Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Brak.
Pria itu membanting tubuh Tata ke aspal jalanan dengan sangat kasar tanpa belas kasihan sedikit pun.
Tata terbatuk keras memuntahkan udara dari paru-parunya karena punggungnya menghantam aspal yang keras.
"Bawa dia masuk ke mobil sekarang sebelum ada warga yang melihat kita di jalanan ini," perintah pria berambut pirang dari dekat pintu van.
Tata meronta sekuat tenaga dan menendang lutut pria plontos itu untuk melepaskan diri dari cengkeraman.
Bugh.
Tendangan itu berhasil membuat pria plontos itu mundur selangkah karena keseimbangannya terganggu.
Tata buru-buru bangkit berdiri dengan nafas tersengal-sengal menahan rasa sakit di punggungnya.
"Kamu tidak akan bisa membawaku hidup-hidup dari tempat ini," teriak Tata mengelap sedikit darah di sudut bibirnya.
"Kalau begitu kami akan membawamu dalam keadaan patah tulang saja agar lebih mudah diangkut," jawab pria berambut pirang sambil menarik sebuah tongkat besi dari pinggangnya.
Trak.
Tongkat besi itu memanjang secara otomatis saat dikibaskan dengan keras oleh pemiliknya.
Pria pirang itu menerjang maju dengan kecepatan yang sangat jauh berbeda dari temannya tadi.
Syuuut.
Ayunannya begitu cepat hingga Tata hanya sempat menyilangkan kedua lengannya di depan dada untuk menangkis.
Krak.
Tongkat besi itu menghantam tulang lengan bawah Tata dengan suara retakan yang sangat mengerikan terdengar.
"Aaaaargh!" jerit Tata menangis karena rasa sakit yang luar biasa menyiksa tangannya seketika.
Gadis tomboy itu jatuh berlutut sambil memegangi lengan kirinya yang kini terkulai lemas karena patah tulang.
Semua kebanggaannya sebagai pemimpin perguruan bela diri hancur lebur di jalanan aspal sore ini.
Di saat yang bersamaan, di dalam rumah mewah Nisa.
Jarot berjalan keluar dari kamar mandinya sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil.
Ia melangkah menuju ruang keluarga dan melihat Melly sedang panik menatap layar laptopnya dengan wajah pucat.
"Ada apa Mbak Melly? Komputermu kena serangan virus lagi dari hacker luar?" sapa Jarot santai mendekati sofa.
Melly menengadah menatap Jarot dengan bibir bergetar hebat dan air mata yang sudah menggenang.
"Jarot... Kak Tata kabur keluar dari rumah lewat pintu belakang," lapor Melly dengan suara putus asa.
Mata Jarot yang tadinya malas langsung berubah menjadi sangat tajam dan kelam dalam sekejap mata.
"Di mana dia sekarang?" tanya Jarot dengan nada suara rendah yang luar biasa menakutkan.
"Dia sedang dikeroyok oleh dua pria asing di jalan raya dua blok dari sini," jawab Melly memutar layar laptopnya agar Jarot bisa melihat rekaman CCTV jalanan.
Di layar itu, terlihat Tata sedang berlutut memegangi tangannya yang patah di depan dua pria asing berbadan raksasa.
"Aku sudah melarangnya keluar rumah, tapi gadis tomboy itu memang sangat keras kepala dan suka mencari mati," geram Jarot meremas handuk di tangannya.
Jarot langsung membuang handuk itu dan berlari menuju kamarnya untuk mengambil jaket kulit hitam kesayangannya.
Ia menyelipkan dua buah pistol rampasan ke bagian belakang celananya dengan gerakan sangat cepat.
"Mbak Lyly, kunci semua pintu rumah dari dalam dan jangan biarkan siapa pun masuk sampai aku kembali," perintah Jarot kepada Lyly yang baru turun dari tangga.
"Kamu mau ke mana, Jarot?! Wajahmu menyeramkan sekali sore ini," tanya Lyly kebingungan melihat aura membunuh Jarot yang tumpah ruah.
"Aku mau memungut anak singa nakal yang sedang dipukuli anjing liar di trotoar jalanan," jawab Jarot sebelum melesat keluar lewat pintu depan.
Brak.
Pintu utama tertutup dengan sangat keras meninggalkan Lyly dan Melly berdua dalam ketakutan yang luar biasa di dalam rumah.
Kecepatan lari Jarot saat itu benar-benar tidak bisa dipercaya oleh mata manusia normal mana pun.
Pria itu melompati pagar depan rumah yang tinggi tanpa perlu menyentuh besi ujungnya sama sekali.
Wusss.
Jarot berlari menyusuri trotoar jalan raya bagaikan bayangan hitam pembawa maut yang sedang mencari mangsa.
Setiap pijakan kakinya di atas aspal terasa sangat ringan namun menghasilkan daya dorong yang luar biasa mematikan.
Di lokasi kejadian, pria berambut pirang sedang menjambak rambut Tata dengan kasar untuk memaksanya berdiri.
"Jalan masuk ke mobil sekarang, gadis kecil yang sombong," ancam pria itu menodongkan ujung tongkat besinya ke leher Tata.
Tata hanya bisa menangis pasrah menahan rasa nyeri yang berdenyut hebat di tangannya yang patah.
Ia sangat menyesali kebodohannya yang tidak mau mendengar peringatan Jarot untuk tetap diam di rumah.
"Tolong aku, Jarot," batin Tata memanggil nama pengawalnya itu dengan penuh keputusasaan di dalam hati.
"Jangan harap ada pahlawan kesiangan yang akan menolongmu di jalanan sepi ini, Nona," ejek pria plontos yang seolah bisa membaca raut keputusasaan Tata.
Bugh.
Sebuah batu bata merah tiba-tiba melayang dengan kecepatan peluru dan menghantam tepat ke wajah pria plontos tersebut dari arah samping.
"Aargh!" teriak pria plontos itu jatuh terjengkang ke aspal dengan hidung hancur berlumuran darah segar.
Pria berambut pirang terkejut dan langsung menoleh ke arah lemparan batu bata misterius tersebut.
Dari jarak sepuluh meter, Jarot sedang berjalan mendekati mereka dengan langkah pelan namun memancarkan aura yang sangat berat.
Udara sore di sekitar jalanan itu mendadak terasa membeku dan mencekik pernapasan kedua pembunuh bayaran tersebut.
"Lepaskan tangan kotormu dari rambut muridku sekarang juga," ucap Jarot dengan suara pelan yang menggema mengerikan di telinga musuh-musuhnya.
Pria Rusia berambut pirang itu menelan ludahnya karena insting membunuhnya tiba-tiba berteriak ketakutan melihat kedatangan Jarot.
Ia sadar bahwa pria berpakaian biasa yang sedang berjalan mendekat ini adalah monster yang jauh lebih mematikan dari target mereka.
Dan Jarot tidak akan pernah membiarkan mereka kembali ke Rusia dalam keadaan bernafas hari ini.