Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.
Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.
Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.
Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27 — Nyaris Ketahuan
Proses pengangkatan anak itu belum dapat Raka tutup sendirian.
Tetapi pada malam berikutnya, pikirannya harus beralih ke urusan yang lebih dekat: keamanan pertemuan Jumat dan kerja sama live dengan Vivi.
Vivi's Bar & Kafe belum ramai ketika Raka datang bersama Bagas. Beni tetap di Studio untuk menjaga kanal bisnis. Sasa berada di rumah bersama pendamping komunitas yang disetujui, jauh dari tempat yang menyajikan alkohol.
"Gue mau format satu jam," kata Vivi sambil menunjukkan denah kamera. "Dua puluh menit demonstrasi panel, dua puluh menit tanya jawab, sisanya tur mural lama. Tidak ada pelanggan yang direkam tanpa persetujuan."
"Dan tidak ada klaim bahwa karya dekorasi lama dibuat dengan material yang sama seperti relief baru."
"Mas Kalem selalu merusak kalimat promosi gue."
"Gue memperbaiki kalimat yang bisa jadi komplain."
Bagas membuka kotak sampel. "Kalau kalian selesai flirting lewat pasal kontrak, gue mau pulang."
"Siapa yang flirting?" tanya Raka dan Vivi bersamaan.
Pintu depan terbuka.
Nindya masuk membawa pengisi daya ponsel milik Raka yang tertinggal ketika mereka memeriksa katalog proyek di kontrakannya. Ia mengenakan blus sederhana dan celana hitam, tetapi langkahnya membuat dua pelayan baru refleks menegakkan punggung.
"Aku cuma mengembalikan ini," katanya.
"Duduk," kata Vivi. "Kita sedang membahas live. Kamu penggemar nomor satu Mas Kalem, kan?"
Nindya melirik Raka. "Katanya akun itu tidak punya peringkat penggemar."
"Yang punya hadiah puluhan ribu koin biasanya masuk peringkat sendiri."
Raka memandang Nindya. Perempuan itu mengambil kursi dengan senyum kaku.
Vivi sudah mencurigainya sejak pertemuan pertama—jam mekanis yang terlalu mahal, pengetahuan wine, dan cara ia memindai ruangan. Malam ini, pemilik bar itu menyiapkan ujian kecil.
Seorang pramusaji membawa daftar minuman dan menyebut satu botol sebagai keluaran tahun yang sangat baik.
Nindya membaca label dari jarak dua meter.
"Tahun itu kebunnya terkena hujan menjelang panen. Yang lebih stabil justru dua tahun sebelumnya," katanya otomatis. "Dan botol itu seharusnya tidak diletakkan sedekat itu dengan lampu."
Pramusaji membeku.
Vivi menyandarkan dagu pada tangan. "Pegawai proyek hafal musim panen Eropa?"
Nindya baru sadar semua orang memandangnya.
"Dulu aku pernah bekerja paruh waktu di restoran hotel," jawabnya. "Pelanggannya banyak bicara. Lama-lama hafal."
"Restoran mana?"
"Sudah tutup."
"Nyaman sekali."
Nindya membuka menu. Matanya berhenti pada satu wine paling mahal, dan telunjuknya hampir mengarah ke sana. Ia mengubah gerakan pada detik terakhir.
"Air mineral dan singkong goreng paling murah satu."
Vivi tertawa pendek. "Bukan begitu cara orang miskin memesan. Mereka lihat harga dari awal, bukan setelah hampir menunjuk botol dua puluh juta."
"Aku baru membaca dari bawah."
"Menu gue tidak terbalik."
Raka menahan senyum. "Mbak Vivi, kalau interogasinya masuk kontrak live, saya minta bagian."
"Kamu membela dia?"
"Saya mencegah calon mitra membuat tamu kabur."
Nindya menatap Raka lebih lama dari yang perlu. "Terima kasih."
"Aku juga masih ingin jawaban yang lebih lengkap suatu hari nanti," katanya pelan.
Senyum Nindya melemah. Kepercayaan kembali berdiri di antara mereka. Bukan sebagai dinding, melainkan jam yang terus menghitung.
Vivi menggeser rancangan poster live ke tengah meja. "Kalau Nindya memang pekerja proyek, beri pendapat. Sponsor minuman mau logonya ditaruh di atas nama Studio."
Nindya membaca dua baris syarat. "Jangan. Penempatan itu membuat acara terlihat sebagai promosi produk mereka, sementara Raka menanggung demonstrasi dan risiko klaim. Logo sejajar, durasi tayang dibatasi, dan mereka tidak boleh memakai ulang wajah atau suara tanpa izin terpisah."
Vivi mengangkat alis. "Pelayan restoran juga belajar lisensi konten?"
"Sekarang aku kerja proyek."
Raka mengambil pena dan menandai tiga pasal. "Masuk akal. Kita pakai."
"Kamu percaya begitu saja?" tanya Nindya.
"Aku percaya analisis yang bisa diuji. Bukan identitas yang belum dijelaskan."
Jawaban itu hangat dan tajam sekaligus. Nindya menunduk pada menu agar tak seorang pun melihat rasa bersalah di wajahnya.
Untuk mengalihkan percakapan, Bagas membahas jadwal giok demonstrasi. "Kalau acara vendor perusahaan lo bisa bawa tujuh prospek, mungkin divisi propertinya juga—"
Sepatu Nindya menginjak ujung sepatunya di bawah meja.
"Aduh!"
"Ada apa?" tanya Raka.
"Kaki meja menyerang gue."
Vivi melirik posisi kaki meja yang jauh dari Bagas. "Meja gue punya jangkauan luar biasa."
Ponsel Nindya bergetar. Nama Prita muncul, tetapi ia segera membalik layar.
"Aku harus jawab sebentar."
Ia berjalan ke dekat lorong staf. Suaranya rendah.
"Ada apa?"
"Bu, rapat akuisisi dipercepat. Pak Hendra menunggu persetujuan Anda. Mobil utama sudah menuju lokasi karena pengemudi kendaraan sewaan melaporkan ban bermasalah."
"Suruh mobil berhenti satu blok."
"Hujan mulai deras. Dan dokumen asli ada di dalam."
Nindya memejamkan mata. "Jangan panggil jabatan saat turun."
"Saya akan ingatkan sopir."
Ketika kembali ke meja, ia menghitung tagihan singkong goreng hingga biaya layanan.
"Aku bayar bagianku."
Ia mengambil dompet. Sudut kartu logam hitam muncul di antara dua kartu debit biasa.
Vivi menangkap kilau dan lambang kecil pada tepinya.
Nindya cepat-cepat menarik kartu debit.
"Tadi apa?" tanya Vivi.
"Kartu akses kantor."
"Kartu akses kantor punya chip pembayaran?"
"Kantorku sangat modern."
Bagas batuk untuk menyembunyikan tawa. Raka tidak ikut menekan. Ia menerima kembali pengisi daya, lalu menyelesaikan pembahasan live dengan perubahan tertulis: wajah pengunjung diburamkan, area bar ditutup saat demonstrasi, material diberi label, dan tautan pemesanan hanya menuju kanal Studio.
Setelah kontrak konsep ditandai untuk revisi, Raka bangkit.
"Aku pulang dulu. Jumat mungkin panjang."
Nindya ingin bertanya, tetapi menahan diri karena Raka belum menceritakan proyek Sherly kepadanya.
"Hati-hati," katanya.
"Selalu."
Bagas menawarkan tumpangan kepada Raka. Mereka pergi melalui pintu depan. Nindya menunggu lima menit dan memesan kendaraan aplikasi sebagai bagian dari penyamarannya.
Hujan turun lebih cepat.
Sebuah pesan Prita masuk: Dokumen akuisisi tidak boleh ditinggal. Mobil sudah di belakang.
Nindya membatalkan pesanan dan keluar melalui pintu samping.
Vivi kebetulan membawa kantong sampah ke area parkir. Dari bawah atap, ia melihat sebuah sedan hitam panjang berhenti tanpa suara. Catnya memiliki warna hijau gelap khusus yang hampir tampak hitam pada malam hari. Nomor pelatnya biasa, tetapi bodi, jarak sumbu roda, dan pengawalnya tidak.
Sopir turun, membuka payung, lalu membukakan pintu belakang.
"Maaf terlambat, Bu."
Nindya masuk. Di kursi belakang, Prita menyerahkan map bersegel dan sebuah tablet yang langsung menampilkan halaman persetujuan direksi.
Sedan itu pergi sebelum lampu parkir berubah.
Vivi tetap berdiri dengan kantong sampah di tangan. Ia pernah melayani acara privat keluarga konglomerat. Mobil semacam itu tidak dipakai pegawai kontrak, terlebih dengan dokumen yang menunggu tanda tangan di kursi belakang.
Ia kembali ke bar dan memandang gelas air mineral Nindya yang belum habis.
"Pegawai biasa?" gumamnya.
Vivi menoleh ke arah mobil itu menghilang.
"Sedan itu selera keluarga Wibisana. Kamu sebenarnya siapa, Nindya?"