Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Sebelum bertolak ke Jerman untuk mendampingi pengobatan sang ayah, Edgar berdiri di area jet pribadi bandara. Ia menatap tajam asisten pribadinya dengan mimik wajah yang teramat serius.
"Her, selama aku di Jerman, awasi pergerakan Paman David secara diam-diam. Entah kenapa, aku merasa ada yang tidak beres dengan gelagatnya belakangan ini," bisik Edgar tegas. "Dan satu hal lagi... jangan pernah hentikan pencarian wanita itu. Terus cari sampai dapat."
Harry menunduk penuh rasa hormat. "Baik, Tuan. Anda bisa mempercayakan semuanya kepada saya. Semoga pengobatan Tuan Besar berjalan lancar di sana."
Edgar mengangguk tipis lalu melangkah masuk ke dalam pesawat. Harry yang memang selalu menjadi tangan kanan terpercaya langsung bergerak menjalankan instruksi sang atasan tanpa menunda waktu.
Satu Bulan Kemudian...
Satu bulan berlalu begitu cepat. Melalui penyelidikan yang cermat dan tak kenal lelah, Harry akhirnya mulai mendapatkan titik terang terkait identitas gadis pelayan di malam naas tersebut. Namun sebaliknya, terkait Paman David, Harry belum menemukan bukti kejahatan yang mematikan. Paman David rupanya sangat cerdik dan berhati-hati, ia sadar sedang diawasi oleh Harry. Satu-satunya pergerakan David hanyalah membawa Aldo, putranya yang baru pulang dari Amerika, untuk membantunya di Ganendra Group, hal yang sebenarnya sudah diizinkan oleh Edgar sebelumnya.
Di balik ketenangannya, David rupanya bergerak lebih cepat dalam bayangan. Melalui koneksi gelapnya, ia justru berhasil mengendus identitas wanita yang tidur bersama Edgar malam itu.
Di dalam ruang kerja pribadinya, David terkekeh puas di hadapan Aldo.
"Jadi, aku hanya perlu membuat wanita itu bersandiwara!" ujar David dengan mata berkilat penuh intrik. "Kita paksa dia mengaku dan menceritakan kejadian palsu di hadapan seluruh keluarga Ganendra, bahwa Edgar adalah pria impoten dan tidak bisa memberikan keturunan! Bagaimanapun, wanita itu adalah satu-satunya saksi hidup yang pernah tidur dengan Edgar."
Aldo menyunggingkan senyum sinis. "Rencana yang sempurna, Papah. Posisi Presiden Direktur sebentar lagi akan jatuh ke tangan kita."
*
*
Di belahan bumi yang berbeda, takdir memainkan perannya secara ajaib.
Di Jerman, Edgar yang baru saja menyelesaikan makan malamnya mendadak merasakan mual yang luar biasa hebat. Perutnya serasa diaduk-aduk. Dengan wajah pucat, ia berlari ke toilet dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Di saat yang bersamaan, di kediaman Pak Marwan di Jakarta, pagi itu Aruni yang bersiap berangkat ke kampus mendadak berlari ke arah wastafel dapur. Rasa mual yang teramat sangat menghantam dadanya, membuatnya terus bereaksi mual hebat.
Pak Marwan yang sedang meminum kopi di meja makan menghentikan aktivitasnya. Matanya memicing tajam menatap punggung putri kandungnya dengan penuh kecurigaan.
Melihat momen tersebut, Nova dan Dona saling melempar kerlingan mata penuh kepuasan. Senyum licik terukir di bibir mereka. Ini adalah kesempatan emas yang sudah lama mereka nantikan untuk menendang Aruni keluar dari rumah dan mencoreng namanya selamanya.
"Pah... Kamu lihat kan?" bisik Nova memprovokasi suaminya dengan nada pura-pura terkejut. "Anak kesayanganmu itu... Mual-mual di pagi hari seperti orang hamil!"
*
*
Dari balik jendela kamar hotelnya di Jerman, Edgar menatap hamparan kota yang diselimuti kabut malam. Ia menyertakan ponsel di telinganya, bersiap memberikan kabar kepulangannya bersama sang ayah yang kondisinya kian membaik.
"Her, bersiaplah. Besok pagi aku dan Papah akan segera kembali ke tanah air," ujar Edgar tegas.
Namun, jawaban dari seberang telepon mendadak membuat napas Edgar tertahan.
"Tuan... saya sudah mendapatkan informasi akurat soal wanita di malam itu," potong Harry, suaranya terdengar begitu serius.
Jantung Edgar berdegup kencang. "Katakan, Her. Siapa dia?"
"Namanya Kirana Aruni, Tuan... Ia seorang mahasiswi di Universitas Airlangga. Dia memang senang sekali bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya seorang diri. Dan menurut informasi yang saya dapat, Nona Aruni ini selalu mendapatkan perlakuan tidak adil oleh ibu dan adik tirinya," papar Harry runtut.
Mendengar hal itu, dada Edgar mendadak terasa dihantam beban teramat berat. Rasa sakit yang asing menyusup ke ulu hatinya membayangkan penderitaan gadis yang telah ia noda.
"Dan satu lagi, Tuan..." lanjut Harry ragu. "Wanita itu yang menyodorkan gelas berisi zat afrodisiak kepada Anda, namun itu atas perintah dari saudari Desi, wanita yang menjebaknya. Nona Aruni begitu polos sehingga dengan mudah dikelabui. Sayangnya, saat saya menggali informasi lebih dalam soal siapa dalang utamanya, wanita bernama Desi itu tewas gantung diri di kontrakannya."
Edgar terdiam membisu. Tangannya mengepal rapat hingga buku-buku jarinya memutih, kemarahan dan rasa bersalah bercampur membakar dadanya.
"Kumpulkan seluruh data dirinya, Her. Aku akan langsung menemuinya begitu mendarat di Jakarta," bisik Edgar dingin dan penuh penegasan.
*
*
Sementara itu di Jakarta, ketegangan di meja makan kediaman Darmawan kian memuncak. Pak Marwan yang tadinya diam mulai termakan oleh provokasi Nova dan Dona. Aruni berdiri gemetar di samping meja, mukanya pucat pasi karena panik melihat tatapan murka sang ayah.
"Tidak, Ayah... Aruni tidak mungkin hamil! Aruni hanya masuk angin saja karena jadwal kuliah dan pekerjaan paruh waktu Aruni terlalu padat!" ucap Aruni terbata-bata, mencoba membela diri dari tuduhan keji itu.
"Alah! Itu cuma alasanmu saja!" sanggah Nova sinis. Ia menoleh pada putrinya. "Dona, cepat kau belikan testpack di apotik seberang rumah! Kita buktikan apakah Aruni benar-benar hamil atau cuma masuk angin biasa!"
"Baik, Mom!" tanggap Dona cepat, menyunggingkan senyum kemenangan lalu melesat keluar rumah.
"Jangan, Mah! Aruni baik-baik saja... Aruni harus bergegas pergi ke kampus!" pinta Aruni memohon, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Tidak bisa, Aruni! Kau harus menggunakan testpack untuk memastikan kau benar-benar tidak hamil. Aku hanya ingin menjaga nama baik keluarga Darmawan... Bukankah begitu, Mas Marwan?" ucap Nova memotong tajam sambil menggelayutkan tangannya di lengan sang suami.
Pak Marwan menatap Aruni dengan raut wajah dingin tanpa belas kasihan. "Betul apa yang dikatakan oleh ibumu, Aruni. Kau harus melakukan apa yang ibumu sebutkan barusan. Papah tidak mau sampai kau membuat malu keluarga ini!"
Aruni tertunduk pasrah, tak kuasa lagi membantah perkataan ayahnya. Dari balik dinding dapur, Bik Sumi hanya bisa mengusap dadanya yang terasa sesak. Air matanya menetes prihatin menatap nona mudanya yang terus disudutkan di dalam rumah yang kini telah menjelma menjadi neraka sejak kehadiran Nova dan Dona.
Tak butuh waktu lama, Dona kembali dengan wajah berseri-seri membawa tiga buah alat tes kehamilan dari berbagai merek demi hasil yang akurat.
"Ayo cepat, Aruni! Jangan lambat!" seru Bu Nova seraya mencengkeram lengan Aruni dan memaksanya masuk ke dalam kamar mandi.
KLIK!
Pintu kamar mandi terkunci dari dalam. Dengan jemari yang gemetar hebat, Aruni menampung air seninya ke dalam wadah toples kecil. Satu per satu, ujung ketiga testpack itu dicelupkan.
Aruni menahan napas, menatap alat itu dengan jantung berdebar liar. Hanya dalam hitungan detik, cairan itu meresap naik, dan... dua garis merah pekat muncul bersamaan di ketiga alat tersebut.
Aruni seketika membungkam mulutnya rapat-rapat. Matanya membelalak tak percaya, ditelan syok yang luar biasa.
"Tidak... aku tidak mungkin hamil..." gumam Aruni lirih sebelum akhirnya tangisnya pecah tersedu-sedu. "Jadi peristiwa malam itu... benar-benar membuatku berbadan dua? Aku... aku harus bagaimana? Aku bahkan tidak tahu siapa pria itu..."
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..