( upload senin - Sabtu= 6× )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 }:{secret journey }
Roh Dewi Bunga kini masuk ke alam roh. Cahaya kupu-kupu melingkari Dewi Bunga, menuntunnya menjauh dari dunia fana.
"Maafkan aku, Zeo. Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku hanya inginkan satu hal kecil, agar aku tidak merasakan kesepian saat kau pergi jauh dariku."
Perlahan cahaya yang mengelilingi Dewi Bunga memudar dan menghilang.
Di sisi lain, tubuh Zeo seperti merasakan ada hal yang pergi dari dirinya. Zeo terbangun dari tempat ciptaan Sora dan langsung berlari ke arah Negeri Angin.
Sesampainya di Negeri Angin, Zeo langsung menemui Guru Negeri Angin.
"Guru, aku ingin bertanya, apakah Bunga sudah datang ke sini?"
"Iya, Bunga sudah datang."
"Lalu, di mana Bunga?"
"Bunga berjalan menuju Sungai Suci."
Zeo berlari menuju Sungai Suci hingga tersandung dan menghantam batu. Tetesan darah menjadi saksi pencarian Zeo untuk menemui Dewi Bunga.
"Tunggu aku, Bunga. Jangan sampai kamu melakukan hal yang membuat kita kembali menjauh. Aku mohon, maafkan aku atas respon yang aku berikan, Bunga."
Sesampainya di depan Sungai Suci, aroma mawar menghembus lembut di tempat itu.
"Bunga, apa kamu masih ada di sini? Jawab aku, Bunga."
Zeo berteriak memanggil orang yang dicintainya, yang kini telah tiada lagi di alam fana. Suasana hangat menyelimuti area itu.
Muncul Penjaga Suci.
"Zeo, yang kau cari takkan bisa lagi kau temui."
"Apa maksudmu, Penjaga Sungai Suci?"
"Terkadang pertanyaan tidak harus dijawab, tapi dilihat juga. Air terus mengalir, udara terus meniup, alam terus tumbuh, api terus berkobar menjaga suhu. Tetapi orang yang sudah tiada, bisa merasakan itu semua takkan pernah bisa melihatnya."
Zeo mendengar dengan penuh pertanyaan di pikirannya. Seketika roh Penjaga Sungai Suci menghilang sambil menjatuhkan sekuntum mawar yang mengarah ke tempat terakhir Bunga.
Zeo melangkah mendekati bunga yang terjatuh itu.
"Apa yang aku lakukan, aku lelah, alam semesta." Zeo merangkul dirinya sendiri, tetesan darah menyatu dengan tangisannya. "Mengapa aku selalu salah dalam memahami kamu, Bunga?"
Aroma mawar kembali tercium, membawa Zeo mendekat.
"Bunga yang sangat indah, mengapa aku merasakan ini kamu, Bunga? Aroma ini sama dengan aroma tubuhmu."
Zeo menyentuh mawar itu. Seketika ia terseret masuk dalam lingkaran waktu, saat mawar itu tumbuh. Semua gelap. Mata Zeo berkunang-kunang. Samar-samar ia melihat Bunga di kejauhan.
"Bunga, apa itu kamu?"
Zeo melihat Bunga dengan jelas, langsung berdiri mencoba mendekat, namun waktu memantulkannya kembali. Zeo menatap Bunga menangis, mendengarkan semua keluh kesah Dewi Bunga.
"Bila yang kamu mau kita saling menjauh, aku akan lakukan itu, Zeo. Aku tahu kau akan bahagia tanpa aku. Yang harus kau tahu, aku mencintaimu. Hiduplah tanpa aku. Aku yakin ini yang terbaik."
Zeo berteriak menatap Dewi Bunga berubah menjadi bunga yang ia sentuh. Zeo kembali tersadar, lalu ambruk.
Sambil menatap bunga di depannya, bunga dari atas pohon berguguran. Hujan turun. Burung-burung menyaksikan rasa sedih sang penjaga. Akankah burung-burung berkicau seperti memberi tahu Zeo agar tidak berlarut dalam kesedihan?
"Mengapa, Bunga? Kamu harus melakukan hal sejauh ini. Aku benar-benar bodoh dengan ke tidak pekaan ku padamu. Sekarang aku harus apa agar kita kembali bersatu?"
Dua kupu-kupu datang menghampiri Zeo.
"Aku bisa membawamu ke tempat Dewi Bunga, tapi aku tidak bisa memastikan kamu berhasil menemui Dewi Bunga."
Zeo bangkit. "Di mana tempat itu?"
"Alam Roh."
Sekejap Zeo berhenti, masih teringat bagaimana Alam Roh berjalan. Namun kupu-kupu itu tidak membiarkan Zeo berpikir. Alam Roh terbuka.
"Zeo, kamu hanya ada satu pilihan. Mencari, atau berduka seumur detak jantungmu."
Zeo menatap ke arah portal Alam Roh, dan masuk.