Tiara Maheswari, 25 tahun, terpaksa menerima tawaran Adrian Wijaya demi membayar pengobatan ibunya. Kesepakatannya sederhana: Tiara memberinya seorang pewaris, sementara Adrian menjadi sugar daddy yang menanggung seluruh kebutuhannya.
Tiara mengira pria matang berusia 35 tahun itu akan selalu tenang dan terkendali. Ia salah besar.
Di balik setelan mahal dan wajah dinginnya, Adrian sangat posesif, pencemburu, dan tak pernah mengenal kata puas di ranjang. Ia memanjakan Tiara dengan vila mewah, kartu tanpa batas, hadiah mahal, serta perlindungan yang membuat siapa pun tak berani menyentuhnya. Namun setiap kemewahan memiliki harga—malam-malam panas yang membuat tubuh Tiara lemas dan hatinya semakin sulit melepaskan diri.
Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Setelah kontrak berakhir, Tiara harus pergi.
Namun ketika pria lain mencoba merebut Tiara, Adrian menariknya kembali ke dalam pelukan dan berbisik,
“Uangku boleh kau habiskan. Tubuhku juga boleh kau nikmati. Tapi jangan pernah berpikir kau bisa meninggalkan sugar daddy-mu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Pria itu perlahan berbalik. Tiara terpaku ketika melihat wajahnya.
Wah, wajah yang tampan sekali!
Wajahnya tegas dan tampan, dengan pembawaan tenang serta berwibawa. Tidak ada kerutan berarti; usianya tampak baru pertengahan tiga puluhan. Jubah tidur berwarna krem membuatnya terlihat santai, tetapi tubuh tinggi, rambut hitam rapi, dan kulit kecokelatannya tetap memancarkan kesan maskulin.
Setiap gerakannya lambat dan anggun. Tatapannya tenang tetapi tajam, menunjukkan kematangan seorang pria dewasa.
Penampilan dan pembawaannya tepat seperti pria yang selama ini disukai Tiara.
Karena tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah, Tiara selalu merasa aman berada di dekat pria yang lebih matang dan perhatian.
Pria ini adalah tipe pria tampan dan anggun yang tidak terlihat tua sama sekali.
Aura pria itu begitu kuat sehingga Tiara menjadi gugup setelah ditatap beberapa saat.
Tak yakin ada kesalahan, dia bicara lebih dulu, "Permisi...apakah Anda Pak Leo?"
Adrian pun mengamatinya. Setelah mengenali wajah Tiara dan memastikan dugaannya benar, senyum tipis perlahan muncul di bibirnya.
Senyum itu begitu samar hingga hampir tidak terlihat.
Wajah Tiara sudah kehilangan sebagian kepolosan masa remajanya. Garis wajahnya kini lebih halus dan tubuhnya tumbuh semakin tinggi.
Namun ia terlalu kurus. Gaun hitam itu semakin menegaskan tubuh ramping dan pinggangnya yang seolah dapat direngkuh dengan satu tangan.
Memikirkan tangisan gadis itu di telepon, ia menatap mata gadis itu dengan sedikit sakit hati.
Apa yang dia alami selama tahun-tahun ketika dia tidak bersamanya?
Matanya yang gelap tampak lelah.
Bayangan gadis yang mengangkat matanya untuk melihatnya sepertinya telah kembali ke masa itu.
Tapi, keanehan di mata gadis itu seolah membuatnya tidak mengingatnya sama sekali?
Dia menjawabnya, "Tidak."
Melihat reaksi terkejutnya, dia menambahkan, “Tetapi sekarang saya membutuhkan seorang wanita untuk memberi saya seorang anak.”
Kepala Tiara Maheswari yang baru saja diturunkan diangkat kembali, dan dia memandang lelaki itu seolah-olah sedang melihat sang penyelamat.
Adrian melirik pinggang Tiara. "Kau terlalu kurus. Aku tidak menyukai wanita yang terlalu kurus."
Ia pernah melihat proses seorang wanita melahirkan dan mengetahui betapa sulitnya seorang wanita melahirkan. Dia sangat kurus, dan dia takut dia tidak akan mampu menahan rasa sakit saat melahirkan.
Tiara takut pria itu akan menolaknya karena tubuhnya terlalu kurus. Ia buru-buru berkata, "Aku suka makan. Aku bisa menaikkan berat badan."
Menurunkan berat badan memang sulit, tetapi menaikkannya tentu lebih mudah.
Jika memiliki cukup uang, ia bisa makan dengan layak setiap hari.
Dengan suara pelan, seolah sedang meyakinkan calon pemberi kerja, ia berkata, "Aku tidak akan mengecewakanmu."
Adrian tersenyum tipis, lalu melirik tempat tidur sebagai isyarat agar Tiara mendekat.
Tiara berbaring dengan jantung berdebar keras. Adrian membuka ikatan jubah tidurnya lalu menindih tubuhnya. Ketika paha pria itu menyentuh bagian paling pribadi di antara kedua kakinya, Tiara mencengkeram seprai dan memejamkan mata karena gugup.
Melihat tubuh Tiara sekaku patung, Adrian tertawa rendah. "Rileks. Kita akan bercinta, bukan berperang." Telapak tangannya mengusap paha perempuan itu perlahan; usapan hangat tersebut sedikit demi sedikit melunakkan tubuh yang tegang.
Kata bercinta membuat telinga Tiara memerah. Napas hangat Adrian menyapu lehernya, lalu bibir pria itu mengecup kulit sensitif di sana. Tiara menggigil dan tanpa sadar mencengkeram bahunya, tubuhnya melengkung mendekat.
Barulah Adrian menarik gaun Tiara ke atas, melepaskannya, lalu membuka pakaian dalamnya satu demi satu. Jemarinya menyusuri kulit yang baru pertama kali disentuh seorang pria, membuat napas Tiara terputus-putus.
Setelah tubuh Tiara terbuka di hadapannya, Adrian baru menyadari bahwa perempuan seramping itu memiliki payudara yang begitu montok dan pinggang yang lembut.
Ia tertegun sesaat melihatnya.
Adrian menangkup salah satu payudaranya, merasakan daging lembut itu memenuhi telapak tangannya. Ibu jarinya mengusap puting Tiara yang menegang, membuat perempuan itu menahan desahan.
Tiara semakin malu ketika menyadari tatapan pria itu. Ia menggigit bibir dan memalingkan wajah.
Adrian menyentuh dagunya dengan lembut. "Kau belum pernah berpacaran sebelumnya?"
Tiara menggeleng dan menjawab jujur, "Belum pernah."
Saat kuliah, Tiara lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja paruh waktu dan membayar biaya pendidikan. Setelah lulus, ia menjadi pegawai di perusahaan kecil dan jarang bertemu lawan jenis. Sifatnya yang tertutup membuat kehidupan cintanya hampir tidak ada.
Pada usia dua puluh lima tahun, ia bahkan belum pernah menggenggam tangan seorang pria.
Adrian merasa lega mendengar jawaban jujur tersebut.
Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang dipercaya Tiara.
Tubuh Adrian yang telah lama menahan hasrat bereaksi keras melihat Tiara telanjang di bawahnya. Penisnya menegang di balik jubah, menekan paha perempuan itu hingga wajah Tiara semakin merah.
Ia menunduk dan melumat bibir Tiara dalam-dalam. Lidahnya menyusup melewati bibir yang gemetar, sementara tangannya terus meremas payudara Tiara dan memainkan putingnya.
Mata Tiara membesar ketika aroma bersih dan napas hangat pria itu memenuhi indranya.
Adrian baru saja mandi. Aroma sabun yang samar membuat Tiara tidak merasa terganggu oleh kedekatan mereka.
Adrian menanggalkan jubah tidurnya dan melemparkannya ke samping. Tubuh pria itu telanjang, kokoh, dan dipenuhi otot yang terlatih; kejantanannya berdiri tegang di antara kedua pahanya.
Tidak ada lemak berlebih pada tubuhnya; garis berbentuk V di bawah perutnya memperlihatkan hasil latihan bertahun-tahun.
Tiara bahkan melihat rambut halus di bagian bawah perutnya. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, tetapi jantungnya justru berdetak semakin cepat.
Ia pernah membaca bahwa pria dengan ciri fisik seperti itu biasanya memiliki gairah dan stamina yang kuat.
Adrian membuka paha Tiara dan menggesekkan ujung penisnya pada celah yang telah basah. Ketika pinggul Tiara terangkat menyambut gesekan itu, ia mendorong masuk perlahan. Rasa penuh dan perih membuat tubuh Tiara menegang; Adrian menahan pinggul beberapa saat, membiarkan dinding tubuhnya menyesuaikan diri dengan ukuran pria itu.
Adrian mengerang rendah di dekat telinganya. Vagina Tiara yang sempit mencengkeram penisnya begitu erat hingga otot perut pria itu menegang menahan kenikmatan.
Ia menarik turun tangan Tiara yang menutupi wajah, lalu mencium pipi merah dan kelopak matanya. Saat ketegangan tubuh perempuan itu berangsur luruh, pinggul Adrian mulai bergerak dalam dorongan panjang dan lambat.
Leher Tiara memerah. Karena tidak tahan ditatap seperti itu, ia kembali menutupi wajahnya.
Dengan suara pelan ia meminta, "Om, bisakah lampunya dimatikan?"
Tiara belum tahu harus memanggilnya apa, sehingga untuk sementara ia tetap menggunakan panggilan 'Om'.
Panggilan lembut itu membuat penis Adrian berdenyut di dalam tubuh Tiara. Tatapannya menggelap, dipenuhi gairah yang semakin sulit ditahan.
Tiara tidak menyadari betapa menggoda wajahnya ketika sedang malu.
Adrian menyukai ekspresi itu, tetapi ia tetap mematikan lampu agar Tiara merasa lebih nyaman.
Dalam kegelapan, setiap sentuhan terasa semakin jelas. Bunyi seprai yang berdesir, napas mereka yang memburu, dan desahan Tiara memenuhi kamar.
Setelah tidak lagi merasa diamati, Tiara perlahan menurunkan tangannya.
Adrian mulai menggerakkan pinggul. Mula-mula pelan, lalu semakin dalam ketika tubuh Tiara melunak menerimanya. Tiara merangkul pinggang pria itu erat-erat, tanpa sadar mengangkat pinggul untuk menyambut setiap dorongan.
Saat rasa perih muncul, Adrian memperlambat gerakannya dan mencium Tiara untuk menenangkan. Jemarinya turun di antara tubuh mereka, membelai bagian paling peka perempuan itu sampai rasa sakitnya perlahan berubah menjadi nikmat.
Gelombang panas menyebar dari bawah perut Tiara. Desahannya semakin nyaring setiap kali Adrian menghujam lebih dalam, dan kukunya mencengkeram punggung pria itu saat kenikmatan yang asing mulai menumpuk.
Entah berapa lama Adrian membawanya naik turun dalam irama yang memabukkan. Tiara akhirnya mengejang dan mencapai orgasme pertamanya sambil memanggilnya dengan suara serak. Namun Adrian belum berhenti; gerakan pinggulnya tetap dalam, membawa Tiara melewati sisa-sisa getaran puncaknya.
Sambil tetap menyatukan tubuh mereka, Adrian menunduk, mengusap rambut Tiara dengan lembut, lalu menarik perempuan itu ke dalam pelukan erat.
Tiara bisa merasakan perhatian dan kelembutannya.
Sikap itu memberinya rasa dihormati dan dilindungi—sesuatu yang selama ini sangat ia rindukan.
Ia semula mengira kesepakatan ini akan merenggut harga dirinya. Tak disangka, Adrian justru memperlakukannya dengan begitu hati-hati.
Perhatian itu hampir membuat hatinya goyah.
Namun perbedaan status di antara mereka mengingatkannya agar tidak berharap terlalu jauh.
Dengan beberapa dorongan terakhir yang kuat, Adrian mengerang dan menumpahkan benihnya jauh di dalam tubuh Tiara. Tiara menatap wajah pria itu saat mencapai pelepasan; rahangnya menegang dan matanya dipenuhi gairah, membuatnya tampak luar biasa memikat.
Lalu mengapa Adrian memilihnya untuk menjadi ibu dari anaknya?
Tiara tidak berani menebak-nebak. Selama Adrian bersedia membantu, itu sudah lebih dari cukup.
Tiara tidak tahu sudah pukul berapa. Pekerjaan berat dan tekanan beberapa hari terakhir membuatnya kelelahan; begitu memejamkan mata, ia langsung tertidur.
Adrian sebenarnya masih belum puas. Kejantanan pria itu kembali menegang saat melihat tubuh telanjang Tiara di sisinya, tetapi wajah perempuan itu terlalu lelah. Ia tidak tega membangunkannya hanya demi memuaskan hasrat sendiri.
Ia menarik tubuhnya perlahan, mengambil tisu, lalu membersihkan sisa cairan di antara paha Tiara dengan hati-hati. Setelah mengecup bibirnya, Adrian menyelimuti tubuh perempuan itu dan masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi, tubuh Adrian masih menyimpan sisa gairah. Ia berjalan ke balkon dan menyalakan sebatang rokok.
Kata-kata kakek yang mengancam terdengar di telinganya sepanjang hari, dan dia sedikit mengernyit.
Dia tidak pernah membicarakan pacarnya, dan kakeknya telah memaksanya menikah dalam dua tahun terakhir.
Dia melihat ke tempat tidur di dalam, senyum penuh kasih sayang terlihat di matanya yang dalam.
Dia muncul pada waktu yang tepat!
Karena kakek sangat ingin menggendong cicitnya, dia akan memenuhi keinginannya.