NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

POIN GENGSI CLARISSA

Raungan mesin mobil sedan sport putih melengking nyaring, memecah ketenangan sore di sepanjang koridor jalan raya komersial. Dari tepi trotoar, Enzo sempat menoleh singkat, menyaksikan kendaraan mewah milik Clarissa itu meluncur deras membelah arus lalu lintas dengan kecepatan tinggi. Gadis kaya itu tampaknya pergi dengan sejuta kejengkolan dan gengsi yang terkoyak hebat usai penolakan mentah-mentah yang baru saja ia terima.

Enzo menghembuskan napas panjang, membiarkan angin sore menyapu wajah kusamnya. Ia mengusap lehernya yang terasa pegal, lalu melangkah menuju halte angkutan umum yang berjarak sekitar lima puluh meter di depan.

"Jalan, Bang!" seru Enzo seraya menyunggingkan senyum tipis pada sopir angkutan umum jurusan perbatasan kota yang baru saja berhenti menepi.

"Naiik, Mas! Sisa dua bangku belakang!" sahut sopir angkot berkulit legam itu seraya menepuk pintu mobilnya yang agak berkarat.

Enzo menyelinap masuk ke dalam kabin angkot yang sempit, memilih duduk di sudut bangku paling belakang dekat jendela yang agak ternganga. Di sekelilingnya, beberapa penumpang lain duduk tertidur lelap dengan wajah letih usai seharian membanting tulang.

Mobil angkutan umum itu melaju terguncang-guncang. Enzo merogoh saku celana jins lamanya, menarik keluar ponsel tua berlayar retak yang sejak tadi terus bergetar dengan ritme teratur. Begitu ia menggeser tombol kunci, pendar cahaya putih terang dari aplikasi Sistem Penakluk Dewi memenuhi matanya.

Tampilan antarmuka hitam sederhana itu telah bertransformasi, membuka sebuah kolom laporan psikologis berukuran besar yang bertajuk 'Analisis Mendalam Target 3: Poin Gengsi Clarissa'.

Enzo menyandarkan kepalanya pada dinding kabin angkot yang bergetar seiring deru mesin tua. Jemari tangannya yang agak kotor oleh sisa tinta pulpen menelusuri baris demi baris teks bercahaya yang tercetak rapat di layar ponselnya.

[Analisis Latar Belakang Target 3: Clarissa (20 Tahun)]

[Status Keluarga: Putri tunggal dari Handoko, seorang pengusaha konglomerat di bidang properti dan investasi real estat. Orang tua Clarissa resmi bercerai saat ia masih berusia sepuluh tahun akibat kesibukan karier dan perselingkuhan.]

[Akar Trauma Pengabaian Emosional: Sejak kecil, Clarissa tidak pernah merasakan kehadiran figur orang tua yang utuh. Ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang jauh lebih muda (Tante Siska), sementara ibunya sibuk dengan kehidupan sosialitas tingginya di luar negeri. Kedua orang tuanya mengganti ketiadaan kasih sayang dan perhatian dengan transfer uang saku tanpa batas serta fasilitas mewah.]

Enzo tertegun menatap paragraf pertama laporan tersebut. Matanya tertahan lama pada baris kalimat 'mengganti ketiadaan kasih sayang dengan transfer uang saku tanpa batas'.

Kalimat itu mendadak memutar kembali memori Enzo saat berada di dalam kafe beberapa puluh menit yang lalu. Ia teringat bagaimana Clarissa berteriak histeris di telepon dengan mata berkaca-kaca menahan tangis, melemparkan kalimat kepahitan: *"Papi transfer uang saku juga cuma biar aku nggak ganggu acara kalian, kan?!"*

Kini, potongan-potongan puzzle dari sikap arogan gadis bergaun krem itu mulai tersusun makin utuh di dalam kepala Enzo.

Layar ponsel tuanya kembali bergulir pelan ke bawah, menampilkan analisis lanjutan yang lebih mendalam mengenai struktur kepribadian Clarissa.

[Mekanisme Pertahanan Diri & Pembentukan Poin Gengsi:]

[1. Nilai Transaksional Hubungan: Karena dibesarkan dalam lingkungan di mana uang adalah satu-satunya bentuk kompensasi atas rasa bersalah orang tuanya, Clarissa secara tidak sadar meyakini bahwa seluruh hubungan antarmanusia didasarkan pada materi. Bagi Clarissa, tidak ada kedermawanan atau kebaikan tulus yang datang tanpa motif terselubung.]

[2. Poin Gengsi Sebagai Benteng Pertahanan: Sikap sombong, nada bicara ketus, kecenderungan meremehkan status sosial orang lain, serta pamer kekayaan adalah cara Clarissa menutupi rasa minder dan rasa tidak berharga yang mengendap di dasar hatinya. Ia sengaja menyerang orang lain terlebih dahulu agar dirinya tidak terlihat lemah atau ditolak.]

[3. Dampak Penolakan Subjek: Tindakan Enzo yang mengembalikan dompet mewah berisi delapan juta setengah rupiah tanpa menyentuh uangnya, serta menolak keras imbalan tiga ratus ribu rupiah, telah menghantam fondasi kepercayaan dasar Clarissa. Untuk pertama kalinya, Clarissa bertemu dengan seseorang yang tidak bisa dibeli dengan uang sakunya.]

Enzo menarik napas dalam-dalam, menyapu wajah kusamnya dengan telapak tangan yang agak kasar. Ada rasa pahit yang samar merayap naik di dalam dadanya.

"Ternyata duit cuma cara orang tuanya buat membuang dia..." gumam Enzo pelan seraya memalingkan pandangannya ke luar jendela angkot yang temaram oleh lampu jalanan sore.

Rasa jengkel dan kemarahan yang sempat timbul akibat tuduhan pedas Clarissa di pelataran parkir tadi mendadak runtuh tanpa bekas. Enzo menyadari bahwa Clarissa sejatinya bukanlah sosok gadis jahat yang kejam dari lahir. Gadis dua puluh tahun itu hanyalah seorang anak yang jiwanya kesepian, yang dipaksa tumbuh dewasa di dalam sangkar emas bergelimang harta, namun kelaparan akan rasa dihargai dan dicintai apa adanya.

Ketika Clarissa menyodorkan tiga lembar uang kertas seratus ribuan tadi sore, gadis itu sebenarnya tidak sedang bermaksud menghina Enzo secara pribadi. Gadis itu hanya sedang menggunakan satu-satunya 'bahasa' yang ia ketahui sepanjang hidupnya—bahasa transaksi materi demi menutupi rasa canggung dan rasa berutang budi.

Dan saat Enzo menolak uang itu dengan alasan harga diri dan kejujuran kerja keras, Enzo tanpa sadar telah meruntuhkan satu-satunya tembok pertahanan yang biasa Clarissa gunakan untuk menilai orang-orang di sekitarnya.

Ponsel tua di tangan Enzo kembali bergetar halus satu kali, menampilkan baris catatan khusus di bagian bawah layar.

[Peringatan Sistem untuk Subjek:]

[Target Clarissa memiliki tingkat kerentanan emosional yang tersembunyi di balik 'Poin Gengsi' yang sangat tinggi.]

[Prinsip Pendekatan: Jangan pernah tunduk atau terintimidasi oleh kekayaannya, namun jangan pula membalas keangkuhannya dengan kebencian. Target membutuhkan ketegasan batas ruang pribadi, konsistensi prinsip, dan bukti bahwa nilai seorang pria tidak diukur dari ketebalan dompetnya.]

[Status Keterikatan Clarissa: 10% (Tembok Gengsi Mulai Retak).]

Enzo menyunggingkan senyum tipis yang agak pahit. Ia mengantongi kembali ponsel tuanya ke dalam saku celana jinsnya.

"Sistem ini bener-bener gila..." bisik Enzo seraya menggelengkan kepala pelan.

Pemuda itu menatap deretan wajah penumpang di dalam angkot yang lelah. Kehidupan di kota bising ini benar-benar dipenuhi oleh manusia-manusia yang terluka dengan caranya masing-masing. Nadira yang tenggelam dalam rasa tidak percaya diri akibat selalu ditindas, Maya yang memasang duri tajam karena trauma dikhianati sahabatnya, Tante Rika yang kesepian di dalam rumah mewahnya yang dingin, dan Clarissa yang menyembunyikan dahaga kasih sayangnya di balik keangkuhan materi.

Semua wanita itu berada di sekeliling kehidupan Enzo yang monoton, masing-masing membawa beban emosional yang amat tebal.

Mobil angkutan umum itu perlahan melambat, meluncur masuk ke area pangkalan dekat gang pemukiman kontrakan Enzo. Matahari sore telah sepenuhnya tenggelam di ufuk barat, menyisakan gumpalan awan keunguan dan lampu-lampu toko yang mulai menyala terang satu per satu.

Enzo melangkah turun dari angkot, menyerahkan lembaran uang kusam sebesar lima ribu rupiah kepada sang kernet, lalu menyusuri jalanan beton gang sempit rumah kontrakannya.

Dari kejauhan, ia melihat pagar besi rumah permanen berlantai dua milik Tante Rika tampak tertutup rapat dan hening. Di sebelah rumah besar itu, pintu kayu kamar kontrakannya yang kecil berdiri menanti.

Enzo merogoh saku celananya, memutar anak kunci, lalu melangkah masuk ke dalam kamar sempit berukuran tiga kali tiga meter itu. Meskipun dompetnya malam ini hanya berisi sisa uang logam dan selembar uang lima ribuan, Enzo merasa dadanya jauh lebih lapang. Ia mungkin tidak memiliki mobil mewah atau tumpukan uang tunai seperti Clarissa, tetapi malam ini, ia tahu bahwa kejujuran dan ketegasan prinsipnya adalah kekayaan paling bernilai yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!