Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.
Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.
Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Matahari tengah hari menghantam tanpa ampun halaman utama kampus, mewarnai ubin-ubin kelabu dengan putih yang menyilaukan. Udara berbau kertas tua, kopi tumpah, dan keringat muda. Di antara gumaman mahasiswa dan dengung mesin pemotong rumput di kejauhan, Zaira berjalan cepat, buku-bukunya didekap erat ke dada, pandangannya terpaku ke tanah seolah dengan begitu ia bisa menjadi tak kasatmata.
Pesan dari Tatiana ia biarkan tak terbalas; ia belum sudi mendengar permintaan maaf palsunya.
Panas menyesakkannya, tapi yang paling membebani adalah perasaan bahwa seseorang membuntutinya. Getar dingin merambati punggungnya sebelum ia mendengar suara yang paling ia takuti saat itu.
"Zaira..." panggil suara perempuan, nyaris hanya bisikan tegang di tengah keriuhan.
Ia berhenti mendadak. Ia memejamkan mata sejenak, berharap tak mendengarnya, tapi jantungnya, si pengkhianat, sudah berdebar keras.
Ketika ia berbalik, ia melihatnya. Tatiana, berdiri beberapa meter darinya, mengenakan jin robek, blus pendek yang memperlihatkan pusar, dan kacamata besar yang tak sanggup menyembunyikan kegugupan pada sikap tubuhnya. Ia mengunyah permen karet dengan kompulsif, kakinya sedikit gemetar.
"Mau apa kamu?" tanya Zaira dengan suara datar, mengeraskan raut wajah untuk melindungi diri.
Tatiana mendekat, menyibakkan sejumput rambut pirang dari wajahnya dengan tangan yang gemetar.
"Cuma... aku mau bicara," ia tergagap, menurunkan suaranya saat semakin dekat. "Kamu sebenci itu padaku? Seburuk itukah pria itu memperlakukanmu?"
Zaira merasa seolah seember air es tumpah di atas kepalanya. Bibirnya bergetar sedetik sebelum ia mengatupkannya kuat-kuat. Ia ingin berteriak, memuntahkan semua rasa sakit, tapi tenggorokannya tercekat. Alih-alih kata-kata, yang datang justru gambaran-gambaran: lampu klub yang berkedip, napas asam orang-orang tak dikenal, tangan Leonardo yang mencengkeramnya, rasa logam ketakutan di lidahnya.
Gigil tak sengaja menjalari tubuhnya, dan kulitnya meremang di balik kaus murahannya.
Tatiana menyadarinya. Ia melepas kacamata hitamnya, menyingkap sepasang mata cokelat tempat berkilau campuran rasa bersalah dan kelicikan.
"Lihat, kan?" gumamnya sambil memiringkan senyum. "Tidak seburuk itu... Kamu bukan satu-satunya, Zaira. Cuma satu malam. Kamu bisa mendapatkannya lagi... tapi kali ini lebih baik." Ia sedikit membungkuk, menurunkan suara hingga menjadi bisikan yang menggoda. "Pikirkanlah. Seperti sugar daddy. Kamu takkan pernah kekurangan uang."
Zaira mengerjap, ngeri.
"Apa... apa yang kamu katakan?" serunya dengan suara rendah, merasakan amarah mendidih di pembuluh darahnya. "Aku bukan pelacur, Tatiana! Aku tidak mau hidup seperti itu!"
Beberapa mahasiswa yang lewat menoleh, penasaran. Zaira menurunkan nada suaranya, tapi matanya memancarkan bunga api.
Tatiana mengembuskan napas, mengangkat bahu dengan sikap tak acuh yang dibuat-buat.
"Ini bukan hidup seperti itu," katanya sambil mengibaskan tangan asal-asalan. "Ini memanfaatkan apa yang kamu punya. Wajah cantik, tubuh yang dia suka... kamu bisa meraup keuntungan. Lebih baik begitu daripada menyiksa diri menyajikan kopi demi gaji recehan."
Kata-kata itu menancap pada Zaira bagai anak panah beracun. Ia menunduk ke sepatu tuanya, merasa kemelaratan hidupnya menghimpitnya, beban demi beban. Rutinitas yang melelahkan, kemiskinan, ketidakberdayaan menyaksikan ibunya menua sebelum waktunya.
Tapi pada saat yang sama, ada sesuatu di dalam dirinya yang memberontak. Ia tak menginginkan jalan itu. Ia tak mau menjadi seperti Tatiana, tersesat dalam dunia kotor penuh pesta, lelaki, dan uang haram.
Namun...
Bayangan Leonardo menyusup ke benaknya, si pengkhianat. Wajahnya yang muram, mulutnya yang menyusuri kulitnya, tangan besarnya yang menjebaknya, yang melahapnya. Dan untuk pertama kali, tanpa kabut alkohol, jantungnya berdebar oleh sesuatu yang tak berani ia sebut sebagai hasrat, tapi juga bukan sekadar rasa takut.
"Pikirkanlah," Tatiana mengulang sambil melangkah mundur, tahu benih itu telah tertanam. "Kabari aku."
Ia mengenakan lagi kacamata hitamnya, berputar di atas tumit, lalu menjauh, meninggalkan gema hak sepatunya yang beradu dengan trotoar yang panas.
Zaira terpaku di tempatnya, buku-buku jari memutih karena begitu erat mendekap buku-bukunya ke dada. Tangannya gemetar, bukan hanya oleh dingin, tapi oleh amarah yang tertahan. Ia merasa kulitnya membara sementara di dalam sebuah suara terus mengulang, tegas meski patah.
"Aku bukan pelacur," gumamnya di sela gigi, nyaris tak terdengar, seolah dengan mengucapkannya keras-keras ia bisa memeteraikan kebenaran itu di dadanya.
Ia mengulanginya berkali-kali, seperti doa suci, seperti mantra putus asa yang mencegahnya runtuh. Tapi tiap kata menancap di tenggorokannya bagai serpihan kayu, mengeringkan mulutnya dan mengaburkan matanya.
Hari berlanjut dengan acuh tak acuh. Di ruang kelas, suara dosen dan teman-temannya hanya dengung jauh, seakan ia tenggelam di bawah air. Catatan menumpuk di hadapannya, tapi huruf-huruf menari tanpa makna. Pulpennya meluncur canggung di atas kertas, meninggalkan coretan-coretan hampa, noda tinta, dan kecemasan.
Kafe berbau minyak basi, kopi yang dipanaskan ulang, dan keputusasaan. Zaira mencuci cangkir dengan tangan memerah oleh air panas dan sabun murahan. Uap mengaburkan kaca jendela yang retak dan menempel di rambut serta kulitnya bagai lapisan kedua kelelahan. Tiap kali dentang oven berbunyi, perutnya melilit. Tiap kali ia mendengar tawa lelaki, ia merasa ada bayangan merambati punggungnya.
Namun begitu, gagasan itu terus kembali. Gigih. Beracun. Bagai duri yang tertancap dalam pikiran.
Menemuinya lagi?
Bukan untuk menjual diri. Bukan untuk menyerahkan diri. Itu ia tegaskan berulang kali pada dirinya, mengatupkan gigi hingga sakit.
Ia ingin menghadapinya. Ia ingin membalas tatapannya tanpa menundukkan mata. Ia ingin mengatakan, jelas dan tegas, bahwa ia bukan benda. Bahwa ia tak bisa dibeli. Bahwa mereka tak bisa mengotori sedikit yang tersisa padanya: martabatnya.
Malam itu, dalam perjalanan pulang ke rumah kecilnya, udara terasa pekat, jenuh oleh asap kendaraan dan kelembapan. Ia masuk, membanting pintu, dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur reyot di atas lantai. Baunya debu, baunya kesepian.
Ia mendekap bantal ke dada agar tak mendengar tetesan air yang terus-menerus dari kebocoran kamar mandi, suara yang menghantam kepalanya tiap malam seakan mengejek hidupnya. Lewat jendela yang nyaris hanya tertutup tirai lusuh, cahaya redup dari tiang lampu jalan menerobos masuk. Siluetnya tergambar bergetar di dinding.
Jantungnya berdebar keras, seakan hendak melarikan diri. Seakan meramalkan sesuatu yang belum bisa ia namai.
"Aku harus pergi," bisiknya kepada langit-langit yang retak.
Bukan hanya demi dia. Ini demi dirinya sendiri. Ia perlu menegaskan bahwa dirinya tak dijual.
Namun begitu, jauh di lubuk hati, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tak ingin ia akui. Sebuah arus listrik, berbahaya, penuh harap.
Apakah itu rasa takut? Amarah? Atau keinginan mengetahui siapa lelaki itu sebenarnya?
Ia memejamkan mata kuat-kuat, seolah bisa memadamkan pikiran itu dengan kegelapan. Tapi bahkan kepekatan kamarnya pun terasa berat malam itu. Pekat. Sarat firasat yang menghimpit dadanya.