OUTPLAYED BY YOU
He wins every game. She wins every argument.
"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"
Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.
"Aku belum mengatakan apa-apa."
"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."
"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."
Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."
Raka hampir tersenyum. Hampir.
Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Raka baru menyadari bahwa Nadira punya kebiasaan mengerutkan hidung ketika sedang membaca sesuatu yang tidak ia sukai.
Ia menyadarinya pada hari Kamis, ketika mereka bertemu lagi di sebuah kedai kopi untuk membahas materi diskusi esports yang akan diterbitkan Media Arena.
Pertemuan itu sebenarnya bukan ide Raka.
Nadira yang mengirim pesan terlebih dahulu.
Nadira: Aku butuh klarifikasi tentang beberapa pernyataanmu di acara kemarin. Ada waktu untuk bicara?
Raka membalas dalam waktu kurang dari satu menit.
Raka: Ada.
Nadira: Kamu tidak perlu menjawab secepat itu. Aku tidak sedang mengumumkan perang.
Raka: Maaf. Aku akan menunggu lima menit sebelum membalas pesan berikutnya agar terlihat lebih misterius.
Nadira: Tidak perlu. Misterius bukan keahlianmu.
Raka masih tertawa ketika Nadira tiba di kedai kopi.
Sekarang, perempuan itu duduk di seberangnya sambil membaca catatan wawancara. Hidungnya berkerut setiap kali menemukan pernyataan yang menurutnya kurang jelas.
Raka memperhatikan selama beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, “Kamu selalu melakukan itu?”
Nadira mengangkat wajah. “Melakukan apa?”
“Mengerutkan hidung.”
Tangannya otomatis menyentuh ujung hidung.
“Aku tidak mengerutkan hidung.”
“Kamu baru saja melakukannya lagi.”
“Itu karena pertanyaanmu menyebalkan.”
“Jadi, hidungmu punya mekanisme pertahanan terhadap pertanyaan menyebalkan?”
Nadira menutup buku catatannya.
“Raka, aku bisa membatalkan wawancara ini.”
“Baiklah. Aku diam.”
Raka mengangkat kedua tangan, tetapi senyum di wajahnya tidak menghilang.
Nadira kembali membuka catatannya sambil menggeleng.
Ia mulai curiga bahwa menghabiskan waktu bersama Raka akan membuatnya lebih sering menghela napas daripada bekerja.
Masalahnya, ia tidak sepenuhnya keberatan.
Mereka membicarakan isi diskusi selama hampir satu jam.
Nadira ingin memastikan pernyataan Raka mengenai investasi perusahaan tidak disalahartikan sebagai penolakan terhadap sponsor besar. Raka menjelaskan bahwa ia mendukung investasi selama pengelolaannya transparan dan tidak merugikan tim kecil.
“Jadi, kamu tidak menentang perusahaan besar masuk ke industri esports,” simpul Nadira.
“Tidak. Aku menentang anggapan bahwa perusahaan besar otomatis tahu apa yang terbaik bagi semua orang.”
Nadira mencatat kalimat itu.
“Bagus. Itu akan membantu pembaca memahami posisi kamu.”
Raka memperhatikannya menulis.
“Kamu benar-benar memikirkan bagaimana orang akan memahami sebuah pernyataan.”
“Itu pekerjaanku.”
“Aku tahu. Tapi tidak semua orang melakukannya.”
Nadira berhenti menulis.
“Kalau aku hanya menyalin perkataan narasumber, aku bukan wartawan. Aku cuma alat perekam yang bisa mengeluh.”
Raka tertawa.
“Kalau begitu, aku bersyukur kamu bukan alat perekam.”
“Kenapa?”
“Karena alat perekam tidak bisa membalas sindiranku.”
Nadira menggeleng, tetapi sudut bibirnya terangkat.
Ketika pembicaraan selesai, ia menyimpan catatannya dan memeriksa waktu.
“Aku harus kembali ke kantor. Dimas ingin melihat draf artikel sebelum sore.”
Raka mengangguk.
“Aku juga harus kembali ke markas.”
Mereka berdiri hampir bersamaan.
Di dekat kasir, Nadira meraih dompetnya, tetapi Raka lebih dahulu menyerahkan kartu pembayaran kepada pelayan.
Nadira menatapnya.
“Aku bisa membayar sendiri.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu membayar?”
“Karena aku yang mengajakmu ke sini.”
“Kamu tidak mengajakku. Aku yang meminta waktu untuk wawancara.”
Raka terdiam sejenak.
“Benar juga.”
Nadira mengulurkan uang untuk membayar bagiannya.
Raka menatap uang itu, lalu menerimanya tanpa berdebat.
“Baik. Kita bayar masing-masing.”
Nadira tampak puas.
“Terima kasih karena akhirnya bisa memahami konsep sederhana.”
Raka menghela napas dramatis.
“Aku baru saja kehilangan kesempatan untuk terlihat romantis.”
“Kamu kehilangan kesempatan untuk membayar kopi seorang wartawan yang sedang bekerja.”
“Kalau begitu, aku akan mencoba lagi di kesempatan lain.”
Kalimat itu membuat Nadira terdiam sepersekian detik.
Raka pun tampak menyadari apa yang baru saja dikatakannya.
Mereka saling menatap.
Lalu Nadira berdeham dan memasukkan dompetnya ke tas.
“Kita lihat saja.”
Ia berjalan keluar lebih dahulu.
Raka mengikutinya sambil menahan senyum.
Untuk pertama kalinya, kalimat tentang kesempatan berikutnya tidak terdengar seperti basa-basi.
Dan untuk pertama kalinya pula, Nadira tidak langsung mencari alasan untuk menolaknya.
Sore itu, sebuah kejadian kecil membuat Raka menyadari bahwa ia sudah mulai mengenal Nadira lebih jauh daripada yang ia kira.
Ia sedang menjalani latihan ketika Arman meminta semua pemain beristirahat selama lima belas menit.
Raka membuka ponsel untuk memeriksa pesan.
Ada satu notifikasi dari Nadira.
Nadira: Aku baru sadar kamu tidak pernah menjawab pertanyaan tentang makanan favoritmu.
Raka mengernyit.
Pertanyaan itu muncul tanpa konteks yang jelas.
Raka: Kita sedang melakukan survei makanan favorit sekarang?
Nadira: Aku sedang mengumpulkan data untuk memahami kepribadianmu.
Raka: Kalau begitu, jawabannya nasi goreng.
Nadira: Itu bukan jawaban. Itu jalan keluar darurat.
Raka tertawa.
Raka: Baik. Nasi goreng buatan rumah. Tidak terlalu pedas, telur mata sapi, dan kerupuk.
Balasan Nadira datang cepat.
Nadira: Ternyata selera makanmu lebih sederhana daripada kepribadianmu.
Raka: Aku akan menganggap itu pujian.
Nadira: Jangan. Aku belum selesai menganalisis.
Raka menatap layar dengan senyum kecil.
Ia tidak tahu mengapa Nadira menanyakan hal tersebut. Mungkin perempuan itu hanya bosan. Mungkin ia sedang mencari bahan untuk menggodanya.
Namun, percakapan tentang hal sederhana itu terasa berbeda dari pertukaran pesan mereka sebelumnya.
Tidak ada urusan pekerjaan.
Tidak ada pembicaraan tentang rahasia keluarga.
Tidak ada permintaan maaf yang harus diulang.
Hanya dua orang yang sedang bertukar informasi kecil tentang diri mereka sendiri.
Raka mengetik pesan berikutnya.
Raka: Sekarang giliranku. Apa makanan favoritmu?
Nadira: Mi ayam.
Raka: Sesederhana itu?
Nadira: Dengan pangsit goreng, sambal terpisah, dan kuah tambahan kalau tersedia.
Raka tersenyum.
Raka: Kamu bilang aku yang punya kepribadian rumit?
Nadira: Itu bukan rumit. Itu standar.
Raka: Tentu. Aku lupa sedang berbicara dengan seseorang yang punya standar untuk segala hal.
Nadira: Dan kamu masih bertahan mengobrol denganku.
Raka berhenti mengetik.
Kalimat itu sederhana, bahkan bisa dibaca sebagai sindiran biasa.
Namun, ia menangkap sesuatu yang lain di baliknya.
Raka: Iya. Aku masih di sini.
Nadira tidak langsung membalas.
Raka meletakkan ponselnya ketika Arman memanggil semua pemain untuk kembali berlatih.
Ia tidak tahu apakah pesannya terdengar terlalu serius.
Tetapi ia tidak menariknya kembali.
Malam harinya, Nadira sedang duduk bersama Keisha di sebuah restoran kecil dekat apartemennya.
Mereka baru selesai memesan makanan ketika Keisha menatapnya dengan ekspresi penuh kecurigaan.
“Kamu sedang dekat dengan seseorang.”
Nadira mengambil gelas air.
“Aku sedang makan malam denganmu.”
“Bukan itu yang kumaksud.”
“Sayang sekali. Aku berharap akhirnya kamu menyadari bahwa aku adalah teman yang sangat setia.”
Keisha mendengus.
“Aku melihat unggahanmu hari ini.”
Nadira mengerutkan kening.
“Unggahan apa?”
“Bukan unggahanmu. Unggahan akun ASTRAL. Raka memotret makanan di ruang istirahat, lalu seseorang bertanya apakah dia sudah makan malam.”
“Lalu?”
“Dia menjawab bahwa dia sedang menunggu rekomendasi tempat mi ayam yang bagus.”
Nadira langsung mengangkat wajah.
Keisha menyeringai.
“Menarik, bukan?”
Nadira segera mengeluarkan ponselnya dan memeriksa akun tersebut.
Benar saja, unggahan itu masih ada.
Foto semangkuk makanan dengan keterangan singkat.
Lagi mencari rekomendasi mi ayam yang layak dicoba di Jakarta.
Tidak ada nama Nadira. Tidak ada petunjuk lain.
Namun, ia tahu percakapan mereka tadi sore.
“Bisa saja dia memang ingin makan mi ayam,” kata Nadira, berusaha terdengar tenang.
“Tentu.”
“Banyak orang menyukai mi ayam.”
“Benar.”
“Dan Jakarta punya banyak tempat mi ayam.”
“Betul sekali.”
Nadira menyipitkan mata.
“Kenapa kamu terdengar seperti sedang menyetujui semua hal sambil mengejekku?”
“Karena aku sedang melakukan dua hal sekaligus.”
Nadira meletakkan ponselnya.
Keisha tertawa, lalu meraih tangannya sebentar.
“Dira, aku tidak akan menyuruhmu buru-buru menjalin hubungan. Aku tahu kamu masih punya alasan untuk berhati-hati.”
Nadira terdiam.
“Tapi kamu juga tidak harus menolak setiap hal baik hanya karena kamu belum tahu bagaimana akhirnya.”
Kalimat itu membuat Nadira menunduk.
Ia tahu Keisha benar.
Ia juga tahu bahwa kepercayaan tidak bisa dibangun hanya dengan percakapan menyenangkan dan pesan-pesan lucu.
Namun, ia mulai memahami bahwa memberi kesempatan kepada Raka tidak berarti melupakan apa yang telah terjadi.
Ia bisa tetap berhati-hati tanpa harus terus-menerus menjaga jarak.
“Aku belum tahu apa yang kurasakan,” katanya pelan.
Keisha mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
“Aku hanya merasa semuanya jadi sedikit lebih mudah ketika kami tidak membicarakan masalah itu.”
“Mungkin karena kalian sedang belajar menikmati waktu bersama tanpa harus menyelesaikan semua masalah dalam satu percakapan.”
Nadira menatap temannya.
“Sejak kapan kamu menjadi ahli hubungan?”
“Sejak aku membaca banyak novel dan melihat terlalu banyak orang membuat keputusan buruk.”
Nadira tertawa.
“Penjelasan yang meyakinkan.”
“Aku tahu.”
Makanan mereka tiba, mengakhiri pembicaraan tersebut untuk sementara.
Namun, kata-kata Keisha tetap tinggal di kepala Nadira.
Ia tidak harus memutuskan hari ini apakah Raka akan menjadi seseorang yang lebih penting dalam hidupnya.
Ia hanya perlu jujur pada dirinya sendiri tentang satu hal.
Ia mulai menikmati kehadiran laki-laki itu lagi.
Dan itu bukan sesuatu yang perlu ia sangkal.
Pada saat yang sama, Raka sedang duduk di balkon apartemennya dengan semangkuk nasi goreng di atas meja.
Ia baru selesai makan malam ketika menerima pesan baru dari Nadira.
Nadira: Kalau kamu benar-benar ingin makan mi ayam yang bagus, aku punya rekomendasi.
Raka langsung tersenyum.
Raka: Aku siap menerima penilaian dari ahli mi ayam.
Nadira: Jangan berlebihan. Tempatnya biasa saja, tapi rasanya enak.
Raka: Kapan kita bisa mencobanya?
Pesan itu terkirim sebelum ia sempat memikirkan apakah pertanyaannya terlalu langsung.
Beberapa menit berlalu.
Raka mulai menyesali keberaniannya ketika akhirnya layar ponselnya menyala.
Nadira: Sabtu siang aku tidak ada jadwal liputan.
Raka membaca pesan tersebut sekali.
Lalu dua kali.
Ia mengetik balasan dengan hati-hati.
Raka: Kalau begitu, Sabtu siang?
Nadira: Boleh. Tapi aku yang memilih tempatnya.
Raka: Tentu.
Nadira: Dan jangan datang terlambat.
Raka: Aku akan datang lima belas menit lebih awal.
Nadira: Itu terdengar seperti masalahmu sendiri.
Raka tertawa.
Raka: Sampai Sabtu, Nadira.
Balasan terakhir datang tidak lama kemudian.
Nadira: Sampai Sabtu, Raka.
Ia meletakkan ponsel di meja dan menatap langit Jakarta yang dipenuhi cahaya gedung.
Tidak ada pengakuan perasaan.
Tidak ada janji untuk memulai hubungan.
Hanya sebuah rencana makan siang yang sederhana.
Namun, Raka merasa lebih bahagia daripada yang ingin ia akui.
Ia telah menghabiskan bertahun-tahun belajar membaca gerakan lawan, memprediksi strategi, dan mengambil keputusan dalam hitungan detik.
Akan tetapi, menghadapi Nadira mengajarinya sesuatu yang berbeda.
Tidak semua hal perlu dimenangkan.
Beberapa hal justru tumbuh ketika seseorang bersedia menunggu.
Dan untuk pertama kalinya, Raka tidak keberatan jika hal berikutnya dalam hidupnya membutuhkan waktu.
Selama Nadira masih bersedia berjalan ke arah yang sama, meskipun hanya selangkah demi selangkah.