Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Kenapa, Ren?
Sisa-sisa ketegangan dari insiden pengusiran Dimas si anak basket di koridor lantai dua masih terasa pekat di udara.
Rendra berjalan selangkah di belakang Naya saat mereka menyusuri anak tangga menuju lantai dasar gedung sekolah.
Wajah blasterannya sudah kembali ke mode pabrikan: sedatar papan gilasan dan sedingin es balok di dalam freezer.
Begitu sampai di area tangga darurat yang sepi di dekat gudang belakang sekolah, Naya mendadak menghentikan langkah kakinya.
Dia membalikkan badan dengan cepat, membuat tas ransel hitam di punggungnya berayun kasar.
Naya melipat kedua tangannya di depan dada, menatap lurus ke manik mata Rendra yang berdiri menjulang di depannya.
"Heh, Rendra Adijaya," panggil Naya dengan nada menyelidik yang teramat sangat tajam.
"Gue perhatiin kelakuan lo makin hari makin di luar nalar sehat ya," lanjut Naya sambil menyipitkan mata.
Rendra otomatis menghentikan langkahnya, menegakkan posisi tubuh seratus delapan puluh sentinya dengan kaku.
Di balik saku celana abu-abunya, jemarinya kembali meremas pulpen mekanik hitam erat-erat demi menahan tremor.
"Ya? Ada apa, Kanaya? Kenapa lo mendadak berhenti di tempat sepi gini?" jawab Rendra, mencoba menekan suaranya sedalam mungkin.
Naya mengunyah permen karet stroberinya dengan tempo cepat.
"Gak usah sok polos lo di depan gue. Sekarang mumpung sepi, gue mau nanya satu hal sama lo, dan lo wajib jawab jujur!" gertak Naya.
"Tanya apa? Soal tugas kelompok teks eksplanasi kita?" tanya Rendra, mencoba mengalihkan pembicaraan demi harga dirinya.
"Bukan soal tugas, babi!" semprot Naya gemas.
"Gue mau nanya, kenapa sih lo harus sampai segitunya banget sama gue? Sampe ngancem anak orang kayak psikopat di koridor tadi?!" tanya Naya lagi.
Rendra terdiam, menatap Naya tanpa berkedip sedikit pun.
"Bukan cuma itu aja," lanjut Naya, menunjuk dada Rendra dengan ujung pulpennya.
"Lo juga nurut banget pas gue suruh ngerjain semua tugas pribadi gue selama satu semester tanpa protes," ucap Naya penuh keheranan.
"Padahal hubungan kita kan aslinya cuma sebatas admin Discord sama pro-player anonim cengeng di internet," cecar Naya bertubi-tubi.
"Alasan asli lo apa sampai nekat caper begini di dunia nyata, hah?" tanya Naya, menuntut jawaban final.
Mendengar pertanyaan beruntun dari Naya, sisi wibu anxious Rendra mendadak tenggelam sepenuhnya ke dasar kesadarannya.
Saklar obsesi di otaknya yang jaringannya agak geser itu kini mengambil alih kendali tubuh sang pangeran sekolah.
Rendra perlahan-lahan mengulas sebuah senyuman di wajah keturunan Jerman-Sunda miliknya.
Namun, itu bukan senyuman manis pangeran sekolah yang biasa membuat siswi-siswi junior menjerit histeris di lapangan.
Itu adalah senyuman yang teramat sangat lebar—terlalu simetris, kaku, dan memancarkan kesan yang teramat janggal laksana topeng psikopat film horor.
Detik itu juga, sepasang mata hitam legam milik Rendra mendadak berkilat bersinar di bawah bayangan tangga darurat yang temaram.
Pupil matanya melebar intens, memancarkan aura dark yang sangat pekat, dingin, dan murni mengintimidasi.
Rendra memajukan tubuh tingginya perlahan, menundukkan kepalanya hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja.
"Kenapa sampai segitunya, Nay?" bisik Rendra dengan suara yang teramat rendah, berat, dan bergetar oleh rasa kepemilikan yang absolut.
Senyum lebarnya yang mengerikan tidak luntur sedikit pun dari bibirnya yang pucat.
"Karena di dunia nyata yang penuh dengan manusia munafik dan palsu ini... lo adalah satu-satunya realitas dan matahari di hidup gue."
Naya menahan napasnya secara spontan, tubuhnya mendadak kaku mendengar perubahan drastis pada intonasi suara Rendra.
"Bumi ga akan pernah ngebiarin benda langit asing mendekati mataharinya, walaupun itu cuma sekejap," lanjut Rendra dengan nada berbisik yang teramat halus namun sedingin es.
Kilatan hitam di matanya semakin intens menatap langsung ke dalam pupil mata Naya yang mulai bergetar gugup.
"Kalau ada cowok lain di sekolah nyata ini yang berani nyentuh lo, atau bahkan cuma sekadar ngajak lo pulang bareng..." Rendra menjeda kalimatnya sesaat.
Dia terkekeh pelan, suara kekehannya terdengar sangat dark dan merindingkan bulu kuduk di lorong sepi itu.
"...gue ga keberatan buat mastiin dunia nyata mereka berakhir hari ini juga, Naya sayang. Lo itu milik gue. Hak paten gue di dunia digital maupun gaib."
Naya langsung membeku total di atas anak tangga darurat tersebut.
Seluruh tubuhnya mendadak kaku sekeras batu semen, tidak mampu digerakkan bahkan untuk sekadar mundur selangkah.
Jantung cewek cuek itu melewatkan satu detakan krusial akibat syok.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, Naya merasakan bulu kuduk di sekujur tubuhnya merinding hebat karena menyadari betapa dalamnya jurang obsesi gelap yang dimiliki oleh Rendra.
Rendra mempertahankan senyum lebar janggal dan tatapan hitam bersinarnya selama beberapa detik penuh.
Dia tampak sangat menikmati ketakutan manis dan keterpanaan dari sang pawang mental di depannya.
Namun, tepat ketika atmosfer di tangga darurat itu sudah berada di puncak ketegangan yang mencekam, saklar di otak Rendra mendadak bergeser kembali ke mode wibu bucin komedinya dalam waktu satu detik.
Aura psikopat dan hawa membunuhnya langsung runtuh total tanpa sisa.
Rendra langsung menarik tubuh tingginya mundur selangkah dengan panik.
Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah yang mendadak cemberut manja laksana anak kucing yang kehilangan induknya.
"Maka dari itu, Nayaaa! Mulai besok lo dilarang keras pulang bareng cowok lain atau nunggu angkot umum sendirian di depan gerbang sekolah!" rengek Rendra pelan dengan suara cempreng aslinya.
Naya mengerjapkan matanya berulang kali, masih berusaha memproses perubahan ekspresi Rendra yang secepat kilat.
"H-hah? Maksud lo gimana? Kenapa bawa-bawa angkot segala?" tanya Naya dengan suara yang agak serak.
"Gue beneran bakal nyuruh bokap gue buat beliin seluruh armada angkot beserta jalur trayek sekolah ini sekalian besok pagi!" tekad Rendra berapi-api dalam mode posesif-obsesif akut skala 10/10.
Kedua tangannya mengepal penuh semangat gila di depan dadanya yang bidang.
"Biar semua supir angkotnya resmi jadi karyawan di perusahaan bokap gue!" teriak Rendra berbisik.
"Dan dengan begitu, lo cuma boleh naik angkot yang isinya cuma ada gue sendirian di dalam!" lanjut Rendra tanpa rasa bersalah.
"Gue bakal temenin lo sampai depan gerbang kosan lo tiap hari! Pokoknya lo harus pulang bareng gue titik ga pake koma!" rengek Rendra lagi sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
Naya yang baru saja merinding ketakutan setengah mati langsung melongo kaku dengan mulut menganga lebar menatap makhluk ajaib di depannya.
Rasa ngerinya mendadak menguap total ke udara, digantikan oleh rasa lelah batin yang luar biasa hebat menghadapi kegilaan cowok sultan di hadapannya ini.
"Gila... lu beneran babi obsesif yang saraf otaknya udah putus permanen sejak dalam kandungan ya, Ren," gumam Naya pelan sambil menepuk jidatnya sendiri dengan pasrah.
"Gue ga gila, Nay! Gue cuma menjalankan fungsi gue sebagai shortcut desktop utama kehidupan lo!" bantah Rendra keras kepala, tidak mau kalah.
Naya sudah pasrah, dia bahkan sudah bersiap melepas salah satu sepatu sekolahnya untuk dilemparkan tepat ke wajah tampan Rendra saking gemasnya.
"Serah lo dah, manekin berkarat! Minggir lo, gue mau pulang! Awas aja kalau besok beneran ada angkot pribadi di depan gerbang!" ancam Naya sambil melangkah kasar melewati tubuh Rendra.
Rendra hanya tersenyum penuh kemenangan gila di belakang punggung Naya.
Dengan gerakan cepat, jemarinya langsung merogoh HP mahal dari saku celananya untuk mencari nomor kontak sang ayah.
"Halo, Papa? Rendra mau minta hadiah ulang tahun dipercepat... Rendra mau beli satu jalur angkot kota besok subuh..." ucap Rendra dengan mata hitamnya yang kembali berkilat penuh obsesi rahasia.
Dan tepat di momen Naya berjalan menjauh sambil mengumpat, sementara Rendra mulai bertransaksi membeli angkot...!?