NovelToon NovelToon
Bayu Dan Batu Kali Ajaib

Bayu Dan Batu Kali Ajaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.

Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.

Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.

Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Khasiat Batu Giok dan Guru Biologi

Tap... tap... tap...

Langkah kaki Bayu terdengar pelan menyusuri gang sempit yang becek sisa hujan semalam.

Malam sudah sangat larut dan udara terasa jauh lebih dingin dari biasanya.

Namun anehnya, Bayu sama sekali tidak merasa kedinginan.

Tubuhnya justru terasa hangat, seolah ada aliran energi halus yang terus berputar di bawah kulitnya.

Sesekali dia mengangkat tangan kanannya, menatap takjub pada giok hijau yang kini menyatu dengan telapak tangannya.

Cahaya redup dari giok itu perlahan memudar, menyembunyikan diri seolah tahu ada orang lain yang mungkin melihatnya.

"Batu ini seolah benar-benar hidup," batin Bayu tak percaya.

Cklek.

Bayu mendorong pintu kayu yang lapuk di ujung gang, masuk ke dalam rumah kontrakannya yang sempit.

Ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu hanya berisi kasur tipis dan lemari plastik kusam.

Dia langsung menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan untuk membersihkan diri dari lumpur sungai.

Byurr!

Air dingin dari gayung menyiram wajah dan tubuhnya.

Bayu mengusap wajahnya, lalu menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang retak di atas bak mandi.

Matanya langsung melebar sempurna.

"Ini... Apakah ini benar-benar aku?" gumam Bayu terkejut.

Wajah kusam dan pipi tirus akibat kurang gizi itu menghilang tanpa sisa.

Kulitnya kini terlihat jauh lebih bersih, cerah, dan sehat.

Rahangnya tampak lebih tegas, menonjolkan fitur wajah maskulin yang selama ini tertutupi oleh kotoran dan kelelahan.

Bahkan saat dia menunduk melihat tubuhnya, otot-otot di perut dan dadanya terlihat lebih terbentuk padat.

Semua tanda kekurangan gizi dan luka-luka kecil akibat perundungan di sekolah lenyap tak berbekas.

Bayu menyentuh dadanya yang bidang dengan tangan gemetar.

"Tubuhku terasa sangat ringan dan penuh tenaga," ucapnya dengan suara yang entah kenapa terdengar lebih berat dan berwibawa.

Dia kembali menatap giok di telapak tangannya.

Bayu mencoba memfokuskan pikirannya pada batu itu, mengingat sensasi aneh di sungai tadi.

Wushh.

Tiba-tiba, ribuan teks kuno dan gambar anatomi manusia kembali melintas di kepalanya dengan sangat jelas.

Kali ini rasanya tidak sakit sama sekali.

Informasi itu tersusun rapi layaknya rak buku di dalam otaknya, siap diambil kapan saja.

Bayu memejamkan mata, memanggil pengetahuan tentang teknik akupunktur pemulihan tenaga.

Dia mengangkat dua jari tangan kirinya, lalu menekan beberapa titik syaraf di sekitar leher dan pundaknya.

Tek. Tek. Tek.

Setiap kali jarinya menekan, rasa hangat mengalir deras ke bagian tubuh tersebut.

Rasa pegal dan sisa kelelahan akibat ditindas geng Kevin tadi siang menguap seketika.

"Luar biasa," bisik Bayu dengan senyum lebar yang baru kali ini menghiasi wajahnya.

"Kalau aku menggunakan pengetahuan ini, jangankan masuk fakultas kedokteran, aku bahkan bisa menyembuhkan penyakit yang tidak bisa ditangani rumah sakit elit manapun."

Malam itu, Bayu tidur dengan nyenyak tanpa diganggu rasa lapar.

...

Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menembus jendela kamar Bayu.

Dia mengenakan seragam putih abunya yang sudah disetrika rapi, meski warnanya tetap sedikit menguning.

Hari ini perasaannya jauh lebih tenang dan percaya diri.

Bayu berjalan kaki menuju halte bus seperti biasa, namun ada hal aneh yang mulai dia sadari.

Beberapa siswi dari sekolah lain yang sedang menunggu bus terus mencuri pandang ke arahnya.

Grep.

Bayu memegang tali tasnya erat-erat, merasa sedikit risih oleh tatapan ciwik ciwik itu.

"Apa ada yang salah dengan seragamku?" batin Bayu bingung.

Dia tidak tahu bahwa giok di tangannya memancarkan gelombang aura pemikat secara pasif.

Aura itu membuat aroma tubuh Bayu terasa sangat maskulin dan menenangkan bagi wanita mana pun di sekitarnya.

Sesampainya di gerbang SMA elit tempatnya bersekolah, suasana sedang cukup ramai.

Bayu berjalan melewati koridor dengan tenang, mengabaikan tatapan heran dari beberapa murid yang biasanya mengejeknya.

Bruk!

Tiba-tiba, seseorang menabrak bahu Bayu dari depan saat dia berbelok di tikungan koridor.

Tumpukan buku tebal dan kertas ujian berjatuhan berserakan di lantai.

"Aduh, maafkan saya, saya sedang buru-buru," ucap sebuah suara lembut yang terdengar panik.

Bayu menunduk dan melihat Bu Rina, guru biologi muda yang baru tahun lalu mengajar di sekolah ini.

Bu Rina dikenal sangat cantik, bertubuh sintal, dan sering menjadi bacol murid-murid pria, termasuk geng Kevin.

"Tidak apa-apa, Bu. Biar saya bantu," balas Bayu dengan nada tenang.

Bayu ikut berjongkok, merapikan kertas-kertas yang berserakan di dekat kaki Bu Rina.

Saat Bayu mengulurkan tumpukan buku itu, tangannya tanpa sengaja menyentuh punggung tangan Bu Rina.

Deg!

Jantung Bu Rina tiba-tiba berdetak sangat kencang.

Sentuhan kulit Bayu terasa seperti aliran listrik hangat yang menyengat langsung ke pusat sarafnya.

Bu Rina mendongak, menatap langsung ke dalam mata Bayu.

Untuk pertama kalinya, guru muda itu menyadari betapa tampan dan tajamnya sorot mata murid beasiswa ini.

Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Bayu menyeruak masuk ke indra penciuman Bu Rina.

"Ini... wangi apa ini? Kenapa kepalaku jadi sedikit pusing?" batin Bu Rina dengan wajah yang mulai memerah.

Napas Bu Rina tiba-tiba menjadi lebih berat dan memburu.

Dia merasakan hawa panas aneh mulai berkumpul di perut bagian bawahnya, menjalar dengan cepat ke tempat yang memalukan.

Kakinya tanpa sadar merapat, mencoba menahan sensasi basah yang tiba-tiba muncul di balik rok kerjanya.

"Bu Rina? Ibu tidak apa-apa?" tanya Bayu menyadarkan guru itu dari lamunannya.

Wajah guru muda itu kini sudah merah padam sampai ke telinga.

"Eh... i-iya, Bayu. Ibu tidak apa-apa," jawab Bu Rina terbata-bata.

Dia buru-buru menarik tangannya dari tangan Bayu, merangkul buku-bukunya erat ke dada.

Bu Rina menundukkan wajahnya, tidak berani menatap mata Bayu lagi karena takut hasrat aneh di tubuhnya terbaca.

"Terima kasih sudah membantu, Ibu permisi dulu ke ruang guru," ucap Bu Rina setengah berlari meninggalkan Bayu.

Bayu hanya menatap punggung guru biologi itu dengan kening berkerut.

"Kenapa dia terlihat gugup sekali? Wajahnya juga merah seperti orang demam," gumam Bayu pelan.

Bayu mengangkat bahu tidak peduli, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas.

Saat Bayu masuk ke ruang kelas, suasana yang tadinya bising mendadak hening.

Semua mata tertuju padanya.

Natasha, yang duduk di barisan tengah, bahkan menghentikan obrolannya dan menatap Bayu tanpa berkedip.

"Dia... Bayu kan? Kenapa dia kelihatan beda banget hari ini?" bisik salah satu siswi di belakang Natasha.

"Iya, kulitnya bersih banget, terus bahunya kelihatan lebih lebar," sahut temannya.

Bayu mengabaikan bisik-bisik itu dan berjalan santai menuju kursinya di pojok belakang.

Namun, sebelum dia sempat duduk, sebuah kaki dengan sepatu mahal sengaja dijulurkan untuk menjegalnya.

Itu adalah kaki Kevin.

Biasanya, Bayu akan pura-pura tidak melihat dan menghindar agar tidak mencari masalah.

Tapi hari ini berbeda.

Dengan refleks yang luar biasa cepat berkat tubuh barunya, Bayu tidak menghindar.

Dia justru menginjak punggung sepatu mahal Kevin dengan sekuat tenaga.

Krak!

Suara sol sepatu yang retak terdengar cukup jelas di kelas yang hening itu.

"Argh! Bangsat!" teriak Kevin kesakitan sambil menarik kakinya.

Kevin langsung berdiri, menggebrak mejanya sendiri dengan wajah penuh amarah.

"Maksud lo apa anjing?! Lo berani nyari gara-gara sama gue?!" bentak Kevin sambil menunjuk wajah Bayu.

Dua teman Kevin yang duduk di dekatnya langsung ikut berdiri, siap mengeroyok Bayu.

Namun, alih-alih menunduk takut seperti biasanya, Bayu justru tersenyum miring.

Tatapan mata Bayu sedingin es, menusuk langsung ke mata Kevin hingga membuat anak orang kaya itu bergidik ngeri sesaat.

"Maaf, aku tidak melihat ada sampah yang menghalangi jalanku," ucap Bayu dengan suara berat yang menggema di seluruh kelas.

Semua murid menahan napas, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

Bayu, si miskin yang selalu diam saat diinjak-injak, baru saja memanggil Kevin dengan sebutan sampah.

1
syarif ibrahim
👍👍👍💪
syarif ibrahim
tidak perlu jendral, karena cucumu sdh jadi milikku... 🤣🤣🤣🤣🤣
syarif ibrahim
terbalik bab nya
Yui: Terimakasih atas koreksinya kak😊😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!