Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 — Menuju Negeri Api
Setelah beberapa hari beristirahat di Frostgard untuk memastikan Fragmen Naluri Primal yang baru terintegrasi telah stabil sepenuhnya dalam tubuh Kael, rombongan mulai mempertimbangkan langkah selanjutnya dalam misi mereka mengumpulkan sekutu dan informasi tentang fragmen-fragmen Darah Primordial yang tersisa.
"Drakoria Empire," Seraphina berkata suatu pagi, saat mereka berkumpul untuk membahas rencana perjalanan berikutnya.
"Aku masih punya kontak lama di sana, meski aku tidak yakin apakah dia masih hidup setelah seribu tahun."
"Siapa kontak itu?" Kael bertanya penasaran.
"Seorang penatua Dragonkin bernama Ashari, yang pernah membantu klanku dalam perjanjian dagang penting berabad-abad lalu," Seraphina menjelaskan.
"Dragonkin memiliki umur yang sangat panjang, jadi ada kemungkinan besar dia masih hidup, meski mungkin sudah pensiun dari urusan politik aktif."
Raja Fenrir, yang turut hadir dalam pertemuan itu, menawarkan bantuan tambahan. "Aku akan mengirimkan salah satu utusan terpercaya kami untuk menemani perjalanan kalian ke Drakoria. Hubungan antara Fenrir dan Drakoria cukup baik, meski tidak seerat hubungan kami dengan Sylvariel."
Persiapan untuk perjalanan menuju Ignis, benua selatan tempat Drakoria Empire berkuasa, memakan waktu beberapa hari tambahan.
Medan yang akan mereka lalui sangat berbeda dari apa pun yang pernah mereka hadapi—dari pegunungan bersalju Frostgard, mereka harus melintasi kembali wilayah tengah Elyndra sebelum akhirnya memasuki wilayah vulkanik yang panas dan berbahaya.
"Kita akan melewati Eternalis dalam perjalanan," Lyra menjelaskan, menunjuk rute pada peta besar yang mereka gunakan untuk perencanaan. "Benua tengah yang penuh dengan kota perdagangan dan reruntuhan kuno. Mungkin kita bisa singgah sebentar untuk mengumpulkan informasi tambahan."
Perjalanan dimulai dengan cuaca yang perlahan menghangat seiring mereka meninggalkan wilayah utara yang membeku.
Setelah dua minggu perjalanan yang melelahkan namun relatif tanpa insiden besar, mereka akhirnya mencapai Eternalis, benua yang hidup dengan energi berbeda dari wilayah kerajaan mana pun yang pernah mereka kunjungi—campuran budaya dari berbagai ras yang hidup berdampingan dalam harmoni yang rapuh namun fungsional.
Kota pertama yang mereka singgahi, sebuah pusat perdagangan besar bernama Kaldrath, dipenuhi dengan pedagang dari berbagai ras—Human, Elf, Dwarf, bahkan beberapa Demon yang tampak berdagang secara damai meski dengan kewaspadaan yang jelas terlihat dari penduduk lain di sekitar mereka.
"Tempat yang menarik," Kael berkomentar, mengamati keramaian pasar yang penuh dengan barang-barang eksotis dari seluruh penjuru dunia.
"Eternalis selalu menjadi tempat netral," Seraphina menjelaskan, "di mana bahkan ras-ras yang biasanya berkonflik bisa berdagang dan berinteraksi tanpa terlalu banyak permusuhan terbuka. Kepentingan ekonomi sering kali mengalahkan permusuhan lama."
Mereka menghabiskan waktu satu hari penuh di Kaldrath, mengunjungi berbagai perpustakaan dan arsip kota untuk mencari informasi tambahan tentang legenda Darah Primordial.
Meski sebagian besar hasil pencarian mereka tidak memberikan informasi baru yang signifikan, satu pertemuan tidak terduga mengubah dinamika perjalanan mereka.
Di sebuah kedai teh kecil di sudut pasar, mereka bertemu dengan seorang pedagang tua yang mengaku pernah bepergian jauh ke Netherys untuk urusan dagang, dan memiliki informasi tentang pergerakan aneh yang terjadi di sana belakangan ini.
"Banyak Demon berbicara tentang seorang bangsawan misterius yang telah mengumpulkan pengikut dengan cepat dalam beberapa bulan terakhir," pedagang itu berbisik dengan hati-hati, jelas tidak ingin percakapan mereka didengar oleh orang lain.
"Dia menjanjikan kekuatan luar biasa kepada siapa pun yang bersedia mengikutinya, dan rumornya, dia mencari sesuatu yang sangat penting—sebuah kekuatan kuno yang bisa mengubah keseimbangan antara semua ras."
"Dravos," Seraphina bergumam pelan setelah pedagang itu pergi, wajahnya menegang dengan kekhawatiran yang semakin nyata. "Dia benar-benar membangun basis kekuatan di Netherys."
"Kita perlu bergerak lebih cepat," Kael berkata dengan tekad yang semakin menguat. "Setiap hari yang berlalu, dia semakin dekat dengan mengumpulkan kekuatan yang dia butuhkan."
Mereka melanjutkan perjalanan keesokan harinya dengan urgensi baru, meninggalkan Eternalis menuju perbatasan Ignis yang semakin dekat. Medan mulai berubah drastis—vegetasi hijau perlahan digantikan oleh tanah berbatu vulkanik, dan udara mulai terasa lebih panas dan kering dengan setiap langkah yang mereka ambil.
Pada hari kesepuluh sejak meninggalkan Frostgard, mereka akhirnya melihat pemandangan yang menakjubkan sekaligus mengintimidasi—rangkaian gunung berapi aktif yang menjulang di cakrawala, asap dan uap panas mengepul dari puncaknya, dan di kejauhan, tersembunyi di antara formasi batuan vulkanik yang dramatis, siluet kota yang dibangun dengan arsitektur yang tampak seperti terukir langsung dari batu lava yang telah mendingin.
"Drakoria," Seraphina berkata dengan nada campuran kekaguman dan kewaspadaan. "Kita sudah tiba di gerbang Kekaisaran Naga."
Ketika mereka mendekati gerbang utama kota, sesosok naga besar berwarna merah gelap tiba-tiba melintas di langit di atas mereka, sayapnya yang lebar menciptakan bayangan besar yang menutupi sebagian jalan sebelum makhluk itu mendarat dengan anggun di depan gerbang, tubuhnya perlahan menyusut dan berubah bentuk menjadi sosok manusia—seorang wanita muda dengan rambut merah menyala dan mata seperti bara api, mengenakan zirah emas yang berkilau di bawah sinar matahari terik.
"Pengembara dari kerajaan lain," wanita itu berkata dengan suara yang penuh wibawa dan sedikit arogansi, matanya menyapu rombongan mereka dengan penilaian tajam.
"Jarang sekali ada yang berani datang langsung ke gerbang Drakoria tanpa undangan resmi. Sebutkan tujuan kalian, atau aku tidak akan segan mengusir kalian dengan cara yang kurang menyenangkan."
Kael melangkah maju, mencoba menampilkan sikap hormat namun tidak gentar di hadapan sosok yang jelas memiliki kekuatan luar biasa itu.
"Kami datang dengan maksud damai," katanya, membungkuk hormat yang sesuai dengan protokol diplomatik yang telah dia pelajari selama perjalanannya. "Aku Kael dari Heavenly Sword Sect, membawa pesan penting dari aliansi Valtherion, Sylvariel, dan Fenrir Kingdom untuk disampaikan kepada Kaisar Drakoria."
Wanita itu mengangkat alis, jelas terkejut mendengar nama-nama kerajaan yang disebutkan bersamaan dalam satu aliansi. "Aliansi antara manusia, Elf, dan Beastman? Itu kombinasi yang tidak biasa. Aku Selene Drakoria, Putri Kekaisaran ini. Apa yang begitu penting hingga tiga kerajaan bersedia bekerja sama dan mengirim utusan jauh-jauh ke sini?"
"Ancaman yang mengancam seluruh Elyndra," Kael menjawab serius. "Seorang bangsawan vampir kuno bernama Dravos, yang berambisi membangkitkan kekuatan primordial yang bisa mengubah keseimbangan dunia secara fundamental."
Mata Selene menyipit mendengar nama itu. "Dravos. Aku pernah mendengar nama itu disebutkan dalam beberapa laporan mata-mata kekaisaran, meski tidak pernah dengan detail yang jelas."
"Kami bisa memberikan informasi lengkap," Seraphina menambahkan, melangkah maju untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai. "Aku sendiri memiliki sejarah panjang dengan Dravos, dan aku tahu betapa berbahayanya ambisinya jika dibiarkan berkembang tanpa hambatan."
Selene menatap Seraphina dengan penilaian yang lebih tajam, jelas mengenali sesuatu yang tidak biasa dalam aura sang vampir kuno. "Kau bukan vampir biasa. Aku bisa merasakan usia dan kekuatan yang tersembunyi dalam dirimu."
"Aku Seraphina Veyra, salah satu dari Tiga Bangsawan Darah yang memimpin klan vampir seribu tahun lalu," Seraphina memperkenalkan diri dengan formal, menyadari pentingnya kejujuran dalam konteks diplomatik seperti ini.
Pengakuan itu membuat Selene terdiam sejenak, mempertimbangkan implikasi dari informasi yang baru saja dia terima. "Baiklah," katanya akhirnya. "Informasi ini cukup penting untuk dibawa langsung kepada ayahku, Kaisar Drakon Valerius. Ikuti aku."
Dia memimpin mereka melalui gerbang kota, dan pemandangan di dalam Drakoria sama menakjubkannya dengan yang telah mereka lihat dari kejauhan.
Bangunan-bangunan dibangun langsung dari batu vulkanik yang telah dipahat dengan presisi luar biasa, jalan-jalan kota dilapisi dengan material yang tampak menyerap dan menyalurkan panas dengan cara yang membuat udara di sekitarnya terasa nyaman meski suhu lingkungan sangat tinggi.
"Bagaimana penduduk biasa bertahan dengan suhu seperti ini?" Aria bertanya, terpesona namun juga sedikit khawatir dengan panas yang terasa di kulitnya.
"Dragonkin memiliki ketahanan alami terhadap panas ekstrem," Selene menjelaskan tanpa menoleh, "dan bagi ras lain yang tinggal di sini, kami menyediakan artefak pendingin khusus yang dijual dengan harga terjangkau di seluruh kota."
Perjalanan menuju istana kekaisaran membawa mereka melewati distrik-distrik kota yang ramai dengan aktivitas—pandai besi yang bekerja dengan logam yang telah dipanaskan hingga meleleh sempurna berkat lingkungan vulkanik alami, pasar yang menjual berbagai jenis kristal api dan bahan kultivasi terkait elemen, serta arena pertarungan besar di mana beberapa Dragonkin muda tampak berlatih dengan teknik yang melibatkan manipulasi api langsung dari tubuh mereka sendiri.
Istana kekaisaran sendiri berdiri megah di puncak bukit tertinggi kota, dibangun dari batu obsidian hitam yang berkilau dengan urat-urat emas alami yang mengalir di seluruh permukaannya, menciptakan pola yang tampak seperti lava yang membeku dalam keindahan abadi.
Kaisar Drakon Valerius menyambut mereka di ruang tahta utama, sosoknya sendiri mengesankan—tinggi besar dengan sisik-sisik merah gelap yang menutupi sebagian lengan dan wajahnya, matanya yang menyala seperti bara api menatap tajam ke arah rombongan yang mendekat.
"Putriku memberitahuku tentang alasan kunjungan kalian," Kaisar Valerius berkata dengan suara yang bergema penuh wibawa, mirip dengan gemuruh gunung berapi yang jauh.
"Ancaman semacam ini bukanlah hal yang bisa diabaikan begitu saja. Namun, Drakoria Empire tidak dengan mudah memberikan kepercayaan atau aliansi kepada orang asing tanpa bukti nyata tentang kemampuan mereka."
"Apa yang Anda butuhkan sebagai bukti, Yang Mulia?" Kael bertanya, menyadari bahwa budaya Dragonkin mungkin memiliki standar berbeda dari kerajaan-kerajaan lain yang telah mereka kunjungi.
Kaisar Valerius tersenyum, seringai yang menampilkan gigi tajam khas naga. "Dragonkin menghormati kekuatan di atas segalanya. Jika kau ingin kami mempertimbangkan aliansi ini secara serius, kau harus membuktikan dirimu layak mendapatkan rasa hormat kami."
Selene melangkah maju dengan seringai penuh antisipasi yang mengingatkan Kael pada semangat kompetitif Ragna.
"Aku menantangmu, Kael dari Heavenly Sword Sect. Pertarungan resmi, disaksikan seluruh istana. Jika kau bisa membuktikan kekuatanmu layak dihormati, aku akan secara pribadi merekomendasikan aliansi ini kepada ayahku."
Kael menatap Selene, merasakan familiaritas situasi ini—mengingatkannya pada tantangan Ragna di turnamen, meski kali ini taruhannya jauh lebih besar, melibatkan aliansi kerajaan yang bisa menentukan hasil dari konfrontasi besar dengan Dravos di masa depan.
"Aku terima tantanganmu," Kael menjawab dengan tekad yang jelas terdengar, menghunus pedangnya sebagai tanda kesiapan.
Seringai Selene melebar, matanya berkilat dengan semangat pertarungan yang tulus. "Bagus. Besok pagi, di Arena Api Kekaisaran. Aku menantikan kesempatan untuk melihat apakah reputasimu sepadan dengan kenyataan, manusia."