Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Dua tahun berlalu...
Sesuai dengan janji di mimpi yang memanggilnya ke puncak Gunung Merapi, Mahardika tidak hanya bertahan hidup dari penyakit mematikannya.
Ia berhasil melewati cobaan fisik dan mental yang luar biasa berat. Penyakit Kusta kini hilang tanpa bekas, bahkan kondisi ginjalnya telah pulih sepenuhnya.
Tidak hanya sembuh total, Mahardika juga mempelajari ilmu penyembuhan ilahi dan seni pengobatan kuno hasil berguru pada seorang pertapa sakti di puncak gunung.
Di depan sebuah gua, Mahardika bersimpuh.
"Guru... aku akan pulang hari ini. Terima kasih banyak atas kebaikan Anda selama ini yang telah menyembuhkan penyakitku, serta mengajarkanku begitu banyak ilmu medis dan cara menggunakan jarum emas untuk menyelamatkan nyawa orang banyak," kata Mahardika seraya berlutut dan menundukkan kepalanya di atas tanah di hadapan pria tua berjanggut putih panjang tersebut.
Pria tua berjanggut putih itu menatap muridnya dengan lembut.
"Baiklah, muridku. Ingatlah selalu, ilmu yang telah kau pelajari adalah untuk menyelamatkan manusia, bukan untuk menyakiti atau memuaskan nafsu kesombonganmu. Bantulah siapa pun yang membutuhkan bantuanmu, meskipun dia adalah musuhmu di masa lalu. Kau harus tetap berpegang teguh pada prinsip ketulusanmu," kata Kakek Janggut Putih dengan suara berat penuh wibawa.
"Nasihat dan pesan Guru akan selalu aku ingat di dalam dada. Aku bersumpah akan selalu berjalan di jalan yang lurus," jawab Mahardika dengan nada mantap tanpa keraguan.
Kakek Janggut Putih tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangannya yang keriput, meraih jari Mahardika, dan membantunya berdiri kembali.
Sang Guru memegang erat kain baju Mahardika dan menatap dalam-dalam.
"Muridku... setelah pulang nanti, kau jangan terkejut dengan apa yang akan terjadi pada keluargamu. Guru harap kau bisa tetap tenang dan menjalankan kehidupan mu yang sesungguhnya," ucap Kakek Janggut Putih pelan seraya menepuk-nepuk bahu Mahardika.
Firasat Mahardika mendadak tidak tenang. "Ada apa sebenarnya, Guru? Apakah terjadi sesuatu pada istri dan anakku? Apakah aku boleh tahu?"
Sang Guru hanya menarik napas panjang, memalingkan pandangannya.
"Pulanglah. Kau akan tahu semuanya nanti," jawab Sang Guru misterius.
Setelah mengucapkan kata-kata terakhir itu, sang guru berbalik badan dan melangkah masuk kembali ke dalam gua.
Mahardika berdiri mematung sejenak, mengatupkan kedua tangannya memberi penghormatan terakhir, membalikkan badan, dan mulai menuruni lereng pegunungan dengan langkah cepat.
"Amel... Ningsih... Akang pulang sekarang. Tunggu kepulanganku!" bisik Mahardika dengan dada bergelora penuh semangat kerinduan.
Langkah kaki Mahardika bergetar hebat saat ia akhirnya menginjakkan kaki di halaman rumah kayu lamanya di Desa Suitara.
Bayangan pelukan hangat Ningsih serta tawa putri kecilnya, Amel, membuat ia bersemangat. ia ingat kata-kata terakhir Ningsih.
"Kang! Hati-hati di jalan! Pulanglah dalam keadaan sembuh! Aku dan Amel akan setia menunggumu di sini, Kang! Pulanglah!"
Namun, begitu ia melangkah mendekat, rumah itu sepi.
Pekarangan rumah yang dulu ditanami kebun cabai dan kopi kini berubah menjadi tanaman liat.
Pintu depan rumah kayu itu terkunci rapat dengan gembok.
Tidak ada kepulan asap dari dapur, tidak ada suara sapu lidi di halaman, dan tidak ada tawa anak kecil.
"Ningsih? Amel?" panggil Mahardika seraya mengetuk pintu kayu itu berkali-kali.
Brak! Brak! Brak!
Tidak ada jawaban.
"Ningsih! Ini Akang! Akang sudah sembuh, Ningsih!" panggil Mahardika lagi.
Ia menggunakan panca indra dan penglihatan tajamnya untuk mengintip ke dalam lewat celah jendela kayu.
Di dalam rumah, semua barang tertutup debu tebal. Tempat tidur isolasinya dulu sudah kosong dan ber jaring laba-laba. Rumah ini jelas sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun!
"Kemana mereka pergi? Bukankah Ningsih berjanji akan setia menungguku di sini?" gumam Mahardika dengan napas pelan.
Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya bertubuh gempal yang sedang membawa keranjang kayu terhenti, menatap Mahardika dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mata melotot kebingungan.
"Si... Siapa kamu? Mau apa kamu di rumah kosong ini?" tanya wanita itu ragu-ragu.
Mahardika berbalik dan mengenali wanita itu. Dialah Kiara Partana, tetangga sebelah rumahnya.
"Bu Kiara! Ini saya, Mahardika!" seru Mahardika melangkah mendekat.
Kiara melangkah mundur dua tindak karena terkejut. "Ma-Mahardika?! Tidak mungkin! Mahardika yang dulu itu penyakitan, badannya kurus kering dan membusuk karena kusta! Kamu... kamu mana mungkin Mahardika?!"
"Ini benar-benar saya, Bu Kiara! Saya sudah sembuh total! Bu Kiara, tolong katakan padaku! Di mana Ningsih? Di mana anakku, Amel? Kenapa rumah ini kosong dan terkunci?" kata Mahardika cepat.
"Kamu... kamu benar-benar tidak tahu apa yang terjadi setelah kamu pergi dua tahun lalu, Mahardika?" tanya Kiara dengan suara memelan.
"Tidak tahu! Saya baru saja turun dari gunung hari ini! Tolong katakan, Bu! Di mana keluarga saya?!" tegas Mahardika, memegang bahu Kiara dengan gemetar.
Kiara menghela napas panjang, mengibaskan tangannya seraya menatap Mahardika dengan tatapan prihatin.
"Dua bulan setelah kamu pergi malam itu, Ningsih membawa Amel pergi meninggalkan desa ini," kata Kiara perlahan.
"Pergi? Pergi ke mana?!" kata Mahardika, dadanya terasa sesak seolah dihantam batu besar.
"Dia dibawa oleh keluarga kaya dari kota. Kabar yang beredar di kampung... Ningsih sudah menikah lagi dengan seorang pria pengusaha kaya karena mengira kamu sudah mati di hutan Merapi. Dan anakmu, Amel... dia di letakka di panti asuhan!"
DEG!
Kata-kata Kiara bagaikan petir di siang bolong yang menghantam tepat di dada Mahardika.
"Menikah lagi...? Tidak... Tidak mungkin! Ningsih sangat mencintaiku! Dia berjanji akan menungguku di sini sampai aku sembuh! Dia tidak mungkin mengkhianatiku!" kata Mahardika dengan suara tercekat.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, Mahardika. Tapi itulah kenyataannya. Seorang wanita sendirian merawat anak dua tahun tanpa suami dan tanpa uang... mana sanggup dia bertahan? Pas ada orang kaya yang melamar dan berjanji menanggung hidupnya, ya jelas saja dia terima!" potong Kiara.
Mahardika mengepalkan tangannya rapat-rapat sampai buku-buku jarinya memutih. Teringat kembali kata-kata gurunya di dalam gua tadi: 'Jangan terkejut dengan apa yang akan terjadi pada keluargamu...'
Ternyata, inilah takdir pahit yang dimaksud oleh sang Guru!
"Di mana mereka sekarang, Bu Kiara? Apa ibu tahu di mana pantinya?" tanya Mahardika cepat.
"Alamatnya di jalan akasia, nomor 30," kata Buk Kirana.
"Terima kasih buk." Mahardika langsung berlari dengan kecepatan penuh dengan kaki terlatih, karena selain berlatih ilmu pengobatan, ia juga berlatih bela diri.
Sesampainya di panti, alangkah terkejutnya ia, karena ada 2 buah mobil ambulan dan keadaan terlalu panik.
"Cepat-cepat! Bawa Anak-anak ke dalam mobil ambulans!" teriak seorang wanita panik sambil menangis.
Anak-anak yang lemas pun di bawa masuk ke dalam ambulan. Mahardika yang sedang berdiri tidak jauh itu, ia pun mendekat.
"Kenapa dengan anak-anak buk?" tanya Mahardika.
"Anak-anak keracunan makanan, Mas!" jawab ibu itu sambil terisak.
Mahardika tidak tinggal diam, matanya berkilas keemasan dan melihat dengan mata tembus pandangnya, ternyata anak-anak bukanlah keracunan makanan biasa, melainkan sengaja di racun, karena racun itu adalah racun hitam yang di fermentasi selama 1000 hari.
Racun yang miliki saya racun kuat, karena apa bilang di di sembuhkan secepatnya, orang tubuh akan hancur. Entah mungkin pemikiran panti ini ada bersinggungan dengan orang besar mana.
"Buk, racun ini bukan racun biasa, saya tak yakin jika rumah sakit besar bisa menyembuhkan anak-anak, karena jika di biarkan dalam waktu 24 jam, nyawa anak-anak tidak bisa tertolong," kata Mahardika menawarkan bantuan.
"Jadi apa yang harus saya lakukan!" kata ibu itu panik semakin kuat.
"Karena saya ada di sini, maka saya bisa menyembuhkannya. Lagian, saya sedang mencari anak saya di sini, sekalian saya akan menyelamatkan anak-anak sebelum 24 jam," kata Mahardika penuh keyakinan.