"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."
Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.
Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.
Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.Sentuhan yang Dibenci
"Lepaskan!" Naya memekik tertahan. Ia meronta seketika, mengerahkan sisa tenaga yang masih ada untuk mendorong dada bidang pria itu menjauh.
Namun, lengan Aksa yang terbalut setelan jas mahal itu justru mencengkeram pinggangnya semakin erat. Pria itu menatap Naya dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. Senyum sinis tercetak jelas di bibirnya yang kaku.
"Hebat sekali, Dokter Naya," suara bariton Aksa menggema pelan di lorong rumah sakit yang sepi, memotong udara dingin di antara mereka. "Baru tiga operasi dan kamu sudah ambruk seperti orang cacat? Ke mana perginya staminamu yang selalu kamu banggakan itu?"
Naya menggigit bibir bawahnya, menahan rasa pusing yang masih berputar hebat di kepalanya. "Aku bilang lepaskan, Aksa! Aku tidak butuh bantuanmu, apalagi belas kasihanmu!"
Mendengar itu, Aksa mendengus kasar. Ia melepaskan pelukannya dengan gerakan menyentak, membiarkan tubuh Naya oleng ke belakang hingga punggung wanita itu menghantam dinding lorong dengan suara berdebuk pelan. Naya meringis, menahan nyeri yang menjalar di tulang belakangnya.
"Belas kasihan?" Aksa melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatu kulitnya nyaris menyentuh sepatu Naya.
"Kamu terlalu percaya diri. Aku menangkapmu hanya karena aku tidak mau lantai rumah sakitku kotor terkena bajumu yang menjijikkan itu."
Naya menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Kata-kata pria itu tajam, setajam pisau bedah yang baru saja ia gunakan berjam-jam lalu. Tapi Naya menolak untuk terlihat hancur. Ia menegakkan posisi berdirinya, menatap lurus ke dalam sepasang mata gelap yang menyorotkan kebencian padanya.
"Kalau begitu, terima kasih sudah menjaga kebersihan lantaimu," balas Naya dengan nada sedingin es. "Sekarang menyingkir dari jalanku. Pekerjaanku sudah selesai, dan aku berhak menuntut hak istirahatku."
Aksa tertawa pelan, tawa yang sama sekali tidak mencapai matanya. Tangan besarnya terulur, menahan sebelah bahu Naya saat wanita itu mencoba melangkah pergi.
"Istirahat? Kamu pikir kamu sedang liburan?" bisik Aksa tajam. "Kamu sendiri yang memohon untuk tetap memegang kendali di meja operasi. Kamu menantangku di depan semua staf medis. Sekarang rasakan akibatnya. Ini baru hari pertama, Naya. Kalau fisikmu sepayah ini, lebih baik kamu menyerahkan surat pengunduran diri sekarang juga."
Dada Naya naik turun menahan emosi yang meledak-ledak. "Kamu sengaja melakukan ini, Aksa! Kamu sengaja menumpuk jadwal operasi gila ini padaku tanpa asisten yang memadai. Kamu bukan sedang mengujiku, kamu sedang mempertaruhkan nyawa pasien demi memuaskan dendam pribadimu!"
Wajah Aksa langsung mengeras. Rahangnya menegang kaku, otot-otot di lehernya terlihat menonjol. "Jangan berani-berani menceramahiku soal nyawa manusia, Naya! Tujuh tahun lalu, kamu merenggut masa depanku, mimpiku, dan harga diriku tanpa sisa. Kamu memfitnahku, menginjak kepalaku hanya demi kuota beasiswa busuk itu!"
"Aku tidak pernah memfitnahmu!" teriak Naya frustrasi. Suaranya bergema memantul di dinding lorong. "Berapa kali harus kukatakan padamu? Kejadian tujuh tahun lalu bukan seperti yang kamu pikirkan!"
"Bohong!" bentak Aksa tidak kalah keras. Pria itu maju selangkah lagi, mengurung tubuh Naya di antara kedua lengannya yang bertumpu pada dinding. Napasnya memburu, menabrak wajah Naya dengan aroma maskulin yang dulu selalu membuat Naya merasa aman. Tapi kini, aroma itu hanya membawa teror.
"Semua bukti mengarah padamu," desis Aksa dengan mata memerah menahan amarah. "Kamu yang melaporkan namaku. Kamu yang memalsukan tanda tanganku di dokumen operasi itu. Kamu membuangku seperti sampah agar kamu bisa terbang ke luar negeri dan menjadi Kepala Bedah seperti sekarang. Dan sekarang kamu berani bertingkah seperti malaikat penyelamat nyawa di depanku?"
Naya memejamkan mata, merasakan air matanya mendesak ingin keluar. Tenggorokannya terasa seperti dicekik. Kebenaran yang sebenarnya terlalu menyakitkan, dan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membawa rahasia itu sampai mati demi melindungi nyawa Aksa dari para petinggi korup.
"Percayalah pada apa yang ingin kamu percayai," ucap Naya akhirnya, suaranya melemah karena kelelahan luar biasa. "Hukum aku sesukamu. Siksa aku dengan jadwal operasi mematikan itu. Tapi jangan pernah sebut aku pengkhianat, karena aku tidak pernah mengkhianatimu."
Naya mencoba mendorong dada Aksa, berusaha membebaskan diri dari kurungan pria itu. Namun sentuhan tangan Naya pada kemeja Aksa justru memicu sesuatu yang lain. Ada sengatan listrik yang menjalar cepat dari titik sentuh itu, membangunkan memori masa lalu yang berusaha mereka kubur dalam-dalam.
Dulu, dada bidang itu adalah tempat Naya bersandar setiap kali ia lelah belajar anatomi semalaman. Dulu, sepasang lengan kekar itu selalu memeluknya erat, memberinya kehangatan di tengah dinginnya udara rumah sakit.
Aksa menegang. Pria itu juga merasakannya. Sensasi panas yang menjalari kulitnya saat tangan mungil Naya menyentuh dadanya. Matanya yang tadinya dipenuhi amarah kini berubah gelap, diselimuti kabut gairah yang tidak seharusnya ada di sana.
Aksa menatap wajah pucat Naya, melihat keringat dingin yang menempel di dahi wanita itu, lalu tatapannya turun perlahan ke bibir Naya yang bergetar pelan. Bibir yang dulu selalu ia cium dengan penuh cinta.
Bibir yang mengucap janji setia sebelum akhirnya menghancurkan hidupnya.
Kebencian dan hasrat bertarung hebat di dalam kepala sang CEO. Aksa sangat membenci Naya. Ia ingin wanita ini hancur berantakan, memohon ampun di bawah kakinya. Tapi di saat yang sama, tubuhnya mengkhianati logikanya. Ia ingin mendominasi wanita ini, menaklukkannya sepenuhnya sampai Naya tidak bisa lagi melawan.
"Kamu pikir kamu bisa mempengaruhiku dengan wajah menyedihkanmu itu?" bisik Aksa dengan suara parau yang tertahan.
Pria itu mengangkat tangannya, jemarinya yang kasar menyentuh kulit pipi Naya, membuat wanita itu tersentak kaget.
"A-apa yang kamu lakukan?" Naya terbata, mencoba memalingkan wajahnya. Jantungnya berdebar gila-gilaan, bukan hanya karena lelah dan takut, tapi karena sentuhan pria itu mulai membakar pertahanannya.
Aksa tidak menjawab. Pria itu malah mencengkeram rahang Naya, memaksa wajah wanita itu mendongak menatapnya. Cengkeramannya kuat, mengunci pergerakan Naya tanpa ampun. Aksa menatap bibir wanita itu dengan kilat mata gelap sebelum berdesis, "Jangan mengira aku masih peduli padamu."
si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
koq gx ngundang2🤔
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
lanjuuut kak