kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Keesokan harinya, deru mesin mobil mewah memecah ketenangan pagi di kaki gunung. Sebuah sedan hitam mengkilap terparkir mulus di halaman rumah Paman Juan. Pintunya terbuka, memperlihatkan sosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas rapi.
Faris. Ayah kandung Nina yang belasan tahun lalu memilih pergi, melangkahkan kaki kembali ke rumah itu. Pria itu mendapat kabar dari orang suruhannya bahwa putri tunggalnya berniat melanjutkan kuliah di Jakarta untuk mengejar mimpi menjadi seorang desainer.
Di dalam rumah, Paman Juan yang menyadari kehadiran Faris langsung menyambutnya di ruang tamu. Wajah Paman Juan mengeras, matanya memancarkan amarah yang tertahan selama belasan tahun.
"Mau apa kamu ke sini, Faris?" suara Paman Juan terdengar berat dan dingin, memotong udara pagi yang semula tenang.
Faris menatap mantan kakak iparnya itu dengan tenang, hampir tanpa rasa bersalah. "Aku datang untuk mengambil putriku. Nina akan kuliah di Jakarta, dan sudah sepantasnya dia tinggal di rumahku. Aku mampu memberikan fasilitas terbaik untuk pendidikannya, jauh lebih baik dari apa yang bisa kamu berikan di desa ini."
"Fasilitas?" Paman Juan terkekeh sinis, sebuah tawa kaku yang tidak bersahabat. "Setelah belasan tahun kamu menelantarkannya? Setelah kamu membiarkan ibunya mati dalam kesedihan demi wanita kaya itu, sekarang kamu datang berlagak menjadi ayah yang bertanggung jawab? Kamu tidak punya hak sedikit pun atas Nina!"
Perdebatan sengit pun pecah di ruang tamu. Kata-kata kasar dan saling tuduh terlontar di antara kedua pria paruh baya itu, membongkar kembali luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sementara itu, di balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Nina berdiri membeku. Jemarinya menggenggam erat pintu kayu hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata menetes melewati pipinya, tetapi kali ini bukan karena kesedihan atas keputusasaannya terhadap Dias. Air mata ini panas, terlahir dari amarah dan rasa benci yang tertimbun rapat.
Pria yang ada di ruang tamu itu adalah sosok yang membuat hidup ibunya hancur hingga menghembuskan napas terakhir. Pria yang tega membuang dirinya demi kemewahan dan selingkuhannya di kota besar.
Nina menyapu air mata di pipinya secara kasar dengan punggung tangan. Matanya yang biasa menyiratkan kelembutan kini menajam, memancarkan keputusasaan yang berubah menjadi tekad bulat.
Ia tahu betul, dendam bukanlah hal yang baik. Paman Juan selalu mengajarinya untuk menjadi kuat, tetapi Nina ingin lebih dari sekadar bertahan. Kedatangan Faris yang tiba-tiba ini bukan sekadar takdir, melainkan sebuah jalan yang terbuka lebar.
"Ini kesempatan emas," bisik Nina dalam hatinya.
Jika ia harus pergi ke Jakarta, ia tidak akan datang sebagai korban yang malang. Ia akan masuk ke dalam kehidupan ayahnya, mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi haknya, dan memberi pelajaran berharga pada pria yang telah merusak masa kecilnya itu.
"Nina, ... keluar!"
Panggilan Paman Juan menggema di koridor rumah, memotong perdebatan panas yang sempat memuncak. Nina menghela napas panjang, merapikan bajunya, dan memasang topeng terbaiknya sebelum melangkah keluar dari kamar.
Saat kakinya memijak ubin ruang tamu, pandangannya langsung bertabrakan dengan mata Faris. Sepasang mata yang memiliki bentuk persis seperti matanya sendiri, namun dipenuhi oleh hawa keangkuhan. Wajahnya masih terlihat tampan meski usianya sudah tidak muda lagi, pantas saja, seorang janda kaya mati-matian merebut Ayahnya. Tatapan dingin saling bertukar dalam keheningan yang mencekam, mengalirkan hawa kebencian yang samar di udara.
Namun, hanya dalam hitungan detik, aura Nina berubah drastis.
Mengingat ajaran keras Paman Juan tentang ketahanan dan taktik, Nina tahu betul kapan harus menunjukkan taring dan kapan harus berpura-pura menjadi mangsa. Ia menundukkan kepala, membuat bahunya bergetar halus seolah-olah ia adalah seorang gadis desa yang rapuh, ketakutan, dan mudah dipengaruhi.
"Nina..." Faris melangkah mendekat, mengubah nada suaranya menjadi sangat lembut, sebuah kepura-puraan yang membuat perut Nina merasa mual. "Ini Ayah, Nak. Ayah datang untuk membawamu ke Jakarta. Kamu tidak perlu hidup susah lagi di sini."
Nina mendongak perlahan, menampilkan matanya yang berkaca-kaca dengan binar kebingungan yang dipaksakan. "A-Ayah...?" bisiknya dengan suara gemetar.
Faris memeluk putrinya, berpura-pura bahagia karena selama bertahun-tahun tidak pernah bertemu dengan putrinya.
"bagaimana kabarmu nak....?, Apa kamu hidup bahagia di sini nak? , Maafkan ayah karena ayah telah meninggalkanmu bertahun-tahun...! tetapi kamu harus tahu... Ayah sangat menyayangimu nak, " Nina berasa ingin muntah mendengar kata-kata itu.
"Nina tidak bahagia...., Nina rindu Ayah...saat Nina kecil kenapa Ayah pergi tidak pulang-pulang, biasanya ayah pergi sebulan sekali" balas Nina sesenggukan.
Paman Juan yang berdiri di dekat lemari tua hanya bersedekap, menatap adegan itu dengan rahang mengeras. Ia paham betul apa yang sedang dilakukan keponakannya, sehingga ia memilih diam dan membiarkan Nina memainkan perannya.
"Iya, Nak. Maafkan Ayah yang baru datang sekarang,.. Ayah harus bekerja keras nak, agar hidupmu tidak susah ." lanjut Faris sembari mengusap bahu Nina. Di balik keramahan wajahnya yang dipoles, ada kilat kepuasan yang tersembunyi. Faris merasa putrinya ini begitu polos dan lemah, mudah untuk dikendalikan sesuai keinginannya.
Di balik wajah penurut dan matanya yang berair, otak Nina berputar cepat. Ia tahu pasti, seorang pria rapuh yang tega membuang keluarganya demi harta belasan tahun lalu tidak mungkin mendadak datang hanya karena rasa bersalah atau kasih sayang seorang ayah. Ada niat terselubung yang sangat besar di balik keputusannya menjemput Nina ke Jakarta.
"Dia sedang menyiapkan perangkap, "batin Nina dingin, sementara tangannya menggenggam erat ujung bajunya seolah sedang ketakutan. "Tapi dia tidak tahu, kalau aku yang akan masuk ke dalam hidupnya dan membongkar semuanya."
"Apakah... Nina benar-benar boleh ikut Ayah ke Jakarta?" tanya Nina pelan, memamerkan kepatuhan yang sempurna.
"Tentu saja, Sayang. Kemasi barang-barangmu. Kita berangkat sekarang juga," jawab Faris dengan senyum penuh kemenangan.
Tanpa Faris sadari, gadis berhijab yang berdiri di hadapannya bukanlah anak kecil yang bisa ia peralat begitu saja, melainkan sebuah ancaman yang siap meruntuhkan kehidupan mewahnya di kota besar.
NIna menoleh ke arah pamannya " Paman, maafin Nina harus meninggalkan paman seorang diri. Terimakasih selama ini sudah menemani Nina dari ibu meninggal dan ayah yang pergi merantau...".
Juan menangguk, ia tahu persis, keponakannya itu sedang bersandiwara.
"Iya Nina, paman mengerti, maaf kalau selama tinggal bersama paman, hidupmu menderita karena sering kelaparan dan tidak memiliki pakaian mewah , Ayahmu sangat menyayangi mu, di sana , Faris pasti akan memanjakan mu"
Faris tersenyum misterius " hahaha...Nina adalah asetku, dia akan menyelamatkan ku dari kebangkrutan" gumamnya dalam hati.
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰