NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:932
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serbuan Sang Penguasa Malam

​Aria tidak merespons panggilan "Little Bird" dari bibir Devan Argantara. Matanya dengan cepat memindai setiap inci sudut lorong, memperhitungkan jarak, sudut tembak para pengawal, dan potensi jalur melarikan diri. Pria di depannya bukan sekadar pengusaha kaya yang bisa dibodohi dengan senyuman atau trik sulap jari. Devan adalah tipe pria yang membunuh musuhnya bahkan sebelum mereka menyadari bahaya sedang mendekat.

​"Kamu salah kalau berpikir tempat ini milikmu, Devan," ujar Aria dingin. Suaranya tenang, tanpa ada nada gemetar sedikit pun, meski jantungnya berdegup kencang di balik gaun beludru hitamnya.

​Devan melangkah maju satu tapak. Suasana di lorong itu mendadak menjadi begitu berat, seolah udara di sekitar mereka tersedot habis oleh kehadiran pria itu. "Lumina Hotel memang bukan milikku. Tapi seluruh barang yang dilelang di tempat ini—termasuk The Scarlet Tear di dalam kantongmu itu—adalah aset cuci uang milik musuhku yang malam ini harus kubumi hanguskan."

​Belum sempat Aria mencerna kata-kata Devan, ledakan dahsyat mendadak mengguncang fondasi bangunan!

​BOOM!

​Debu dan serpihan beton berguguran dari langit-langit lorong. Suara sirine daruratmeraung-raung di seluruh penjuru hotel, beradu dengan suara jeritan histeris dari para tamu di ballroom utama. Lampu merah darurat kedap-kedip semakin cepat, menciptakan ilusi bayangan yang makin mencekam.

​Pasukan bertopeng serba hitam yang mengepung lorong bukan hanya bawahan Devan, melainkan pasukan khusus bersenjata lengkap. Di saat yang sama, dari arah tangga darurat, terdengar suara tembakan gencar. Pasukan pengawal internal Hotel Lumina dan orang-orang klan Vane—pemilik lelang haram ini—mulai membalas serangan.

​RATATATATAT!

​Baku tembak pecah dalam hitungan detik.

​Seketika, lorong sempit di luar ruang brankas berubah menjadi medan perang berdarah. Para pengawal klan Vane bertabrakan dengan anak buah Devan. Tembakan demi tembakan memantul di dinding titanium, menciptakan percikan api dan kepulan asap mesiu yang menyengat hidung.

​Aria tidak menyia-nyiakan kekacauan tersebut.

​Saat dua pengawal klan Vane merangsek masuk ke area brankas sambil memberondongkan senjata ke arah Devan, Aria menjatuhkan tubuhnya ke lantai, berguling cepat melewati sela-sela tembakan. Gaun beludru berbelahan tinggi yang dipakainya memberi kebebasan gerak yang cukup untuk kaki jenjangnya menendang lutut salah satu pengawal hingga terdengar bunyi gemeretak tulang patah.

​ARGH!

​Pengawal itu tersungkur. Sebelum rekannya sempat mengarahkan moncong pistol ke kepala Aria, jarum beracun yang tersimpan di balik cincin khusus milik Aria sudah tertancap tepat di urat leher pria itu. Dalam tiga detik, tubuh pria bongsor itu ambruk tak sadarkan diri.

​Aria menyambar pistol jenis Glock 19 yang jatuh dari tangan pengawal tersebut, lalu bangkit berdiri dalam posisi siaga. Ia tidak bermaksud menjadi pahlawan atau memihak siapa pun. Tujuannya cuma satu: keluar dari tempat ini hidup-hidup bersama The Scarlet Tear.

​Namun, Devan jauh lebih cepat dari perkiraannya.

​Di tengah desingan peluru yang memecah kegelapan, Devan bergerak bagaikan bayangan. Tanpa panik sedikit pun, pria itu melepaskan tiga tembakan presisi dari pistol berperedam suaranya, menjatuhkan tiga musuh berturut-turut dengan bidikan tepat di dada. Gerakannya begitu efisien, tenang, dan sangat mematikan.

​Saat Aria hendak berbalik menembus kepulan asap menuju jalur ventilasi darurat di ujung lorong, sebuah tangan kokoh mencengkeram pergelangan tangannya dari belakang. Cengkeraman itu begitu kuat bak jepitan besi, namun tidak sampai meremukkan tulangnya.

​"Mau pergi ke mana, Pencuri Cantik?" suara Devan berbisik tepat di samping telinga Aria, menyebarkan aura dingin yang menggidikkan tengkuk.

​Tanpa membuang waktu, Aria menyikut dada Devan dengan siku kirinya. Devan menangkis serangan itu dengan mudah menggunakan lengan bawahnya, lalu memutar tubuh Aria hingga punggung wanita itu menabrak dinding dingin. Pistol di tangan Aria langsung dilumpuhkan; Devan menekan pergelangan tangan Aria ke dinding sampai senjata itu terlepas dan jatuh ke lantai.

​Aria menatap Devan dengan tatapan tajam nan penuh dendam. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Aria bisa mencium wewangian woody maskulin bercampur aroma tajam mesiu dari tubuh Devan. Matanya yang gelap menatap lurus ke dalam iris mata Devan yang kelam tanpa rasa takut.

​"Lepaskan aku, Devan! Kalau tempat ini mau kamu hancurkan, hancurkan saja sendiri! Jangan tarik aku ke dalam pertempuran mafiamu!" desis Aria tajam.

​Devan terkekeh pelan—sebuah kekehan dingin tanpa rasa humor yang makin membuat bulu kuduk berdiri. "Terlambat. Sejak kamu menginjakkan kaki di ruangan ini dan menyentuh barang itu, kamu sudah berada di tengah garis tembakku."

​BAM! BAM!

​Dua peluru musuh bersarang di dinding persis di atas kepala Devan. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Aria, Devan menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya, melindunginya dari serpihan semen yang bertebaran. Tangan Devan memeluk pinggang Aria dengan erat, membawa tubuh ringkih wanita itu berguling di balik pilar beton besar sebelum tembakan susulan menghantam posisi mereka sebelumnya.

​Aria terengah-engah di dalam dekapan Devan. Untuk sejenak, ia merasa terpaku. Pria kejam ini baru saja melindunginya dari tembakan mematikan. Tapi Aria tahu betul, mafia seperti Devan Argantara tidak pernah melakukan sesuatu secara gratis. Setiap kebaikan yang diberikan pasti ada harganya.

​"Kenapa kamu tidak membiarkan peluru itu menembus kepalaku?" tanya Aria sinis, mencoba menetralkan degup jantungnya yang berpacu liar.

​Devan melirik ke arah kantong tersembunyi di gaun Aria, lalu menatap matanya lagi dengan senyum tipis yang sarat intrik. "Karena kamu terlalu berharga kalau cuma jadi mayat di tempat ini. Keahlianmu membobol brankas itu... aku membutuhkannya."

​"Aku bukan anak buahmu!" tolak Aria tegas.

​"Kamu bukan anak buahku," potong Devan tajam saat suara ledakan kedua terdengar dari arah tangga utama. Suara tembakan semakin mendekat, menandakan pasukan klan Vane mulai mengepung area tersebut dari segala penjuru. "Tapi malam ini, pilihanmu cuma dua: keluar dari sini bersamaku dan tetap hidup, atau bertahan di sini dan membiarkan orang-orang klan Vane mengulitimu hidup-hidup karena sudah mencuri kalung mereka."

​Aria mengepalkan tangannya. Logikanya berteriak bahwa pria di depannya adalah bahaya yang jauh lebih besar daripada klan Vane. Tapi di sisi lain, Devan adalah satu-satunya tiket keluar dari neraka yang sedang membara ini.

​"Jalur evakuasi bagian barat sudah dikuasai musuh, Bos!" seru salah satu anak buah Devan yang terluka di bahunya sembari terus membalas tembakan.

​Devan menatap Aria rapat-rapt. "Bagaimana, Little Bird? Waktumu habis."

​Aria menghembuskan napas kasar. Gigi-giginya bergemelutuk menahan kekesalan atas situasi yang menyudutkannya ini. Ia menatap Devan dengan mata menyala-nyala. "Kalau aku memilih ikut denganmu, jangan pernah berpikir kamu bisa mengaturku!"

​Devan tersenyum puas—sebuah ukiran senyum yang menandakan ia telah berhasil menjerat mangsanya. "Kupon kesepakatanmu resmi berlaku."

​Dengan satu gerakan cepat, Devan menggandeng erat tangan Aria, menariknya menembus kepulan asap tebal dan hujanan peluru yang melubangi dinding-dinding Hotel Lumina. Aksi penyamaran dingin sang pencuri telah berakhir, digantikan dengan pelarian berdarah bersama sang penguasa dunia bawah.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!