NovelToon NovelToon
RED CROWS

RED CROWS

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:670
Nilai: 5
Nama Author: D'syam

"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."

Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.

Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.

Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanda Dari Kegelapan

Hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Petir beberapa kali menyambar langit Kota Atlas, membelah malam dengan kilatan cahaya putih yang menyilaukan.

Daren terus berlari. Sepatu kainnya yang robek sudah hancur sejak beberapa kilometer lalu, meninggalkan kakinya yang telanjang menghantam Aspal keras dan jalanan bertanah. Setiap kali kakinya menapak, rasa sakit tajam akibat goresan kerikil menusuk hingga ke sarafnya. Namun rasa sakit di kaki itu tidak sebanding dengan siksaan di dalam dadanya.

Napas Daren berbunyi parau, terengah-engah seperti orang yang hampir tenggelam. Demam tinggi yang menggerogoti tubuhnya membuat pandangannya berbayang dan bergoyang. Dunia di sekitarnya seolah berputar. Setiap kali dia menarik napas, bagian dalam dadanya terasa panas terbakar—dampak dari sabetan gesper keras Deni yang mengenai tulang iganya beberapa jam lalu.

Dia tidak tahu sudah berapa jauh dia berlari. Gedung-gedung tinggi Kota Atlas yang dipenuhi lampu neon perlahan memudar, berganti dengan pepohonan rindang dan area yang jauh lebih sunyi. Daren telah sampai di pinggiran kota, memasuki kawasan perkebunan luas yang dipagari kabut tebal.

"Aku... tidak boleh... berhenti..." bisik Daren dengan suara yang hamper tak terdengar. Lipatan bibirnya yang pecah-pecah memercahkan darah segar.

Namun, tubuh manusia memiliki batasnya. Terutama tubuh seorang remaja lima belas tahun yang selama sepuluh tahun tidak pernah diberi gizi yang layak, disiksa saban hari, dan kini berlari di bawah badai dalam keadaan demam tinggi.

Pandangan Daren menggelap secara mendadak. Lututnya melemas, tak sanggup lagi menopang berat badannya.

THUD!

Daren tersungkur jatuh ke tanah basah di bawah sebuah pohon tua yang rindang di tepi perkebunan. Bau tanah basah dan dedaunan busuk menyeruak masuk ke inderanya. Daren merayap pelan, merapatkan tubuhnya ke pangkal pohon, mencoba mencari perlindungan dari gempuran air hujan yang tak henti-hentinya menghantam kulitnya.

Dia meringkuk bagai anjing terluka, memeluk kedua lututnya sendiri. Tubuhnya gemetar hebat—bukan hanya karena dinginnya malam, melainkan karena organ-organ di dalam tubuhnya mulai menjerit menolak untuk bertahan lebih lama. Darah kental terus merembes dari luka-luka terbuka di punggungnya, mewarnai air hujan yang mengalir di sekitarnya menjadi kemerahan.

Daren menatap kegelapan malam dengan mata yang kian menyempit. Cahaya kehidupan di matanya perlahan redup. Apakah aku akan mati di sini? pikirnya pasrah. Tapi setidaknya, jika dia mati di bawah pohon ini, Deni, Tia, maupun Dion tidak akan pernah bisa menyiksanya lagi.

Dengan pemikiran tragis itu, kegelapan total akhirnya menelan kesadaran Daren.

Beberapa puluh meter dari tempat Daren tergeletak, suasana sama sekali tidak tenang. Raungan mesin mobil-mobil SUV hitam membelah kesunyian perkebunan. Suara tembakan sesekali terdengar beradu dengan dentum petir di kejauhan.

Malam itu, perkebunan di pinggiran Kota Atlas menjadi arena pertempuran berdarah. Dua kubu penguasa dunia bawah tanah sedang terlibat bentrok memperebutkan wilayah kekuasaan.

Di tengah kekacauan itu, sebuah SUV hitam berhenti mendadak di dekat perbatasan perkebunan. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria berstelan jas hitam rapi melangkah keluar. Pria itu bernama Mike—salah satu kapten eksekutif yang memegang peranan penting dalam organisasi rahasia yang menguasai wilayah tersebut. Meskipun bajunya tertata rapi khas seorang mafia berkelas, ada noda darah yang menempel di manset kemejanya, serta sepucuk pistol terhunus di tangan kanannya.

"Cepat amankan perimeter! Pastikan tidak ada sisa-sisa musuh yang mencoba menerobos masuk!" perintah Mike tegas kepada anak buahnya melalui earpiece.

Mike berjalan menyisir pinggiran perkebunan, matanya tajam memperhatikan setiap semak-semak dalam kegelapan. Saat itulah, matanya menangkap siluet sebuah tubuh yang tergeletak pasrah di pangkal pohon tua.

Pakaian remaja itu basah kuyup, berlumpur, dan yang paling mencolok—seragam kaus hitam lusuh yang dikenakan Daren terlihat mirip dengan kaus taktis yang dipakai oleh para rekrutan muda pasukan bawah tanah mereka. Kondisi malam yang gelap gulita serta hujan lebat membuat penglihatan Mike terbatas.

"Satu anggota kita tumbang di sini!" gumam Mike.

Dia menghampiri tubuh Daren dan berlutut. Tanpa membuang waktu untuk memeriksa wajah remaja itu secara detail karena mengira dia adalah salah satu prajurit mudanya yang terpisah saat kontak tembak, Mike langsung merengkuh tubuh Daren yang terasa sangat dingin dan tak berdaya.

"Sial, budak muda ini masih bernapas, tapi tubuhnya dingin sekali," umpat Mike pelan. Dia mengangkat tubuh Daren ke dalam pelukannya dengan mudah—tubuh Daren terlalu ringan untuk ukuran remaja usianya akibat kekurangan gizi menahun.

Mike membawa Daren masuk ke dalam SUV hitam, membaringkannya di bangku belakang. "Ke markas utama sekarang! Hubungi tim medis!" teriak Mike kepada pengemudi saat mobil itu melaju kencang membelah hujan.

Markas Utama – Ruang Medis Bawah Tanah

Bau antiseptik dan alkohol menusuk hidung saat tubuh Daren dipindahkan ke atas ranjang pesakitan berbahan besi. Lampu operasi berdaya tinggi menyala terang, menyinari tubuh remaja yang dipenuhi memar biru, kehijauan, serta luka cambukan yang meradang parah.

Seorang dokter senior bermuka dingin bernama Dr. Anthony bersama tim medisnya langsung bertindak cepat. Mereka menggunting kaus lusuh Daren yang sudah melekat dengan darah kering di punggungnya. Ketika kain itu terangkat, beberapa perawat di ruangan itu bahkan tak sanggup menahan napas.

Punggung Daren bukan lagi menyerupai kulit manusia biasa. Itu adalah pola kerusakan parah—bekas luka lama yang bertumpuk dengan luka baru, infeksi bercampur darah basah, serta memar mendalam yang mengerikan.

Mike berdiri di sudut ruangan, menyandarkan punggungnya ke dinding sembari mengamati proses tersebut. Namun semakin dia memperhatikan wajah Daren yang bersih dari lumpur, dahinya semakin berkerut. Remaja ini terlihat terlalu muda, dan wajahnya asing.

Satu jam berlalu dalam ketegangan. Dr. Anthony akhirnya melepas sarung tangan latex-nya yang berlumuran darah dan berjalan mendekati Mike. Wajah sang dokter tampak sangat serius.

"Bagaimana kondisinya, Anthony? Bisakah dia kembali bertempur besok?" tanya Mike datar.

Dr. Anthony menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Pertempurannya? Mike, anak ini bahkan tidak seharusnya berada di medan perang. Dia bukan anggota kita."

Mike menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksudmu?"

"Aku sudah memeriksa pemindai biometrik dan basis data organisasi," jelas Dr. Anthony sembari menyerahkan papan data medis. "Tidak ada identitas, tidak ada nomor registrasi, dan tidak ada tato lambang organisasi pada tubuhnya. Pemuda ini sama sekali bukan anggota Red Crows."

Mike terdiam sejenak. Mata tajamnya menatap tubuh Daren yang kini dipasangi berbagai alat pemantau detak jantung dan selang infus. "Bukan anggota kita? Lalu bagaimana dia bisa berada di tengah perkebunan saat bentrokan terjadi?"

"Aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai ke sana, tapi satu hal yang pasti..." Dr. Anthony menghela napas berat, menunjuk ke arah layar monitor yang menunjukkan hasil pencitraan organ dalam Daren.

"Kondisi fisiknya sangat miris, Mike. Luka-luka di tubuhnya bukan berasal dari pertempuran mafia malam ini. Luka cambuk di punggungnya adalah hasil penyiksaan berulang menggunakan benda tumpul dan kulit keras. Dan yang lebih parah... organ dalamnya."

Dr. Anthony mendekat dan berbisik pelan. "Hatinya mengalami pembengkakan akibat trauma tumpul, lambungnya kosong melompong—dia mengalami malnutrisi akut tingkat berat—dan beberapa tulang rusuknya retak secara bertahap dalam jangka waktu yang lama. Tubuh anak ini adalah bukti dari penyiksaan sistematis bertahun-tahun. Jika kamu tidak membawanya malam ini, dia akan mati dalam waktu dua jam karena gagal organ dan hipotermia."

Mike menatap wujud polos Daren yang terbaring kaku. Di balik wajah tegasnya sebagai seorang pimpinan mafia, ada sedikit rasa terkejut yang tertahan. Seseorang telah memperlakukan seorang anak laki-laki seperti ini?

"Apa yang harus kita lakukan padanya?" tanya Dr. Anthony. "Aturan organisasi sangat jelas. Orang luar yang tidak sengaja mengetahui atau masuk ke wilayah markas tanpa izin harus disingkirkan."

Mike memandangi Daren cukup lama. Dia melihat sesuatu di balik luka-luka remaja itu. Di tengah kondisi organ dalam yang hancur dan penyiksaan separah itu, jantung Daren masih berdetak—lambat, namun penuh dengan dorongan bertahan hidup yang luar biasa keras. Anak ini menolak untuk mati.

"Rawat dia," kata Mike akhirnya dengan suara berat. "Gunakan fasilitas terbaik kita. Stabilkan kondisinya. Selama dia belum sadar, biarkan dia di sini. Aku sendiri yang akan mencari tahu siapa dia dan dari mana asal luka-luka itu."

"Tapi Mike, bagaimana dengan pimpinan?" peringat Dr. Anthony. "Beliau pasti sudah mendengar kabar bahwa kamu membawa orang asing ke ruang medis."

Seakan menjawab ucapan sang dokter, suara langkah kaki yang mantap dan bergema dari lorong luar terdengar mendekat. Pintu otomatis ruang medis terbuka dengan bunyi mendesis.

Suasana di dalam ruangan mendadak menjadi sangat dingin dan tegang. Para perawat menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

Sesosok pria berkarisma tinggi masuk ke dalam ruangan. Pria itu mengenakan mantel hitam panjang dengan sulaman benang merah berbentuk burung gagak di bagian dada kirinya—simbol tertinggi dari penguasa dunia bawah tanah yang ditakuti seluruh Kota Atlas: Pemimpin Tertinggi Red Crows.

Aura dominasi yang dipancarkannya begitu kuat, membuat siapa saja yang bernapas di ruangan itu merasa tertekan.

Mata pria itu tertuju lurus pada Mike, lalu beralih perlahan menatap sosok Daren yang terbaring lemah di atas ranjang medis.

"Aku mendengar kamu membawa 'hadiah' menarik dari medan pertempuran malam ini, Mike," ucap sang Pemimpin dengan suara berat yang mengintimidasi. "Jelaskan padaku... mengapa ada bangkai bernapas yang bukan milik kita di dalam markas Red Crows?"

Mike segera berdiri tegap, meletakkan tangan di dadanya memberi penghormatan, siap memberikan penjelasan atas keputusan berisiko yang baru saja diambilnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!