Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap Yang Berbalik Senjata
Lusa sore pun tiba. Usai jam kuliah terakhir selesai, Kirana melangkah bersama Dewi dan tiga rekan kelompoknya—Satria, Reno, dan Galang—menuju area kos tempat tinggal Dewi yang terletak tidak jauh dari gerbang belakang kampus.
Tanpa sedikit pun kecurigaan di benak Kirana, Dewi sebenarnya telah menerima perintah dan sebuah botol kecil berisi obat penenang dosis kuat dari Arsyila. Arsyila, yang terbutakan oleh dendam dan rasa iri, bertindak sangat gegabah. Ia bermaksud menjatuhkan Kirana dengan skenario keji melibatkan ketiga mahasiswa itu. Namun, Arsyila sama sekali tidak menyadari betapa kejam dan mengerikannya pembalasan yang akan dihadapi siapa pun jika sampai menyentuh Kirana—istri sah dari seorang Rian Wijaya.
Setibanya di kamar kos Dewi yang cukup luas, mereka segera membeberkan beberapa buku tebal dan laptop di atas meja rendah.
"Kalian pasti haus, kan? Aku ambilkan minum dulu ya," ujar Dewi ramah seraya melangkah ke dapur kecil di sudut ruangan.
Di balik sekat dapur, dengan tangan sedikit gemetar, Dewi meneteskan obat tidur tersebut ke dalam gelas jus milik Kirana. Namun karena terburu-buru dan takut ketahuan, Dewi tidak menuangkan dosis dengan benar—ia hanya mencampurkan sedikit saja.
Saat gelas disajikan, Kirana yang merasa haus meminum jus tersebut. Namun baru dua tegukan kecil, rasa aneh di tenggorokannya membuat Kirana langsung menghentikan minumannya.
Beberapa menit berlalu, rasa pusing yang hebat mendadak menyerang kepala Kirana. Pandangannya mengabur, dan tubuhnya terkulai lemas di atas karpet.
"Bagus, obatnya reaksi!" bisik Dewi pada Satria, Reno, dan Galang.
Melihat Kirana tak berdaya, Satria dan dua temannya yang telah terhasut oleh bayaran dan provokasi Arsyila mulai mendekat dengan niat buruk. Namun, takdir berkata lain. Berkat takaran obat yang sangat sedikit dan naluri bertahan hidup Kirana yang begitu kuat dari pengalaman hidupnya yang keras, rasa pusing melanda tidak sampai membuatnya pingsan total.
Di saat tangan Satria hendak menyentuh bahunya, kesadaran Kirana terkumpul seketika. Mata jernihnya terbuka lebar, dipenuhi rasa syok dan amarah yang membara.
"Jangan sentuh aku!" teriak Kirana seraya menyapu kesadarannya dengan paksa.
Dengan sisa tenaga dan refleks yang cepat, Kirana membalikkan badan. Sebelum Satria sempat bereaksi, jemari Kirana menyambar sebuah vas bunga keramik tebal yang berada di atas meja rendah di sampingnya.
PRANG!
Tanpa ragu sedikit pun, Kirana menghantamkan vas bunga tersebut tepat ke arah Satria. Dentuman keras bergemuruh di dalam ruangan, membuat vas pecah berkeping-keping dan Satria mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya yang bersimbah darah.
Reno, Galang, dan Dewi seketika membelalak ketakutan, membeku melihat perlawanan sengit yang sama sekali tak mereka duga dari gadis yang mereka kira lemah itu. Dengan napas terengah-engah dan mata memancarkan aura keberanian yang tajam, Kirana berdiri tegap menggenggam salah satu pecahan keramik tajam, siap merobohkan siapa saja yang berani mendekatinya.
"Pegang dia! Reno, Galang, tahan tangannya!" jerit Dewi panik seraya memegangi sudut matanya yang syok melihat Satria tersungkur di lantai sambil mengerang kesakitan.
Reno dan Galang yang tadinya ragu-ragu kini terdesak oleh situasi. Merekai maju bersamaan mencoba merangsek maju untuk mengunci kedua lengan Kirana. Reno berhasil menyambar pergelangan tangan kanan Kirana dengan cengkeraman kuat, sementara Galang menahan lengan kirinya, menekan tubuh Kirana ke arah dinding.
"Lepaskan aku!" bentak Kirana, matanya berkilat penuh amarah. Rasa pusing sisa obat tidur itu masih berputar di kepalanya, tetapi naluri bertahan hidup yang ia tempuh selama bertahun-tahun hidup mandiri di panti asuhan membuat tubuhnya bereaksi jauh lebih cepat dari dugaan mereka.
Melihat Kirana tertahan, Dewi melangkah mendekat dengan wajah bengis. "Jangan harap kamu bisa lolos dari sini, Kirana!" desis Dewi seraya mengulurkan tangan hendak mencengkeram rambut Kirana.
Namun, Dewi lupa bahwa meski kedua tangan Kirana terkunci, kakinya masih bebas.
Dengan satu gerakan refleks yang tajam dan bertenaga, Kirana mengangkat kaki kanannya lalu menendang perut Dewi dengan dorongan yang sangat keras!
BAM!
"Aagh!"
Dewi menjerit kesakitan saat ujung sepatu Kirana mendarat telak di ulu hatinya. Tubuh Dewi terlempar mundur hingga membentur meja belajar dan jatuh terduduk di lantai, meringis memegangi perutnya yang terasa mual dan sangat sakit.
Melihat Dewi tersungkur, dorongan adrenalin Kirana makin memuncak. Ia memanfaatkan kepanikan Reno dan Galang yang terkejut melihat serangan mendadak itu. Kirana menarik napas dalam, lalu menghentakkan tumit sepatunya keras-keras tepat di atas kaki Reno.
"Aduh!" Reno meringis kesakitan dan refleks melepas cengkeramannya.
Seketika itu juga, Kirana memutar tubuhnya dan menyikut rahang Galang hingga pemuda itu melepaskan pegangannya seraya melangkah mundur memegangi wajahnya.
Bebas dari cengkeraman, Kirana tidak membuang waktu satu detik pun. Ia menyambar tas selempangnya di atas lantai, menerobos melewati Dewi yang masih meringis, lalu membuka pintu kamar kos dengan sentakan keras dan berlari keluar menuju koridor.