NovelToon NovelToon
Seni Balas Dendam Sang Nyonya Mahendra

Seni Balas Dendam Sang Nyonya Mahendra

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Naibelys Perez

Lima tahun Anindya Wiranegara menyembunyikan jati dirinya demi menjadi istri biasa. Lima tahun pula dia dihina suaminya, direndahkan mertuanya, dan dipandang rendah oleh semua orang.

Sampai malam pesta itu. Di anak tangga marmer sebuah hotel mewah, perempuan yang sudah lama menunggu gilirannya mendorongnya jatuh, dan sang suami hanya berkata, "Jangan merusak malamku."

Perempuan yang bangun dari rumah sakit itu bukan lagi istri penurut. Dia pewaris imperium perhotelan, perbankan, dan dunia bawah yang selama ini dia tinggalkan. Syaratnya hanya tiga: pegang kendali bisnis keluarga, kembali berlatih senjata, dan menikah dengan Arga Mahendra, taipan paling sombong dan paling ditakuti di negeri ini.

Pernikahan kontrak dimulai dengan klausul-klausul tertulis di atas meja kaca. Anindya menambahkan klausul merah miliknya sendiri. Arga menantang, Anindya membalas lebih tajam. Siapa pun yang berani menyebut pernikahan ini "sekadar bisnis" belum pernah melihat mereka berdua di ruang rapat, di meja catur, atau di ranjang.

Sementara itu, keluarga Pratama tak tahu bahwa kehancuran mereka sudah ditandatangani.

Ini bukan sekadar balas dendam. Ini seni, dan Nyonya Mahendra sudah menggoreskan tinta pertamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naibelys Perez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGUNGKAPAN YANG MENGHANCURKAN DUNIA

Restoran klub bahari itu pusat tak terbantahkan kalangan atas dan kekuatan ekonomi ibu kota. Berdiri menghadap dermaga pribadi tempat yacht-yacht mewah berayun di bawah matahari siang, jendela-jendela kacanya yang lebar menyuguhkan pemandangan istimewa cakrawala biru. Di salah satu meja paling eksklusif, di teras beratap yang dikelilingi tanaman hias, duduk Laksmi Mahendra, putrinya Kirana Mahendra, dan Anindya Wiranegara.

Suasana di meja itu ringan, santai, dan penuh kedekatan khas perempuan, kontras tajam dengan atmosfer beku dan tegang di lantai atas gedung konglomerat. Ketiganya berbagi tawa dan komentar tajam soal kalangan atas, menikmati menu masakan Prancis kelas tinggi. Anindya tampil memukau dengan gaun putih model midi, kacamata hitam desainer, dan rambut tergerai dalam gelombang sempurna di bahunya. Kehadirannya memancarkan keanggunan alami, campuran kecanggihan dan kekuatan tanpa ampun yang menarik pandangan usil para pengunjung dan para wartawan sosialita yang berkeliaran di sekitar klub.

Yang tak mereka ketahui, hanya beberapa meja dari sana, dua juru kamera lepas dari dunia gosip lokal sudah beberapa menit membuntuti setiap gerakan mereka lewat lensa tele yang kuat. Kehadiran matriark keluarga Mahendra dan putrinya yang makan siang bersama perempuan yang begitu cantik, memukau, dan misterius adalah berita eksklusif emas yang tak akan dilewatkan tabloid mana pun.

Selesai makan siang, di tengah tawa dan perpisahan yang hangat, ketiganya berdiri untuk meninggalkan klub bahari. Di pintu keluar, tepat di tangga utama yang dikelilingi pohon palem, kerumunan juru kamera dan wartawan dengan mikrofon dan kamera di bahu menyerbu mereka mendadak, lampu kilat menyala menyilaukan.

"Bu Laksmi! Bu Laksmi, tolong, satu pernyataan untuk koran kami!" teriak seorang wartawan menerobos dengan mikrofon terangkat. "Kami ingin tahu siapa perempuan cantik yang menemani Ibu! Apakah dia mitra internasional baru keluarga Mahendra? Atau pewaris misterius yang dinikahi diam-diam oleh putra Ibu, Arga Mahendra?"

Kilatan kamera terus menerangi wajah Laksmi Mahendra. Sang matriark, jauh dari merasa terganggu oleh kepungan pers, berhenti sejenak. Dia merapikan mantelnya yang elegan di bahu, menatap lurus ke kamera dengan senyum tipis penuh percaya diri, lalu, merangkul bahu Anindya dengan satu lengan sebagai pelindung, berbicara dengan kejelasan yang terdengar di setiap mikrofon:

"Para wartawan sekalian, berhenti mencari hantu di tempat yang tak ada," tegas Laksmi dengan suara mantap, berwibawa, dan aristokratis. "Orang yang bersama saya bukan mitra tanpa nama. Dia menantu kesayangan saya: Anindya Wiranegara Mahendra, satu-satunya istri sah putra saya Arga. Dia nyonya rumah ini dan perempuan yang berbagi takhta konglomerat bersama keluarga kami. Jadi simpan kamera kalian untuk orang yang benar-benar peduli omongan orang."

Kata-kata sang matriark jatuh seperti bom atom di tengah para wartawan. Lampu kilat berkedip kalap, para juru kamera saling dorong untuk menangkap wajah Anindya, yang pelan-pelan melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan sorot tajam dan senyum kemenangan di depan lensa, dan judul berita tahun ini pun tersegel tak terbantahkan di hadapan seluruh negeri.

Berkilometer dari klub bahari eksklusif itu, di sebuah kantor sementara yang kecil dan reyot di gudang sewaan kawasan industri, Rendra Pratama berusaha menyusun kembali kepingan hidupnya yang hancur. Setelah penyitaan sementara dan campur tangan hukum atas perusahaan propertinya, dia kehilangan ruang kerja, status, dan hampir semua miliknya. Yang tersisa hanya meja logam tua, kursi pincang, dan kehadiran terus-menerus ibunya, Bu Ratna, dan selingkuhannya, Karina, yang mengikutinya dalam kejatuhan mengerikan itu.

Di sebuah televisi tabung kecil yang diletakkan di atas kardus, acara gosip sore menyiarkan secara mendesak liputan langsung dari klub bahari. Pembawa acaranya berteriak bersemangat sambil menayangkan gambar keluarnya Bu Laksmi Mahendra.

Mendadak wajah Anindya muncul di layar, jelas, cantik, berkuasa, diapit ibu dan adik pria paling ditakuti negeri ini. Suara pembawa acara terdengar jelas di ruangan sempit itu: "... Terkonfirmasi, pemirsa tercinta! Istri misterius sang raksasa Arga Mahendra tak lain adalah Anindya Wiranegara, pewaris imperium perbankan dan perhotelan, sekaligus mantan istri pengusaha malang Rendra Pratama, yang kini berada dalam kehancuran mutlak..."

Rendra merasa udara terhisap keluar dari paru-parunya sekaligus. Matanya melotot menatap layar, mengenali wajah perempuan yang dia usir ke jalan, yang dia hina, yang dia anggap tak berguna.

Anindya? Istri Arga Mahendra? Pemilik bank yang membekukan rekening kami?

Kepingan teka-teki itu menyatu di kepalanya dengan kekerasan sebuah palu. Itu bukan audit acak biasa, bukan sekadar sial dalam tender. Itu dia. Setiap kontrak yang hilang, setiap rekening yang terblokir, setiap penghinaan dan setiap sen yang direnggut membawa tanda tangan tak kasatmata perempuan yang dulu dia remehkan.

"Sial... sialan! Penyihir terkutuk!" raung Rendra kalap, kehilangan akal sepenuhnya.

Dalam amukan buta, dia menerjang meja logam, mendorongnya keras hingga terguling, menjatuhkan teko kopi, kertas-kertas yang tersisa, dan televisi tabung yang meledak berpercik di lantai beton. Dia mulai menendangi apa pun yang ada di jalannya, menghancurkan kursi, meninju dinding dengan tangan kosong sambil berteriak mengumpat dengan mulut berbusa.

"Gara-gara dia! Gara-gara dia sialan itu aku kehilangan semuanya! Dia harus membayar! Aku bersumpah akan menghancurkannya walau nyawaku taruhannya!" teriak Rendra, urat lehernya menonjol dan wajahnya rusak oleh kebencian dan kegilaan.

Beberapa meter dari sana, meringkuk di sudut gudang, Bu Ratna dan Karina membeku tak bergerak. Ibu Rendra gemetar dari kepala sampai kaki dengan tangan menutupi wajah, sementara Karina memandangi sisa-sisa kantor yang hancur dengan ekspresi ngeri di matanya. Mereka tak pernah membayangkan Anindya yang tenang dan pendiam punya kekuasaan sebesar itu, dan mereka sadar, dengan kepastian dingin, bahwa balas dendam Nyonya Mahendra yang baru itu baru memperlihatkan sisi paling ramahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!