Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*
Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".
Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Pulang ke Puri Adiwangsa
"Pulang," katanya pelan.
Satu minggu kemudian, Toyota Kijang tua itu mendaki jalan berkelok menuju Prigen. Kabut tipis menggantung di lereng, dan sisa hujan malam membuat pepohonan di kedua sisi jalan tampak lebih gelap.
Arya menyetir sendiri.
Mobil hitam yang dikirim untuk menjemputnya mengikuti dari jarak dua ratus meter, tidak pernah terlalu dekat. Lelaki besar yang belum menyebut nama duduk di dalamnya bersama sopir lain. Mereka cukup disiplin untuk tidak bertanya mengapa seorang calon pewaris konglomerat memilih datang dengan mobil yang bunyi pintunya harus dibanting dua kali.
Arya punya alasan sederhana.
Ia ingin melihat bagaimana keluarga Adiwangsa memperlakukan seseorang sebelum mengetahui harga orang tersebut.
Gerbang Puri Adiwangsa muncul di balik tikungan. Pilar batu menjulang di kanan kiri, dihiasi lambang naga bergaya Jawa. Di balik pagar besi, jalan menuju bangunan utama membelah taman luas dan deretan pohon tua.
Dua petugas keamanan mengangkat telapak tangan.
"Berhenti."
Arya menurunkan kaca. "Ada masalah?"
Petugas pertama membungkuk sedikit untuk melihat ke dalam mobil, lalu mengerutkan dahi. "Acara keluarga tertutup. Undangan Anda?"
"Tidak ada."
"Kalau begitu putar balik. Pengiriman masuk dari gerbang layanan."
Arya melirik kemeja polosnya, lalu dashboard Kijang yang retak di satu sudut. "Saya tidak mengantar barang."
Petugas kedua mendekat. Tatapannya jatuh pada koper kabin di kursi belakang. "Tamu juga tidak datang naik mobil begini, Mas. Siapa nama yang mengundang?"
"Wisnu."
Kedua petugas bertukar pandang.
"Pak Wisnu?" tanya yang pertama, kini lebih hati-hati.
"Kalau di dalam ada Wisnu lain, panggil semuanya."
Petugas kedua menahan senyum mengejek. "Nama lengkap Anda?"
"Arya Bimasakti Adiwangsa."
Radio di bahu petugas pertama berderak. Ia mundur setengah langkah, menekan tombol komunikasi, lalu menyebut nama itu dengan suara yang mendadak lebih kecil.
Jawaban dari pos utama datang cepat dan keras sampai terdengar keluar.
"Buka gerbang! Den Arya sudah tiba!"
Wajah petugas yang tadi menyuruhnya ke gerbang layanan seketika pucat. Ia berdiri tegak dan memberi hormat canggung.
"Maaf, Den Arya. Kami tidak mendapat informasi kendaraan Anda."
Arya memasukkan gigi satu. "Bagus. Berarti pemeriksaan kalian tidak sepenuhnya buruk. Lain kali nilai orang dari daftar tamu, bukan harga mobil."
Gerbang bergerak terbuka.
Saat Kijang melewati pos, mobil hitam di belakang berhenti. Kaca gelapnya turun sedikit. Lelaki besar di dalam melirik kedua petugas. Tidak ada ancaman di wajahnya, tetapi keduanya langsung mengerti betapa buruknya kesalahan yang baru mereka buat.
Arya memarkir Kijang di antara dua sedan Eropa di halaman depan. Perbedaannya begitu mencolok hingga beberapa tamu menoleh. Seorang perempuan bergaun krem berbisik kepada temannya. Seorang pria tua mengangkat alis ketika Arya mengeluarkan koper sendiri.
"Itu dia?"
"Putra Wisnu yang di luar nikah."
"Katanya menghilang bertahun-tahun. Lihat mobilnya."
Arya mendengar semuanya. Ia membiarkan mereka bicara.
Seorang kepala rumah tangga tua bergegas menuruni tangga. "Den Arya, selamat datang. Biar kami bawa barangnya."
"Tidak perlu. Di mana Wisnu?"
"Pak Wisnu sedang..."
"ARYA!"
Suara berat meledak dari balkon lantai dua.
Semua kepala terangkat.
Wisnu Adiwangsa berdiri di sana mengenakan beskap modern berwarna gelap. Rambutnya tersisir rapi, tetapi wajahnya menunjukkan kemarahan yang terlalu dramatis untuk terasa sungguhan.
"Anak kurang ajar! Kau baru datang sekarang?"
Arya meletakkan koper. "Kamu bilang datang sebelum siang. Jam saya masih sebelas lewat dua puluh."
Desahan kaget terdengar dari para tamu. Seseorang berani menjawab Wisnu tanpa gelar di halaman rumahnya sendiri.
Wisnu menunjuknya. "Naik ke sini!"
"Kalau mau bicara, turun."
Mata Wisnu menyipit. Lalu, di luar dugaan semua orang, ia berbalik dari balkon. Beberapa detik kemudian suara langkah cepat terdengar dari dalam rumah.
Pintu utama terbuka lebar.
Wisnu turun dengan sebatang tongkat kayu dekoratif yang entah diambil dari mana.
"Saya akan mengajarimu sopan santun hari ini!"
Arya menatap tongkat itu. "Kamu menelepon saya untuk pulang atau untuk dikejar?"
"Keduanya!"
Wisnu mengayunkan tongkat. Arya mundur, membiarkan ujungnya lewat beberapa sentimeter dari bahu. Ia mengambil koper dan berjalan memutari air mancur. Wisnu mengejar sambil terus mengomel.
"Tujuh tahun menghilang! Datang terlambat! Baju seperti sopir!"
"Sopir saya berpakaian lebih mahal."
"Masih membantah!"
Tamu-tamu menyingkir. Seorang pelayan menutup mulut menahan tawa. Kepala rumah tangga tua tampak ingin mencegah, tetapi setiap kali mendekat Wisnu memberi isyarat kecil agar ia menjauh.
Arya menangkap isyarat itu.
Pertunjukan.
Wisnu sedang memberi keluarga besar apa yang ingin mereka lihat: ayah kesal dan putra liar yang tak punya tata krama. Tidak ada pertemuan rahasia. Tidak ada kesan bahwa Arya dipanggil pulang karena memiliki nilai.
Maka Arya ikut bermain.
Ia melompat ke sisi lain bangku taman tepat ketika tongkat menyapu udara. "Kalau pinggangmu cedera, jangan salahkan saya."
"Berhenti, bocah!"
"Tangkap dulu."
Bisik-bisik berubah menjadi tawa tertahan. Di teras, beberapa anggota keluarga memandang Arya dengan jijik. Bagi mereka, putra Wisnu yang lama hilang ternyata tak lebih dari lelaki kasar yang datang dengan Kijang tua dan mempermalukan ayahnya di depan tamu.
Sempurna.
Wisnu akhirnya berhasil mendekat di sisi tangga. Tangannya meraih kerah belakang kemeja Arya, tetapi alih-alih memukul, ia membisikkan dua kata.
"Ikuti saya."
Arya pura-pura memberontak. "Lepas. Saya bisa jalan sendiri."
"Diam!"
Dengan tongkat di satu tangan dan kerah Arya di tangan lain, Wisnu menyeretnya melewati pintu utama. Para pelayan membawa koper menyusul. Di belakang, suara komentar langsung pecah.
"Benar-benar tidak tahu aturan."
"Bagaimana mungkin anak seperti itu masuk daftar keluarga?"
"Dengar-dengar hari ini juga dia akan dinikahkan. Kasihan calon istrinya."
Langkah Arya berhenti sepersekian detik.
Ia menoleh kepada Wisnu. "Hari ini?"
Wisnu tetap tersenyum kepada para tamu. Jemarinya justru mencengkeram kerah Arya lebih kuat.
"Kau datang pada hari pernikahanmu sendiri tanpa bertanya tanggal. Salah siapa?"
"Kamu bilang ada pernikahan yang diatur. Bukan bilang akadnya menunggu di halaman."
"Kalau saya bilang, kau mungkin kabur."
Mereka menaiki tangga lebar. Di ujung koridor, dua penjaga membuka pintu kayu menuju sayap pribadi. Suara pesta dari halaman belakang mulai terdengar: alat musik sedang diuji, kursi-kursi dipindahkan, dan seseorang memberi instruksi tentang bunga di tepi danau.
Arya melirik melalui jendela. Hamparan rumput telah ditata seperti tempat upacara. Barisan kursi putih menghadap sebuah pelaminan sederhana. Semua sudah siap.
Kecuali pengantinnya.
"Anindya sudah datang?" tanya Arya.
"Sejak satu jam lalu. Dan suasana hatinya lebih buruk daripada saya."
"Setidaknya kami punya satu kesamaan."
Wisnu terkekeh pelan, begitu singkat hingga siapa pun di belakang mereka mungkin mengira salah dengar.
Mereka berhenti di depan pintu ruang kerja. Senyum Wisnu lenyap. Tongkat dekoratif itu diserahkan kepada pelayan, lalu ia merapikan kerah Arya yang sengaja dibuat kusut.
"Di luar pintu ini, kau boleh menjadi badut," katanya. "Di dalam, kita bicara tentang ibumu."
Tatapan Arya mengeras.
Wisnu membuka pintu. Aroma kayu tua dan tembakau menyambut dari ruangan yang tertutup rapat.
Para tamu di ujung koridor menjulurkan leher, mencoba menangkap percakapan. Wisnu menaruh telapak tangan di punggung Arya dan mendorongnya masuk.
Pintu ruang kerja menutup perlahan, memutus semua suara dari luar.