Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Ting!
Layar biru transparan tiba-tiba muncul lagi di depan pandangan Husen.
[Nama: Nisa Larasati]
[Potensi: Genius IT dan Strategi Bisnis Tingkat Dunia]
[Kelemahan: Kehilangan rasa percaya pada sistem pendidikan, depresi tingkat menengah]
Husen membaca informasi itu dengan dahi berkerut dalam.
"Depresi?"
"Anak sepintar ini pasti punya masa lalu yang sangat buruk dengan sekolah lamanya sampai menolak belajar."
Layar biru itu kembali berkedip dan memunculkan jendela misi baru berwarna merah terang.
[Misi Baru Terpicu!]
[Nama Misi: Lindungi Sang Genius]
[Deskripsi: Selamatkan Nisa dari penindasan tanpa menggunakan kekerasan fisik sedikit pun]
[Syarat Khusus: Buat Nisa mengucapkan kata terima kasih kepada Anda]
[Hadiah: 200 Poin Pengalaman, Skill Komunikasi Empatik Aktif]
[Hukuman jika gagal: Kepercayaan Nisa kepada Anda akan terkunci permanen di angka 0%]
[Apakah Host menerima misi?]
[Ya / Tidak]
Husen menyeka mulutnya dengan tisu dan menekan tombol ya dalam pikirannya.
"Tentu saja aku menerimanya tanpa ragu."
"Sebagai seorang guru, aku tidak akan membiarkan muridku ditindas di depan mataku sendiri."
Husen berdiri dari kursinya dan berjalan santai mendekati keributan tersebut.
Siswi senior itu baru saja mengangkat tangannya bersiap menampar wajah Nisa keras-keras.
"Berani-beraninya lu minta ganti rugi ke gue anak aneh!"
Plak!
Namun sebelum tangan itu mendarat di pipi Nisa, sebuah tangan besar sudah lebih dulu menahannya di udara.
Husen mencengkeram pergelangan tangan siswi senior itu dengan cukup kuat dan presisi.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini saat jam istirahat sedang berlangsung?"
Husen bertanya dengan nada suara yang tenang tapi sangat mengintimidasi.
Siswi senior itu menoleh dengan wajah marah karena serangannya dihentikan paksa.
"Lu siapa berani ikut campur urusan gue di kantin ini?!"
"Gue Rini dari kelas XII-1, lepasin tangan gue sekarang bapak tua!"
Husen melepaskan cengkeramannya sambil menatap nametag di seragam siswi bernama Rini itu.
"Saya Husen Alkhafi, guru baru di sekolah ini mulai hari ini."
"Dan sebagai guru, saya melihat seorang senior sedang melakukan pemerasan dan perusakan barang milik juniornya."
Rini tertawa sinis sambil melipat kedua tangannya di dada menantang balik.
"Guru baru ya?"
"Pantas saja lu nggak tahu aturan main di kantin sekolah kita ini."
"Di sini, yang kuat dan punya bekingan yang berkuasa, Pak."
Husen mengangguk pelan seolah setuju dengan ucapan bodoh siswi senior tersebut.
"Oh begitu ya aturannya?"
"Kalau begitu, mari kita selesaikan ini dengan cara yang lebih berpendidikan daripada saling berteriak."
Husen menggunakan skill Mata Penilai miliknya ke arah Rini yang sedang bersikap sombong itu.
Ting!
[Nama: Rini]
[Potensi: Penata Rias Artis]
[Kelemahan: Nilai Matematika selalu merah, memalsukan tanda tangan orang tua di buku raport]
Senyum tipis dan mematikan kembali muncul di wajah Husen perlahan-lahan.
"Rini, apakah ibumu tahu kalau kamu selalu memalsukan tanda tangannya setiap kali raport dibagikan?"
Wajah Rini yang tadinya penuh kesombongan langsung berubah pucat pasi seperti mayat hidup.
"A-apa maksud Bapak bicara seperti itu?"
"Jangan sembarangan menuduh murid tanpa bukti ya!"
Rini tergagap hebat dan mulai mundur beberapa langkah menjauhi keberadaan Husen.
"Saya bisa memanggil orang tuamu ke sekolah siang ini untuk mencocokkan tanda tangan tersebut di ruang arsip."
"Atau kamu bisa memungut buku itu, meminta maaf, dan pergi dari kantin ini sekarang juga tanpa perdebatan lagi."
Husen memberi pilihan dengan nada yang sangat bersahabat tapi menusuk tajam ke mental Rini.
Beberapa murid yang menonton kejadian itu mulai berbisik-bisik membicarakan rahasia Rini.
Rini yang sudah sangat ketakutan akhirnya menunduk dan memungut buku tebal itu dari lantai dengan cepat.
Dia meletakkan buku itu di atas meja Nisa dengan tangan yang terlihat sedikit gemetar.
"Maaf."
Rini bergumam sangat pelan tanpa berani menatap mata Husen lagi.
Dia langsung berbalik dan berlari pergi meninggalkan kantin dengan wajah menahan malu yang luar biasa.
Suasana kantin kembali normal meskipun banyak yang masih melirik curiga ke arah Husen.
Husen merapikan sedikit kerah kemejanya lalu menoleh ke arah Nisa yang masih duduk diam di kursinya.
Nisa hanya menatap Husen dengan pandangan datar dari balik kacamata tebalnya tanpa ekspresi.
"Apakah bukumu ada yang robek halamannya, Nisa?"
Husen bertanya dengan nada yang jauh lebih lembut dibandingkan saat dia mengancam Rini tadi.
Nisa mengambil buku itu dan membersihkan debu dari sampulnya dengan telapak tangan.
"Hanya kotor sedikit di bagian pojok, tidak ada halaman yang sampai robek."
"Bapak tidak perlu repot-repot menolong saya dari senior bodoh itu."
"Saya bisa mengurus orang-orang merepotkan seperti mereka sendirian tanpa bantuan guru."
Nisa menjawab dengan nada dingin yang sangat kentara bahwa dia sengaja menjaga jarak dari orang dewasa.
Husen menarik kursi di depan Nisa dan duduk dengan santai tanpa merasa tersinggung sedikit pun.
"Saya tahu kamu pintar dan bisa mengatasi mereka dengan cara halusmu sendiri nanti."
"Tapi membiarkan mereka merusak barang kesayanganmu jelas bukan strategi bertahan yang efisien."
Nisa sedikit menaikkan alisnya mendengar kata-kata Husen yang terdengar tidak seperti guru pada umumnya.
"Bapak guru baru di kelas XI-7 kan yang digosipkan itu?"
"Saya sarankan Bapak segera mencari pekerjaan lain di sekolah yang lebih baik sebelum Bapak menyesal."
Nisa menutup bukunya dan bersiap berdiri untuk meninggalkan meja kantin tersebut secepatnya.
"Terima kasih atas bantuannya tadi, tapi saya benar-benar tidak butuh pahlawan kesiangan di sekolah ini."
Ting!
[Syarat Khusus Terpenuhi!]
[Target Nisa telah mengucapkan kata terima kasih]
[Misi Selesai!]
[Hadiah diklaim: 200 Poin Pengalaman didapatkan]
[Hadiah diklaim: Skill Komunikasi Empatik Aktif berhasil dipelajari oleh Host]
Husen tersenyum lebar mendengar suara notifikasi sistem yang sangat memuaskan itu di dalam kepalanya.
"Sama-sama, Nisa, itu memang sudah menjadi tugasku."
"Tapi saya bukan pahlawan kesiangan, saya hanyalah wali kelasmu yang baru."
"Dan pastikan kamu masuk ke kelas setelah jam istirahat ini selesai karena kita akan mulai belajar."
Nisa tidak menjawab sepatah kata pun dan hanya berjalan pergi menjauhi Husen tanpa menoleh lagi.
"Anak ini benar-benar punya tembok pertahanan mental yang sangat tebal berlapis-lapis."
"Tapi tidak apa-apa, sebuah benteng sekuat apa pun pasti punya celah untuk dimasuki perlahan-lahan."
Husen bangkit dari kursinya dan berjalan kembali ke ruang kelas dengan perasaan menang.
Perjalanannya mengubah kelas sampah ini baru saja dimulai satu langkah, dan dia memiliki senjata terbaik di tangannya.