CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MANTEL AWEN
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Alu sudah terbangun. Dengan penuh semangat, dia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Seperti biasa, setiap hendak berangkat kuliah, Alu selalu bersemangat. Dia ingin menunjukkan pesonanya sebagai laki-laki paling tampan di kampus.
Setelah selesai mandi, Alu membuka lemari dan mulai memilih seragam kuliahnya. Namun, semangatnya langsung turun ketika menyadari bahwa hampir semua kemejanya tidak bisa dikancingkan, terutama di bagian dada.
Alu mengernyitkan dahi. Dia memandangi bagian atas tubuhnya yang semakin membesar, lalu mengambil singlet dan mengenakannya. Sayangnya, pakaian itu tetap tidak mampu menutupi bentuk tubuhnya dengan baik.
Akhirnya, Alu terpaksa mengenakan kaus milik Afu yang sebelumnya dia pinjam. Setelah itu, dia memakai seragam kuliahnya tanpa mengancingkan bagian atasnya.
Ketika berdiri di depan cermin, Alu tampak tidak puas dengan penampilannya sendiri.
Perlahan, dia mulai menyadari bahwa tubuh yang dilihatnya di cermin bukan lagi tubuh Alu yang tampan, melainkan tubuh Awen yang cantik.
Namun, dia juga kebingungan karena tidak memiliki pakaian perempuan yang bisa dikenakan untuk kuliah. Alu pun kembali memeriksa lemari Afu, berharap menemukan sesuatu yang bisa membantunya.
Di antara pakaian yang tersimpan di sana, dia menemukan sebuah mantel wol panjang berlogo kampus mereka.
Alu segera mencobanya.
Ternyata, mantel itu pas sekali di tubuhnya sekarang. Panjangnya menutupi sebagian besar seragam yang tidak bisa dia kancingkan, sehingga penampilannya terlihat jauh lebih rapi.
Merasa menemukan solusi, Alu membawa mantel tersebut ke ruang makan.
Saat itu, Afu sedang merapikan perlengkapan sarapan dan menyalakan pemanggang roti.
“Afu, ini mantel siapa?”
Alu menunjukkan mantel panjang yang ditemukannya di lemari.
Afu menoleh.
Begitu melihat mantel itu, dia langsung terdiam. Tatapannya terpaku pada benda tersebut, sementara pikirannya perlahan melayang ke sebuah kenangan di masa lalu.
Saat itu, hujan turun sangat deras.
Afu berteduh di bawah pos satpam di seberang jalan, tepat di depan kampus mereka. Sementara itu, Awen berteduh di depan sebuah toko sambil memegang payung hitam.
Dari kejauhan, Awen melambaikan tangan kepadanya. Afu pun membalas lambaian itu.
Setelah itu, Afu melepas mantel wol panjang berlogo kampus yang dikenakannya, lalu memasukkannya ke dalam tas. Dia kemudian mengeluarkan jas hujan dari dalam tas dan berlari menembus hujan menuju tempat Awen menunggu.
Melihat Afu berlari ke arahnya, Awen segera menyambutnya dengan payung hitamnya.
Awen berdiri di trotoar, menunggu Afu yang semakin mendekat. Begitu Afu tiba, dia langsung mengangkat payung untuk melindungi tubuhnya.
Namun, sebelum mereka sempat berteduh di bawah beranda toko yang tidak jauh dari sana, sebuah mobil melintas di jalan.
Meskipun mobil itu tidak melaju terlalu kencang, air hujan yang menggenangi jalan menyembur ke arah mereka.
Melihat hal itu, Afu segera merentangkan tangannya, berusaha melindungi Awen dengan tubuhnya sendiri.
“Awen, awas!”
BYUR!
Sayangnya, gerakan Afu sedikit terlambat. Air kotor dari jalanan tetap menyiram tubuh mereka berdua.
Afu segera merengkuh Awen dan membawanya berteduh di bawah beranda toko.
Dia kemudian mengeluarkan handuk kecil dari dalam tasnya, lalu mengeringkan wajah dan rambut Awen yang basah.
Melihat Awen menggigil kedinginan, Afu segera meminta perempuan itu melepaskan mantelnya yang basah.
“Awen, lepasin mantel lu!”
“Tapi, Afu, dingin sekali!”
“Nggak apa-apa. Lu pakai mantel gue yang ada di dalam tas aja.”
Awen akhirnya melepaskan mantel yang dikenakannya, lalu menyerahkannya kepada Afu.
“Nih, udah gue lepas.”
Afu menerima mantel itu dan melipatnya dengan hati-hati. Dia kemudian mengeluarkan kantong plastik dari dalam tas dan memasukkan mantel basah tersebut ke dalamnya.
“Tahan sebentar, ya, Awen. Gue keringin dulu rambut dan baju lu yang basah.”
Afu kembali mengelap wajah dan rambut Awen menggunakan handuk kecil yang dibawanya. Setelah memastikan Awen tidak terlalu basah lagi, dia mengeluarkan mantel kering dari dalam tas.
Dengan hati-hati, Afu memakaikan mantel itu ke tubuh Awen.
Awen menatapnya sambil tersenyum.
“Makasih, Afu.”
Afu membalas senyumnya. Untuk beberapa saat, mereka saling berpandangan, lalu tersenyum satu sama lain di tengah suara hujan yang masih mengguyur jalanan.
CKLAK!
Suara pemanggang roti yang tiba-tiba berbunyi mengejutkan Afu dan membuyarkan lamunannya.
Dia kembali menatap mantel yang dipegang Alu.
“Afu, ini mantel siapa? Kok pas banget di tubuh gue?”
Afu memandangi saudaranya yang kini memiliki wajah seorang perempuan cantik. Tanpa sadar, dia menjawab pelan.
“Itu punya lu.”
Alu langsung terperanjat.
“Punya gue? Kok gue nggak ingat?”
Afu tersentak, menyadari kekeliruannya.
“Eh, maksud gue punya Awen. Udah, lu pakai aja.”
Alu mengangguk, tidak terlalu mempersoalkan jawaban Afu. Dia segera mengenakan mantel panjang itu, lalu berjalan menuju cermin.
Di depan cermin, Alu mulai bergaya. Dia melenggak-lenggokkan tubuhnya sambil memperhatikan penampilannya dari berbagai sudut.
Melihat tingkah saudaranya, Afu hanya tersenyum kecil.
Semakin lama, dia semakin menarik, bisik Afu dalam hati.
Sementara itu, Alu mendadak menghentikan gayanya dan menatap pantulan wajahnya sendiri.
“Kok gue jadi aneh, ya? Tapi lumayanlah, nggak terlalu memalukan.”
Dia mengambil sisir, lalu mencoba merapikan rambutnya yang kini sudah panjang. Namun, beberapa kali dia menggerakkan sisir, rambut itu tetap tidak tertata seperti yang diinginkannya.
“Aduh, gimana cara ngerapihin rambut ini?”
Alu mengacak rambutnya dengan kesal, lalu meletakkan sisir kembali.
“Ah, terserah! Ini kan cuma tubuhnya doang. Gue ya tetap gue. Tetap punya pesona meskipun sekarang berada di tubuh perempuan!”
Setelah puas meyakinkan dirinya sendiri, Alu berjalan menuju meja makan dan duduk tepat di hadapan Afu yang sedang mengunyah roti.
Afu menyodorkan sepiring roti, selai, dan segelas susu kepadanya.
“Nih, makan rotinya, terus minum susunya. Kita berangkat lebih pagi aja supaya bisa melihat situasi kampus sebelum terlalu ramai. Gue nggak mau lu kaget sama reaksi orang-orang nanti.”
Alu menerima makanan itu. Dia mengoleskan selai pada rotinya, lalu mulai makan dengan lahap sebelum meneguk susu yang diberikan Afu.
Seperti hari-hari biasanya, Alu tetap berusaha mempertahankan rasa percaya dirinya. Setelah selesai sarapan, dia meraih tangan Afu dan menggandengnya keluar dari apartemen.
Sepanjang lorong, Alu dengan ramah menyapa orang-orang yang mereka temui. Bahkan ketika tiba di pos keamanan, dia masih sempat tersenyum kepada petugas yang berjaga.
Afu berhenti sebentar untuk berbincang dengan satpam tersebut.
“Fu, pacar lu baru lagi?”
Afu langsung terkejut.
“Apaan, Pak Satpam! Ini Alu, saudara kembar gue!”
Satpam itu mengamati Alu dari atas sampai bawah. Namun, sebelum dia sempat memberikan komentar, Alu sudah lebih dahulu menarik lengan Afu dan mengajaknya pergi.
Satpam itu hanya bisa bengong memperhatikan mereka.
Dari keJauhan, tubuh Alu tampak begitu feminin. Namun, sepatu yang dikenakannya jelas sepatu laki-laki.
Satpam itu menggelengkan kepala.
“Dasar orang kalau lagi dimabuk cinta. Sampai-sampai pakai sepatu aja bisa nggak sadar. Wajahnya sih cantik, tapi kok pakai sepatu cowok?”
Dia kembali menggeleng sambil tersenyum geli, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu, Alu meminta Afu melewati jalan yang berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya mereka biasa melewati jalan yang melintasi pemakaman, kali ini Alu memilih jalan besar di sepanjang trotoar.
Dia ingin menghindari kejadian aneh yang mungkin terulang jika mereka melewati jalan dekat makam Awen.
Namun, sepanjang perjalanan menuju kampus, beberapa mahasiswa yang berpapasan dengan mereka tampak terkejut. Ada yang berhenti berjalan, ada pula yang sengaja menoleh untuk memperhatikan Alu lebih lama.
Sebagian dari mereka mengenali wajah cantik itu sebagai wajah Awen.
Alu justru semakin percaya diri melihat reaksi mereka.
Hahaha! Lihat aja. Meskipun sekarang gue berada di tubuh Awen, pesona gue tetap nggak hilang. Mereka semua terpana melihat gue!
Dengan dagu terangkat dan langkah penuh percaya diri, Alu terus berjalan menuju kampus, sama sekali tidak menyadari bahwa tatapan orang-orang itu mungkin bukan karena alasan yang dia bayangkan.