sesuatu. Dante bukan pria yang mudah memberikan kepercayaan. Ada hal-hal yang bahkan tidak pernah ia ceritakan kepada orang yang paling dekat dengannya.”

Bianca menatap Isabella dengan tenang.

“Kalau begitu, kami memiliki kesamaan. Aku juga tidak menceritakan semua hal kepada orang yang baru kukenal.”

Luciano terkekeh.

Dante, sebaliknya, terlihat semakin tegang.

Di bawah meja, ia menggenggam tangan Bianca sedikit lebih erat.

Setelah hidangan penutup disajikan, seorang pelayan mendekati Dante dan membisikkan sesuatu di telinganya.

Wajah Dante berubah seketika.

“Aku harus memeriksa sesuatu,” katanya sambil berdiri. “Tetaplah di sini, Bianca.”

Bianca mengangguk, tetapi ketika Dante meninggalkan ruangan, ia melihat Luciano mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan singkat.

Entah mengapa, Bianca merasa kedua kejadian itu saling berkaitan.

Beberapa menit kemudian, Isabella mendekatinya.

“Ada sesuatu yang harus kau ketahui,” bisiknya.

Bianca menatapnya waspada.

“Apa?”

Isabella menyelipkan selembar kertas kecil di bawah serbet Bianca.

“Baca setelah kau sendirian. Dan jangan biarkan Dante melihatnya.”

Sebelum Bianca sempat bertanya, Isabella kembali ke tempat duduknya seolah tidak terjadi apa-apa.

Jantung Bianca berdebar semakin cepat.

Ketika makan malam berakhir dan para tamu mulai meninggalkan ruangan, Bianca menyelinap ke sebuah ruang kecil di dekat perpustakaan. Ia membuka kertas itu dengan tangan gemetar.

Hanya ada satu kalimat di sana.

Alessandro Vieri bukan satu-satunya pria yang menyimpan rahasia tentang ibumu. Tanyakan kepada Luciano siapa yang membayar dokter pada malam Elena meninggal.

Bianca membaca kalimat itu berulang kali.

Lalu ia mendengar suara langkah di luar pintu.

Ia segera melipat kertas tersebut dan menyembunyikannya di dalam tas.

Pintu terbuka.

Dante berdiri di ambang pintu, wajahnya keras dan tatapannya langsung tertuju pada Bianca.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Menikmati ketenangan.”

Dante melangkah masuk.

“Jangan berbohong kepadaku.”

Bianca mengangkat dagu.

“Lucu. Kau mengatakan itu seolah hanya aku yang menyimpan rahasia.”

Dante terdiam.

Bianca ingin menunjukkan kertas itu kepadanya. Ia ingin mempercayai pria yang beberapa malam lalu memeluknya dengan begitu lembut.

Namun, pesan itu menyebut nama Luciano.

Dan jika pesan tersebut benar, maka musuh mereka mungkin berada jauh lebih dekat daripada yang Dante sadari.

“Ada sesuatu yang harus kutanyakan,” kata Bianca.

“Tanyakan.”

“Apakah kau tahu siapa yang membayar dokter yang menangani ibuku pada malam kematiannya?”

Wajah Dante kehilangan seluruh ekspresinya.

“Dari mana kau mendapatkan pertanyaan itu?”

Bianca menatapnya tajam.

“Itu bukan jawaban.”

Dante mendekat, suaranya berubah rendah.

“Bianca, apa pun yang kau dengar malam ini, jangan langsung memercayainya.”

“Termasuk jika aku mendengarnya darimu?”

Sebelum Dante menjawab, suara Luciano terdengar dari ujung lorong.

“Kakak, sepertinya ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.”

Luciano berdiri di bawah cahaya lampu, masih mengenakan senyum yang sama seperti saat makan malam.

Namun, kali ini Bianca melihat noda merah kecil di ujung manset kemejanya.

Darah.

Luciano menyadari arah pandang Bianca dan perlahan menurunkan tangannya.

Senyumnya tidak berubah.

“Semoga aku tidak mengganggu.”

Dante bergerak berdiri di depan Bianca, melindunginya dari pandangan adiknya.

“Pulanglah, Luciano.”

“Tentu.” Luciano merapikan jasnya. “Tapi sebelum itu, aku ingin mengucapkan satu hal kepada Bianca.”

Ia menatap perempuan itu melewati bahu Dante.

“Berhati-hatilah memilih siapa yang kau percaya, Signora Vieri. Di keluarga ini, orang yang tersenyum kepadamu belum tentu menginginkanmu tetap hidup.”

Luciano pergi dengan langkah santai.

Bianca menatap punggungnya hingga menghilang di balik pintu.

Malam itu, ia datang ke meja makan untuk mengenal keluarga suaminya.

Namun, ia pulang dengan tiga kecurigaan baru: Isabella mengetahui lebih banyak daripada yang diakuinya, Luciano mungkin terlibat dalam kematian Elena, dan Dante menyimpan sesuatu yang membuatnya takut mendengar nama seorang dokter.

Saat Bianca berbalik, Dante masih menatap pintu tempat adiknya menghilang.

“Dante,” bisiknya. “Apa yang sebenarnya terjadi pada malam ibuku meninggal?”

Dante menutup mata sesaat.

Lalu ia menjawab dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

“Malam itu, Bianca, seseorang seharusnya mati.”

Ia menatap istrinya.

“Tetapi orang yang mati ternyata bukan orang yang mereka rencanakan.”

Dan untuk pertama kalinya, Bianca menyadari bahwa rahasia keluarga Vieri bukan hanya tentang siapa ayah kandungnya.

Rahasia itu dimulai dengan sebuah rencana pembunuhan.

Dan mungkin, hingga malam ini, rencana tersebut belum benar-benar berakhir.

1
nnda
ceritanya dipercepat kah kak? kok tiba² udah punya anak si Bianca sama Dante
Isabell: iya kak mohon maaf update hari ini agak amburadul 😖 ada bab yang hilang, nanti aku ubah dulu kak 🙏
total 1 replies
Frida
💪
Yiruma Nitya
Bagus loh kak sumpah, semangat terus, jangan lupa mampirin aku jg ya
Yiruma Nitya
Jadi penasaran
Zendyaa4
aku baca baca ini kak,tapi pelan pelan. semangat kakk💪
jangan lupa mampirr🤭
niaww
semngat trus kak isabelll
Isabell: terima kasih kak 😍semangat juga untuk mu kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!