NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GAUN, JAS, DAN KOMPLIMEN YANG SALAH

Tangga marmer putih di mansion keluarga besar itu memiliki dua puluh lima anak tangga. Vania sudah menghitungnya tiga kali selama seminggu terakhir, dan malam ini, dia harus menuruni semuanya dalam keadaan slow motion.

Ini aturan tak tertulis sinetron 90-an, batin Vania, menatap "kamera" imajinernya yang melayang di dekat vas bunga raksasa di bawah tangga. Setiap kali Female Lead atau Villainess turun tangga saat pesta besar, gravitasi akan berkurang lima puluh persen. Langkah harus lambat, tatapan harus kosong menatap ke kejauhan, dan gaun harus berkibar seolah-olah ada kipas angin raksasa yang disembunyikan di balik karpet.

Vania mematuhi aturan itu dengan enggan. Malam ini, dia mengenakan gaun malam velvet berwarna hijau zamrud dengan potongan off-shoulder yang elegan. Gaun itu membelai lantai marmer saat dia berjalan, memberikan ilusi bahwa dia adalah ratu yang turun dari takhta. Rambut bob-nya disisir rapi ke satu sisi, dan dia hanya memakai anting berlian sederhana. Tidak ada mahkota, tidak ada bulu-bulu burung unta yang norak. Dia ingin terlihat elegan, bukan seperti lampu hias Natal.

Di ujung tangga, di tengah foyer yang diterangi lampu gantung kristal seukuran mobil, Kevin berdiri.

Pria itu mengenakan setelan tuxedo hitam dengan kemeja putih berkerah wingtip. Dasi kupu-kupunya terikat sempurna. Tapi yang membuat Vania sedikit terkejut adalah ekspresi di wajah Kevin.

Pria itu tidak bergerak. Dia tidak berkedip. Mulutnya sedikit terbuka, dan tatapan matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi kini terlihat... kosong. Seolah-olah sistem operasi di otaknya baru saja mengalami crash total dan membutuhkan reboot.

Vania berhenti di anak tangga paling bawah. Angin indoor yang misterius berhembus pelan, mengibarkan ujung gaunnya.

"Kevin?" panggil Vania, suaranya datar. "Anda tidak apa-apa? Apakah Anda lupa cara bernapas? Atau Anda sedang menghitung berapa banyak saham yang bisa Anda beli dengan harga gaun ini?"

Kevin berkedip. Sistem operasinya berhasil di-reboot. Dia menelan ludah, sebuah gerakan yang sangat jarang dia lakukan di depan umum. Dia melangkah maju, mengurangi jarak di antara mereka, hingga aroma cologne mahalnya yang bercampur dengan bau kayu manis samar menerpa indera penciuman Vania.

"Kau..." suara Kevin serak, berat, dan bergetar pelan. Dia menatap Vania dari ujung rambutnya hingga ujung sepatu hak tingginya, seolah sedang melakukan audit visual yang sangat mendalam. "Kau terlihat..."

Vania mengangkat satu alisnya, menunggu. Katakan 'cantik'. Katakan 'menakjubkan'. Atau minimal katakan 'gaunmu warnanya cocok dengan mataku'. Apapun itu, asalkan tidak terdengar seperti pidato di rapat pemegang saham.

Kevin menatap lurus ke dalam mata Vania. Tatapannya intens, gelap, dan penuh dengan dedikasi yang mengerikan. Dia membuka mulutnya, dan dengan suara yang sangat serius, dia mengucapkan kalimatnya.

"Kau terlihat seperti... target yang harus aku amankan seumur hidup dengan sistem keamanan berlapis."

Hening.

Angin indoor seolah berhenti berhembus. Lampu kristal di atas kepala mereka berkedip satu kali, seolah-olah semesta sendiri juga bingung dengan kalimat itu.

Vania menatap Kevin. Dia menatap rahang tegas pria itu, matanya yang berbinar tulus, dan ekspresinya yang sangat bangga karena baru saja memberikan pujian terbaik dalam hidupnya.

Astaga, batin Vania, menatap "kamera" imajinernya dengan tatapan hampa. Ini dia. Puncak dari segala kegagalan komunikasi. Di tahun 2026, kalau ada cowok ngomong begini, dia bakal langsung di-swipe left dan dilaporkan ke HRD karena creepy. Tapi ini Kevin. Otaknya memang sudah rusak permanen.

Vania menghela napas panjang, sebuah napas yang seolah menarik seluruh kesabarannya dari dasar jurang.

"Kevin," ucap Vania, suaranya datar dan tanpa emosi. "Itu bukan pujian."

Kevin berkedip, alisnya berkerut. Senyum bangga di wajahnya sedikit memudar. "Bukan? Tapi... target itu berharga. Sistem keamanan berlapis berarti biometrik, laser, dan brankas baja. Itu adalah level keamanan tertinggi."

"Itu deskripsi brankas, Kevin," potong Vania, memijat pangkal hidungnya. "Kau barusan membandingkan aku dengan brankas bank. Wanita tidak ingin dibandingkan dengan brankas. Wanita ingin dibandingkan dengan... aku tidak tahu, bunga? Bintang? Atau minimal kopi pagi yang bikin melek. Tapi brankas? Seriously?"

Kevin terdiam. Dia mencerna kata-kata Vania. Wajahnya yang tadi bangga kini berubah menjadi cemberut. Bukan cemberut seperti anak kecil yang kehilangan permen, tapi cemberut seperti CEO yang baru saja diberitahu bahwa merger perusahaannya gagal. Rahangnya mengeras, dan dia menyilangkan tangannya di dada.

"Brankas itu penting," gumam Kevin pelan, nadanya sedikit defensif. "Brankas itu melindungi aset paling berharga dari dunia luar yang kejam. Jika kau adalah brankas, maka aku adalah kuncinya. Dan tidak ada orang lain yang boleh menyentuhmu."

Vania menatapnya. Dia ingin marah, dia ingin menjelaskan bahwa analogi itu masih sangat salah dan sangat toxic, tapi melihat Kevin yang berdiri tegak dengan wajah cemberut dan mata yang menatapnya dengan penuh keyakinan bahwa dia baru saja merayu dengan sangat sukses... Vania tidak jadi marah.

Dia justru merasa sedikit geli.

"Oke, Tuan Brankas," ucap Vania, suaranya melunak sedikit. Dia merapikan kerah jas Kevin yang sebenarnya sudah sempurna. "Lain kali, coba katakan 'Kau terlihat cantik'. Itu lebih mudah dicerna oleh otak manusia normal. Mengerti?"

Kevin menatap tangan Vania yang merapikan kerahnya. Wajah cemberutnya perlahan menghilang, digantikan oleh senyum tipis yang puas. Dia tidak menjawab, tapi tangannya terulur, mencengkeram pinggang Vania dengan erat dan posesif, menarik tubuh wanita itu hingga menempel di sisi tubuhnya.

"Ayo masuk," ucap Kevin, suaranya kembali berat dan penuh otoritas. "Tamu-tamu sudah menunggu. Dan aku ingin semua orang di ruangan itu tahu bahwa brankas... eh, maksudku, wanita di sampingku ini, adalah milikku."

Vania memutar matanya, tapi dia membiarkan Kevin menuntunnya masuk ke dalam aula utama.

***

Begitu pintu ganda aula terbuka, suara alunan musik orkestra yang megah menyambut mereka. Aula itu penuh sesak dengan tamu undangan. Ratusan orang berjas dan berkebaya berdiri di sana, memegang gelas sampanye, dan berbincang dengan suara yang riuh.

Vania langsung menyalakan Plot Survival Radar di kepalanya. Ini adalah insting bawaan yang dia kembangkan selama tiga puluh episode terakhir. Radar ini akan mendeteksi potensi bahaya, drama, atau penyimpangan plot yang bisa mengancam nyawanya.

Dia menyapu pandangannya ke seluruh ruangan.

Meja Tante Ratna dan Om Reza ada di sebelah kiri. Mereka sedang duduk dengan tenang, memakan Foie Gras yang disajikan Chef Pierre tanpa mengeluh, tanpa berteriak, dan tanpa mencoba menjatuhkan piring ke lantai.

Meja Bibi Marni ada di sebelah kanan. Dia sedang tertawa pelan dengan ibu-ibu arisan, tidak berbisik-bisik jahat, dan tidak menunjuk-nunjuk Vania dengan tatapan sinis.

Di tengah aula, di atas pelaminan yang dihiasi bunga mawar merah, Raka dan Larasati duduk berdampingan. Mereka tersenyum bahagia, saling menggenggam tangan, dan tidak ada tanda-tanda bahwa salah satu dari mereka akan tiba-tiba pingsan, menangis histeris, atau diinterupsi oleh orang gila yang membawa pistol.

Vania berjalan menyusuri karpet merah, tangan Kevin tetap mencengkeram pinggangnya dengan erat. Dia terus memindai ruangan.

Tidak ada teriakan. Tidak ada gelas yang pecah. Tidak ada pintu yang dibanting. Tidak ada orang yang pucat pasi karena diracun. Tidak ada pengumuman mengejutkan tentang kehamilan di luar nikah. Tidak ada surat wasiat palsu yang dilemparkan ke wajah Pak Darmawan.

Pesta itu berjalan... sempurna. Terlalu sempurna.

Beep. Beep. Beep.

Suara imajiner mulai berdengung di kepala Vania. Plot Survival Radar-nya berdetak kencang, jarumnya bergerak ke zona merah. Jantungnya mulai berdegup tidak wajar. Keringat dingin mulai menetes di punggungnya, di balik gaun velvet yang tebal.

Ini tidak beres, batin Vania, matanya menyipit, menatap "kamera" imajinernya dengan tatapan panik. Di sinetron 90-an, tidak ada pesta yang berjalan tenang. Jika tidak ada drama kecil, berarti ada drama besar yang sedang menetas di balik layar. Ini adalah ketenangan sebelum badai. Ini adalah jeda komersial sebelum adegan klimaks yang menghancurkan mental.

Vania mencengkeram lengan Kevin yang membungkus pinggangnya. Cengkeramannya begitu kuat hingga kuku-kukunya menekan kain jas pria itu.

"Kevin," bisik Vania, suaranya bergetar pelan, nyaris tak terdengar di tengah riuhnya musik orkestra. "Ada yang salah."

Kevin menoleh, menatap Vania dengan tatapan protektif. "Apa yang salah, Sayang? Apakah AC-nya terlalu dingin? Apakah gaunmu terlalu ketat? Aku akan suruh mereka..."

"Bukan itu," potong Vania cepat, matanya terus menyapu ruangan dengan waspada. "Pesta ini terlalu tenang. Tante Ratna tidak bikin ulah. Bibi Marni diam. Makanan tidak basi. Lampu tidak mati. Ini... ini tidak normal."

Kevin menatap sekeliling, lalu kembali menatap Vania. Dia tidak mengerti kepanikan wanita itu. Baginya, pesta yang tenang adalah tanda bahwa kekuasaannya mutlak dan tidak ada yang berani menentangnya.

"Tenanglah, Vania," ucap Kevin pelan, merangkul bahu Vania lebih erat, menarik wanita itu hingga kepalanya bersandar di bahu bidangnya. "Semua orang di sini takut padaku. Tidak ada yang berani membuat masalah."

Vania menatap bahu bidang Kevin. Dia ingin percaya pada kata-kata pria itu. Dia ingin percaya bahwa karena Kevin sudah membeli seluruh perusahaan katering, mengelas pintu pantry, dan mengintimidasi semua orang dengan tatapan membunuhnya, pesta ini akan berjalan damai sampai akhir.

Tapi Plot Survival Radar-nya tidak berbohong. Jarumnya sudah menyentuh angka maksimal.

Beep. Beep. BEEEEEEP.

Vania menatap pintu utama aula yang terbuka lebar. Dia menatap langit-langit yang dihiasi lampu kristal. Dia menatap Tante Ratna yang tiba-tiba tersenyum tipis sambil menatap arah jam tangannya.

Badai sudah datang, batin Vania, napasnya tertahan di tenggorokan. Dan aku tidak punya payung.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!