📍Update 🚥 16 : 16 WIB
Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?
❣️ I write what I want to write. ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 - The Day We Meet Again
Dua belas tahun telah berlalu sejak aku mengetahui kenyataan pahit itu.
Setelah itu, Liam mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, aku sudah tidak ingin mendengar apa pun darinya.
Bagiku, apa yang kudengar saat itu adalah kenyataan. Apa pun yang Liam jelaskan tidak akan mengubah fakta bahwa hubungan kami berawal dari sebuah taruhan.
Setelah kejadian itu, sisa satu tahun terakhirku di SMA kuhabiskan untuk belajar. Aku ingin melanjutkan kuliah di ibu kota dan meninggalkan semua kejadian itu di Semarang. Aku tidak ingin bertemu dengan Liam lagi.
Keinginanku itu akhirnya terwujud. Aku diterima di salah satu universitas di ibu kota. Akhirnya, aku bisa meninggalkan Semarang dan semua kejadian yang ingin kulupakan.
Sementara Liam, yang kudengar, tetap tinggal di Semarang. Dia tidak ingin meninggalkan neneknya.
Sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.
Kini aku bukan lagi remaja kelas sebelas. Aku sudah menjadi wanita dewasa berusia dua puluh sembilan tahun dan bekerja di Imajinasi Creative, salah satu agensi kreatif di ibu kota.
Pagi itu, setelah mendengar suara alarm, aku terbangun di kamar apartemenku.
Apartemenku bukan apartemen mewah, tetapi cukup nyaman. Yang terpenting, biaya sewanya tidak terlalu menguras gajiku setiap bulan.
Aku bangun lalu meregangkan kedua tanganku.
Aku menyemangati diriku sendiri untuk menjalani hari ini, meskipun hari ini adalah hari Senin.
Aku langsung keluar kamar dan menuju kamar mandi.
Setelah mandi, aku kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan merias diri.
Setelah memastikan penampilanku sudah rapi, aku mengambil tas dan ponselku, lalu menuju dapur. Aku mengambil beberapa lembar roti tawar, selai, dan segelas air.
Hampir setiap pagi aku hanya sarapan roti karena sederhana dan praktis.
Aku kemudian duduk di meja makan dan menghabiskan sarapanku. Setelah selesai, aku mencuci gelas, lalu keluar dari apartemen.
Aku masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai satu. Sementara lift turun, aku memesan ojek online.
Tak lama kemudian, lift berhenti di lantai satu. Aku langsung keluar dan menuju depan apartemen untuk menunggu ojek online yang kupesan.
Beberapa saat kemudian, ojek online-ku tiba.
Jalanan pagi itu cukup ramai dan di beberapa titik sempat mengalami kemacetan. Untungnya, kemacetan itu tidak lama sehingga aku bisa melanjutkan perjalananku.
Setelah cukup lama melewati jalanan ibu kota, akhirnya aku sampai di kompleks perkantoranku. Setelah melepas helm dan membayar ongkos, aku langsung masuk ke gedung.
Kantorku berada di salah satu lantai di gedung tersebut.
Begitu memasuki lobby, aku melihat Aldi, teman satu divisi, sedang berdiri bersama beberapa orang di depan lift.
Rasanya aku masih canggung setiap kali bertemu dengannya.
Pasalnya, beberapa hari yang lalu Aldi menyatakan cinta kepadaku, tetapi aku tidak bisa membalas perasaannya.
Kenangan masa lalu masih menghantuiku. Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun sampai menemukan laki-laki yang benar-benar bisa kupercaya.
Dan orang itu bukan Aldi.
Dengan terpaksa, aku berjalan menuju lift.
“Hai, Elle...” sapa Aldi.
“Hai...” jawabku canggung.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Orang-orang mulai masuk. Aku dan Aldi masuk paling akhir sehingga kami berdiri di bagian depan dan berdampingan.
Begitu masuk ke dalam lift, aku langsung menekan tombol lantai tujuan, lalu diam menatap pintu lift yang perlahan tertutup.
Lift mulai bergerak naik.
Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka di lantai kantorku. Aku langsung keluar, diikuti Aldi yang menyusul di belakangku.
“Pagi, Elle,” sapa Risa yang sedang berada di meja resepsionis.
“Pagi, Sa...” jawabku sebelum berbelok ke kiri menuju area divisi.
Aku terus berjalan, sementara Aldi masih mengikutiku dari belakang.
Begitu sampai di divisi kami, Account Department, aku langsung masuk setelah melewati pintu otomatis.
“Pagi...” sapaku.
Aldi yang berjalan di belakangku ikut masuk.
“Pagi...” sapa beberapa orang hampir bersamaan.
“Eh, Ibu Peri udah datang,” ucap Mona, sahabatku.
Sejak kami berteman saat kuliah, Mona memang memanggilku Ibu Peri. Katanya, itu karena namaku, Elfiana, mengandung kata elf yang berarti peri. Panggilan itu terus melekat sampai sekarang.
“Lho, kalian bareng?” tanya Nino.
“Iya, nih. Ada apa nih? Apa jangan-jangan udah jadian?” goda Rendi.
Aku tidak memedulikan ucapan Rendi dan langsung duduk di mejaku yang berada di sebelah meja Mona.
Aldi juga melakukan hal yang sama.
“Lah, kok malah langsung duduk, sih?” Rendi masih menggoda.
“Udah, Ren. Jangan godain mereka terus. Kita bukan remaja lagi,” tegur Bintang.
“Apa sih, Patrick? Ikut-ikutan aja,” balas Rendi.
Bintang langsung mengepalkan kedua tangannya.
Dia memang tidak suka dipanggil seperti itu.
“Udah, Bi... sabar, sabar,” ucap Mona.
Bintang menghela napas panjang.
Tak lama kemudian, Doni, Account Director kami, datang.
“Pagi, semuanya...” sapanya.
“Pagi, Mas...” jawab kami hampir bersamaan.
Setelah itu, kami kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.
Hingga menjelang siang, Rio dari divisi Business Development datang menghampiri kami.
“Mas Rio?” Doni langsung mendekatinya. “Ada apa, Mas?”
“Dengarkan semuanya,” ucap Rio.
Aku dan yang lainnya langsung mengalihkan perhatian kepada Rio.
“Kita dapat proyek baru dari Adinata Food,” ucapnya.
“Adinata Food?” gumam Mona. Kemudian dia mendekat ke arahku. “Perusahaannya Kak Davin, Elle.”
Aku mengangguk.
“Tadi pihak Adinata Food menghubungi kita untuk produk terbaru mereka. Mereka ingin mempercayakan pembuatan iklannya kepada Imajinasi Creative,” jelas Rio.
Kami semua mengangguk.
“Lalu mereka meminta kita datang ke sana untuk berdiskusi. CEO-nya ingin berdiskusi langsung dengan kita, tetapi karena beliau sibuk dan tidak bisa datang ke sini, mereka meminta kita yang datang ke sana nanti siang setelah jam makan siang,” jelas Rio.
Kami semua langsung saling pandang.
Pasalnya, biasanya kalau ada klien yang membutuhkan jasa kami, mereka yang datang ke kantor untuk berdiskusi. Namun, kali ini justru kami yang harus mendatangi kantor klien.
“Mas Doni, tolong diatur nanti siapa saja yang akan ke sana,” ucap Rio.
“Siap, Mas,” jawab Doni.
Rio pun meninggalkan divisi kami.
Doni kemudian menatap kami semua.
“Dengar, kan? Kita harus ke kantor Adinata Food.”
“Mas...” ucap Mona sambil mengangkat tangan.
Doni menatapnya.
“Biar aku yang ke sana. Aku sama Elle,” ucap Mona bersemangat.
Aku langsung menoleh ke arahnya.
“Kenapa kamu kayaknya semangat banget?” tanya Doni.
“Soalnya pacarku kerja di Adinata Food,” jawab Mona.
“Serius, Mon? Kerja di bagian apa?” tanya Rendi.
“Sekretaris CEO.”
“Lho, bukannya biasanya sekretaris CEO itu cewek, ya?” tanya Bintang.
“Iya, bener,” timpal Nino.
“Tapi CEO-nya memang maunya sekretarisnya cowok,” jawab Mona.
“Jangan-jangan CEO-nya nggak suka cewek dan malah suka sama pacar kamu, Mon,” goda Rendi.
Nino langsung tertawa.
“Heh!” Mona terlihat kesal.
“Udah, udah...” Doni segera menghentikan mereka.
Kami pun kembali diam.
“Untuk yang ke Adinata Food itu Elle sama...” Doni berhenti sejenak sambil melihat ke arah kami.
Aku sudah mengangguk kecil, mengira Doni akan memilihku bersama salah satu rekan kerja yang lain.
“Mas...” Mona kembali mengangkat tangannya.
“Nggak, nggak. Nanti kamu malah nggak fokus kerja. Lihat-lihat pacar kamu terus,” potong Doni.
“Aku bisa fokus kerja, kok,” bantah Mona.
“Nggak. Yang pergi Aldi aja.”
Aku langsung terkejut.
Oh, tidak!
“Cie...” seru Rendi dan Nino hampir bersamaan.
“Mas Doni tahu aja, nih,” tambah Rendi.
Aku menghela napas pelan.
“Mas, aku sama Bintang aja,” usulku.
“Nggak. Kamu sama Aldi aja. Urusan pribadi kalian jangan dicampur sama pekerjaan,” tegas Doni.
Aku hanya bisa menghela napas.
Kenapa harus Aldi?
Siang harinya, setelah makan siang, aku dan Aldi menuju Adinata Food menggunakan mobil kantor.
Aldi yang menyetir.
Sepanjang perjalanan menuju Adinata Food, kami hanya diam. Aku tidak tahu apa yang harus kami bicarakan. Sejak dia menyatakan perasaannya kepadaku, rasanya aku menjadi canggung setiap kali harus berbicara dengannya, kecuali jika menyangkut pekerjaan.
Beberapa saat kemudian, kami sampai di Adinata Food.
Di depan gedung, kami berhenti sebentar di pos security. Seorang satpam menanyakan tujuan kami. Setelah mengetahui kami datang untuk meeting dengan pihak Adinata Food, dia menyarankan kami untuk memarkirkan mobil di basement, kemudian naik ke lantai satu.
Kami pun mengikuti arahan satpam tersebut.
Setelah lift terbuka di lantai satu, aku dan Aldi langsung menuju meja resepsionis.
“Selamat siang. Kami dari Imajinasi Creative. Kami ada janji meeting dengan Pak CEO,” ucapku.
“Baik. Tunggu sebentar,” jawab resepsionis.
Dia kemudian menghubungi seseorang melalui telepon.
“Silakan tunggu sebentar. Nanti sekretaris Pak William akan menjemput Anda,” ucapnya setelah menutup telepon.
Aku mengangguk.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka.
Seorang pria yang kukenal keluar dari dalamnya.
Davin.
“Elle...” panggil Davin sambil berjalan mendekat.
“Halo, Pak Davin,” sapaku.
Davin mengernyitkan dahi.
“Kalian berdua saling kenal?” tanya Aldi.
“Iya,” jawab Davin.
“Pak Davin ini seniorku waktu kuliah,” jelasku.
Aldi mengangguk.
“Ya sudah, ayo. Kita ke ruang Pak William,” ucap Davin.
Kami bertiga kemudian masuk ke dalam lift.
“Saya tidak menyangka yang datang ke sini ternyata kalian,” ucap Davin.
“Apakah Bapak berharap yang datang ke sini itu Mona?” tanyaku.
Davin tersenyum.
Aldi kemudian mendekat ke arahku dan berbisik.
“Jadi, ini pacarnya Mona?”
Aku mengangguk.
Tak lama kemudian, lift terbuka.
Kami bertiga keluar dari lift. Aku dan Aldi mengikuti Davin hingga kami sampai di meja kerjanya yang berada tepat di depan ruang CEO.
Davin kemudian mengetuk pintu.
“Masuk,” ucap seseorang dari dalam ruangan.
Saat mendengar suara itu, entah kenapa aku merasa seperti pernah mendengarnya.
Suara itu terasa familiar.
Namun, aku tidak mengingatnya.
Davin membuka pintu.
“Pak, pihak dari Imajinasi Creative sudah datang,” ucap Davin.
“Suruh masuk,” jawab suara dari dalam.
Davin kemudian membuka pintu lebih lebar.
“Silakan masuk.”
Aku pun masuk lebih dulu.
Namun, baru beberapa langkah aku masuk, langkahku langsung terhenti.
Betapa terkejutnya aku dengan apa yang kulihat.
Seorang laki-laki duduk di kursi CEO.
Liam.
Aku membeku.
Laki-laki yang selama beberapa tahun ini tidak pernah lagi kutemui.
Laki-laki yang selama ini berusaha kulupakan.
Kini duduk di hadapanku sebagai CEO Adinata Food.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Mengapa Tuhan mempertemukanku kembali dengan laki-laki itu?
