"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Cangkang Telur
Pagi harinya, mentari belum sepenuhnya tinggi ketika ketukan jemari pada layar telepon genggam mengejutkan Karlina dari cangkir teh hangatnya. Sebuah pesan singkat dari sang suami, Damian Sumargo, baru saja masuk: “Urusan bisnis di Surabaya selesai lebih cepat. Siang ini Papi pulang., anak-anak semua baik, kan?”
Seketika wajah Karlina memucat. Rasa cemas menjalar cepat, melenyapkan wibawa dingin yang biasa ia tampilkan. Damian adalah pria yang sangat memanjakan anak kandungnya, Zahira.
Jika pria itu sampai tahu bahwa Karlina mencoba menyodorkan Zahira kepada seorang pengusaha renta demi melunasi koneksi sosialitanya—serta fakta bahwa ia menahan biaya kuliah gadis itu—posisi nyaman Karlina sebagai nyonya besar di rumah ini bisa terancam.
Langkah kaki Karlina bergema tergesa-gesa menyusuri koridor lantai bawah. Ia langsung menuju area dapur tempat bayangan konflik kerap tersembunyi.
Di dapur yang beraroma harum bumbu tumisan, Zahira sedang berdiri di dekat kompor. Wajahnya masih menyisakan jejak lelah dari sif lembur semalam, namun tangannya cekatan mengaduk nasi goreng.
Di sampingnya, Mbok Jumi asisten rumah tangga yang telah mengabdi belasan tahun sedang membantu menata piring-piring porselen di atas meja makan.
"Mbok Jumi! Zahira!" suara Karlina memotong kesibukan pagi itu dengan nada penuh penekanan.
Zahira menoleh pelan, sementara Mbok Jumi hampir menumpahkan cangkir yang dipegangnya. Karlina melangkah mendekat, matanya berkilat menatap mereka satu per satu.
"Dengar baik-baik," bisik Karlina tajam, mengikis jarak. "Siang ini Mas Damian pulang. Dan saya tidak mau mendengar ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut kalian berdua soal rencana perjodohan kemarin! Kalau sampai ada yang berani membuka mulut atau bersikap aneh di depan Papi kalian, saya tidak akan segan-segan memotong gaji Mbok Jumi dan memastikan kamu bisa keluar dari rumah ini, Zahira!"
Mbok Jumi menunduk dalam, badannya gemetar ketakutan. "I-iya, Nyonya... Mbok ndak bakal bicara apa-apa."
Zahira hanya menghembuskan napas pelan, menatap ibu tirinya dengan kepasrahan yang dingin. "Zahira paham, Mami. Zahira tidak pernah berniat merusak kepulangan Papi."
"Bagus kalau kamu sadar diri," desis Karlina, lalu menoleh saat mendengar langkah kaki Vidi yang turun dari tangga.
Karlina menghampiri putra bungsunya itu dengan wajah yang diubah secepat kilat menjadi senyuman hangat. "Vidi, Sayang... Siang ini Papi pulang, lho. Nanti kamu jangan bicara yang aneh-aneh ya sama Papi. Kasihan Papi kamu capek kerja dari luar kota."
Vidi hanya menatap ibunya datar tanpa menyahut, lalu berjalan lurus menuju meja makan. Sikap dingin itu membuat Karlina mengepalkan tangan, menyembunyikan kekesalannya saat Bianka ikut bergabung di meja makan dengan pakaian santai bersutra merah muda.
Sajian nasi goreng spesial bertabur telur dan bawang goreng telah tertata rapi. Mereka empat berantai duduk di meja makan yang megah namun terasa begitu membeku.
Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan porselen menjadi satu-satunya instrumen yang memecah keheningan mencekam itu.
Tiba-tiba, suara retakan renyah yang ganjil terdengar dari mulut Bianka.
"Ugh! Apa-apaan ini?!" Bianka mendadak memuntahkan kembali suapan nasi gorengnya ke atas piring porselen dengan wajah meringis jijik.
Sekeping cangkang telur kecil terlihat bercampur dalam kunyahan makanan tersebut. Wajah Bianka seketika memerah penuh amarah. Ia membanting sendoknya keras-keras hingga mengeluarkan dentang memekakkan telinga.
"Mami! Lihat ini! Makanan macam apa yang dikasih ke Bianka?!" jerit Bianka dramatis, mengusap lidahnya dengan tisu dapur seolah-olah baru saja menelan racun. "Ada cangkang telur! Gigi Bianka hampir patah! Ini sengaja ya?!"
Karlina yang melihat hal itu langsung berdiri, matanya membelalak murka. Tanpa mengonfirmasi apa pun, tatapan tajamnya memanah lurus ke arah Zahira yang masih berdiri diam di sudut area makan.
"Zahira!" bentak Karlina, suaranya menggelegar memenuhi ruang makan yang luas itu. "Apa-apaan kamu ini?! Kamu mau mencelakai adikmu, hah?!"
"Mami, Zahira sudah masak dengan hati-hati..." sahut Zahira mencoba membela diri dengan suara pelan.
"Hati-hati kamu bilang?!" Ujar Karlina seraya melangkah maju dan mendorong bahu Zahira hingga gadis itu terhuyung ke belakang.
"Kamu itu memang sengaja! Kamu itu dari dulu selalu iri sama adikmu sendiri. Kenapa kamu mau protes dengan apa yang saya perbuat sama Kamu? Hah ... Kamu melampiasan rasa dendam kamu lewat makanan ini?!"
"Bukan begitu, Mami—"
"Diam!" potong Karlina sadis, jari-jarinya menunjuk tepat di depan hidung Zahira. "Dasar anak tak tahu untung! Sudah dikasih tempat tinggal, dibiarkan makan gratis di rumah ini, masak nasi goreng begitu saja kamu masukkan racun cangkang telur! Otak kamu itu ditaruh di mana, Zahira?! Kurang ajar sekali kamu!"
Mbok Jumi yang berada di dekat dapur tampak menggenggam celemeknya erat-erat, air matanya menetes tak tega melihat Zahira terus-menerus dihujani cacian kasar. Namun ancaman pemotongan gaji dari Karlina menahannya untuk bersuara.
Sementara itu, Vidi yang duduk di hadapan Bianka meletakkan sendoknya perlahan. Wajah remaja itu nampak memerah, dadanya naik turun menahan emosi yang membuncah.
Suara bentakan ibunya dan dengki kakak kandungnya sudah sampai di batas toleransi yang bisa ia tanggung pagi ini.
Tanpa menyentuh sisa nasi gorengnya, Vidi berdiri dari kursi. Ruang makan seketika hening saat Vidi menyampirkan tas sekolahnya ke bahu.
"Vidi? Mau ke mana, Nak? Makananmu belum habis," ujar Karlina, ketajaman suaranya mendadak luluh menjadi kelembutan yang dibuat-buat.
Vidi menatap ibunya dengan tatapan penuh kepenuhan muak. "Vidi udah kenyang, Mi. Kenyang dengar Mami marah-marah terus tiap pagi."
"Vidi! Mami ini cuma menegur kakakmu yang teledor!" bela Karlina cepat.
"Cuma gara-gara cangkang telur kecil, Mami maki-maki Kak Zahira seolah dia penjahat?" Vidi tertawa hambar, matanya berembun menahan kekecewaan.
"Pusing Vidi di rumah ini. Tiap hari isinya cuma bentakan, kesombongan, dan kebohongan. Vidi berangkat sekolah dulu."
Tanpa menunggu balasan dari ibunya atau pamit pada Bianka, Vidi melangkah lebar-lebar meninggalkan ruang makan, melintasi pintu depan yang kemudian tertutup rapat. Dan meminta pak Bimo mengantarkannya menuju sekolah.
.
.
Sepeninggal Vidi, Karlina berdiri terpaku sebelum akhirnya berbalik menatap Zahira dengan napas memburu. Rasa malu dan kekesalannya karena kehilangan muka di hadapan anak kesayangannya kini sepenuhnya dialihkan menjadi dendam pada anak tirinya.
"Kamu lihat itu?!" jerit Karlina seraya mendekati Zahira dan mencengkeram lengan gadis itu kuat-kuat.
"Lihat apa yang sudah kamu lakukan pada Vidi! Kamu racuni pikiran anak saya sampai dia berani membangkang dan membentak ibunya sendiri! Kamu bikin anak saya pergi sekolah tanpa sarapan!"
"Mami, Zahira tidak pernah meracuni pikiran Vidi..." bisik Zahira, menahan perih di lengannya yang dicengkeram erat.
"Bohong!" teriak Karlina, melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar hingga Zahira tersandar ke dinding.
"Kamu itu pembawa sial di rumah ini! Dari dulu sampai sekarang, kamu cuma tahu merusak kebahagiaan keluarga saya! Ingat ya, Zahira... kalau sampai siang ini Vidi bersikap dingin di depan Papimu dan bikin Papi curiga, saya pastikan hidupmu di rumah ini jauh lebih neraka dari sekarang!"
Bianka tersenyum puas dari meja makan, melipat tangannya sembari menikmati pemandangan Zahira yang terpojok dan tak berdaya.
Zahira hanya mampu meremas ujung pakaian kusamnya. Di balik tatapan matanya yang redup, ia menahan tumpahan air mata yang siap jatuh.
Rumah megah berarsitektur klasik modern ini mungkin nampak berkilau bagi orang luar, namun bagi Zahira, setiap sudutnya hanyalah sangkar dingin yang penuh dengan goresan luka. Dan siang nanti, saat Papi-nya menginjakkan kaki di rumah, sebuah sandiwara besar baru saja akan dimulai.