NovelToon NovelToon
Komandan Galak Itu, Suamiku

Komandan Galak Itu, Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Dokter
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"

Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.

Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Dengan gerakan secepat kilat, Rahma merosot dari tubuh Sakti dan langsung berlari kencang menuju kamar tidur, menutup pintunya dengan rapat. Sementara itu, Sakti mencoba menguasai kegugupannya, menarik napas dalam-dalam, dan segera melangkah menghampiri Kolonel Yusuf, Praka Dadang, dan Pratu Ginting yang masih setia membelakangi ruangan.

Di dalam kamar, Rahma langsung menyandarkan punggungnya di balik pintu yang tertutup. Ia menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan, meratapi nasibnya yang baru saja mencoreng muka sendiri di depan atasan suaminya. Jantungnya berdegup begitu kencang karena rasa malu yang teramat sangat.

Sementara di ruang tamu, Sakti berdehem keras untuk memecah kecanggungan.

"Siap, mohon izin, Komandan, silakan duduk," ujar Sakti dengan suara yang diwibawakan, meski telinganya mulai memerah.

Kolonel Yusuf berbalik sambil terkekeh pelan, diikuti oleh Dadang dan Ginting yang berusaha keras menahan kedutan di bibir mereka. "Wah, tampaknya kedatangan kami benar-benar mengganggu waktu bulan madu kalian, Kapten," goda Kolonel Yusuf sembari mendudukkan diri di kursi rotan ruang tamu.

"Siap, tidak, Komandan. Tadi ada insiden kecil di dapur," jawab Sakti kaku, berusaha tetap formal. Di dalam hatinya, Sakti sangat berharap Rahma bisa segera menenangkan diri dan keluar dari kamar untuk menyiapkan minuman bagi tamu-tamu mereka.

Kembali ke dalam kamar, Rahma sadar ia tidak boleh berlarut-larut dalam ketakutan dan rasa malu. Menghindari tamu atasan suaminya justru akan memberikan kesan yang buruk. Ia menghirup udara perlahan lewat hidung, lalu menghembuskannya secara kasar lewat mulut.

'Ayo, Rahma! Kamu tidak boleh bersembunyi di sini terus. Ingat, kamu itu sekarang sudah menjadi seorang istri prajurit. Jadi... jadi hal tadi itu wajar... Alah, wajar apanya?! Kenapa juga aku harus refleks melompat ke tubuh Kak Sakti seperti tadi? Aku bukan Rahma kecil yang dulu lagi! Aku... aku sudah tumbuh dewasa, ya Allah!' batin Rahma menjerit frustrasi sembari menepuk jidatnya.

Setelah menata kembali hijab instannya dan memastikan ekspresi wajahnya terlihat normal, Rahma akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamar. Dengan langkah anggun yang dipaksakan, ia bergegas menuju dapur untuk membuatkan minuman.

Di ruang tamu, Praka Dadang dan Pratu Ginting sebenarnya sudah ingin sekali tertawa terbahak-bahak sampai berguling di lantai. Namun, mana berani mereka melakukan hal sekonyol itu di depan Kapten Sakti? Meski begitu, melihat ekspresi wajah sang komandan galak yang biasanya mirip singa lapar kini mendadak linglung seperti kucing yang tertangkap basah mencuri ikan, sungguh menjadi pemandangan super langka yang tak akan mereka lupakan seumur hidup.

Tak lama kemudian, Rahma muncul dari arah dapur dengan nampan di tangannya, membawa empat cangkir kopi hitam panas yang masih mengepulkan asap wangi. Padahal, saat berada di dapur tadi, ia harus berjuang setengah mati menahan diri dan bergulat dengan rasa fobianya karena segerombolan cicak di dekat wastafel masih terbayang-bayang di pelupuk matanya.

"Silakan diminum, Komandan, Bapak-bapak," ucap Rahma dengan nada sesantun mungkin, menaruh cangkir-cangkir itu di atas meja tanpa berani sedikit pun melirik ke arah suaminya.

Kolonel Yusuf tersenyum penuh arti saat menerima cangkir kopi dari Rahma, tatapannya menyiratkan kehangatan sekaligus godaan tipis seorang senior. Merasa suasana di ruang tamu masih diselimuti sisa-sisa kejadian memalukan tadi, Rahma segera merapatkan kedua tangannya di depan dada sembari sedikit membungkuk.

"Mohon izin, Komandan, Bapak-bapak... Rahma pamit ke belakang dulu untuk merapikan barang-barang," ujar Rahma dengan suara yang agak bergetar karena canggung.

"Oh, iya, silakan, Nak Rahma. Terima kasih banyak kopinya," balas Kolonel Yusuf ramah. Beliau sangat mengerti akan rasa malu serta canggung yang tengah melanda pengantin baru tersebut.

Sakti yang duduk tegak di seberang sang Kolonel pun memaklumi sikap mundur istrinya. Baginya, yang terpenting Rahma sudah menunjukkan baktinya dengan menyediakan minuman untuk atasan dan rekan kerjanya tanpa kabur begitu saja. Mata Sakti mengantar kepergian Rahma hingga bayangan istrinya itu menghilang di balik pintu kamar.

Di dalam kamar, Rahma menghembuskan napas lega yang teramat panjang. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang akan menjadi saksi bisu hari-hari barunya. Kamar utama asrama ini terbilang sangat sederhana. Di dalamnya hanya terdapat satu unit kasur berukuran queen size yang besarnya tidak berbeda jauh dengan tempat tidur di rumah orang tuanya, sebuah lemari baju dari kayu tripleks sederhana, serta sebuah cermin persegi yang menggantung agak miring di dinding.

Sementara itu di ruang tamu, Kolonel Yusuf mendadak teringat sesuatu dan meletakkan cangkir kopinya kembali ke tatakan.

"Oh iya, Sakti. Ada satu informasi yang lupa disampaikan staf logistik kemarin. Rumah dinas ini sebenarnya masih dalam tahap renovasi dan belum seratus persen selesai. Makanya kamar yang satunya lagi belum bisa digunakan," ujar Kolonel Yusuf.

Sakti mengernyitkan alisnya. "Siap, maksudnya bagaimana, Komandan?"

"Kamar yang berada di sebelah kamar utama itu masih terkunci rapat, dan kuncinya terbawa oleh kepala tukang. Kebetulan tukangnya sedang izin pulang kampung karena istrinya melahirkan, dan dia baru kembali ke sini sekitar dua minggu lagi untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya. Jadi, untuk sementara waktu, kalian berdua hanya bisa menggunakan kamar utama ini saja. Kalau ada sanak saudara yang mau menginap, terpaksa belum bisa ditampung. Harap dimaklumi ya, Sakti," jelas Kolonel Yusuf dengan santai.

Glek!

Sakti sampai menelan ludahnya dengan susah payah. Dadanya mendadak bergemuruh hebat. Itu artinya, skenario yang ia susunnya semalam untuk tidur terpisah kamar demi menjaga benteng imannya dari polah tidur Rahma yang hyper aktif telah gagal total. Ia harus berbagi satu ranjang yang sama lagi dengan Rahma selama dua minggu ke depan. Sakti menghela napas panjang, merutuki nasibnya yang tidak berjalan sesuai rencana.

"Kenapa dengan ekspresi wajahmu itu, Kapten? Bukankah bagi pengantin baru, satu kamar justru tidak jadi masalah? Malah makin bagus, toh?" goda Kolonel Yusuf yang menyadari perubahan raut muka anak buah kesayangannya.

Sakti langsung menegakkan punggungnya, mencoba mengontrol wajah kaku khas militernya. "Siap, tidak ada masalah, Komandan."

"Ya sudah kalau begitu, saya izin pamit untuk kembali ke markas. Tidak baik berlama-lama di sini, saya tidak ingin mengganggu waktu mesra-mesraan kalian berdua," ujar Kolonel Yusuf berdiri dari kursinya sembari menepuk bahunya Sakti. "Semangat berjuang, Prajurit! Ingat, bertempur itu tidak harus selalu di medan perang, tapi... tapi di medan tempat tidur juga butuh taktik yang jitu!" seloroh sang Kolonel.

Kalimat pamungkas dari sang Kolonel seketika memicu tawa cekikikan dari Praka Dadang dan Pratu Ginting yang sejak tadi sudah menahan tawa sampai perut mereka melilit. Kali ini mereka benar-benar tidak sanggup lagi membendung rasa geli.

Sementara itu, Kapten Sakti Prawira Kusuma hanya bisa tertunduk malu dengan wajah memerah, sembari tangan kanannya menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Sungguh sebuah pemandangan yang meruntuhkan harga diri kegarangannya di lapangan.

'Yes! Kapan lagi bisa menertawakan komandan galak ini terang-terangan dan tidak diberi hukuman fisik? Untung ada Kolonel Yusuf, jadi aman mau ketawa sepuasnya juga!' batin Praka Dadang bersorak puas dalam hati sembari berjalan mengekor di belakang sang Kolonel.

Namun, di balik rasa malu dan kikuknya, mata memburunya Sakti diam-diam melirik tajam ke arah punggung kedua bawahannya yang masih bahu-membahu menahan tawa. Di dalam benak sang Kapten, sebuah rencana besar sudah tersusun rapi.

'Tunggu tanggal mainnya. Nikmati saja tawa kalian sekarang, Praka Dadang, Pratu Ginting. Minggu depan, jatah lari keliling lapangan sirkuit dengan ransel penuh batu sudah menunggu kalian,' batin Sakti tersenyum sinis, siap memberikan hukuman setimpal begitu masa cuti menikahnya berakhir.

Bersambung...

1
Teh Euis Tea
sakti bilang aj udah cinta, pake acara gengsi segala, benar kt Salma klu udah di ambil orang baru deh nyesel
Teh Euis Tea
yg sabar Sakti km mah ganas main sosor aj
duhhh malu bgt ketahuan sm Salma, mau ngilang aj kelobang semut saking malunya🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ketangkap basah 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
kalau udah ada rsa suka pasti bntr lgi cinta datang nih
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali, tinggal menunggu waktu saja kak
total 1 replies
Nar Sih
cemburu mu lucuu sakti ,dan bikin rahma sedih karena sikap mu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: bener kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
dewi rofiqoh
Benar tu sakti apa yang sama bilang, klo kamu gk segera ungkapkan rasamu pada rahma keburu diambil orang tu si rahma🤭🤭🤭
Ilfa Yarni
tau nih sakti klo suka bila g aja pake gengsian sgala liat Rahma akrab dgn laki2lain km cemburu hadeeh sakti
Uba Muhammad Al-varo
Sakti.......kena sama jebakan nya Salma,ayo jujur kamu sukakan, cintakan ke Rahma, jangan gengsi yang digedein /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ilfa Yarni
hahahaha dasar sakti gengsi setinggi la git udah tau suka sama Rahma malah tidak mau mengakuinya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh Bun 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
masih pagi wes delok sakti ambek rahma nag kasor🥱🥱🥱😁
Anonim
Aku suka
Anonim
🤭🤭🤭🤭
depoll_poll aje 😉😉😉
astagfirullah..
sakti u itu keterlaluan sekali SM s Rahma..
cemburu s cemburu tp sadar diri donk udh mantap blm hati u nya...
hahahaha kepergok s adik nya juga,,
gimna ya cerita selanjutnya...
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
depoll_poll aje 😉😉😉
cie cie yg sakit cemburu jugaa.. hahahaha
kepo ya kamu dengan keakraban Rahma dengan pria lain... hihihihihi
Anonim
😍😍😍
Patrick Khan
cemburu kan kau sakti🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betoolll🤣
total 1 replies
Patrick Khan
q aja pengen bisa pakai motor gede lo..tp punya siapa yoan 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: apalagi aku kak, yg ada nyungsep 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
aku lupa cara ciuman 🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: weleh... masa iya lupa, kak 🤣🤣🤣
kocak nih 🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
gak usah cemburu sakti ,dr adnan cuma mau bicara sbntr dgn istri mu tentang wanita pujaan nya yg kebetulan profesor nya rahma di kmpus
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😄
total 1 replies
Nar Sih
wah ..rahma hebat lho bisa bwa motor besar suami nya👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!