Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Tiga tahun kemudian.
Kehidupan rumah tangga Mia dan Rian tampak harmonis. Tidak ada yang mengganggu mereka, entah dari pihak Mia ataupun Rian. Hanya saja tiap bulan Rian selalu mentransfer ibunya yang berada di kampung. Dan hal itu tidak di permasalahkan oleh Mia, karena itu merupakan tanda bakti Rian kepada orang tuanya.
Hari-hari berlalu dengan tenang, penuh tawa kecil di dapur, pelukan hangat di malam hari, dan doa singkat sebelum tidur. Mereka tinggal di rumah sederhana berlantai dua di pinggiran kota, dengan halaman belakang yang cukup luas untuk bermain. Di dinding ruang tamu, foto pernikahan mereka masih digantung dengan bingkai kayu. Di sampingnya, foto-foto baru mulai memenuhinya, foto Mia hamil tujuh bulan, foto Rian yang kebingungan mengganti popok untuk pertama kali, dan foto keluarga kecil yang semakin lengkap.
Saat ini mereka sudah dikaruniai satu putri yang berusia dua tahun. Namanya Kayla. Anak perempuan yang ceria, pipinya tembem, rambutnya ikal lembut, dan matanya selalu berbinar ketika melihat ayahnya pulang kerja. Kayla sudah bisa berlari-lari kecil, sambil memanggil Mama dan Papa dengan jelas, serta sangat suka menggenggam jari Rian sambil berjalan goyah.
Mumpung hari ini weekend, Rian dan Mia memutuskan untuk pergi jalan-jalan bersama sang buah hati.
Pagi itu, matahari sudah cukup tinggi ketika Rian membuka tirai kamar. Cahaya keemasan masuk ke dalam ruangan, menyinari wajah Mia yang masih setengah tertidur. Di samping mereka, di ranjang kecil, Kayla sedang berguling-guling sambil menggenggam boneka kelinci kesayangannya.
“Bangun, sayang” bisik Rian pelan sambil mencium kening Mia. “Hari ini kita mau jalan-jalan" ucapnya lirih.
Mia membuka mata perlahan, lalu tersenyum. “Iya… Kayla sudah bangun?”
“Sudah dari tadi. Dia lagi ngomong sendiri sama kelincinya.” kekeh Rian sambil menatap sang buah hati.
Mereka bangun bersama. Rian menggendong Kayla ke kamar mandi untuk mandi, sementara Mia menyiapkan pakaian.
Kayla memakai dress kuning muda dengan pita kecil di pinggang, sepatu putih, dan topi kecil agar tidak terkena sinar matahari. Mia memilih gaun kasual berwarna putih bersih, rambutnya diikat santai. Rian memakai kaos polo biru dan celana chino, tampilan yang sederhana tapi rapi.
Setelah sarapan ringan, roti panggang, telur, dan potongan buah untuk Kayla, mereka keluar rumah. Mobil keluarga yang sudah biasa mereka pakai sudah siap di halaman depan.
Rian mendudukkan buah hatinya di car seat, lalu memakaikan sabuk pengamannya ke tubuh sang anak.
“Kita pelgi?” tanya Kayla dengan suara kecil yang masih cadel.
“Iya, kita mau ke taman yang ada danau kecilnya, sayang. Nanti kita kasih makan ikan, terus main di playground.” jawab Rian secara rinci.
“Ikan!” seru Kayla sambil bertepuk tangan.
Sementara itu Mia tersenyum melihat interaksi mereka berdua. Suaminya sangat telaten mengurus putrinya.
Perjalanan menuju taman memakan waktu sekitar dua puluh menit. Di sepanjang jalan, Kayla sibuk menyanyi lagu anak-anak yang diajarkan Mia, sementara Rian dan Mia sesekali saling pandang dan tersenyum. Tidak banyak kata yang diucapkan, tapi kehangatan terasa di udara. Tangan Rian sesekali meraih tangan Mia yang sedang memegang map kecil berisi tisu dan camilan.
Sesampainya di taman, udara terasa lebih segar. Pohon-pohon rindang menaungi jalur setapak, dan di kejauhan terlihat permukaan danau yang berkilau di bawah sinar matahari. Beberapa keluarga lain sudah ada di sana, anak-anak berlari-lari, burung-burung berkicau.
Rian menurunkan Kayla dari mobil. Begitu kaki kecilnya menyentuh rumput, Kayla langsung berlari ke arah playground, diikuti Mia yang tertawa.
“Pelan-pelan, sayang!” seru Mia.
Mereka menghabiskan hampir satu jam di area bermain. Rian mendorong ayunan pelan-pelan, sementara Kayla tertawa riang. Mia duduk di bangku terdekat, mengawasi sambil sesekali mengambil foto dengan ponsel. Ada momen ketika Kayla terjatuh di pasir, menangis sebentar, lalu langsung terhibur ketika Rian menggendongnya dan meniup luka kecil di lututnya.
Setelah lelah bermain, mereka berjalan menuju tepi danau. Rian membawa seplastik kecil pelet ikan yang dibeli di pintu masuk taman. Kayla duduk di pangkuan ayahnya di bangku kayu panjang, sementara Mia duduk di samping mereka.
“Ini, sayang. Lempar pelan-pelan,” kata Rian sambil menuntun tangan kecil Kayla.
Pelet-pelet jatuh ke permukaan air. Dalam hitungan detik, ikan-ikan kecil muncul, membuat air beriak. Kayla berteriak senang.
“Ikan! Banyak ikan, Mama!”
Mia tertawa, lalu mencondongkan badan dan mencium puncak kepala putrinya. “Iya, banyak sekali. Nanti kita kasih makan lagi, biar ikannya cepat besar.”
Angin sepoi-sepoi berhembus, membawa aroma rumput basah dan bunga liar. Rian memandang istrinya. Tiga tahun sudah berlalu sejak mereka mengucapkan janji di depan altar. Banyak yang berubah, rumah yang dulu kosong kini penuh tawa anak, malam-malam yang dulu hanya diisi percakapan kini digantikan cerita sebelum tidur, dan rasa lelah yang dulu terasa berat kini menjadi indah karena ada seseorang yang menunggu di rumah.
“Kamu tahu?" tanya Rian.
"Apa?" tanya Mia menoleh.
"Kadang aku masih tidak percaya kita sudah sampai di sini.” jawab Rian.
Mia menoleh, tersenyum. “Aku juga. Tapi aku senang, bisa hidup bersama kamu dan Kyla. Aku merasa hidupku sangat sempurna"
Kayla yang sedang sibuk melihat ikan tiba-tiba menoleh. “Papa, sayang mama?”
Mereka berdua tertawa. Rian mencium pipi putrinya, lalu mencium pipi Mia juga.
“Iya, sayang. Papa sayang mama dan Kay" jawab Rian.
Sore hari mulai mendekat. Cahaya matahari berubah menjadi oranye lembut. Mereka berjalan pelan kembali ke mobil, Kayla sudah tertidur di gendongan Rian, kepala kecilnya bersandar di bahu ayahnya. Mia berjalan di samping, tangan mereka saling bergandengan.
Di dalam mobil, sebelum menyalakan mesin, Rian menatap istrinya sekali lagi.“Terima kasih sudah menemaniku sampai di sini, sayang.”
Mia mengusap lembut rambut Kayla yang sedang tidur. “Terima kasih juga sudah menjadi suami dan ayah yang baik. Ayo pulang. Nanti malam kita masak bersama, ya.”
Mobil mulai melaju meninggalkan taman. Di belakang, danau masih berkilau, dan angin terus berhembus membawa janji hari-hari yang akan datang, hari-hari yang mungkin tidak selalu sempurna, tapi selalu dijalani bersama.
Tiga tahun setelah pernikahan, kehidupan mereka tetap harmonis. Dan di tengah keharmonisan itu, ada seorang anak perempuan kecil yang menjadi bukti bahwa cinta mereka terus tumbuh, hari demi hari.
*
*
Saat sedang makan malam, tiba-tiba ponsel Rian berdering nyaring mengagetkan mereka.
"Siapa?" tanya Mia.
"Lukman" jawab Rian. "sebentar aku angkat dulu" lanjutnya.
Mia mengangguk, dan membiarkan suaminya mengangkat panggilan tersebut. Seraya menyuapi putrinya, Mia mendengarkan obrolan suaminya.
"Kenapa? Ada apa dia menghubungimu?" tanya Mia setelah suaminya mengakhiri panggilannya.
"Lukman sama istri dan anaknya mau menginap di sini untuk sementara waktu, sampai mendapatkan pekerjaan baru" ucap Rian.
Deg....
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈